dokumen

marquee

Selamat Datang di Blog Kami, Kumpulan Artikel Islami, Ebook, berminat mengadakan seminar, pengajian ,pelatihan, motivastion solutin,Bintal,Bimbingan manasik haji, Hipnoterapi Call at 081372882814 and donate your fund for islamic development at BSM Rek. 7006428198 an. Robi Kurniawan

welcome

Welcome To Our Blog, Siap Melayani dan Memimbing Ummat

Jumat, 31 Agustus 2012

Jangan Mudah Memutuskan Ini Halal dan Ini Haram

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. [an-Nahl /16 : 116-117]

PENJELASAN AYAT
Budaya Jahiliyah, Mengatur Penetapan Hukum Dengan Hawa Nafsu.
Budaya bangsa Jahiliyah yang berlawanan dengan ajaran Islam sungguh banyak. Islam datang untuk menghapuskannya supaya umat manusia selalu berada di atas fitrah penciptaannya.

Ayat di atas membicarakan salah satu dari sekian banyak budaya jahiliyyah yang berkembang di tengah masyarakat zaman dulu, sebelum akhirnya terhapus syariat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Yakni, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu tanpa mengindahkan dan tanpa merujuk kepada wahyu ilahi maupun ketetapan-ketetapan hukum samawi lainnya yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk. Padahal, mereka mengklaim sebagai para penganut ajaran Nabi Ibraahim Alaihissallam. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang umat Islam mengikuti jalan kaum musyrikin tersebut.[1]

Realita yang terjadi, mereka mengharamkan hal-hal yang dihalalkan, dan sebaliknya menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah al-Khaaliq. Mereka menetapkan hukum-hukum halal dan haram sesuai dengan hawa nafsunya. Dengan tindakan ini, mereka telah melakukan iftirâ 'alallah ta'ala (kedustaan atas nama Allah Ta'ala).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan substansi ayat di atas melalui beberapa ayat lainnya. Di antaranya:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ

Katakanlah: "Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini". Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka;… [al-An'âm/6 : 150]

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" [Yûnus/10 : 59].

Pengertian ayat ini -an-Nahl/16 ayat 116-117- akan kian jelas dengan memperhatikan ayat sebelumnya. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar mereka memakan makanan-makanan yang baik-baik lagi halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. [an-Nahl/16 : 114].

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hal-hal yang diharamkan atas diri mereka dalam ayat berikutnya:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [an-Nahl/16 : 115].

Kenyataannya, justru tidak sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Allah al-Hakam (Dzat Yang Maha Menentukan hukum) dalam ayat tersebut. Mereka justru menghalalkan bangkai, darah dan binatang-binatang yang mereka sembelih tanpa dengan menyebut nama Allah Ta'ala. Dan sebaliknya, mereka mengharamkan pemanfaatan binatang-binatang, baik untuk dikonsumsi maupun sebagai tunggangan, yang sebenarnya dihalalkan bagi umat manusia.

Sebagai contoh, sebagaimana tertuang dalam firman Allah Ta'ala berikut ini:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahîrah, sâibah, washîlah dan hâm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. [al-Mâ`idah/5:103][2].

Demikianlah, konsep halal-haram di mata orang-orang Jahiliyyah pada masa lalu. Syaikh Shâlih al-Fauzân –hafizhahullah- menyatakan, yang menjadi biang keladi dalam masalah ini, ialah karena adanya perangkap nafsu dan syahwat serta doktrin tokoh-tokoh besar mereka [3].

Ringkasnya, permulaan ayat ini melarang seseorang untuk menjatuhkan penilaian tentang halal dan haram terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hal itu merupakan kedustaan dan kebohongan dengan mengatasnamakan Allah Ta'ala.[4]

Melebihi Kesalahan Perbuatan Syirik
Tak diragukan, perbuatan syirik merupakan perbuatan dosa yang sangat besar dan merupakan kesalahan sangat fatal. Perbuatan syirik ini, lantaran mengandung perbuatan yang menyamakan antara al-Khaaliq Yang Maha Sempurna dari segala sisi dengan makhluk yang sarat dengan segala kelemahan dari setiap sisi. Namun, telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa ada dosa yang lebih tinggi derajat keburukannya dibandingkan syirik. Dosa itu ialah berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, sebenarnya, seluruh maksiat berawal dari kedustaan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui". [al-An'âm/7:33].

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: "Allah mengharamkan berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu dalam urusan fatwa atau hukum pengadilan. Dia mengkategorikannya termasuk perkara haram yang terbesar. Bahkan menempatkannya di urutan pertama [5]. Karena urutan perkara-perkara yang diharamkan dalam ayat di atas secara at-ta'âli (dari urutan rendah menuju peringkat terparah) [6].

Pangkal Dari Suatu Musibah
Gejala memprihatinkan ini, jelas berpangkal dari faktor tertentu. Bukan merupakan peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa sebab-musabab. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menunjuk fenomena at-ta'âlum (sok pintar) sebagai faktor utama. Yakni, sifat merasa lebih mengetahui, merasa memiliki kapabilitas mengeluarkan fatwa atau menjawab, padahal kemampuannya masih sangat jauh dan penuh kekurangan.

Kata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah : "Sesungguhnya at-ta'âlum merupakan pintu masuk menuju 'berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu'. Tidak itu saja, ta'âlum, keganjilan pendapat, mencari-cari rukhshah, fanatisme buta; semua itu merupakan pintu-pintu menuju kejahatan berkata atas nama Allah tanpa ilmu".[7]

Berfatwa merupakan kedudukan yang penting. Dalam fatwa ini, seseorang mencoba untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai seseorang atau masyarakat. Karena kuatnya pengaruh tindakan –pemberian fatwa- ini, maka tidak ada yang boleh menyampaikan fatwa kecuali orang-orang yang memang telah mencapai kemampuan ilmiah tertentu, bukan sembarangan orang.[8]

Ahli Bid'ah Terancam Oleh Ayat Ini
Imam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata: "Termasuk dalam konteks ayat ini, yaitu setiap orang yang melakukan perbuatan bid'ah" [9]. Alasannya sangat jelas. Yakni, mereka menambah-nambahkan sesuatu dengan beranggapan bahwa semua yang mereka tetapkan merupakan bagian dari agama Islam, setelah mengganggapnya sebagai perbuatan baik, padahal syariat tidak mengatakannya.

Ancaman Berat Terhadap Pelaku yang Berdusta Mengatasnamakan Allah
Manakala suatu perbuatan salah sudah menempati level yang sangat membahayakan, maka tak aneh jika balasannya pun sangat berat. Untuk perbuatan dusta atas nama Allah Ta'ala dengan menghalalkan atau mengharamkan secara serampangan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan balasannya sebagaimana tertera dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

…Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. [an-Nahl /16:116-117].

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dusta yang mengatas namakan nama-Nya dalam hukum-hukum syar'i. Juga terhadap pernyataan mereka tentang perkara yang tidak diharamkan "ini haram", atau pada perkara yang tidak dihalalkan "ini halal". Ayat ini menjadi penjelasan dari Allah Ta'ala, bahwa seorang hamba tidak boleh mengatakan halal atau haram, kecuali setelah mengetahui bahwa Allah menghalalkan atau mengharamkannya [10].

Mereka tidak akan beruntung di dunia maupun di akhirat. Dan pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menampakkan kehinaan mereka. Meskipun mereka menikmati hidup dengan nyaman di dunia ini, akan tetapi itu hanyalah kenikmatan sekejap. Tempat kembali mereka adalah neraka. Di sana, bagi mereka siksaan yang pedih.[11]

Pengendalian Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu
Di tengah masyarakat, kita dapat menyaksikan banyak bertebaran fatwa-fatwa tanpa dasar yang dibenarkan. Anehnya, orang-orang berusaha menahan diri berbicara (berpendapat) dalam disiplin ilmu-ilmu umum di hadapan para ahlinya. Konkretnya, seorang yang bukan dokter merasa tidak nyaman berbicara dalam masalah-masalah kedokteran di hadapan dokter. Atau bukan arsitek merasa tidak nyaman berbicara tentang arsitektur di hadapan seorang insiyur. Namun, sikap serupa tidak disaksikan dalam urusan-urusan agama. Sifat merasa lebih mengetahui terlalu menonjol. Padahal mereka meyakini Allah Maha Mendengar segala perkataan, Maha Melihat saat mengeluarkan hukum, penilaian maupun fatwa [12].

Pendapat-pendapat ganjil pun mengemuka. Bahkan terkadang sangat menggelikan, hingga benar-benar memperlihatkan betapa dangkal ilmu yang dimilikinya. Kekacauan sudah menjalar dimana-mana. Jadi, solusi "problematika sosial" yang sudah mewabah dan tak bisa dianggap ringan ini -yang juga merupakan solusi bagi seluruh masalah- ialah menanamkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meningkatkan kadar ketakwaan, hingga terbentuk mentalitas wajib menahan diri tidak berbicara atau tidak menjawab dan tidak mengeluarkan fatwa jika benar-benar tidak mengetahui apa-apa, atau hanya setengah tahu. Dan hendaklah dimengerti, bahwa Allah-lah yang berhak menetapkan dan menciptakan (al-khalqu wal-amru). Tidak ada pencipta selain-Nya. Tidak ada syariat bagi makhluk selain syariat-Nya. Dia-lah yang berhak mewajibkan sesuatu, mengharamkannya, menganjurkan dan menghalalkan.

Oleh karena itu, jika seseorang ditanya permasalahan yang tidak diketahuinya, hendaklah dengan lantang menjawab tanpa malu-malu dan mengatakan "aku tidak tahu, aku belum tahu, tanya orang lain saja". Jawaban seperti ini justru menunjukkan kesempurnaan akalnya, kebaikan iman dan ketakwaannya, serta kesopanan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala[13].

Kehati-Hatian Generasi Salaf dalam Masalah Ini [14]
Dahulu, para generasi Ulama Salaf, mereka bersikap wara` (menjaga diri) dalam mengeluarkan pernyataan "ini halal dan itu haram", lantaran takut terhadap ayat di atas. Selain itu, ialah untuk menunjukkan tingginya sopan santun mereka di hadapan Allah dan Rasul-Nya, yang berhak menetapkan hukum atas umat manusia, padahal mereka mengetahui dalil penghalalan atau pengharamannya dengan jelas.

Imam Maalik rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Qabîshah bin Dzuaib, bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada 'Utsmân bin 'Affân Radhiyallahu anhu mengenai dua perempuan bersaudara yang sebelumnya berstatus sebagai budak. 'Utsmân Radhiyallahu anhu menjawab: "Sebuah ayat menghalalkannya, dan ayat lain telah mengharamkannya. Adapun saya, tidak suka untuk melakukannya"[15].

Imam al-Qurthubi rahimahullah meriwayatkan: ad-Dârimi berkata dalam Musnad-nya: Harun telah memberitahukan kepada kami dari Hafsh dari al-A'masy, ia berkata: "Aku belum pernah mendengar Ibrâhîm (an-Nakha`i) berkata '(Ini) halal atau haram,' akan tetapi ia mengatakan (bila menghukumi): 'Dahulu, orang-orang tidak menyukainya. Atau dahulu, orang-orang menyukainya'." [16]

Ibnu Wahb rahimahullah berkata dari Imam Mâlik rahimahullah : "Tidaklah menjadi kebiasaan orang-orang (sekarang) atau orang-orang yang telah berlalu, juga bukan menjadi kebiasaan orang-orang yang aku ikuti untuk mengatakan 'ini halal, itu haram'. Mereka tidak berani untuk melakukannya. Kala itu, mereka hanya mengatakan nakrahu kadza (kami tidak menyukainya), naraahu hasanan (kami melihatnya baik), nattaqî hadza (kami menghindarinya), walâ narâ hâdza (kami tidak berpandangan demikian)".

Dalam riwayat lain: "Mereka tidak mengatakan 'ini halal atau haram'. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman (yang artinya): Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" -Qs. Yûnus/10 ayat 59- lantas beliau berkata: "Yang halal adalah semua yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang haram adalah semua yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya"[17].

Dalam kitab al-Umm, Imam asy-Syâfi'i rahimahullah sering mengatakan ahabbu ilayya, uhibbu, akrahu dan lafazh-lafazh semisal lainnya untuk menilai berbagai macam perkara. Wallahu a'lam.

PELAJARAN DARI AYAT
1. Haram menetapkan halal dan haram tanpa dasar syar'i, qath'i maupun zhanni, kecuali yang sudah hampir diyakini sebagai hal yang diharamkan.
2. Haram berdusta atas nama Allah Ta'ala.
3. Orang yang berdusta atas nama Allah Ta'ala, ia tidak akan beruntung di akhirat kelak. Sementara di dunia, ia akan dirundung oleh kehinaan.
4. Wajib menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara.
5. Ahli bid'ah diancam dengan ayat di atas. Wallahu a'lam
READ MORE - Jangan Mudah Memutuskan Ini Halal dan Ini Haram

Jumat, 17 Agustus 2012

Islam is a peace not terrort

A. Understanding Islam Rahmatan lil'alamin

1. Definition of  Islam

The word "Islam" is the Arabic word is "salama" which sourced as "Islaman" it means peace.

2. Understanding rahmatan

The word 'rahmatan "is the Arabic word" rohima "which sourced as" rahmatan' it means loving care.

3. Understanding lil'alamin

The word "Al-alamin" is an Arabic word that is "natural" that pluraled to "alamin", which means the universe that includes the earth and its contents.

So is the islam is islam rahmatan lil'alamin whose presence in the middle of life for communities to realize peace and human affection and natural magic.
READ MORE - Islam is a peace not terrort

Rabu, 15 Agustus 2012

Mudik Itu Silaturrahim

Di antara item Hari Raya Idul Fitri adalah identik dengan pakaian dan makanan yang serba baru. Padahal pakaian rohani selalu diabaikan. Ramadhan itu menjahitkan pakaian rohani dan menenunkan bagi orang yang berpuasa pakaian ketakwaan bukan pakaian jasmani. Alquran telah menggambarkan bagi pemeluknya bahwa pakaian jasmani itu berfungsi: menutup aurat atau keburukan tubuh, sebagai bentuk keindahan, membedakan antara si kaya dan miskin, dan melindungi manusia dari terik matahari dan dingin. Sementara pakaian rohani melindungi manusia dari sengatan api neraka dan penentu masuknya seseorang ke syurga. 

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.(Qs 7:26)

pakaian takwa ini hanya bisa ditenun oleh rasa syukur, sabar, pemurah, kepedulian, menghindari diri dari perbuatan maksiat dan amal kebaikan lainnya. Orang yang berjalan dengan kesederhanaan, jika diberi rezeki ia bersyukur dan menginfaqkannya, jika diuji dia bersabar, jika dikritik ia selalu menerima dan jika dicaci dibalas dengan senyuman itulah jalinan tenunan takwa. Inilah hakikat ramadhan agar seseorang berbakaian takwa dan pada 1 syawal nanti berhak menjadi manusia yang fitrah. 

Dan di antara item lebaran juga adalah mudik. Fenomena pulang kampung (mudik) pada saat Idul Fitri telah menjadi peristiwa budaya dan keagamaan yang sangat semarak. Menjelang Idul Fitri 1433 H, menurut Suroyo Alimoeso, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, diprediksi jumlah pemudik mencapai 16 juta jiwa.

Besarnya jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua-tiga hari menjelang Idul Fitri, telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan. Karena dalam waktu yang hampir bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil, kendaraan umum (bus) dan kereta api, serta udara dengan pesawat terbang, dan laut dengan kapal laut. Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain:

Pertama, banyak kecelakaan lalulintas. Dari tahun ke tahun, terus meningkat angka kecelakaan. Tahun ini H-9 dan H-8 (Sabtu 11/8 dan Minggu 12/8), menurut Data Kepolisian Republik Indonesia telah meninggal sebanyak 88 orang. Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca. Walaupun angka kecelakaan tinggi, para pemudik tidak takut dengan bahaya yang mengancam.

Kedua, berutang dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya mudik. Ini merupakan permasalahan dan tantangan yang setiap tahun dijalani sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman, mereka berutang dan menggadaikan barang.

Ketiga, biaya perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda transportasi menaikkan biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri. Karena itu para mudik sebagian besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun tingkat kecelakaan sangat tinggi dari tahun ke tahun.

Tujuan Mudik

Beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung.

Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain.

Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan ziarah ke kubur, selain silaturahim.

Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaruai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga seperti anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu.

Kelima, unjuk diri kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).

Dampak Negatif Mudik

Mudik Lebaran yang sudah menjadi budaya, diakui atau tidak, mempunyai dampak negatif. Pertama, konsumerisme, pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri. Di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirkan ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah dan sesama manusia yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup. Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. �
Kedua, bisa mengundang cemburu dan iri hati para penduduk kampung.

Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan 'cultural shock' (goncangan budaya). Di mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.

Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu.

Ketiga, memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik Lebaran, juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia. Selain itu, juga dapat mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Dalam sejarah mudik Lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.

Sebenarnya peristiwa urbanisasi dan migrasi adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan modern, dan merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dan undang untuk melakukan sesuai yang diinginkan. Akan tetapi, urbanisasi dan migrasi ke negara lain misalnya ke negeri jiran Malaysia, dan Arab Saudi, banyak menimbulkan masalah, karena mereka yang melakukan urbanisasi dan migrasi ke negara lain, tidak memiliki pendidikan dan kepakaran (skill) yang memadai. Akibatnya untuk bertahan hidup di kota atau di negara lain, mereka terpaksa melakukan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan hukum seperti menjadi penjual seks, peminta-minta, bahkan pencuri dan perampok.

Dampak Positif Mudik

Mudik Lebaran, di samping menimbulkan dampak negatif, juga banyak dampak positifnya. Pertama, dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung, sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi. Mereka menyewa hotel dan penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman karena membuka dan memajukan bisnis penginapan dan hotel. Belum lagi, pemudik memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan penduduk di kampung halaman mereka.

Kedua, silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.

Ketiga, persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa keagamaan (religiusitas)-nya, telah memberi andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.

Keempat, pengamalan agama. Peristiwa mudik Lebaran, juga mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idul Fitri dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.

Kelima, secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesimpulannya adalah:
Berpakaian secara lahiriah adalah wajib, karena menutup aurat adalah wajib. Tetapi pakaian batin yaitu takwa lebih harus diperhatikan. Tentu pakaian takwa ini ditenun dengan berbagai amalan-amalan yang luar biasa.

Silaturrahim itu adalah wajib. Hanya saja mudik bukanlah wajib karena mudik yang diidentikkan dengan hari lebaran bukanlah tradisi yang islami. Dan ada banyak cara untuk menjalin silaturrahim dengan orang tua, keluarga, karib-kerabat serta orang sekampung. Tidak mesti hanya menunggu mudik bareng dengan cara lebaran atau setelah selepas menunaikan ibadah puasa. silaturrahim bisa dilakukan setiap hari dan kapanpun. Wallahu 'alam
READ MORE - Mudik Itu Silaturrahim

Selasa, 14 Agustus 2012

Memaknai Kemerdekaan ala Alquran

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." 

Itulah sekilas pembukaan Undang-undang 1945 yang hampir setiap apel pagi atau acara hari nasional lainnya dibacakan. Kemerdekaan melahirkan kebebasan. Di negara yang demokratis kebebasan sangat diprioritaskan. kebebasan bersuara, kebebasan beragama, kebesasan dari rasa ketakutan dan kebebasan untuk hidup nyaman. Akan tetapi item yang empat tersebut belum tentu terpenuhi secara aktif di negeri tercinta ini. karena masih banyak rakyat ini belum menikmati apalagi dua yang terakhir kebebasan dari rasa takut dan hidup nyaman. hanya segelintir orang atau kalangan yang menikmatinya. Bagaimana syari'at islam memandang kemerdekaan ? untuk menjawab pertanyaan ini penulis sampaikan firmana Allah SWT dalam QS Ar-ra'd ayat 11


لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

baginya (setiap manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia.

kemerdekaan dilihat dari segi kepribadian menurut Alquran :
1. Kemerdekaan Individual
2. Kemerdekaan Sosial
Kemerdekaan secara individual adalah kemampuan untuk melakukan perubahan dan pengelolaannya secara baik termasuk kemampuan untuk bisa mengelola apa yang telah Allah karuniakan kepada tubuh kita ini, Mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. seorang hamba Allah jika melihat, memegang, berjalan dan aktifitas lainnya tentu sesuai dengan petunjuk dan panduan yang telah ditetapkan dalam Alquran. Karena kata hamba pada hakikatnya adalah budak dari si tuannya. tentu jika si budak tidak punya apa-apa melainkan dititipkan kepadanya sesuatu yang dipergunakan dengan baik. begitu juga manusia adalah hamba Allah yang tidak punya apa-apa dan diamnahkan semua pemberianNya untuk dipergunakan dengan sebaik mungkin dan dikelola secara optimal dan proporsional. Meskipun diberi kewenangan atau kebebasan akan tetapi kebebasan atau kewenangan tersebut dalam keterikatan bersyarat dengan iradah dan qadha Allah SWT.  Inilah hakikat kemerdekaan secara individual.

sementara kemerdekaan secara social adaalah kemampauan melakuakan perubahan massif dari yang jelek ke yang baik dari baik ke arah yang lebih baik dan kesannggupan pengelolaan perubahan tersebut. Hal ini adalah tugas dari para penguasa negeri yang diamanahkan Allah dan rakyat untuk kepentingan Allah dan rakyatnya. Kepentingan Allah adalah menjadi hakNya terhadap makhluknya yaitu tegaknya keadilan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena jika Allah ingin menghancurkan suatu negeri tersebut maka Dia terlebih dahulu menegur para penguasanya. Penguasa di sini adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif yang telah dipercayakan dengan tugas mereka masing-masing.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah (salah satunya para penguasa) di negeri itu supaya menaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra`: 16) 

Allah telah menitipkan bumi Indonesia ini khususnya kepada para penguasa negeri untuk dikelola dengan baik dan dipergunakan untuk kepentingan makhlukNya tanpa terkecuali maka hal itu termasuk kemerdekaan secara sosial. Hal ini senada dengan pasal 33 dalam ayat 3 (tiga) Jelas dinyatakan bahwa segala hal seperti, air, tanah, hasil Bumi Indonesia dikuasai oleh Negara untuk Kesejahteraan Masyarakat.  

ketaatan rakyat pada umara' (penguasa negeri) dalam hal kebaikan adalah hukumnya wajib. peraturan yang dibuat secara baik dan komprehensif tanpa pandang bulu serta sama dimata hukum maka secara tidak langsung kemerdakaan sosial telah terujud. 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59)

Selama rakyat mentaati para penguasanya dalam hal kebaikan bersama rahmat akan selalu turun dan perubahan akan diridhoi Allah. Akan tetapi jika para penguasa negeri ini tidak memperlakukan rakyat dengan baik dan hukum selalu tumpang tindih maka mereka telah melakukan pengkhiatan dan kezaliman terhadap Allah dan rasulNya termasuk kepada kaum muslimin. Dan tunggulah kebinasaan itu terjadi akibat perbuatan mereka yang segelintir.

“Takutlah kalian kepada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim diantara kalian secara khusus.” [ Al-Anfal: 25 ]  

Mudah-mudahan dalam peringatan HUT RI ke 67  2012 hendaknya  bermakna dan fokus terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat ketimbang hanya menghibur rakyat dengan berbagai perayaan yang menghabiskan badget puluhan, ratusan bahkan milyaran juta. semoga...!!!

 
READ MORE - Memaknai Kemerdekaan ala Alquran

Perspektif Aidil Fitri pada Makanan Halalan Tayyiban

Banyak orang mengartikan "adil fitri" dengan kembali kepada kesucian. Karena selama satu bulan penuh ditempa dan dibina oleh puasa di bulan ramadhan menjadikan orang-orang beriman yang berpuasa kembali suci bagaikan bayi yang baru lahir atau seumpama kertas kosong yang belum dicoret dan ditulis. tapi ironisnya banyak orang yang berpuasa  sekedar menggugurkan kewajiban bahwa dia telah menunaikan ibadah puasa hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja sementara amalan-amalan yang lain tidak dikerjakan dan bahkan anggota tubuh pun tidak terjaga baik, mulut yang sering berkata kotor, mata yang selalu lirik sana-sini dan digunakan menonton acara-acara yang dianggap mengurangi ibadah puasa dan banyak yang lainnya sehingga ketika 1 syawal datang mereka dianggap kembali suci (aidil fitri) karena puasanya satu bulan penuh, ini sungguh ironis sekali. Fitrah itu artinya banyak bisa berarti suci, bersih, kewajiban, naluri dan berbuka atau sarapan. Penulis lebih terkesan arti Fitri di sini berbuka atau sarapan. Seakar dari kata alifthar ( berbuka ) atau futhuur ( sarapan ). Sedangkan "aid" adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang. Maka hari-hari besar tertentu yang dilakukan secara berulang-ulang disebut 'aid. Hari raya disebut 'aid karena pelaksanaanya dilakukan secara kebiasaan. sebagaimana Allah firmankan dalam Alamaidah ayat 114 :

qaala 'iisaa ibnu maryamallaahumma rabbanaa anzil 'alaynaa maa-idatan mina ssamaa-i takuunu lanaa 'iidan li-awwalinaa waaakhirinaa waaayatan minka warzuqnaa wa-anta khayru rraaziqiin 

[5:114] Isa putera Maryam berdo'a: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama". 

'Aidil Fitri adalah hari kembalinya muslimin dan muslimah sarapan dan makan. Jika diartikan lebaran maka lebaran identik dengan makanan. Hampir di setiap rumah memiliki makanan khas baik berupa kue, lontong maupun nasi yang telah dipersiapkan untuk keluarga, karib-kerabat, tetanggan dan teman-teman. Rasulullahpun sebelum beliau berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat 'aidil fitri terlebih dahalu makan beberapa biji kurma dan halib (susu murni).Berbeda dengan 'aidil adha beliau berpuasa sebentar menjelang shalat aid dan selepas menunaikan ibadahnya beliau makan. Hal di atas menguatkan bahwa 'aidil fitri adalah kembalinya kita untuk makan seperti biasa.
Namun yang sangat subtansial adalah bukan aidul fitri nya tetapi lebaran yang dirayakan dengan cara halal dan tayyib sesuatu yang ditekankan alquran. Meskipun makanan yang disajikan begitu indah dan mewah karena kegembiraan dan untuk menjaga kuatnya silaturrahim sementara kualitasnya tidak sesuai dengan syari'at akan berakibat haram dan menjadi maksiat. Alquran sangat sering membicarakan makanan dari segi kehalalan dan thayyib (baik, proporsional) di antaranya :
 1. Almaidah : 88
wakuluu mimmaa razaqakumullaahu halaalan thayyiban wattaquullaahalladzii antum bihi mu/minuun
[5:88] Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. 

2. Alanfal : 69
fakuluu mimmaa ghanimtum halaalan thayyiban wattaquullaaha innallaaha ghafuurun rahiim
[8:69] Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

1. Albaqarah : 168
yaa ayyuhaa nnaasu kuluu mimmaa fii l-ardhi halaalan thayyiban walaa tattabi'uu khuthuwaati sysyaythaani innahu lakum 'aduwwun mubiin
[2:168] Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu

Memakan makanan yang halal dan tayyib (baik dan layak untuk dimakan) akan mempengaruh tubuh seseorang dan termasuk jiwa nya. jika nutrisi itu baik dan layak tentu akan bedampak baik secara lahir kepada kondisi tubuh dan jika makan itu halal tentu akan berdampak suci terhadap jiwa sesorang sementara jika salah satu diantara tidak terpenuhi, bisa saja makan itu halal tapi tidak tayyib atau tayyib tapi haram sangat berdampak terhadap fisik dan jiwa atau lahir dan batin nya. Dan termasuk yang tayyib adalah yang baik dampak atau akibatnya:

waaatuu nnisaa-a shaduqaatihinna nihlatan fa-in thibna lakum 'an syay-in minhu nafsan fakuluuhu hanii-an marii-aa
[4:4] Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan267. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibat.

Jika kita memberikan makanan orang dewasa terhadap anak kecil tentu tidaklah baik akibatnya bagi mereka begitu juga memberikan makanan yang terlalu manis terhadap orang yang menderita penykit kencing manis atau makanan terlalu asin terhadap orang yang tekanan darahnya tinggi.


Hendaknyalah menjadi renungan bagi kita untuk memperhatikan proporsionalitas dalam perayaan lebaran ini. janganlah terlalu berlebihan, karena Allah tidak suka terhadap orang yang berlebihan dalam segala hal termausk dalam makan dan minum :

yaa banii aadama khudzuu ziinatakum 'inda kulli masjidin wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu innahu laa yuhibbu lmusrifiin
[7:31] Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid534, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan535. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. 

Karena berlebihan adalah sifatnya setan dan orang munafik. wallahu'alam


READ MORE - Perspektif Aidil Fitri pada Makanan Halalan Tayyiban

Jumat, 10 Agustus 2012

Menjadi Mantera (Muslim transformer)

Entah mengapa, istilah ini ujug-ujug muncul sesaat bangun sahur di hari ke sebelas ramadhan. Kita harus menjadi muslim transformer. Itulah kalimat yang muncul, tak tersadari dari lisanku. Saat itu pun, sesungguhnya, hanya baru beberapa menit saja mata ini terbuka. Bahkan, tubuhpun belum beranjak dari atas ranjang tidur. Benak itu, berulang-ulang, mengajak diriku sendiri, untuk menjadi seorang muslim transformer.

Tanpa berusaha keras untuk mencari tahu makna dibalik istilah itu, kemudian seperti biasa, keluar kamar dengan maksud untuk persiapan makan sahur. Istriku, sudah mempersiapkan tadi sore. Sehingga, persiapan sahur pun tidak terlalu ribet. Paling-paling, kalaupun mau dihangatkan, ya menghangatkan lauk pauknya semata. Itulah rutinitas pagi buta, di setiap sahur ramadhan.
Selepas makan sahur, dan sambil menanti tibanya ibadah shalat subuh. Mulailah menuliskan huruf demi kata, dan kata demi kalimat, mengenai muslim transformer. Kita dituntut untuk menjadi seorang muslim transformer.
Inspirasi utama dalam mewujudkan impian itu, tiada lain adalah dari pengalaman kita dalam berpuasa. Puasa ramadhan, yang kita jalani selama satu bulan penuh ini, merupakan momentum bagi kita, untuk melatih diri, membina diri, mendidik diri, mendisiplinkan diri, dan melakukan perubahan diri secara gradual atau menyeluruh aspek spiritual kita.
Bila dicermati dengan seksama, banyak aspek-aspek ramadhan, yang memiliki nilai pembiasaan. Bahkan, bisa jadi, ramadhan itu adalah bulan pembiasaan (it’s time of habitution). Ketidakpekaan jiwa selama ini, ketidakpedulian kita selama ini, dan keterasingan diri saat ini, dikoreksi total oleh ramadhan. Seorang muslim dituntut, ditantang, dan diajak untuk melakukan transformasi, mengubah diri dari masa lalu ke masa kini, untuk menggapai masa depan. Mengubah diri dari satu kondisi ke kondisi lain.
Misalnya, bila dirinya memang sudah mengikrarkan diri sebagai orang beriman, maka langkah berikutnya adalah dituntut untuk membuktikan keimanan itu dalam bentuk kesungguhan hati dalam menjalankan ibadah puasa. Karena, hanya mereka yang memiliki keimanan terhadap ajaran agama, dan perintah Tuhan itulah, yang menjalankan ibadah puasa. Dalam kaitan ini, seorang muslim harus mampu mentransformasikan dari keyakinan ke dalam perbuatan, dari keimanan pada keamalan.
Setiap muslim yang beriman, merasa yakin bahwa ibadah puasa itu wajib. Tiada seorang pun memiliki hak untuk membatalkan perintah Allah Swt. Aturan main atau pelaksanaannya, harus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dalam Agama Islam, atau disebut dengan syari’. Tetapi, baik untuk mengawali ramadhan, dan atau mengakhirinya (ketentuan tanggal 1 syawal), secara fiqhiyyah sendiri memungkin adanya perbedaan. Untuk konteks Indonesia, fenomena inilah yang sering kali muncul ke permukaan. Dari tahun ke tahun, kita senantiasa dihadapkan pada adanya perbedaan penentuan awal ramadhan, dan awal bulan syawal (idul fitri).
Bila kita tidak sadar diri, tidak peka pada hakikat keislaman, sudah tentu hal-hal seperti ini, akan memudahkan kita mengalami konflik bathin atau malahan konflik sosial. Tetapi, dengan adanya fenomena ramadhan seperti ini pula, kita diajak untuk lahir menjadi seorang muslim yang transformer, yaitu mentransformasikan diri sebagai muslim yang teguh pada keyakinan, tetapi menghargai perbedaan. Perbedaan hasil ijtihad, tidak perlu diartikan sebagai sebuah permusuhan. Perbedaan hasil ijtihad, setidaknya selama ini, masih tetap dimaknai sebagai sebuah kekayaan ilmu Islam. Itulah hakikat dari muslim transformer, yaitu muslim yang teguh pada keyakinan, tetapi tetap menghargai perbedaan.
Kemudian, di tengah perjalanan dan diakhir perjalanan, seorang muslim pun dikondisikan untuk membiasakan mengeluarkan infaq shadaqah. Bahkan di akhir ramadhan, dia diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Kenyamanan dirinya bersahur dan berbuka puasa, serta kebahagiaan diri dan keluarganya menjelang ramadhan, serta merayakan hari kemenangan di idul fitri, perlu diimbangi pula dengan kemampuan untuk peduli pada sesama. Mengeluarkan infaq shadaqah, merupakan contoh dari amalan sosial. Dengan kata lain, di bulan ramadhan ini, seorang muslim diajak untuk mampu menampilkan diri secara aktif dan kreaif mengubah diri, dari muslim individualis ke individu yang peka sosial. Itulah transformasi dari amalan munfaridan ke amalan jama’i atau dari kesalehan individual ke kesalehan sosial.
Terkait dengan mental pun, demikian adanya. Untuk menjadi orang yang peka dan peduli pada sesama, seorang muslim yang perpuasa dikondisikan terlebih dahulu untuk merasakan, menikmati dan menjalami proses lapar dan kelaparan.
Renungkan sejenak. Seorang muslim ini, merasakan dua kondisi, yaitu lapar dan kelaparan. Lapar adalah kondisi tubuh yang merasakan kekurangan asupan makanan. Semua orang atau makhluk hidup, akan merasakan lapar. Tumbuhan yang tidak di siram atau tidak dipupuk, akan merasakan lapar. Hewan yang tidak dikasih makan, juga akan merasakan lapar. Begitu pula manusia. seorang muslim yang berpuasa, di siang harinya, potensial merasakan lapar.
Berbeda dengan kelaparan. Kalau lapar adalah kondisi alamiah, sedangkan kelaparan itu adalah kondisi ketidakberdayaan. Tumbuhan yang kelaparan, karena tidak mendapatkan kesempatan mendapatkan air atau nutrisi tanaman. Hewan yang kelaparan, karena dia tidak mendapatkan kesempatan mengkonsumsi makanan. Seperti itulah yang dirasakan oleh orang yang kurang beruntung. Masyarakat miskin, atau yang kurang beruntung (faqir miskin) bukan saja merasakan lapar, tetapi juga kelaparan. Mereka merasakan kelaparan, karena tidak memiliki daya atau kekuatan untuk memenuhi rasa lapar tersebut.
Kalau seorang muslim yang sedang berpuasa, sesungguhnya hanya merasa lapar saja. Dia tidak kelaparan. Karena, orang yang berpuasa itu, dia tahu dan memiliki optimisme selepas bedug maghrib akan mampu memuaskan kebutuhan biologisnya. Sementara orang papa, dia tidak yakin dan tidak memiliki peluang yang leluasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia memiliki serba keterbatasan. Itulah kelaparan.
Pada konteks itulah, puasa ramadhan, membangun kesadaran pada seorang muslim, dari merasakan lapar untuk bersikap peka peduli pada orang yang sedang mengalami kelaparan. Dari berpuasa itu, seorang muslim, disadarkan atau tersadarkan mengenai umat manusia di luar dirinya. Dia tahu rasanya lapar, dan dia pun dituntut peka dan peduli pada orang yang kelaparan.
Hemat kata, melalui puasa, sesunggunya kita dituntut untuk mentransformasikan rasa lapar ini ke dalam bentuk kepedulian kepada sesama yang mengalami kelaparan. Itulah pendidikan mental sosial melalui puasa.
READ MORE - Menjadi Mantera (Muslim transformer)

Rabu, 08 Agustus 2012

Jika anda tidak sanggup, jangan terima amanah itu ..!!!

Dewasa ini tanggung jawab tidak lagi dianggap sebagai amanah dan sebaliknya amanah pun tidak dipertanggungjawabkan dengan baik. Bahkan kebanyakan menganggap amanah itu adalah anugrah sehingga tidak diherankan setiap orang mendapat posisi, jabatan dan kenaikan pangkat atau karir disambut dengan pesta. Memang tidak salah jika mendapatkan nikmat kita bersykur dan mengekpresikannya dengan rasa senang karena manusia yang baik adalah yang selalu bersyukur jika mendapatkan suatu anugrah dan bersabar jika belum meraihnya. Tetapi, jabatan, posisi dan kenaikan pangkat atau karir pada hakikatnya bukan lah anugrah melainkan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan baik dan dipertanggungjawabkan secara optimal. Sungguh ironis sekali jika ada orang menerima amanah dengan wajah berseri-seri sementara dia tidak kapabel atau tidak melakukannya dengan perfect. Inilah yang disebut dengan kehancuran dan merupakan termasuk penantian kiamat. 

قال عليه الصلاة و السلام : إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة ، قال أبو هريرة : كيف إضاعتها يا رسول الله ؟ قال : إذا أسند الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة (رواه البخاري)

“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari)


Di sisi lain nabi menegaskan:
Redaksi hadist Nabi : "siapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan kekerabatan dan kedekatan, sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya, maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (H.R. al-Hakim)
Kata Amanah berasal dari bahasa Arab amana-ya'manu-amnan atau amanatan yang berarti aman dan tentram. Karena setiap yang dititipkan kepada seseorang dan ia mampu menunaikan dengan baik maka akan berakibat aman dan nyaman bagi si penitip atau yang dititip. Kenyamanan terujud dengan tidak menyia-nyiakan amanah (titipan atau kepercayaan) tersebut. Lawab dari amanah adalah Khianah yang berarti kurang atau tidak aman. sebagai ilustrasi, jika seseorang menitipkan uang 100 ribu kemudian dikembelikan 99 ribu berkurang 1000 maka orang tersebut berkhianat atau membuat titipan tersebut berkurang dan tidak aman lagi. Bagitu juga dengan jabatan, pangkat dan karir jika tidak diemban dengan baik dan rasa tanggung jawab maka dia sudah berkhianat dan mengurangi kualitas jabatan tersebut. Dan termasuklah dia kepada orang-orang yang curang alias munafik.
Dasar Amanah:
1.Alahzab :70
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.” 
Dari ayat di atas disimpulkan jika kita sanggup menerima amanah maka tunaikanlah dengan baik dan seandainya kalau tidak sanggup tidaklah Allah itu marah bahkan Dia senang jika kita menolaknya. Sungguh termasuk orang yang berbuat aniaya (zhalim) dan bodoh (bukan karena tidak tahu) jika dia menerima amanah dan tidak ditunaikan dengan baik dan tepat.
2. Annisa' : 58
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” 
Amanah sama ibaratnya dengan barang dagangan. Dagangan yang berkualitas tentu akan menguntngkan bagi si pemiliknya. Amanah yang ditunaikan dengan baik dan tepat sasaranya pasti memberikan kepuasan khusus bagi si pemilik dan si pemangku amanah tersebut. Menunaikan titipan Allah SWT (agama dan syari'ahNya), rasulNya ( sunnah dan kebiasaan baik beliau) dan amanah sosial (orang tua, anak, keluarga, tetangga, bernegara) adalah bentuk amanah yang harus ditunaikan dengan baik dan adil. Wallahu'alam  
READ MORE - Jika anda tidak sanggup, jangan terima amanah itu ..!!!

Minggu, 05 Agustus 2012

Ramadhan sebagai therapi


Bila diperhatikan dengan seksama. Kadang kita merasa ragu terhadap efektivitas ramadhan. Ramadhan itu adalah therapy spiritual. Di dalamya ada obat yang bisa menyehatkan, sebagaimana janji Rasulullah Saw, shumu tashihu (berpuasalah, niscara kamu sehat). Ramadhan berulang kali hadir, tetapi spiritual kita, terasa tidak pernah beranjak dari status yang lalu-lalu. Mengapa hal itu terjadi ?

Pernahkah memperhatikan orang yang sedang berkonsultasi ke dokter, atau psikiater ? andaipun, tidak memperhatikannya, mungkin kita pernah konsultasi, membicarakan masalah kesehatan kita. Pada saat kita hadir didepan meja kerja dokter atau psikiater, dengan santun, beliau mempersilahkan kita duduk. Setelah duduk, kemudian, beliau bertanya kepada kita mengenai identitas, mulai dari nama, umur dan alamat tinggal. Sampai pada bagian-bagian detilnya, yaitu menanyakan keluhan yang kita alami saat ini.
Apa yang dirasakan ibu ? sudah berapa lama ? makan apa sebelumnya ? atau mengalami apa yang sebelumnya, dan sudah pernah berobat ke mana ? mana obat yang selama ini dikonsumsi ? dan lain sebagainya. Pertanyaan itu, bisa lebih banyak lagi bila dirinci. Pertanyaan itu, bisa lebih banyak lagi, bergantung pada jenis penyakit yang kita rasakan saat itu.
Bagi kalangan tenaga kesehatan, proses seperti ini, disebutnya anamnesis atau proses wawancara. Bagi seorang dokter,wawancara dengan pasien, merupakan kebutuhan mutlak, sebelum melakukan tindakan medis atau perawatan kesehatan.
Betul. Seorang dokter memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi kesehatan. Tetapi, tahapan anamnesis tetap harus dilakukan. Karena melakukan diagnosis, bisa dilakukan dengan cara anamnesis. Bahkan, anamnesis ini, dapat dijadikan informasi tambahan mengenai penyakit yang diderita pasien.
Alangkah malangnya dokter, dan celakanya seorang pasien, bila pasien itu tidak memberikan informasi yang benar. Dokter akan mengalami kebingunan analisis, bila pasien mengemukakan keluhan yang berbeda dengan penyakit yang dideritanya. Ada banyak kemungkinan, dalam menghadapi kasus ini. Pertama, pasien tidak percaya terhadap pernyataan dokter mengenai jenis penyakit yang sedang dideritanya. Dokter mengatakan, “sakit A”, sementara pasien tidak mau mengakuinya. Kedua, dokter akan percaya pada penjelasan pasien, dan memberikan tindakan medis yang sesuai dengan penjelasan pasien itu sendiri. Akhirnya, akan terjadi malpraktek. Ini bisa terjadi, bila petugas kesehatan, bertindak sembarangan, dan hanya menyandarkan pada informasi dari pasien saja. Ketiga, pasien tidak akan menaati treatmen (tindakan) medis dari dokter, seperti obat dan therapi yang lainnya, dan akibatnya keluhan atau penyakitnya itu tidak kunjung sembuh juga.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Kadang kita amat serius, mensikapi masalah kesehatan fisik. Ketika kita merasa ada keluhan, kita langsung mencari dokter (tenaga kesehatan fisik), dengan maksud untuk mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan. Bagaimana dengan kesehatan mental atau kesehatan spiritual kita ?
Ramadhan datang setiap tahun. Tetapi, kita merasa belum memberikan pengaruh nyata terhadap perubahan perilaku, dan perubahan spiritual kita. Bila kita artikan, ramadhan itu sebagai sebuah therapi, apa masalah yang sedang terjadi pada kita selama ini ? mengapa, setiap ditherapi kita belum juga merasa lebih baik, belum juga merasa sehat lagi ? apa yang sedang terjadi pada kita saat ini ?
Mengikuti dan memperhatikan peristiwa serta proses yang kita jalani pada saat meminta bantuan kesehatan kepada dokter fisik, setidaknya, kita menemukan ada beberapa masalah yang potensial terjadi pada kita.
Pertama, kita tidak secara jujur dan terbuka dalam proses anamnesis. Artinya, pernah kita secara jujur pada dirinya, dan kepada Allah Swt, mengenai apa yang menjadi keluhan dalam hidup ini. Pernah kita mengeluhkan hidup ini kepada Allah Swt ? dalam bahasa Agama, pernah kita dzikir atau berdoa kepada Allah Swt ?
Mengeluhkan nasib kepada sesama manusia, hanya akan memperluas pengetahuan orang lain mengenai masalah kita. Masalah kitapun, tidak akan pernah selesai dengan sekedar diobrolkan. Mengeluhkan nasib kita kepada Allah Swt, Allah Swt akan turun menyelesaikan masalah yang tidak bisa dipikul oleh kita. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan, dan serahkan kepada Allah berbagai masalah yang tidak bisa kita pikul. Itulah yang disebut proses anamnesis spiritual seorang muslim dengan Allah Swt.
Setiap hari kita konsultasi dengan Allah. Minimalnya melalui shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Shalat pada dasarnya, adalah waktu konsultasi dengan Allah Swt. Tetapi, sadarkah kita, jujurkah kita, curhatkan kita kepada Allah Swt mengenai apa yang sedang kita hadapi saat ini ? alih-alih curhat dengan jujur dan khusyu, konsultasi dengan Allah Swt, seringkali ditunjukkan seperti orang yang merasa tidak butuh.
Kedua, bila kita abai terhadap pertanyaan Allah Swt, apabila kita tidak serius mencurahkan perasaan dan keluhan hidup kita dihadapan Allah Swt, mana mungkin Allah Swt memberikan solusi terbaik kepada kita ? dokter pun akan abai kepada kita, disaat kita tidak memberikan penjelasan mengenai keluhan yang diderita. Orang yang abai saat konsultasi, bisa diartikan atau bisa dimaknai sebagai orang yang tidak peduli, dan tidak butuh dengan apa yang sedang dialaminya.
Perintah Allah Swt, “berdoalah, niscaya akan Aku Kabulkan”. Ini adalah janji Allah Swt. Artinya, bila kita mencurhatkan masalah hidup kita secara serius kepada Allah Swt, kelak Allah akan memberikan pertolongannya dalam memecahkan masalah-masalah hidup kita. Karena itu, curhatkanlah secara seksama, dengan maksud supaya tindakan spiritual yang Allah Swt berikan kepada kita, dapat menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi saat ini.
Ketiga, jangan-jangan, kita termasuk pada pasien yang nakal. Maksud dari pasien nakal itu, adalah pasien yang tidak mau nurut dengan therapi yang diberikan dokter. Menurut versi dokter, kita dianjurkan minum obat, 3 x 1 dalam sehari. Boro-boro meminum obat sesuai anjuran itu, bahkan obat itu pun dibuangnya sendiri ke tempat sampah. Sesering apapun anda konsultasi dengan dokter, bila therapi yang diberikan dokter tidak dijalani, maka pemulihan kesehatan akan sulit diwujudkan secara efektif.
Ini kisah seorang sahabat. Dia saudah tahu, berpenyakit kolesterol dan diabets. Menurut dokter, dia harus menjaga pola makan dan sejumlah makanan tertentu. Karena merasa sudah sehat, dia abaikan nasehat itu. Tahu-tahunya, kedua penyakit itu kambuh lagi, dan bahkan, penyakit itu sangat parah. Kakinya membusuk, hingga dalam hitungan minggu, beliau tidak bisa diselamatkan lagi. Beliau ini, mengalami nasib buruk, karena mengabaika nasihat dokter mengenai pola makan dan gaya hidup.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang dihadapi oleh kita saat ini. Ramadhan adalah therapi spiritual yang disediakan Allah Swt, untuk meningkatkan kualitas kesehatan hidup kita. Persoalannya, adalah apakah kita menjalani proses ibadah shaum ramadhan ini secara baik dan benar ? apa yang akan terjadi, bila langkah-langkah pengobatan spiritual selama ramadhan ini, tidak kita jalankan ? apakah kesehatan kita akan pulih ?
Terakhir, hal yang paling buruk lagi, seringkali, kenakalan kita dalam menjalani therapi dari dokter, kita malah menyalahkan dokter itu sendiri. Sesudah berkonsultasi berulang kali, tapi tidak juga kunjung sembuh, dia malah menyalahkan tenaga medis tersebut. “Sudah mahal, obatnya tidak manjur”. Dokter tidak profesional. Dokter tidak berkualitas. Umpatan-umpatan itu, dan yang sejeninya berhamburan, sebagai bentuk kekesalan terhadap berbagai therapi yang tidak efektif dalam menyembuhkan penyakit yang dideritanya selama ini.
Bila diperhatikan dengan seksama. Kadang kita merasa ragu terhadap efektivitas ramadhan. Ramadhan itu adalah therapy spiritual. Di dalamya ada obat yang bisa menyehatkan, sebagaimana janji Rasulullah Saw, shumu tashihu (berpuasalah, niscara kamu sehat). Ramadhan berulang kali hadir, tetapi spiritual kita, terasa tidak pernah beranjak dari status yang lalu-lalu. Mengapa hal itu terjadi ? mari renungkan bersama.
READ MORE - Ramadhan sebagai therapi