marquee

Selamat Datang di Blog Kami

welcome

Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah

Selasa, 06 April 2010

10 Ucapan Dahsyat Agar Allah Sayang Kita

Menampik Rahmat Ilahi Melalui Shilaturrahmi

Dalam bukunya, Ten Powerful Phrases for Postive People ( 10 ucapan dahsyat untuk orang-orang sukses), Rich De Vos, pendiri Amway Corporation dan Komisaris Orlando Magic NBA mengatakan kata-kata sederhana mengakui “Saya bersalah” atau “Saya percaya padamu” mungkin dapat membantu kita untuk menjalin hubungan yang lebih baik. Baik penguasa atau pemerintah kepada rakyatnya, atasan kepada bawahannya. Begitu juga para pegawai pemerintahan dalam melayani masyarakat. Tentu perseteruan yang populer dengan sebutan “Cicak melawan Buaya” itu tidak akan berlarut-larut. Sebagai sesama yang saling membuthkan semestinya memang tidak begitu. Dalam istilah bahasa Jawa; Ngono yo ngono nanging mbokyao ojo ngono, begitu ya begitu tapi jangan begitu amat.

Lebih lanjut Rich DeVos memaparkan ucapan-ucapan tersebut membuat kita merasa lebih positif terhadap diri sendiri, sekaligus dapat membantu orang lain merasakan hal yang sama tentang diri mereka.

Adapun sepuluh ucapan dahsyat itu, yaitu pertama; “Saya salah”, Rich deVos memilih ucapan itu paling utama kata ucapan itu paling sulit dikatakan dengan tulus. Betapa sangat sulit untuk mengakui kita salah, bahkan kepada diri kita sendiri, dan semakin sulit lagi untuk mengatakannya terutama kepada orang yang kita sayangi dan yang kita ingin menyanyangi kita.

Kedua; “Saya menyesal,” dimana pada saat berkata “Saya salah,” kita juga harus menyesal. Ketika melakukan kesalahan, kita mungkin telah menyakiti orang lain pada prosesnya, maka pengakuan kita harus lebih dari sekedar teknis atau mekanis, tapi menunjukkan kita tulus menyesal. Ketiga; “Kau bisa melakukannya”, sebuah ucapan untuk memotivasi orang bisa melakukan apa pun kalau punya tekad yang kuat. Hal ini sama dengan ucapan keempat; “Saya yakin padamu” sebagai perpanjangan ucapan “Kau bisa melakukannya” tapi lebih personal lagi.

Kelima; “Saya bangga padamu”, ucapan yang terdahsyat ketika kita bersama anak-anak, selain ucapan “Aku sayang padamu” tentunya. Ucapan “Saya bangga padamu” terutama untuk menyemangati orang-orang yang biasanya tidak memenangkan penghargaan atau imbalan dari kehidupan, yang meragukan kemampuan mereka dan sulit mendapatkan sesuatu yang dibanggakan.

Keenam; “Terima kasih”, sebuah kosa kata yang merupakan harapan kita yang berfungsi dengan baik dalam masyarakat kita yang berbudaya. Ketujuh; “Saya membutuhkanmu” adalah kalimat dahsyat untuk orang-orang yang positif karena ucapan itu mengakui bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dan Tuhan menciptakan setiap orang untuk suatu tujuan dan untuk memenuhi kebutuhan.

Kedelapan: “Saya percaya padamu” adalah kalimat dahsyat lainnya yang sangat penting untuk orang-orang positif. Kesuksesan masayarakat kita tergantung pada adanya kepercayaan bahwa seseorang akan melakukan pekerjaan dengan baik, mempercayai kejujuran masing-masing, dan percaya bahwa orang-orang akan menepati janji mereka.

Kesembilan; “Saya menghormatimu” adalah ucapan sangat dahsyat, tetapi rasa benar-benar harus diusahakan dan ditunjukkan. Rasa hormat bersifat timbal balik. Jika kita ingin dihormati, kita juga harus menghormati orang lain.

Terakhir, kesepuluh; “Saya mencintaimu”, sebuah ucapan yang kalau benar-benar kita mengatakannya dengan sepenuh hati akan memiliki kuatan yang sangat besar. “Saya mencintaimu” kalimat dahsyat yang melingkupi semua hal lain. Cara kita merasakan orang lain, apakah itu cinta romantis hubungan keluarga, atau bahkan persahabatan adalah sebuah bentuk cinta, betapa memang kita harus saling mencintai.

Tentu saja sepuluh ucapan tersebut merupakan basement dalam meraih rahmat ilahi dan sebuah kekuatan untuk merajut silaturrahmi.

Manusia, seperti yang dijelaskan Allah swt dalam surat an-Nisa’ [4]: 28 adalah makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah. Bahkan, isyarat tersebut dengan jelas juga Allah sebutkan dalam salah satu ayat-Nya dari wahyu pertama yang diturunkan, surat al-‘Alaq [96]: 2, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari ‘Alaq. ‘Alaq secara harfiyah artinya sesuatu yang menggantung (oleh karena itu, lintah di dalam bahsa Arab disebut juga dengan ‘alaq). Hal itu mengisyaratkan bahwa semenjak awal penciptaannya, manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan kepada pihak lain disebabkan kelemahan manusia itu sendiri. Tidak ada satupun pekerjaan atau aktifitas, sekecil apapun yang bisa dilakukan manusia tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Tertawa atau senyum adalah suatu pekerjaan atau aktifitas yang sangat kecil dan sederhana, namun jika itu dilakukan sendiri atau tanpa adanya orang lain, maka tersenyum atau tertawa sendiri bisa menjadi “petaka” bagi yang bersangkutan.

Oleh karena itulah, manusia dalam kehidupannya memiliki fitrah dan kecendrungan untuk hidup secara bersama dan berkelompok. Jika saja ada manusia yang cendrung hidup sendiri atau individualis, maka dia telah keluar dari fitrah kemanusiaannya. Dan kecendrungan serta keinginan untuk membangun kelompok ini diwujudkan manusia melalui jalan membangun shilaturrahmi.

Shilaturrahmi adalah bagian yang sangat penting dari ajaran Islam. Sebab, tujuan kedatangan Islam adalah menebarkan rahmat (kasih sayang) terhadap seluruh alam dan makhluk. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak sekali kata amal shalih yang seringkali disandingkan dengan kata iman. Akan tetapi, Allah swt. tidak menyebutkan secara rinci apa saja yang termasuk amal shalih itu. Namun demikian, bukan berarti amal shalih tersebut tidak disebutkan jenisnya di dalam al-Qur’an. Di mana Allah swt. memberikan isyarat bahwa untuk mengetahui bentuk-bentuk amal shalih tersebut, perlu melihat kata yang menjadi lawan dari amal shalih itu. Di dalam al-Qur’an kata amal shalih dilawankan Allah swt dengan kata fasâd (kerusakan). Hal itu terdapat dalam surat Shad [38]: 28

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih sama seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?.”

Ayat ini memberikan isyarat bahwa rincian amal shalih itu dapat diketahui dengan merujuk semua bentuk perbuatan fasâd (berbuat kerusakan) yang ada dalam al-Qur’an. Dan di dalam al-Qur’an, minimal ada 11 perbuatan yang disebutkan sebagai perbuatan fasad (kerusakan), di antaranya adalah memutuskan tali shilaturrahmi. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 27

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Dengan demikian, menjalin shilaturrahmi adalah bagian dari amal shalih. Di dalam al-Qur’an setidaknya terdapat 11 pula janji Allah swt. terhadap pelaku amal shalih, di antaranya adalah bahwa Allah menjanjikan mereka dengan pahala dan balasan yang tiada akan pernah terputus. Sehingga, tiadalah ketakutan dan kecemasan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah [2] 277

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Bagaimana mungkin orang-orang yang suka bershilaturrahmi dan memiliki hubungan yang baik dengan sesama akan dihinggapi rasa sedih, cemas dan takut. Sebab, dia tidak memiliki musuh atau siapapun yang akan mendatangkan bahaya kepadanya. Ke manapun dia pergi dan di manapun dia berada, tentu semua orang bisa menerimanya dengan baik. Hal ini, tentu saja berbeda dengan orang yang tidak suka bershilaturrahmi, di mana hidupnya akan terasa sempit dan barangkali saja dia akan diliputi rasa sedih, cemas dan takut di manapun dia berada. Karena, dia tidak memiliki banyak teman, di tambah lagi jika memiliki banyak musuh yang bisa saja sewaktu-waktu mengancam keselamatanya.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia selalu bershilaturrahmi (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nasa’i).

Berdasarkan hadits di atas, setidaknya ada dua keuntungan yang diperoleh bagi yang bershilaturrahmi. Pertama, dilapangkan rezekinya oleh Allah. Pengertian dilapangkan rezekinya bisa dalam arti bahwa Allah memberikan langsung rezeki yang berlimpah kepadanya sesuai janji Allah dalam surat Fushshilat [41]: 8, di mana mereka akan mendapatkan balasan yang sangat besar dan tiada akan terputus. Pengertian dilapangkan rezeki yang lain adalah bahwa dengan bershilaturrahmi, menjalin persahabatan, memperbanyak kawan, relasi, jaringan dan sebagainya akan membuka kesempatan dan peluang kerja. Jika seorang memiliki banyak teman dan relasi tentulah semangat dan kesempatan usaha akan terbuka lebar, akan berbeda halnya dengan orang yang tidak punya banyak teman dan relasi, apalagi punya banyak musuh, bukan hanya merasakan sempitnya lapangan usaha, namun peluang dan kesempatan yang sudah di depan mata pun bisa hilang begitu saja.

Kedua, orang yang suka bershilaturrahmi dan membangun hubungan baik akan dipanjangkan umurnya oleh Allah. Pengertian dipanjangkan umurnya bisa beberapa bentuk, diantaranya orang yang selalu membangun shilaturrahmi dan memilki banyak teman serta hubungan yang baik dengan sesama, sekalipun dia telah meninggal dunia orang lain tetap mengenang dan menyebut-nyebut namanya sebagai orang baik. Bahkan, orang lain masih merasakan kalau dia seakan masih hidup bersama mereka. Berbeda halnya dengan orang yang suka memutuskan shilaturrhami dan memiliki banyak musuh, di mana dengan sangat cepat sekali orang lain melupakannya, bahkan tidak mau mengenang dan menyebut namanya lagi. Pengertian lain dari dipanjangkan umurnya adalah bahwa jika seseorang selalu bershilaturrahmi dan memilki hubungan yang baik dengan sesama serta mempunyai banyak teman dan sahabat, setidaknya dia akan terhindar dari ketegangan hidup (stress). Bukankah stress seringkali memperpendek umur seseorang? Karena, kematian bahkan bunuh diri seringkali dipicu oleh stress dan prustasi menghadapi hidup.

Dengan bershiltaurrahmi setidaknya seseorang bisa menghilangkan rasa stress dengan bercanda dan berbagi cerita melalui banyaknya teman. Jika saja umur tidak bisa diperpanjang, setidaknya “kematian cepat” bisa tercegah dengan banyak bershilaturrahami.

Hal ini penulis sampaikan, dengan melihat gaya dan pola hidup sebagian besar masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini, yang sudah mulai tercabut dari nilai-nilai agama dan budaya yang sudah lama dianut bangsa ini. Di mana semangat shilaturrahmi, kebersamaan, gotong royong sudah mulai pudar terutama bagi masyarkat yang tinggal di daerah perkotaan yang sudah cendrung hidup materialisme dan individualisme. Kesibukan menghadapi rutinitas setiap hari, pergi pagi pulang malam, sehingga jangankan dengan masyarakat di luar sana, dengan tetangga sendiripun shilaturrahmi dan kumunikasi sudah jarang terjadi. Dampaknya, semangat shilaturrahmi dan membangun ukhuwah sudah mulai terabaikan. Betapa seringnya terjadi, di mana sebagian kelompok masyarakat saling tidak mengetahui apa yang terjadi dan menimpa tetanggnya sendiri. Bahkan si pejabat kita yang sok kemana mengemudi mobil2 flat merah tanpa risih dan malu, bahkan hari liburpun digunakan untuk berpergian dg keluarganya. sementara rakyat berjibun menunggu antrian untuk naik angkot. ketika ada ytang mau numpang malah dicuekin. emngnya kamu yg beli tu mobil..begitulah gerutuan rakyat. tp hendak dikata, rakyat hanya bisa bergumam, sementara si pejabat cuek sambil melaju tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Oleh karena itu, marilah kita kembali sama-sama membangun shlitaurrami demi terwujudnya fitrah manusia yang cenderung hidup bersama dan bersifat komunal bukan sendiri atau individual dan dengan kebersamaanlah rahmat ilahi bisa dicapai dengan mudah. Wallahu’alam

READ MORE - 10 Ucapan Dahsyat Agar Allah Sayang Kita

Senin, 15 Maret 2010

Madu, Mangkuk Indah, dan Sehelai Rambut
Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa suatu ketika Rasulullah saw bersama sahabat-sahabat beliau; Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Layaknya tamu, Ali bin Abi Thalib dan isterinya Fathimah menyambut kedatangan mereka, kemudian disuruh masuk dan dipersilahkan duduk. Beberapa saat kemudian, Fathimah ke dapur mencari hidangan untuk Rasulullah saw; ayahnya dan sahabat-sahabatnya. Adapun hidangan yang dibawa Fathimah adalah madu yang diletakan di sebuah mangkuk yang indah.
Ketika madu yang berada dalam mangkuk tersebut berada di tengah mereka, Rasulullah saw melihat sehelai rambut di dekatnya. Kemudian Rasulullah saw mengambil ketiganya; madu dengan mangkuk dan sehelai rambut tersebut. Maka Rasulullah saw berkata kepada semua sahabatnya, “Coba kamu membuat perumpamaan dari yang tiga ini; madu, mangkuk dan sehelai rambut!”. Masing-masing mereka kemudian membuat perumpamaan.
Giliran pertama dipersilahkan kepada Abu Bakar as-Shiddiq, dia berkata “Iman itu lebih manis dari madu, orang yang beriman lebih cantik dari mangkuk yang indah ini, namun mempertahankan iman atau mencari orang yang mampu mempertahankan imannya sampai dia meninggalkan dunia ini, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Rasulullah saw berdecak kagum dengan perumpamaan Abu Bakar.
Selanjutnya Umar bin Khattab dipersilahkan, dan dia berkata “Kekuasaan itu lebih manis dari madu, orang yang berkuasa/penguasa/ pemimpin lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun berkuasa secara adil atau mencari orang yang mampu berlaku adil terhadap kekuasaannya, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut.” Rasulullah saw memuji perumpamaan Umar bin Khattab.
Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Utsman bin Affan, dia berkata “Ilmu itu lebih manis dari madu, orang berilmu lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mencari orang berilmu yang mampu mengamalkan ilmunya dengan sempurna, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Bagus, sambut Rasullah saw.
Kemudian kesempatan diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, dia berkata "Tamu itu lebih manis dari madu, orang yang menerima tamu lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mencari orang yang mampu menyambut tamunya dengan hangat dan mesra dari mulai kedatangan mereka sampai saat mereka meninggalkan rumah tanpa kurang sedikitpun, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut". Rasulullah saw tersenyum sambil mengagumi perumpamaan Ali bin Abi Thalib.
Fathimah juga diberi kesempatan untuk membuat perumpamaan, dia berkata “Wanita itu lebih manis dari madu, wanita yang shalihah lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mancari wanita yang tidak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya saja, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Rasulullah saw pun memuji perumpamaan Fathimah.
Sekarang kesempatan Rasulullah saw membuat perumpamaan, beliau berkata “Amal itu lebih manis dari madu, orang yang beramal lebih cantik dari mangkuk yang indah ini, namun mencari orang beramal yang ikhlas dalam mengerjakan amalnya itu, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Allah swt kemudian melalui Rasulullah saw juga membuat perumpamaan, "Sorga-Ku lebih manis dari madu, keindahan sorga-Ku lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun jalan menuju sorga-Ku susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”.
Semua perumpamaan di atas pada hakikatnya, bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, namun lebih menunjukan arti susahnya berbuat yang demikian itu. Yaitu, susahnya mempertahankan keimanan, berlaku adil terhadap amanah berupa kekuasaan, mengamalkan ilmu dengan sempurna, memuliakan tamu secara sempurna, wanita yang benar-benar bersih dan terjaga, beramal dengan ikhlas serta mendapatkan sorga Allah. Kalaupun itu ditemukan maka amat sedikit yang mampu melakukannya.
Diposkan oleh luthfi di 21:35
Label: ceramah dan khutbah
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
READ MORE -

Rabu, 03 Maret 2010

Belajar Dari Sifat Terpuji Seekor Anjing

Mungkin para pembaca merasa heran banyak artikel ataupun opini penulis berbicara mengenai makhluk-makhluk Tuhan sepeti artikel-artikel sebelumnya tentang semut, kodok, lebah, pohoh pisang dan kali ini seekor anjing. Tulisan-tulisan ini tidaklah bermaksud mendeskriditkan manusia sebagai makhluk yang lebih sempurna melainkan sekedar menghayati sebuah interpertasi dari firman Allah swt. Salah satunya dalam surat al-Baqarah [2]: 26

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”

Dan tentunya semua ayat-ayat Allah swt.tersebut baik secara ekplisit maupun implisit ditujukan kepada manusia agar manusia bisa memahami dan mengamalkannya.

Anjing adalah salah satu di antara makhluk Allah yang juga diciptakan-Nya untuk maksud dan kegunaan yang besar. Sekalipun ia dipandang sebagai makhluk yang haram, hina dan menjijikan, namun di balik itu semua terkandung maksud, manfaat serta kegunaan yang teramat besar. Manfaat dan kegunaan dari penciptaan anjing tersebut, tentulah ditujukan untuk manusia sebagai khalifah dan wakil Allah di muka bumi.

surat Ali ‘Imran [3]: 191

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Berikut, kita akan mencoba melihat beberapa sikap terpuji sekaligus sikap tercela yang dimiliki makhluk yang disebut anjing untuk kemudian kita jadikan pelajaran dalam kehidupan ini. Sikap yang terpuji mestilah dimiliki dan diikuti oleh mansuia, sementara sikap tercela janganlah ditiru dan hendaklah dijauhi.

Adapaun sikap terpuji anjing adalah;

1. Gemar mengosongkan perut serta tidak suka makan berlebihan.

Kita bisa melihat ketika seekor anjing memakan satu tumpuk makanan. Ia tidak akan memakan makanan itu sampai perutnya penuh (gendut). Sekelipun makanan itu banyak, ia hanya mengisi perutnya dalam ukuran yang sederhana. Sehingga, sulit bagi kita membedakan antara anjing yang sudah makan dengan yang belum, karena ukuran perutnya yang relatif sama. Berbeda halnya dengan binatang ternak seperti sapi, kerbau dan lain-lain yang suka makan berlebihan sampai perutnya “buncit” dan “gendut”, dan kemudian tidur sambil memamah makanan itu kembali. Nabi Muhammad saw. Mengatkan dalam hadisnya:”kami adalah kaum yang tidak makan akan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang”.(HR.Muslim)

Itulah sikap hidup yang mesti dimiliki oleh setiap manusia khususnya seorang mukmin. Janganlah mengisi perut secara berlebihan dengan makan dan minum. Sebab, mengisi perut secara berlebihan dengan makan dan minum bukan hanya berdampak buruk secara jasmani, namun juga akan merusak rohani. Secara jasmani, orang yang makan secara berlebihan akan sangat rentan dengan berbagai macam penyakit. Karena, sebagian besar penyakit bersumber dari persoalan perut (makan dan minum). Secara rohani, orang yang makan berlebihan cenderung menjadi orang yang pemalas. Sebab, setelah perut diisi dengan penuh dan berlebihan, bisanya seseorang akan diserang rasa kantuk yang hebat untuk kemudian tidur. Rasa kantuk yang disebabkan kekenyangan inilah yang membuat manusia menjadi malas bergerak, termasuk juga malas melaksanakan ibadah, bahkan malas itu akan berujung pada meninggalkan kewajiban. Begitulah gambaran Rasulullah saw. dalam salah satu haditsnya tentang akibat makan dan minum secara berlebihan.

“Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan dan minuman, sebab mengisi perut dengan penuh akan membahayakan tubuh dan menyebabkan malas shalat.” (H.R. Bukhari)

Senada dengan hadis di atas Allah swt. Menegur kita dalam surat al-A’raf [7]: 31

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

2. Tidak tidur di malam hari, kecuali sangat sedikit

Adalah sudah menjadi kebiasan seekor anjing untuk sedikit tidur di malam hari. Agaknya, karena sebab itulah manusia menjadikannya sebagai makhluk penjaga rumah atau penjaga bagi para musafir di padang pasir ketika berkemah di malam hari. Ia adalah salah satu dari makhluk Allah yang tidak pernah tidur dengan pulas, apalagi sampai hilang kesadaran di malam hari. Kalaupun seekor anjing tidur maka tidurnya sangatlah tipis, sehingga hentakan kaki manusia dari jarak jauhpun bisa didengarnya di saat tidur.

Inilah sikap hidup yang semestinya juga dimiliki oleh setiap mukmin. Tidur di malam hari adalah suatu kemestian, bahkan adalah bagian dari kewajiban untuk memenuhi hak jasmani. Adalah menzhalimi diri sendiri, jika manusia tidak menggunakan malam hari untuk waktu tidur. Sebab, Allah swt. mendatangkan malam adalah untuk tujuan agar manusia beristirahat dari kelelahan dan kesibukanya di siang hari. Namun demikian, hendaklah seseorang tidak tidur nyenyak sampai pagi, tanpa terbangun dari tidurnya dan beribadah kepada Allah.

Begitu juga dalam surat al-Isra’ [17]: 79

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

3. Istiqamah dalam bertuan dan tetap setia dalam kondisi apapun.

Jika seekor anjing sudah memiliki tuan dan diberi makan setiap hari, bagaimanapun tuannya mengusir dan menghardiknya bahkan dipukul sekalipun, ia akan tetap setia dan tidak akan pergi meninggalkan tuannya. Bagaiamanpun tuannya memarahi bahkan memukulnya, ia tidak akan marah, melawan apalagi mendendam dan berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan tuannya. Jika pun dia pergi ketika dihardik dan diusir, namun beberapa saat kemudian ia akan kembali kepada tuannya dan tetap memperlihatkan kesetiaannya.

Begitulah sikap yang mesti ditunjukan seorang mukim kepada Tuhannya. Janganlah seorang mukmin hanya setia, tunduk, patuh atau memuji Allah, jika diberi nikmat dan kesenangan. Sementara, jika Allah memberikan suatu kesulitan kepadanya atau hal yang tidak menyenangkan menurut ukurannya, dia langsung mengumpat dan mencela Allah kemudian berpaling dan meninggalkan-Nya. Dan memang begitulah salah satu sikap manusia yang dicela oleh Allah swt. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Fajr [89]: 15-16

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku (15). Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku (16).”

4. Tidak suka mempertahankan status quo

Adalah kebiasan seekor anjing, jika ia tidur pada suatu tempat kemudian meninggalkannya untuk beberapa saat, lalu datang anjing lain dan menempati tempat itu, ia tidak pernah marah apalagi mengusir anjing yang sudah menempati tempatnya. Seekor anjing tidak akan berkelahi dengan saudaranya yang mengambil posisinya apalagi yang telah ditinggalkan. Ia akan dengan senang hati berpindah dan mencari tempat lain untuk ditempati.

Begitulah sikap yang mesti ditunjukan oleh seorang mukmin terhadap saudaranya. Dia tidak marah jika ada saudaranya yang menduduki suatu jabatan, posisi apalagi posisi yang pernah ditinggalkannya. Janganlah seorang mukmin iri, dengki, atau marah kepada saudaranya yang menempati jabatan dan kedudukannya. Karena tanpa jabatan dan posisi itu, bukankah dia masih bisa melanjutkan eksistensinya atau bahkan mencari posisi dan kedudukan yang mungkin lebih baik dari yang ditempati saudaranya di tempat lain atau di waktu yang lain. Bukankah bumi Allah sangat luas, di manapun manusia berada dia pasti akan mendapatkan Tuhan dan rahmat-Nya di sana. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 148

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Begitu juga dalam surat an-Nisa’ [4]: 97

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Begitu juga dalam surat az-Zumar [39]:10

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Tapi alangkah sedihnya kita ketika melihat orang-orang yang merebut sebuah jabatan dengan cara memakan daging saudaranya sendiri dan bahkan lupa terhadap kebaikan-kabaikan orang lain ketika dia sudah sukses. Alangkah pilunya hati ini menyaksikan orang-orang yang tertunda keberhasilannya menduduki sebuah jabatan dengan cara mengambil kembali segala sumbangan yang dihibahkannya. Ternyata kita belum bisa belajar dari seekor anjing.

5. Bersifat qana’ah dan berpuas hati dengan suatu pemberian

Anjing adalah makhluk yang memiliki sifat qana’ah yang tinggi terhadap pemberian tuannya. Ia akan sangat senang dan memperlihatkan penghargaan yang tinggi kepada tuannnya atas suatu pemberian, sekecil apapun dan serendah apapun kualitasnya. Jika seekor anjing diberi oleh tuannya sepotong daging, ia akan menerima dan memakannya dengan lahapnya. Jika diberikan nasi yang sudah menjadi sisa tuannya, ia juga akan menikmati pemberian itu dengan lahapnya sama seperti menikmati sepotong daging. Bahkan, jia tuannya memberikan kotorannya sekalipun, ia dengan senang hati menikmatinya sama halnya seperti ia menikmati sepotong daging. Begitulah qana’ahnya seekor anjing terhadap pemberian tuannya.

Itulah sikap yang semestinya dimiliki setiap mukmin terhadap pemberian Allah. Apapun yang diberikan Allah kepadanya dan sekecil apapun nilainya, dia tetap bersyukur dan menerimanya sebagai suatu pemberian yang besar. Bahkan, rasa syukurnya tidak kurang hebatnya ketika dia mensyukuri suatu pemberian bernilai besar. Sebab, betapapun miskin dan jeleknya keadaan dan kondisi manusia di dunia ini, tetap saja bahwa nikmat Allah sungguh sangatlah banyak terhadap dirinya. Bahkan, jika saja manusia mencoba menghitungnya, dia tidak akan mampu. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat an-Nahl [16]: 18

“Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

6. Bersikap sederhana dan jauh dari gaya hidup mewah

Seekor anjing senantiasa menikmati keadaannya, sekalipun ia tidur di atas alas kaki manusia atau potongan kain kumuh dan lusuh. Dia tidak membutuhkan kandang bagus, kasur empuk atau selimut tebal. Seekor anjing bisa tidur dengan tenang, sekalipun di sebidang tanah, di atas rumput, di atas batu dan sebagainya, asalkan ia terlindung dari hujan dan panas. Begitulah keserdahanaan seekor anjing dalam hidupnya, yang tidak terlalu sibuk dan berambisi dengan kemewahan dan kemegahan hidup.

Begitulah sikap seorang mukmin hendaknya, yang lebih memilih hidup sederhana, bersahaja serta tidak sibuk dan terlalu silau dengan kemegahan serta kemewahan duniawi. Kebahagian bukanlah ditentukan oleh rumah bertingkat dan mewah, mobil yang bagus serta fasilitas duniawi memukau lainnya. Namun, kebahagian ditentukan oleh ketenangan dan kepuasan hati. Banyak tokoh sufi yang pada mulanya tinggal di istana atau hidup dengan kemewahan, namun mereka tidak memperoleh kebahagiaan kecuali setelah melepaskan ikatan gemerlapan duniawi itu. Karena dunia dan gemerlapannya tidak lain hanyalah sebuah permainan dan senda gurau. Kalaupun kelihatan menyenangkan, itu hanyalah sesat dan bersifat semu. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat al-‘Ankabut [29]: 64

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

7. Memiliki sikap tawakkal yang tinggi

Bila seekor anjing sedang makan, kemudian tuannya datang dan membawanya pergi ke suatu tempat, maka ia tidak akan pernah membawa bekal atau membawa makanan yang masih tersisa. Sebab, ia yakin bahwa di tempat yang baru, rezikinya pun sudah ada dan tersedia. Lihat bedanya dengan seekor monyet yang jika dibawa pergi oleh tuannya ketika sedang makan, maka makanan itu akan dibawanya dengan kedua tangannya, setelah sebelumnya mengisi penuh kedua tempat makanan yang ada di mulutnya.

Begitulah sikap yang mesti dimiliki oleh setiap mukmin, bahwa hendaklah dia memiliki sikap tawakkal kepada Allah. Seseorang tidak perlu takut tidak akan mendapatkan rezeki ke manapun dia pergi atau di manapun dia berada. Bukankah Allah meliputi langit dan bumi? Oleh karena itu, cukuplah manusia menjadikan Allah sebaik-baik Pelindung dan tempat berserah diri. Begitulah di antara pesan Allah dalam surat ‘Ali ‘Imran [3]: 173

“…Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."

8. Penuh harap terhadap suatu pemberian

Adalah tabi’at seekor anjing, jika melihat tuannya atau siapapun yang lewat di hadapannya membawa suatu jenis makanan, ia akan terus menatap dan mengharap diberi makanan. Seekor anjing baru akan selesai memandang pemilik makanan itu, sampai dilemparkan makanan tersebut kepadanya.

Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin terhadap nikmat dan karunia Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Pemilik segalanya. Lalu kenapa manusia tidak mau meminta karunia-Nya itu? Bukankah Allah menjanjikan pengabulan akan setiap permohonan yang diajukan kepada-Nya? Begitulah yang ditegaskan Allah dalam al-Qur’an. Seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 186

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Begitu juga dalam surat al-Mu’min [40]: 60

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Ya Allah, tidak satupun makhluk yang sia-sia Engkau ciptakan ternyata pada seekor anjing meskipun menjijikkan masih ada hikmah yang baik bisa kami ambil. Apalagi makhluk-makhlukMu yang bersih dan baik tentulah hikmah-hikmah lebih banyak lagi kami renungkan.

READ MORE -

Senin, 22 Februari 2010

Memaulidkan kehidupan seperti kelahiran Nabi Muhammad SAw

Meneladani Maulid Nabi Muhammad saw.

The 100 (A Ranking Of Most Influential Persons In History)”Seratus Tokoh Yang paling berpengaruh dalam sejarah” adalah salah satu karya Michael H. Hart (lahir 28 April 1932) berkebangsaan Amerika, beragama nasrani. Bekerja pada NASA dan guru besar astronomi dan fisika perguruan tinggi di Maryland, AS. Ia sarjana fisika, astronomi, dan hukum dan pengarang buku laris. Buku ini terbit pada tahun 1978 memuat 100 tokoh yang ia rasa memiliki pengaruh terkuat dalam sejarah. Ternyata Nabi Muhammad saw. Termasuk urutan pertama dari sekian tokoh-tokoh yang termuat.

Lebih lanjut Hart mengatakan: “Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi”.

Sebelum Rasulullah saw. diutus menjadi rasul Allah swt, sudah banyak nabi dan rasul yang telah diutus kepada setiap generasi umat manusia untuk menyeru mereka ke jalan Allah. seperti disebutkan dalam surat al-Mukmin [40]: 78

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu….

Namun, di dalam al-Qur’an hanya terdapat 25 nabi dan rasul Allah yang diberitakan dalam berbagai surat dan ayat. Dari semua nabi dan rasul tersebut, secara kenabian Allah memang tidak pernah membedakan antara satu dengan yang lainnya. Seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 285

“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta`at". (Mereka berdo`a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Akan tetapi, dalam hal penghargaan dan penghormatan, Allah swt. ternyata memberikan kelebihan antara satu dengan yang lainnya. Khusus kepada nabi Muhammad saw. Allah memberikan banyak penghargaan yang tidak diberikan kepada nabi dan rasul-Nya yang lain. Berikut kita lihat beberapa kelebihan yang diberikan Allah kepada Rasulullah saw.

Pertama, bahwa Allah swt. memberikan segala sesuatu kepada nabi Muhammad, tanpa harus beliau memintanya kepada Allah. Lihat misalnya surat Alam Nasyrah [94]: 1-4

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1). Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu (2). yang memberatkan punggungmu? (3). Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu (4).”

Ayat ini turun berkaitan dengan kondisi Nabi saw. yang ketika itu dilanda stress berat akibat penolakan sebagain besar manusia terhadap dakwah beliau. Beliau merasa gagal, bahkan kegagalan tersebut dirasakan seolah beliau sedang memikul sebuah gunung batu di atas pundaknya, sehingga membuat tulang punggung belaiu mengeluarkan bunyi seperti suara yang dikeluarkan dahan dan ranting-ranting pohon yang beradu karena tiupan angin. Allah kemudian menghibur beliau dengan mengatakan betapa agung dan mulianya engkau wahai Muhammad! Kami telah melapangkan dadamu dari kesempitan dan kesulitan tanpa harus engkau memintanya. Kami yang telah mengangkat beban berat yang ada dipundakmu tanpa engaku harus memohonnya kepada-Ku. Kami juga yang telah mengangkat dan meninggikan namamu. Sehingga, setiap kali namu Aku disebut, nama engkau juga berada dibelakang-Nya. Setiap kali kalimat syahadat diucapakan mansuai, setaip kali itu pula naama-Ku dan namamu berbarengan.

Dalam surat Al-A’la [87]: 8, Allah juga menggambarkan kelebihan Rasulullah saw. dengan ungkapan;

“Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah”.

Begitulah kelebihan yang diberikan Allah kepada nabi Muhammad saw. Coba kita bandingkan dengan nabi Musa as. seperti terdapat dalam surat Thaha [20]: 25-28

“Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku (25). dan mudahkanlah untukku urusanku (26). dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku (27). supaya mereka mengerti perkataanku (28).”

Kedua, nabi-nabi yang diutus sebelum Rasulullah saw. hanya untuk umat dan masa tertentu. Ajarannya tidak berlaku untuk umat lain di masa yang lain. Nabi Shalih hanya diutus kepada kaum Tsamud dan ajaran yang dibawanya hanyalah berlaku untuk kaum Tsamud saja, tidak umat lain. Nabi Hud hanya diutus oleh Allah kepada bangsa ‘Ad dan ajarannya hanya untuk bangsa itu, tidak bangsa lain dan seterusnya. Seperti disebutkan dalam surat Fathir [35]: 24

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”

Akan tetapi, nabi Muhammad saw. diutus untuk semua manusia mulai dari manusia awal beliau menjadi rasul, sampai manusia akhir zaman di manapun mereka berada. Begitu juga, ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw berlaku sampai hari kiamat tanpa ada lagi penghapusan. Seperti disebutkan dalam surat Al-A’raf [7]: 158

"Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,…

Oleh karena itulah, Allah mengajak mansuia untuk memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Rasulaullah. Seperti dalam An-Nur [24]: 53

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)…”

Allah swt. melarang umat Islam memanggil nabi Muhammad saw. seperti panggilan kepada mansuia lain. Sehingga, sangat wajar kalau kita sebelum menyebut nama Muhammad saw. mengawalinya dengan sejumlah pujian yang kita berikan, baik di awal maupun di akhir. Seperti nabiyina, sayyidina, rasulina, habibina, syafi’ina, maulana Muhammad…dan akhirnya Shallallahu ‘Alihi Wasallama.

Beberapa waktu yang lalu, kita umat Islam sangat terusik dengan beredarnya karikatur nabi Muhammad saw. yang diterbitkan oleh sebuah majalah di Denmark. Karikatur itu menggambarkan nabi Muhammad saw. sebagai sosok manusia berwajah garang dengan sorban bertahtakan dan bermahkotakan bom. Karikatur ini ingin mengatakan kepada dunai, bahwa nabi Muhammad saw. adalah tokoh sentralnya teroris manusia. Bahkan, jika hari ini dia masih hidup, dialah orang yang selalu membawa bom ke manapun dia pergi. Sunggguh suatu pelecehan dan penghinaan yang sangat tidak bisa diterima.

Banyak umat Islam yang kesal, jengkel dan marah. Bahkan ada yang mengambil sikap keras, seperti membaikot segala macam produk Denmark ke Negara mereka seperti yang dilakukan Negara Sudan. Akan tetapi, tidak sedikit pula dari umat Islam yang acuh, “cuek” tidak tersinggung apalagi marah. Mungkin salah satunya adalah umat Islam di Indonesia.

Lalu kenapa kita umat Islam, tidak merasa sakit hati, terlukai atau bahkan marah ketika nabi Muhammad saw. dilecehkan sedemikian rupa? Jawabannya adalah bahwa kita tidak lagi mencintai Rasulullah saw. atau bahkan kita sudah tidak mengenal beliau lagi sebagai sosok manusia agung dan sempurna yang jauh dari cacat dan kekurangan apalagi kehinaan.

Oleh karena itulah, dengan peringatan maulid nabi besar Muhammad saw. kali ini, kita jadikan momentum untuk menggali kembali perjalanan hidup belaiu guna dijadikan teladan, sekaligus menumbuhkan kecintan kepada beliau. Sebab, kecintaan kepada Rasulullah saw. adalah sebagai syarat seseorang mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah swt. Lihatlah surat Ali imran [3]: 31

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Suatu renungan bersama bagi kaum muslimin ucapan Michael H Hart di atas dan sudah seharusnya sebagai pengikut Nabi Muhammad saw. meneladani kehidupan beliau. Karena beliau bukan hanya seorang nabi, tapi juga pemimpin, pejuang, politikus, enkonom yang bisa menyelaraskan kehidupan dunia dengan akhirat dengan berbasis dua internal behaviour :jujur ( as-shidiq) dan dipercaya (amanah). Mudah-mudahan suatu saat nanti kita menemui sosok seorang pemimpin, para pejabat muslim yang selalu setia mencontoh kepribadian Nabi Muhammad saw. Bukan seperti Fir’aun dan Qarun yang slalu mengekploitasi tenaga orang lain dan memperkaya diri untuk kepentingan sendiri Wallahu a’lam.

READ MORE - Memaulidkan kehidupan seperti kelahiran Nabi Muhammad SAw

Rabu, 10 Februari 2010

berikanlah yg paling terbaik

Berikanlah Yang Terbaik!

Give first, receive second inilah sebuah adagium seharusnya selau ditanamkan dalam jiwa seseorang. Memberilah terlebih dahalu, baru menerima. Tulisan berikut ini mengajak kita untuk

Dalam surat Ali Imran [3]: 92 Allah swt berfirman

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (mempersembahkan) sesuatu yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Dalam ayat di atas Allah swt menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah memperoleh kebaikan yang sempurna (al-birr), sebelum mempersembahkan apa yang paling dia cintai atau sesuatu yang terbaik dari apa yang dia miliki. Allah swt memang tidak menjelaskan secara tegas apa yang dimaksud kebaikan yang sempurna itu (al-birr). Namun, untuk mengetahui bentuk kebaikan yang sempurna atau dalam bahasa al-Qur’an disebut al-birr, maka perlu kiranya merujuk kepada lawan dari kata al-birr itu sendiri.

Dalam surat al-Ma’idah [5]: 2 Allah swt berfirman

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan (al-birr)dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa (al-itsm) dan pelanggaran (al-‘udwân). Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Dalam ayat di atas, Allah swt menyebutkan dua hal yang menjadi lawan kata al-birr. Pertama, al-itsm yang berarti dosa, di mana dosa adalah sesuatu yang membuat manusia jauh dari Allah swt. Dosa juga yang membuat manusia jauh dari ketenangan dan kebahagian hidup. Begitu juga, dosa membuat manusia jauh dari rahmat dan kasih sayang Tuhan, serta dekat dengan azab-Nya. Maka makna al-birr dalam bentuk pertama adalah ketenangan dan kebahagiaan batin yang dirasakan oleh seseorang, karena dekat dengan Tuhan dan mendapat rahmat serta kasih sayang-Nya. Dengan demikian, Allah swt menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin serta rahmat dan kasih sayang Tuhan, sebelum mempersembahkan yang terbaik atau sesuatu yang paling dicintainya.

Kedua, al-‘udwân yang berarti permusuhan, di mana permusuhan adalah kondisi seseorang yang tidak memiliki hubungan yang bagus dengan sesama manusia. Permusuhan berarti seseorang jauh dari penghargaan, keharmonisan, serta kasih sayang manusia lain. Oleh karena itu, makna al-birr yang kedua adalah hubungan yang baik dan harmonis, penghomatan, serta kasih sayang orang lain. Dengan demikian, Allah swt menegaskan bahwa manusia tidaklah akan pernah memperoleh perhargaan, dan kasih sayang orang lain sebelum memberikan yang terbaik untuk mereka.

Oleh karena itu, al-birr dalam konteks ayat di atas adalah hubungan yang baik dengan Allah swt, dan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Al-birr juga berarti penghargaan atau kedudukan terhormat di sisi Allah swt, berikut penghargaan serta kedudukan terhormat di hadapan manusia. Hal inilah yang digambarkan Allah swt terhadap nabi Ibrahim as. di mana ketika dia mempersembahkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya, yaitu anak yang paling dicintainya untuk dikorbankan, Allah swt menjadikannya sebagai orang muhsinîn. Seperti yang disebutkan Allah dalam surat ash-Shafat [37]: 110

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik(muhsinin).”

Muhsinîn adalah prestasi tertinggi yang dicapai makhluk di hadapan Tuhan. Sebab, kesediaan seseorang memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya, Allah akan menjadikannya sebagai orang yang paling dicintai dan dikasihi-Nya. Tentu, tiadalah kebahagiaan tertinggi selain menjadi orang yang paling dicintai Allah swt. firman-Nya dalam surat al-Ma’idah [7]: 13

“…maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (muhsinîn).”

Sedangakan di hadapan manusia, Allah swt akan menjadikannya ikutan, patron, teladan, contoh, serta buah bibir bagi manusia lain. Seperti yang diperoleh Ibrahim as. ketika mempersembahkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya. Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah [2]: 124

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan banyak ujian, lalu semua ujian itu diselesaikannya dengan sangat sempurna maka Allah berfirman Saya menjadikan engkau imam (pemimpin) untuk manusia, Ibrahim berkata; jadikan juga keturunanku menjadi imam. Allah menjawab janji-Ku tidak akan mengenai orang yang zhalim.”

Ibrahaim as. adalah manusia yang selalu menjadi ikutan, panutan, bahkan akan selalu menjadi buah bibir manusia sepanjang masa. Semua agama besar (agama langit/samawi) saling “menklaim” bahwa Ibrahim as adalah golongan mereka. Bahkan beliau digelari “Bapak Monoteis” atau tokoh sentralnya agama tauhid. Itulah jaminan Allah swt kepada Ibrahim as. setelah beliau mempersembahkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya. Dia akan selalu menjadi teladan dan imam bagi semua manusia khususnya penganut agama tauhid.

Begitulah penghargaan Allah swt terhadap manusia, jika memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya. Sepanjang masa, dia akan menjadi ikutan, contoh, teladan, imam, serta buah bibir manusia lain. Agaknya itulah yang dimaksud oleh Allah dengan al-birr atau kebaikan yang sempurna. Akan berbeda halnya dengan manusia yang kikir yang bukan saja jauh dari manusia, tetapi juga jauh dari Allah swt. Karena manusia yang kikir akan dekat dengan dosa (al-itsm) dan dekat dengan permusuhan serta kebencian manusia lain.

Ibn al-Jad’an seorang tabi’in pernah menceritakan apa yang pernah di alaminya ketika dia mepersembahkan sesuatu yang terbaik. Katanya, suatu ketika aku pernah memberikan kepada tetanggaku yang miskin, seekor unta yang sangat gemuk dengan air susu terbanyak dari unta-unta yang saya miliki berikut anaknya. Aku berkata kepadanya “Ambillah unta ini hai saudaraku, peliharalah anaknya ini, engkau ambillah air susunya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anakmu, dan anak unta ini jika sudah besar, engkau boleh menjualnya untuk dijadikan modal usahamu”. Aku melihat alangkah bahaginya tetanggaku itu, dan kehidupannya sedikit lebih membaik dari sebelumnya.

Tidak lama kemudian, datanglah musim panas sehingga kekeringan melanda tempat tinggalku. Aku kemudian berupaya mencari sumber air untuk kebutuhan keluarga dan ternakku. Hingga akhirnya aku menemukan lobang sumur tua di padang pasir. Ketika aku melihatnya tiba-tiba aku terpeleset masuk ke dalam lobang sumur tua itu. Saya yakin kalau saya akan mati di dalamnya, karena tidak akan mungkin ada orang yang akan menemukan saya.

Saya pun merasa sangat lapar dan haus ketika berada di dalam sumur itu, namun saat lapar dan haus saya memuncak, tiba-tiba aku rasakan mulut kendi mendekati mulut saya. Dari mulut kendi tersebut keluarlah air susu, sehingga saya meminumnya. Begitulah terus menerus yang terjadi selama kurang lebih satu minggu. Sampai akhirnya, saya ditemukan oleh tetangga yang saya berikan unta kepadanya. Ternyata semenjak saya menghilang dia selalu berusaha mencari saya, bahkan usaha pencarian yang dilakukannya melebihi usaha yang dilakukan keluarga saya sendiri.

Dari kisah tersebut, dapat ditarik pelajaran bahwa ketika seseorang memberikan sesuatu yang terbaik, maka Allah swt akan memberikan perlindungan kepadanya. Sebab, Allah sudah menjamin bahwa orang tersebut adalah yang paling dikasihi-Nya. Begitu juga, jika seseorang memberikan yang terbaik kepada orang lain, maka orang lain pun akan memberi atau berbuat yang terbaik pula untuknya. Karena siapa yang berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali untuk dirinya sendiri.

READ MORE - berikanlah yg paling terbaik

Kamis, 04 Februari 2010

Mencari Aparatur Yang Ideal Menurut al-Qur'an

Oleh Robi Kurniawan, MA

Dosen&Muballigh Batam Kota

Aparatur Yang Ideal Menurut Al-Qur’an

Sudah menjadi sunantullah dalam sejarah perjalanan peradaban yang dibangun manusia, bahwa sekelompok orang yang membentuk sebuah komunitas, pasti memiliki pemimpin dan penguasa tempat mereka menyerahkan urusan. Namun demikian, dalam catanan sejarah tidak pernah satupun pemimpin umat atau masyarakat yang mampu menjalankan kekuasaannya seorang diri. Sekuat dan secakap apapun seorang penguasa, pastilah mereka memeliki para pembantu dalam berbagai macam bentuk dan sebutan. Dan yang populer untuk sebutan seorang pembantu raja atau kepala negara adalah menteri atau pejabat negara.

Di dalam al-Qur’an, Allah swt memberikan tuntunan kepada para penguasa, raja dan sebagainya untuk memilih para menteri, pembantu atau pejabat yang akan membantu menjalankan kekuasaan mereka. Sehingga, para pembantu yang mereka pilih adalah orang yang mampu menolong dan menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapi sang penguasa dalam menjalankan kekuasaannya, bukannya akan mendatangkan masalah atau bahkan menjadi masalah baginya.

Setidaknya, ada empat surat di dalam al-Qur’an yang membicarakan kriteria aparatur,menteri atau pejabat ideal;

Pertama, surat Yusuf [12]: 54

“Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang kuat lagi dipercaya pada sisi kami".

Ayat di atas menceritakan kisah nabi Yusuf yang diangkat menjadi menteri dan pejabat Mesir urusan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Raja mengangkat Yusuf menjadi pembantunya, karena melihat dua hal dalam diri Yusuf; kekuatan dan kejujuran.

Seorang menteri, pejabat atau pembantu raja, mestilah seorang yang kuat, cakap, cerdas, ahli serta profesional di bidangnya. Sebab, jika seorang raja menyerahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya, tuntulah dia akan membinasakan diri dan rakyat serta kekuasaannya.

Namun demikian, kecakapan dan profesioanalisme saja tidak cukup untuk dijadikan alasan mengangkat seseorang menjadi pejabat negara. Dia mestilah memenuhi syarat kedua yang tidak boleh dipisahkan, yaitu amanah atau kejujuran. Betapa banyak para pejabat suatu negeri yang pintar, cerdas dan propesional, akan tetapi merekalah yang menjadi penyebab kehancuran bangsanya. Hal itu disebabkan, karena para pejabat yang menjalankan kekuasaan bukanlah pejabat yang amanah. Jika amanah tidak dimiliki, tentulah rasa aman dan nyaman juga akan jauh dari suatu bangsa dan masyarakat.

Kedua, surat al-Qashsah [28]: 34

“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku".

Ayat ini menceritakan kisah nabi Musa as. ketika hendak menghadapi Fir’aun yang terkenal kecakapan dan kekutannya. Sehingga, Musa sebagai pemimpin bani Israel merasa tidak mampu mengahadapi kekuatan Fir’aun seorang diri. Maka dia berdo’a kepada Allah agar ditunjuk untuk seorang pembantu (menteri). Seperti disebutkan dalam surat Thaha [20] :29-30

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku (29). (yaitu) Harun, saudaraku (30).”

Kriteria pejabat atau menteri yang dipilih dalam ayat di atas adalah seorang yang memiliki kemampuan bicara yang bagus, emosi yang cerdas serta kemampuan beretorika. Seorang menteri yang menjadi pembantu seorang raja atau penguasa mestilah orang yang cakap dan pintar dalam berbicara. Tutur kata seorang pejabat negara haruslah rapi dan tersusun dengan baik. Sebab, seorang pejabat adalah gambaran dari peradaban masyarakat yang sedang dipimpinnya.

Ketiga, surat at-Taubah [9]: 40

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas, berbicara tentang Abu Bakar ash-Shiddiq yang mendampingi nabi, ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Ketika bersembunyi di gua Tsur, Rasulullah ketakutan kerana diluar gua orang-orang kafir Quraisy dengan persenjataan lengkap, hampir menemukan mereka berdua dan siap hendak membunuh beliau dan Abu Bakar. Namun, di saat genting dan mencemaskan itulah Abu Bakar memberikan hiburan dan ketenangan kepada Rasulullah saw. dengan ungkapan beliau yang terkenal, “Janganlah engkau cemas wahai Rasulullah, seseungguhnya Allah bersama kita.”

Ayat di atas menggambarkan Rasulullah sebagai seorang penguasa dan pemimpin, sedangkan Abu Bakar berperan sebagai pendamping, pembantu atau menteri beliau. Apa yang dilakukan Abu Bakar adalah cerminan pembantu atau menteri yang ideal, di saat genting dan mencemaskan seorang menteri haruslah mampu memberikan ketenangan kepada seorang raja dan kepala negara. Teramat buruk seorang menteri, jika disaat genting tidak mampu memberikan jalan keluar dari persoalan yang dihadapi seorang penguasa. Dan tentu terlebih buruk lagi, jika ada pejabat negara tau menteri yang bukannya mempu mendatangkan ketenangan kepada penguasa yang sedang panik dan gelisah, malah menambah kepanikan atau mendatangkan kekacauan yang sebelumnya sangat tenang dan damai.

Keempat, surat an-Naml [27]: 39-40

“Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya" (39). Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia" (40).”

Ayat di atas menceritakan kisah nabi Sulaiman as, dengan para pejabat kerajaannya dari jin dan manusia. Ketika hendak mengangkat istana ratu Balqis ke Palestina, Sulaiman menyerahkan urusannya kepada para pembesarnya yang memiliki kemampuan mengangkat dan memindahkan istana ratu Balqis. Ketika itulah jin Ifrit berkata bahwa ia mampu mengangkat istana Balqis sebelum Sulaiman berdiri. Dia berkata demikian, karena dua alasan; kekuatan yang dimilikinya serta kejujurannya. Akan tetapi, seorang pembantunya dari manusia berkata, bahwa dia mampu mengangkat dan memindahkan istana ratu Balqis, sebelum mata Sulaiman berkedip. Kemampuannya memindahkan istana secepat itu, bahkan lebih cepat dari raja jin, adalah kekuatan, kujujuran, serta ilmu yang benar dari al-Kitab yang sebanding dengan amalnya. Sebab, di dalam al-Qur’an tidak disebutkan seorang yang berilmu dalam bentuk pujian, kecuali orang yang sempurna mengamalkan ilmunya.

Sehingga, seorang menteri atau pejabat negara yang ideal, bukan hanya cakap, cerdas, jujur, namun juga seorang yang shaleh. Seorang pejabat negara semestinya orang yang berilmu banyak dan berwawasan luas, serta cakap dalam menyelesaikan masalah negara, sekaligus juga seorang yang ilmunya berbanding lurus dengan amalnya. Jika para pejabat negara seperti itu, pastilah sebuah neraga akan besar dan jaya serta masyarakatnya akan makmur dan tantram.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat membantu kaum muslimin dalam menentukan pilihan terhadap pemimpin, kepala daerah sesuai dengan garis-garis besar haluan al-Qur’an. Wallahu a’lam.

READ MORE - Mencari Aparatur Yang Ideal Menurut al-Qur'an

Sabtu, 09 Januari 2010

Keilmiahan Al-Qur'an


b. part 2 (teori penciptaan alam) big bang

1. penciptaan alam (big bang)

30. dan tidakkah orang-orang kafir itu memikirkan dan mempercayai Bahawa Sesungguhnya langit dan bumi itu pada asal mulanya bercantum (sebagai benda Yang satu), lalu Kami pisahkan antara keduanya? dan Kami jadikan dari air, tiap-tiap benda Yang hidup? maka mengapa mereka tidak mahu beriman? (anbiya ‘ : 30)

. Prolog sejarah:

Pemahaman manusia tentang penciptaan alam sudah dimulai pada tahun hijrah, sebelum seratus ribuan tahun. Dimana mitos telah menguasai imaginasi manusia dan diikuti oleh perkembangan akal manusia di kalangan orang-orang mesir kuno dan babilionia yang mana menurut mereka adanya ikatan jelas antara kekelan alam dan berfariasinya tuhan-tuhan menguasai alam tersebut. Para filosof yunani dan roma telah membuat teori-teori untuk penomena-penomena alam, sementara itu ilmu astrologi telah berkembang pada peradaban India dan cina.

Cirri umum yang telah membentuk konsep-konsep kosmos menurut peradaban kuno adalah relevansi kosmos tuhan dan keyakinan mereka yang kuat terhadap eksitensi perbedaan pokok antara bumi dan langit,sehingga tidak dibolehkan membuat teori-teori tentang kosmos dan bagaimana penciptaannya. Akan tetapi setelah perkembangan yang berarti yang telah disaksikan oleh manusia pada awal abad 20 di lingkup kosmologi atas dasar spekulasi bersamaan dengan teori relativitas umum yang telah menetapkan kerangka matematis akurat untuk sebuah penelitian kosmos, begitu juga atas dasar observasi penyingkapan-penyingkapan yang luar biasa terhadap rahasia-rahasia angkasa adalah suatu keharusan membuat sebuah teori umum yang menggabungkan data-data atau informasi-informasi tersebut sebagai prolog konsep penyatu terhadap tujuan penafsiran penomena-penomeda kosmos yang lebih berarti. Di antaranya adalah penciptaan kosmos.

Pada 1927 M seorang pendeta George Le Maitre menawarkan sebuah konsep baru tentang penciptaan kosmos dan perkembangannya. Disetujui oleh George Gamov, fisikawan Amerika yang berasal dari rusia yang

Telah mengembangkan teori Le Maitre.

Kebenaran-kebenaran ilmiah:

Pada 1927 ilmuan belgia George Le Maitre memaparkan teori ledakan besar yang mengatakan bahwasanya kosmos ini pada awal penciptaannya sebuah kumpalan gas besar, tebal bersinar dan panas. Kemudian karena pengaruh tekanan yang luar biasa berasal dari panasnya kumpalan tersebut terjadilah ledakan besar yang memecahkan kumpalan gas itu sehingga bagian-bagian kecilnya terpencar kemana-mana maka terbentuklah planet, bintang dan galaksi-galaksi dengan berlalunya waktu

Pada 1964 dua orang ilmuan Penziaz dan Wilson telah menemukan gelombang radio yang bermunculan dari berbagai penjuru kosmos gelombang tersebut memiliki kelebihan-kelebihan fisika dimanapun disalin, yang dikenal dengan cahaya yang membatu yaitu suatu cahaya berasal dari periode-periode lalu dan sisa-sisa ledakan besar yang menghasilkan berikutnya penciptaan kosmos

Pada 1989 Nasa telah mengirimkan satelitnya Cobe Explorer dan untuk membuktikan serta menguatkan teori ledakan besar dan temuan Penziaz dan Wilson

Pada 1986 stasiun angkasa unisofiet telah mengirimkan data-data yang menguatkan teori ledakan besar tersebut.

.

Tafsir ilmiah :

Permasalahan penciptaan kosmos yang telah dibicarakan para filosof dan ilmuan sehingga memunculkan berbagai teori dan temuan-temuan serta dari uraian diatas yang telah kita telusuri dapat kita simpulkan bahwa

Apa yang telah ditemukan oleh ilmuan diatas, sebenarnya kitab orang muslin jauh sebelumnya telah menjelaskan penciptaan alam atau kosmos ini. Dalam surah al anbiya ayat 30 dijelaskan bahwasanya bumi dan langit beserta isinya berupa planet, bintang dan galaksi serta yang sedang kita tempati sekarang adalah pada asalnya satu kumpalan gas yang lengket dan bersatu kemudian Allah pisahkan dan ledakan sehingga terbentuklah galaksi,planet dan bintang dan inilah yang telah disingkapkan oleh ilmuan-ilmuan astronomi pada akhir abad 20.

Bukankah kecocokan temuan ilmu astronomi dan kebenaran al qur’an menakjubkan akal, mengundang penelitian tentang siapa pencipta kosmos ini? Kebenaran dari Tuhannu maka janganlah menjadi orang-orang yang ragu.

.

Sisi i’jaznya qur’an :

Pernyataan al qur’an bahwa awal penciptaan kosmos berasal dari bekas ledakan besar yang pada awalnya sekumpalan gaz yang lenket dan bersatu. Dan pernyataan ini dikuatkan oleh penelitan-penelitian para ahli falak dan gambaran-gambaran satelit buatan pada akhir abad 20.
READ MORE -