Setelah proyek multimilyar dollar selesai, sang dirjen kedatangan tamu bule wakil dari HQ kantor pemenang tender. Udah 7 tahun di Jakarta jadi bisa cakap Indonesia.
Bule: "Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah mercy S 320."
Dirjen : "Anda mau menyuap saya? ini apa-apaan? tender dah kelar kok. jangan gitu ya, bahaya tau haree genee ngasih-ngasih hadiah."
Bule: "Tolonglah pak diterima. kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh kantor pusat."
Kisah ini terjadi pada tahun 1960, ketika Partai Komunis berkuasa di Rusia.
Di sebuah sekolah dasar di Moskow, Boris yang berusia enam tahun diminta gurunya memberikan contoh sebuah anak kalimat yang menerangkan sifat.
"Kucing kami baru saja beranak lima ekor," kata Boris, "Yang semuanya komunis sejati."
Bukan main senangnya hati pak guru melihat penguasaan Boris akan tata bahasa sekaligus slogan partai. Kalau nanti pengawas pendidikan dating ke sekolah itu, maka gurunya meminta Boris yang menjawab.
Minggu berikutnya, ketika pengawas pendidikan mengunjungi kelasnya, pak guru memberi isyarat pada Boris, agar bocah itulah yang menjawab pertanyaan yang akan dilontarkannya di depan pengawas. Pak guru pun mulai mengajukan pertanyaan.
"Kucing kami baru saja beranak lima ekor," jawab Boris, "Mereka semuanya demokrat sejati..!"
Pak guru kaget dan tergagap. "Ta..tapi Boris, minggu lalu jawabanmu bu.. bukan itu."
Kartini dan Feminisme Berbicara mengenai sejarah berarti berupaya untuk membuka kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kancah kehidupan umat manusia dan berusaha menghadirkan kembali informasi-informasi masa lampau sehingga terasa segar di masa sekarang. Sejarah membantu kita untuk mendapatkan informasi kehidupan yang telah lampau. sejarah selalu kontemporer”, sepatutnya kita renungkan. Sejarah tak akan diungkap kalau tidak ada kepentingan. Sifat sejarah yang paling utama adalah einmalig (unik, sekali terjadi) dan penting (Benedetto Croce). Ratu Balqis, penguasa wanita yang memilik super power di negeri saba’, Sajaratud- Durr -putri keturunan Salahuddin, pernah mencicipi sebagai penguasa pada dinasti Mamalik, dan para Sulthanah yang pernah berkuasa di Kerajaan Aceh, baik Sulthanah Khadijah, Sulthanah Maryam maupun Sulthanah Fatimah mereka adalah bagian dari sejarah yang telah mengharumkan kaum hawa dan mengangkat image perempuan sebagai makhluk yang sempurna terlepas dari pro dan kontra para ulama terhadap kepemimpinan perempuan berdasarkan derivasi Al-Qur’an:An-Nissa (Q.S. 4/34) artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)”. Sungguh, ayat ini menjadi acuan bagi kasus sa''ad bin Abi Rabi dengan istrinya, Habibah binti Zaid. Habibah telah nusyuz dan Sa''ad memberikan response yang kasar. Dia memukul tubuh istrinya. Kemudian Habibah melaporkan kepada Rasulullah (Saw) dan memohon dengan tujuan agar suaminya dihukumi dengan qishash. Sebelum mereka melakukan qishash, datang ayat. Kemudian, konteks dari surat tersebut adalah untuk masalah keluarga atau masalah domestik bukan untuk dibuka dipublik. Ayat tersebut berkenaan dengan masalah rumah tangga telah disimpulkan secara umum. Sehingga hak wanita untuk isu yang lain telah dihilangkan. Kemudian dikuatkan oleh hadis Nabi:Tidaklah beruntung suatu kaum jika menyerahkan suatu kepemimpinan kepada perempuan. Berdasarkan laporan dari Bukhari dan Ahmad Ibnu Hambali, hal ini dikenal dengan sumber dari hadist adalah Abi Bakrah. Ibn Atsir berkata bahwa hadist ini adalah lemah, karena sanadnya telah cacat. Jika hadist ini sahih sebagaimana pendapat Ibnu Hajar Al-Astqalani, Hadist ini harus diinterpretasikan secara kontekstual. Berdasarkan sejarah, hadist datang kepada Buwaran dari Kisra Persia yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja. Secara faktanya, hal ini dipercaya bahwa dia tidak kredibel dan begitu lemahnya. Orang-orang begitu khawatir tentang kemampuan dia yang mengakibatkan pengaruh pada politik. Kemudian, hadist ini merupakan hal yang kasuistik. Demikianlah, menolak hak wanita dalam ranah politik sebagai pemimpin berdasarkan perspektif islam tidak didefinisikan secara terinci. Tulisan ini tidaklah terlalu membicarakan sebuah perdebatan panjang tentang layak atau tidaknya perempuan menjadi pemimpin atau kepala daerah serta menghotspotkan istilah emansipasi wanita. Biarlah publik dan waktu yang menyaksikan skenario keberhasilan pemimpin-pemimpin wanita dalam sejarah dunia. Karena pada hakikatnya makhluk Tuhan itu sama dan Allah tidak membedakan hambaNya melainkan ketakwaan. Meskipun secara priodik sejarah kaum hawa sudah terlupakan yang telah sukses menggerakkan roda zaman. Penulis bermaksud mengajak pembaca sejenak mengamati sebuah kehidupan anak zaman yang telah berlalu, track recordnya masih dikenang dan keberaniannya yang terpuji di seantreo Indonesia, bahkan dianggap layak menjadi seorang pemimpin dialah Raden Ayu Kartini sebutannya. Tanggal 21 april 1879 terlahirlah seorang perempuan yang ayu, simple, berotak berlian dan dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi dari Jepara Jawa Tengah. Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dengan sikap kesederhanaan di tengah kemewahan yang dimilikinya menjadikan dia sebgai sosok perempuan sekaligus seorang ibu yang luar biasa. Meskipun 21 april tidak termasuk hari libur nasional, namun Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini dan bahkan banyak masyarakat Indonesia, khususnya para ibu-ibu memperingati hari lahir kartini dengan mengisi berbagai acara dan aktifitas kepedulian. Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional. Pemikiran-pemikiran cemerlangnya mampu meloncati pagar sosial budaya, geografis serta tembok besar penjara rasa keterkungkungan karena kebodohan dan kemiskinan. Pemikiran-pemikiran berliannya tsb kemudian menjadi salah satu sumber informasi bagi perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari jepitan dinding-dinding penjara yang tidak tampak oleh mata telanjang itu lahirlah pemikiran-pemikiran yang menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu Bangsa Indonesia patut bersyukur ke hadirat Allah SWT karena telah menurunkan seorang perempuan ke bumi pertiwi tercinta yang membawa missi pencerahan bagi kita bangsa Indonesia. Jadi perjuangannya tidak khusus bagi kaum wanita. Terlepas dari kontroversi penulisan sejarah dan sudut pandang para penulisnya, marilah kita samakan nilai sebagai pijakan dulu, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yg dapat menghargai jasa para pahlawannya. Jangan sampai kita berubah menjadi pengikut paradigma yang disampaikan wapres Republik BBM (TV Show), yaitu “bangsa yg besar adalah bangsa yang dapat menertawakan dirinya sendiri”. Sebuah hiburan yang sesungguhnya menyakitkan. Secara kontemporer mungkin paradigma ini ada benarnya juga. Bagaimana tidak tertawa, puluhan tahun kita diperintah oleh sebuah kekuasaan yang awalnya dibentuk dari fotokopi sebuah surat. Ini baru fotokopinya, belum aslinya. Kalau ada yang mempermasalahkan otentiksitas surat-surat Kartini maka wajar-wajar saja, lantaran aslinya tidak ditemukan. Tetapi jauh lebih baik menghargai daripada menertawakan. Banyak hal yang dapat dipelajari dari riwayat RA Kartini.
Pertama adalah semangat untuk keluar dari masalah-masalah diskriminasi, kebodohan dan masalah derivatifnya. Dari kondisi ini Kartini bagaikan seorang begawan yang dengan kesaktian dan kebijakannya mengeluarkan wejangan-wejangan. Kartini adalah figur pemberontakan intelektual, sosial budaya dan karakter bangsa. Pemberontakannya bukan dengan senjata, tetapi dengan mengedapankan pembentukan kecerdasan dan akhlak mulia. Mari kita bayangkan apa yang kurang pada kondisi kita saat ini. Kita kekurangan orang bijak. Andaikan, setidaknya ada satu orang saja yang mampu berpikir dan berperasaan dan kemudian mengekspresikannya kedalam tindakan seperti RA Kartini di setiap Kabupaten/Kota di Indonesia, tentu kondisi krisis dan peralihan yang kita alami tidak berlarut-larut hingga kini. Apalagi yang kurang dari Bangsa Indonesia saat ini? Para cerdik pandai negeri ini belum mampu menjadi pelopor pengembangan modal intelektual dan penerapannya yang dilandasi kepedulian sosial.
Kedua adalah belajar strategi. Jauh-jauh Kartini telah menunjukkan langkah yang strategis. Yaitu memilih strategi surat menyurat. Karena dengan surat menyurat yang kemudian dipublikasikan oleh teman-teman korespondensinya yang Bangsa Belanda, relatif tidak terkena sensor penjajah. Kartini mengiklankan keinginannya untuk berkoresponden yang kemudian ditangkap antara lain oleh Stella Zeehandelaar, dan Ny. Abendanon. Kartini ternyata mampu melihat jalan lain. Dia tidak putus asa atas penolakan redaktur koran pada saat itu atas tulisan-tulisannya. Dengan cara ini pula maka terdapat arsip surat-suratnya yang kemudian menjadi bahan-bahan penulisan tentang Kartini.
Ketiga adalah gemar membaca. Dari surat-surat Kartini kepada para korespondennya dapat dilihat bahwa Kartini adalah seorang yang gemar membaca. Tentu saja yang dibaca bukan buku yang berbahasa Jawa atau Indonesia. Melainkan buku yang berbahasa Belanda. Artinya menguasai bahasa asing dengan kata yang lebih tegas adalah wajib. Membaca adalah pintu kemajuan. Adalah Prof. Soedjatmoko (aim) yang mengatakan bahwa bangsa maju adalah bangsa pembaca . Budaya membaca dan menulis lebih baik daripada budaya menonton. Karena dalam membaca dan menulis terdapat internalisasi nilai yang sedang menjadi perhatiannya. Internaslisasi itulah proses belajar. Dan belajar itulah proses untuk keluar dari kemiskinan”. Kalau saja bangsa kita ini mewarisi sifat gemar membaca dari Kartini mungkin kita sudah melesatcukupjauh dari kondisi sekarang. Keempat adalah Ibu yang pendidik. Ibu adalah pendidik yang pertama. Konsep ini sesuai dengan konsep-konsep Psikologi perkembangan anak. Untuk memperkuat topik keempat ini, dibawah ini cuplikan dari surat Kartini kepada Prof. G.K. Anton dan Nyonya tahun 1902 “Perempuanlah, kaum ibu, yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati sanubari manusia yang biasanya tetap terkenang sepanjang hidupnya. Bukan tanpa alasan orang berkata baik laki-laki maupun perempuan telah menelannya bersama-sama air susu ibu”.
Cuplikan kedua adalah surat kepada Menteri Jajahan AWF Idenburg: “Pendidikan yang bukan semata-mata didasarkan pada kecerdasan otak, melainkan yang sungguh-sungguh memperhatikan pembentukan akhlak, karena kecerdasan otak dengan sendirinya perasaan akan menjadi beradab. Begitu banyak contoh yang tak terhitung membuktikan bahwa kecerdasan pikiran yang tinggi masih belum merupakan jaminan yang mutlak untuk keluhuran budi. Sebagai ibu dialah pendidik pertama umat manusia. Di pangkuannya anak pertama-tama belajar merasa, berpikir, berbicara (Dri Arbaningsih, 2005 hal 154-155). Dari kutipan-kutipan di atas tampak bahwa Kartini mengembangkan konsep ibu cerdas bukan hanya cerdas intelektual tetapi juga emosional dan spiritual. Jauh-jauh konsep pengembangan intelektual, emosionil, dan spiritual yang telah digagasnya mendahului konsep yang dikembangkan Daniel Goleman terkenal dengan Emotional Intelligence and Social Intelligencennya , dan Ary Ginanjar dengan ESQnya, bahkan AA Gym denga MQnya. Kecerdasan dan keintelektualannya tidak dijual apalagi digadaikan untuk intensitas memperkaya diri yang tentu berbeda dengan kebanyakan kaum hawa sekarang berkompetisi merebut sebuah posisi politik atau kepala daerah tertentu yang ditawarkan kepadanya karena ketenaran, popularitas dan kedekatan nepotisme yang dimilikinya sehingga suatu yang tidak layak menjadi layak, suatu yang tabu menjadi halal. Raden Ayu Kartini bukanlah seperti Julia Perez, Ayu Azhari, dan para artis wanita lainnya yang menginternalisai dirinya untuk suatu jabatan demi ambisi pribadi atau sekelompok berorientasi meraup kekayaan. Kartini adalah sosok seorang perempuan mempunyai naluri feminisme, keibuan yang tulus dan ikhlas untuk mencerdaskan anak bangsa ketimbang sibuk membahas gender affair dan emansipasi. Bukankah tepat jika beliau kita anggap ternyata dia benar-benar seorang ibu bangsa yang mempunyai cita-cita memajukan anak- anak bangsa agar terujud bangsa yang bermoral dan mempunyai identitas yang mulia.
Dalam bukunya, Ten Powerful Phrases for Postive People ( 10 ucapan dahsyat untuk orang-orang sukses), Rich De Vos, pendiri Amway Corporation dan Komisaris Orlando Magic NBA mengatakan kata-kata sederhana mengakui “Saya bersalah” atau “Saya percaya padamu” mungkin dapat membantu kita untuk menjalin hubungan yang lebih baik. Baik penguasa atau pemerintah kepada rakyatnya, atasan kepada bawahannya. Begitu juga para pegawai pemerintahan dalam melayani masyarakat. Tentu perseteruan yang populer dengan sebutan “Cicak melawan Buaya” itu tidak akan berlarut-larut. Sebagai sesama yang saling membuthkan semestinya memang tidak begitu. Dalam istilah bahasa Jawa; Ngono yo ngono nanging mbokyao ojo ngono, begitu ya begitu tapi jangan begitu amat.
Lebih lanjut Rich DeVos memaparkan ucapan-ucapan tersebut membuat kita merasa lebih positif terhadap diri sendiri, sekaligus dapat membantu orang lain merasakan hal yang sama tentang diri mereka.
Adapun sepuluh ucapan dahsyat itu, yaitu pertama; “Saya salah”, Rich deVos memilih ucapan itu paling utama kata ucapan itu paling sulit dikatakan dengan tulus. Betapa sangat sulit untuk mengakui kita salah, bahkan kepada diri kita sendiri, dan semakin sulit lagi untuk mengatakannya terutama kepada orang yang kita sayangi dan yang kita ingin menyanyangi kita.
Kedua; “Saya menyesal,” dimana pada saat berkata “Saya salah,” kita juga harus menyesal. Ketika melakukan kesalahan, kita mungkin telah menyakiti orang lain pada prosesnya, maka pengakuan kita harus lebih dari sekedar teknis atau mekanis, tapi menunjukkan kita tulus menyesal. Ketiga; “Kau bisa melakukannya”, sebuah ucapan untuk memotivasi orang bisa melakukan apa pun kalau punya tekad yang kuat. Hal ini sama dengan ucapan keempat; “Saya yakin padamu” sebagai perpanjangan ucapan “Kau bisa melakukannya” tapi lebih personal lagi.
Kelima; “Saya bangga padamu”, ucapan yang terdahsyat ketika kita bersama anak-anak, selain ucapan “Aku sayang padamu” tentunya. Ucapan “Saya bangga padamu” terutama untuk menyemangati orang-orang yang biasanya tidak memenangkan penghargaan atau imbalan dari kehidupan, yang meragukan kemampuan mereka dan sulit mendapatkan sesuatu yang dibanggakan.
Keenam; “Terima kasih”, sebuah kosa kata yang merupakan harapan kita yang berfungsi dengan baik dalam masyarakat kita yang berbudaya. Ketujuh; “Saya membutuhkanmu” adalah kalimat dahsyat untuk orang-orang yang positif karena ucapan itu mengakui bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dan Tuhan menciptakan setiap orang untuk suatu tujuan dan untuk memenuhi kebutuhan.
Kedelapan: “Saya percaya padamu” adalah kalimat dahsyat lainnya yang sangat penting untuk orang-orang positif. Kesuksesan masayarakat kita tergantung pada adanya kepercayaan bahwa seseorang akan melakukan pekerjaan dengan baik, mempercayai kejujuran masing-masing, dan percaya bahwa orang-orang akan menepati janji mereka.
Kesembilan; “Saya menghormatimu” adalah ucapan sangat dahsyat, tetapi rasa benar-benar harus diusahakan dan ditunjukkan. Rasa hormat bersifat timbal balik. Jika kita ingin dihormati, kita juga harus menghormati orang lain.
Terakhir, kesepuluh; “Saya mencintaimu”, sebuah ucapan yang kalau benar-benar kita mengatakannya dengan sepenuh hati akan memiliki kuatan yang sangat besar. “Saya mencintaimu” kalimat dahsyat yang melingkupi semua hal lain. Cara kita merasakan orang lain, apakah itu cinta romantis hubungan keluarga, atau bahkan persahabatan adalah sebuah bentuk cinta, betapa memang kita harus saling mencintai.
Tentu saja sepuluh ucapan tersebut merupakan basement dalam meraih rahmat ilahi dan sebuah kekuatan untuk merajut silaturrahmi.
Manusia, seperti yang dijelaskan Allah swt dalam surat an-Nisa’ [4]: 28 adalah makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah. Bahkan, isyarat tersebut dengan jelas juga Allah sebutkan dalam salah satu ayat-Nya dari wahyu pertama yang diturunkan, surat al-‘Alaq [96]: 2, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari ‘Alaq. ‘Alaq secara harfiyah artinya sesuatu yang menggantung (oleh karena itu, lintah di dalam bahsa Arab disebut juga dengan ‘alaq). Hal itu mengisyaratkan bahwa semenjak awal penciptaannya, manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan kepada pihak lain disebabkan kelemahan manusia itu sendiri. Tidak ada satupun pekerjaan atau aktifitas, sekecil apapun yang bisa dilakukan manusia tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Tertawa atau senyum adalah suatu pekerjaan atau aktifitas yang sangat kecil dan sederhana, namun jika itu dilakukan sendiri atau tanpa adanya orang lain, maka tersenyum atau tertawa sendiri bisa menjadi “petaka” bagi yang bersangkutan.
Oleh karena itulah, manusia dalam kehidupannya memiliki fitrah dan kecendrungan untuk hidup secara bersama dan berkelompok. Jika saja ada manusia yang cendrung hidup sendiri atau individualis, maka dia telah keluar dari fitrah kemanusiaannya. Dan kecendrungan serta keinginan untuk membangun kelompok ini diwujudkan manusia melalui jalan membangun shilaturrahmi.
Shilaturrahmi adalah bagian yang sangat penting dari ajaran Islam. Sebab, tujuan kedatangan Islam adalah menebarkan rahmat (kasih sayang) terhadap seluruh alam dan makhluk. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak sekali kata amal shalih yang seringkali disandingkan dengan kata iman. Akan tetapi, Allah swt. tidak menyebutkan secara rinci apa saja yang termasuk amal shalih itu. Namun demikian, bukan berarti amal shalih tersebut tidak disebutkan jenisnya di dalam al-Qur’an. Di mana Allah swt. memberikan isyarat bahwa untuk mengetahui bentuk-bentuk amal shalih tersebut, perlu melihat kata yang menjadi lawan dari amal shalih itu. Di dalam al-Qur’an kata amal shalih dilawankan Allah swt dengan kata fasâd (kerusakan). Hal itu terdapat dalam surat Shad [38]: 28
“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih sama seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?.”
Ayat ini memberikan isyarat bahwa rincian amal shalih itu dapat diketahui dengan merujuk semua bentuk perbuatan fasâd (berbuat kerusakan) yang ada dalam al-Qur’an. Dan di dalam al-Qur’an, minimal ada 11 perbuatan yang disebutkan sebagai perbuatan fasad (kerusakan), di antaranya adalah memutuskan tali shilaturrahmi. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 27
“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Dengan demikian, menjalin shilaturrahmi adalah bagian dari amal shalih. Di dalam al-Qur’an setidaknya terdapat 11 pula janji Allah swt. terhadap pelaku amal shalih, di antaranya adalah bahwa Allah menjanjikan mereka dengan pahala dan balasan yang tiada akan pernah terputus. Sehingga, tiadalah ketakutan dan kecemasan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah [2] 277
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Bagaimana mungkin orang-orang yang suka bershilaturrahmi dan memiliki hubungan yang baik dengan sesama akan dihinggapi rasa sedih, cemas dan takut. Sebab, dia tidak memiliki musuh atau siapapun yang akan mendatangkan bahaya kepadanya. Ke manapun dia pergi dan di manapun dia berada, tentu semua orang bisa menerimanya dengan baik. Hal ini, tentu saja berbeda dengan orang yang tidak suka bershilaturrahmi, di mana hidupnya akan terasa sempit dan barangkali saja dia akan diliputi rasa sedih, cemas dan takut di manapun dia berada. Karena, dia tidak memiliki banyak teman, di tambah lagi jika memiliki banyak musuh yang bisa saja sewaktu-waktu mengancam keselamatanya.
Dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia selalu bershilaturrahmi (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nasa’i).
Berdasarkan hadits di atas, setidaknya ada dua keuntungan yang diperoleh bagi yang bershilaturrahmi. Pertama, dilapangkan rezekinya oleh Allah. Pengertian dilapangkan rezekinya bisa dalam arti bahwa Allah memberikan langsung rezeki yang berlimpah kepadanya sesuai janji Allah dalam surat Fushshilat [41]: 8, di mana mereka akan mendapatkan balasan yang sangat besar dan tiada akan terputus. Pengertian dilapangkan rezeki yang lain adalah bahwa dengan bershilaturrahmi, menjalin persahabatan, memperbanyak kawan, relasi, jaringan dan sebagainya akan membuka kesempatan dan peluang kerja. Jika seorang memiliki banyak teman dan relasi tentulah semangat dan kesempatan usaha akan terbuka lebar, akan berbeda halnya dengan orang yang tidak punya banyak teman dan relasi, apalagi punya banyak musuh, bukan hanya merasakan sempitnya lapangan usaha, namun peluang dan kesempatan yang sudah di depan mata pun bisa hilang begitu saja.
Kedua, orang yang suka bershilaturrahmi dan membangun hubungan baik akan dipanjangkan umurnya oleh Allah. Pengertian dipanjangkan umurnya bisa beberapa bentuk, diantaranya orang yang selalu membangun shilaturrahmi dan memilki banyak teman serta hubungan yang baik dengan sesama, sekalipun dia telah meninggal dunia orang lain tetap mengenang dan menyebut-nyebut namanya sebagai orang baik. Bahkan, orang lain masih merasakan kalau dia seakan masih hidup bersama mereka. Berbeda halnya dengan orang yang suka memutuskan shilaturrhami dan memiliki banyak musuh, di mana dengan sangat cepat sekali orang lain melupakannya, bahkan tidak mau mengenang dan menyebut namanya lagi. Pengertian lain dari dipanjangkan umurnya adalah bahwa jika seseorang selalu bershilaturrahmi dan memilki hubungan yang baik dengan sesama serta mempunyai banyak teman dan sahabat, setidaknya dia akan terhindar dari ketegangan hidup (stress). Bukankah stress seringkali memperpendek umur seseorang? Karena, kematian bahkan bunuh diri seringkali dipicu oleh stress dan prustasi menghadapi hidup.
Dengan bershiltaurrahmi setidaknya seseorang bisa menghilangkan rasa stress dengan bercanda dan berbagi cerita melalui banyaknya teman. Jika saja umur tidak bisa diperpanjang, setidaknya “kematian cepat” bisa tercegah dengan banyak bershilaturrahami.
Hal ini penulis sampaikan, dengan melihat gaya dan pola hidup sebagian besar masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini, yang sudah mulai tercabut dari nilai-nilai agama dan budaya yang sudah lama dianut bangsa ini. Di mana semangat shilaturrahmi, kebersamaan, gotong royong sudah mulai pudar terutama bagi masyarkat yang tinggal di daerah perkotaan yang sudah cendrung hidup materialisme dan individualisme. Kesibukan menghadapi rutinitas setiap hari, pergi pagi pulang malam, sehingga jangankan dengan masyarakat di luar sana, dengan tetangga sendiripun shilaturrahmi dan kumunikasi sudah jarang terjadi. Dampaknya, semangat shilaturrahmi dan membangun ukhuwah sudah mulai terabaikan. Betapa seringnya terjadi, di mana sebagian kelompok masyarakat saling tidak mengetahui apa yang terjadi dan menimpa tetanggnya sendiri. Bahkan si pejabat kita yang sok kemana mengemudi mobil2 flat merah tanpa risih dan malu, bahkan hari liburpun digunakan untuk berpergian dg keluarganya. sementara rakyat berjibun menunggu antrian untuk naik angkot. ketika ada ytang mau numpang malah dicuekin. emngnya kamu yg beli tu mobil..begitulah gerutuan rakyat. tp hendak dikata, rakyat hanya bisa bergumam, sementara si pejabat cuek sambil melaju tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Oleh karena itu, marilah kita kembali sama-sama membangun shlitaurrami demi terwujudnya fitrah manusia yang cenderung hidup bersama dan bersifat komunal bukan sendiri atau individual dan dengan kebersamaanlah rahmat ilahi bisa dicapai dengan mudah. Wallahu’alam
Madu, Mangkuk Indah, dan Sehelai Rambut Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa suatu ketika Rasulullah saw bersama sahabat-sahabat beliau; Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Layaknya tamu, Ali bin Abi Thalib dan isterinya Fathimah menyambut kedatangan mereka, kemudian disuruh masuk dan dipersilahkan duduk. Beberapa saat kemudian, Fathimah ke dapur mencari hidangan untuk Rasulullah saw; ayahnya dan sahabat-sahabatnya. Adapun hidangan yang dibawa Fathimah adalah madu yang diletakan di sebuah mangkuk yang indah. Ketika madu yang berada dalam mangkuk tersebut berada di tengah mereka, Rasulullah saw melihat sehelai rambut di dekatnya. Kemudian Rasulullah saw mengambil ketiganya; madu dengan mangkuk dan sehelai rambut tersebut. Maka Rasulullah saw berkata kepada semua sahabatnya, “Coba kamu membuat perumpamaan dari yang tiga ini; madu, mangkuk dan sehelai rambut!”. Masing-masing mereka kemudian membuat perumpamaan. Giliran pertama dipersilahkan kepada Abu Bakar as-Shiddiq, dia berkata “Iman itu lebih manis dari madu, orang yang beriman lebih cantik dari mangkuk yang indah ini, namun mempertahankan iman atau mencari orang yang mampu mempertahankan imannya sampai dia meninggalkan dunia ini, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Rasulullah saw berdecak kagum dengan perumpamaan Abu Bakar. Selanjutnya Umar bin Khattab dipersilahkan, dan dia berkata “Kekuasaan itu lebih manis dari madu, orang yang berkuasa/penguasa/ pemimpin lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun berkuasa secara adil atau mencari orang yang mampu berlaku adil terhadap kekuasaannya, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut.” Rasulullah saw memuji perumpamaan Umar bin Khattab. Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Utsman bin Affan, dia berkata “Ilmu itu lebih manis dari madu, orang berilmu lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mencari orang berilmu yang mampu mengamalkan ilmunya dengan sempurna, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Bagus, sambut Rasullah saw. Kemudian kesempatan diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, dia berkata "Tamu itu lebih manis dari madu, orang yang menerima tamu lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mencari orang yang mampu menyambut tamunya dengan hangat dan mesra dari mulai kedatangan mereka sampai saat mereka meninggalkan rumah tanpa kurang sedikitpun, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut". Rasulullah saw tersenyum sambil mengagumi perumpamaan Ali bin Abi Thalib. Fathimah juga diberi kesempatan untuk membuat perumpamaan, dia berkata “Wanita itu lebih manis dari madu, wanita yang shalihah lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mancari wanita yang tidak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya saja, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Rasulullah saw pun memuji perumpamaan Fathimah. Sekarang kesempatan Rasulullah saw membuat perumpamaan, beliau berkata “Amal itu lebih manis dari madu, orang yang beramal lebih cantik dari mangkuk yang indah ini, namun mencari orang beramal yang ikhlas dalam mengerjakan amalnya itu, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Allah swt kemudian melalui Rasulullah saw juga membuat perumpamaan, "Sorga-Ku lebih manis dari madu, keindahan sorga-Ku lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun jalan menuju sorga-Ku susahnya sama dengan meniti sehelai rambut”. Semua perumpamaan di atas pada hakikatnya, bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, namun lebih menunjukan arti susahnya berbuat yang demikian itu. Yaitu, susahnya mempertahankan keimanan, berlaku adil terhadap amanah berupa kekuasaan, mengamalkan ilmu dengan sempurna, memuliakan tamu secara sempurna, wanita yang benar-benar bersih dan terjaga, beramal dengan ikhlas serta mendapatkan sorga Allah. Kalaupun itu ditemukan maka amat sedikit yang mampu melakukannya. Diposkan oleh luthfi di 21:35 Label: ceramah dan khutbah 0 komentar:
Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Mungkin para pembaca merasa heran banyak artikel ataupun opini penulis berbicara mengenai makhluk-makhluk Tuhan sepeti artikel-artikel sebelumnya tentang semut, kodok, lebah, pohoh pisang dan kali ini seekor anjing. Tulisan-tulisan ini tidaklah bermaksud mendeskriditkan manusia sebagai makhluk yang lebih sempurna melainkan sekedar menghayati sebuah interpertasi dari firman Allah swt. Salah satunya dalam surat al-Baqarah [2]: 26
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
Dan tentunya semua ayat-ayat Allah swt.tersebut baik secara ekplisit maupun implisit ditujukan kepada manusia agar manusia bisa memahami dan mengamalkannya.
Anjing adalah salah satu di antara makhluk Allah yang juga diciptakan-Nya untuk maksud dan kegunaan yang besar. Sekalipun ia dipandang sebagai makhluk yang haram, hina dan menjijikan, namun di balik itu semua terkandung maksud, manfaat serta kegunaan yang teramat besar. Manfaat dan kegunaan dari penciptaan anjing tersebut, tentulah ditujukan untuk manusia sebagai khalifah dan wakil Allah di muka bumi.
surat Ali ‘Imran [3]: 191
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Berikut, kita akan mencoba melihat beberapa sikap terpuji sekaligus sikap tercela yang dimiliki makhluk yang disebut anjing untuk kemudian kita jadikan pelajaran dalam kehidupan ini. Sikap yang terpuji mestilah dimiliki dan diikuti oleh mansuia, sementara sikap tercela janganlah ditiru dan hendaklah dijauhi.
Adapaun sikap terpuji anjing adalah;
1. Gemar mengosongkan perut serta tidak suka makan berlebihan.
Kita bisa melihat ketika seekor anjing memakan satu tumpuk makanan. Ia tidak akan memakan makanan itu sampai perutnya penuh (gendut). Sekelipun makanan itu banyak, ia hanya mengisi perutnya dalam ukuran yang sederhana. Sehingga, sulit bagi kita membedakan antara anjing yang sudah makan dengan yang belum, karena ukuran perutnya yang relatif sama. Berbeda halnya dengan binatang ternak seperti sapi, kerbau dan lain-lain yang suka makan berlebihan sampai perutnya “buncit” dan “gendut”, dan kemudian tidur sambil memamah makanan itu kembali. Nabi Muhammad saw. Mengatkan dalam hadisnya:”kami adalah kaum yang tidak makan akan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang”.(HR.Muslim)
Itulah sikap hidup yang mesti dimiliki oleh setiap manusia khususnya seorang mukmin. Janganlah mengisi perut secara berlebihan dengan makan dan minum. Sebab, mengisi perut secara berlebihan dengan makan dan minum bukan hanya berdampak buruk secara jasmani, namun juga akan merusak rohani. Secara jasmani, orang yang makan secara berlebihan akan sangat rentan dengan berbagai macam penyakit. Karena, sebagian besar penyakit bersumber dari persoalan perut (makan dan minum). Secara rohani, orang yang makan berlebihan cenderung menjadi orang yang pemalas. Sebab, setelah perut diisi dengan penuh dan berlebihan, bisanya seseorang akan diserang rasa kantuk yang hebat untuk kemudian tidur. Rasa kantuk yang disebabkan kekenyangan inilah yang membuat manusia menjadi malas bergerak, termasuk juga malas melaksanakan ibadah, bahkan malas itu akan berujung pada meninggalkan kewajiban. Begitulah gambaran Rasulullah saw. dalam salah satu haditsnya tentang akibat makan dan minum secara berlebihan.
“Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan dan minuman, sebab mengisi perut dengan penuh akan membahayakan tubuh dan menyebabkan malas shalat.” (H.R. Bukhari)
Senada dengan hadis di atas Allah swt. Menegur kita dalam surat al-A’raf [7]: 31
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
2. Tidak tidur di malam hari, kecuali sangat sedikit
Adalah sudah menjadi kebiasan seekor anjing untuk sedikit tidur di malam hari. Agaknya, karena sebab itulah manusia menjadikannya sebagai makhluk penjaga rumah atau penjaga bagi para musafir di padang pasir ketika berkemah di malam hari. Ia adalah salah satu dari makhluk Allah yang tidak pernah tidur dengan pulas, apalagi sampai hilang kesadaran di malam hari. Kalaupun seekor anjing tidur maka tidurnya sangatlah tipis, sehingga hentakan kaki manusia dari jarak jauhpun bisa didengarnya di saat tidur.
Inilah sikap hidup yang semestinya juga dimiliki oleh setiap mukmin. Tidur di malam hari adalah suatu kemestian, bahkan adalah bagian dari kewajiban untuk memenuhi hak jasmani. Adalah menzhalimi diri sendiri, jika manusia tidak menggunakan malam hari untuk waktu tidur. Sebab, Allah swt. mendatangkan malam adalah untuk tujuan agar manusia beristirahat dari kelelahan dan kesibukanya di siang hari. Namun demikian, hendaklah seseorang tidak tidur nyenyak sampai pagi, tanpa terbangun dari tidurnya dan beribadah kepada Allah.
Begitu juga dalam surat al-Isra’ [17]: 79
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
3. Istiqamah dalam bertuan dan tetap setia dalam kondisi apapun.
Jika seekor anjing sudah memiliki tuan dan diberi makan setiap hari, bagaimanapun tuannya mengusir dan menghardiknya bahkan dipukul sekalipun, ia akan tetap setia dan tidak akan pergi meninggalkan tuannya. Bagaiamanpun tuannya memarahi bahkan memukulnya, ia tidak akan marah, melawan apalagi mendendam dan berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan tuannya. Jika pun dia pergi ketika dihardik dan diusir, namun beberapa saat kemudian ia akan kembali kepada tuannya dan tetap memperlihatkan kesetiaannya.
Begitulah sikap yang mesti ditunjukan seorang mukim kepada Tuhannya. Janganlah seorang mukmin hanya setia, tunduk, patuh atau memuji Allah, jika diberi nikmat dan kesenangan. Sementara, jika Allah memberikan suatu kesulitan kepadanya atau hal yang tidak menyenangkan menurut ukurannya, dia langsung mengumpat dan mencela Allah kemudian berpaling dan meninggalkan-Nya. Dan memang begitulah salah satu sikap manusia yang dicela oleh Allah swt. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Fajr [89]: 15-16
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku (15). Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku (16).”
4. Tidak suka mempertahankan status quo
Adalah kebiasan seekor anjing, jika ia tidur pada suatu tempat kemudian meninggalkannya untuk beberapa saat, lalu datang anjing lain dan menempati tempat itu, ia tidak pernah marah apalagi mengusir anjing yang sudah menempati tempatnya. Seekor anjing tidak akan berkelahi dengan saudaranya yang mengambil posisinya apalagi yang telah ditinggalkan. Ia akan dengan senang hati berpindah dan mencari tempat lain untuk ditempati.
Begitulah sikap yang mesti ditunjukan oleh seorang mukmin terhadap saudaranya. Dia tidak marah jika ada saudaranya yang menduduki suatu jabatan, posisi apalagi posisi yang pernah ditinggalkannya. Janganlah seorang mukmin iri, dengki, atau marah kepada saudaranya yang menempati jabatan dan kedudukannya. Karena tanpa jabatan dan posisi itu, bukankah dia masih bisa melanjutkan eksistensinya atau bahkan mencari posisi dan kedudukan yang mungkin lebih baik dari yang ditempati saudaranya di tempat lain atau di waktu yang lain. Bukankah bumi Allah sangat luas, di manapun manusia berada dia pasti akan mendapatkan Tuhan dan rahmat-Nya di sana. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 148
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Begitu juga dalam surat an-Nisa’ [4]: 97
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.
Begitu juga dalam surat az-Zumar [39]:10
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
Tapi alangkah sedihnya kita ketika melihat orang-orang yang merebut sebuah jabatan dengan cara memakan daging saudaranya sendiri dan bahkan lupa terhadap kebaikan-kabaikan orang lain ketika dia sudah sukses. Alangkah pilunya hati ini menyaksikan orang-orang yang tertunda keberhasilannya menduduki sebuah jabatan dengan cara mengambil kembali segala sumbangan yang dihibahkannya. Ternyata kita belum bisa belajar dari seekor anjing.
5. Bersifat qana’ah dan berpuas hati dengan suatu pemberian
Anjing adalah makhluk yang memiliki sifat qana’ah yang tinggi terhadap pemberian tuannya. Ia akan sangat senang dan memperlihatkan penghargaan yang tinggi kepada tuannnya atas suatu pemberian, sekecil apapun dan serendah apapun kualitasnya. Jika seekor anjing diberi oleh tuannya sepotong daging, ia akan menerima dan memakannya dengan lahapnya. Jika diberikan nasi yang sudah menjadi sisa tuannya, ia juga akan menikmati pemberian itu dengan lahapnya sama seperti menikmati sepotong daging. Bahkan, jia tuannya memberikan kotorannya sekalipun, ia dengan senang hati menikmatinya sama halnya seperti ia menikmati sepotong daging. Begitulah qana’ahnya seekor anjing terhadap pemberian tuannya.
Itulah sikap yang semestinya dimiliki setiap mukmin terhadap pemberian Allah. Apapun yang diberikan Allah kepadanya dan sekecil apapun nilainya, dia tetap bersyukur dan menerimanya sebagai suatu pemberian yang besar. Bahkan, rasa syukurnya tidak kurang hebatnya ketika dia mensyukuri suatu pemberian bernilai besar. Sebab, betapapun miskin dan jeleknya keadaan dan kondisi manusia di dunia ini, tetap saja bahwa nikmat Allah sungguh sangatlah banyak terhadap dirinya. Bahkan, jika saja manusia mencoba menghitungnya, dia tidak akan mampu. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat an-Nahl [16]: 18
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
6. Bersikap sederhana dan jauh dari gaya hidup mewah
Seekor anjing senantiasa menikmati keadaannya, sekalipun ia tidur di atas alas kaki manusia atau potongan kain kumuh dan lusuh. Dia tidak membutuhkan kandang bagus, kasur empuk atau selimut tebal. Seekor anjing bisa tidur dengan tenang, sekalipun di sebidang tanah, di atas rumput, di atas batu dan sebagainya, asalkan ia terlindung dari hujan dan panas. Begitulah keserdahanaan seekor anjing dalam hidupnya, yang tidak terlalu sibuk dan berambisi dengan kemewahan dan kemegahan hidup.
Begitulah sikap seorang mukmin hendaknya, yang lebih memilih hidup sederhana, bersahaja serta tidak sibuk dan terlalu silau dengan kemegahan serta kemewahan duniawi. Kebahagian bukanlah ditentukan oleh rumah bertingkat dan mewah, mobil yang bagus serta fasilitas duniawi memukau lainnya. Namun, kebahagian ditentukan oleh ketenangan dan kepuasan hati. Banyak tokoh sufi yang pada mulanya tinggal di istana atau hidup dengan kemewahan, namun mereka tidak memperoleh kebahagiaan kecuali setelah melepaskan ikatan gemerlapan duniawi itu. Karena dunia dan gemerlapannya tidak lain hanyalah sebuah permainan dan senda gurau. Kalaupun kelihatan menyenangkan, itu hanyalah sesat dan bersifat semu. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat al-‘Ankabut [29]: 64
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”
7. Memiliki sikap tawakkal yang tinggi
Bila seekor anjing sedang makan, kemudian tuannya datang dan membawanya pergi ke suatu tempat, maka ia tidak akan pernah membawa bekal atau membawa makanan yang masih tersisa. Sebab, ia yakin bahwa di tempat yang baru, rezikinya pun sudah ada dan tersedia. Lihat bedanya dengan seekor monyet yang jika dibawa pergi oleh tuannya ketika sedang makan, maka makanan itu akan dibawanya dengan kedua tangannya, setelah sebelumnya mengisi penuh kedua tempat makanan yang ada di mulutnya.
Begitulah sikap yang mesti dimiliki oleh setiap mukmin, bahwa hendaklah dia memiliki sikap tawakkal kepada Allah. Seseorang tidak perlu takut tidak akan mendapatkan rezeki ke manapun dia pergi atau di manapun dia berada. Bukankah Allah meliputi langit dan bumi? Oleh karena itu, cukuplah manusia menjadikan Allah sebaik-baik Pelindung dan tempat berserah diri. Begitulah di antara pesan Allah dalam surat ‘Ali ‘Imran [3]: 173
“…Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."
8. Penuh harap terhadap suatu pemberian
Adalah tabi’at seekor anjing, jika melihat tuannya atau siapapun yang lewat di hadapannya membawa suatu jenis makanan, ia akan terus menatap dan mengharap diberi makanan. Seekor anjing baru akan selesai memandang pemilik makanan itu, sampai dilemparkan makanan tersebut kepadanya.
Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin terhadap nikmat dan karunia Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Pemilik segalanya. Lalu kenapa manusia tidak mau meminta karunia-Nya itu? Bukankah Allah menjanjikan pengabulan akan setiap permohonan yang diajukan kepada-Nya? Begitulah yang ditegaskan Allah dalam al-Qur’an. Seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 186
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Begitu juga dalam surat al-Mu’min [40]: 60
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
Ya Allah, tidak satupun makhluk yang sia-sia Engkau ciptakan ternyata pada seekor anjing meskipun menjijikkan masih ada hikmah yang baik bisa kami ambil. Apalagi makhluk-makhlukMu yang bersih dan baik tentulah hikmah-hikmah lebih banyak lagi kami renungkan.