marquee
welcome
Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah
Minggu, 21 Juli 2013
Minggu, 14 Juli 2013
“Lawrence Of Arabia” di Balik Berdirinya Kerajaan Saudi
Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri(serangan pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.
Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang sangat berani berjudul“Dinasti Bush Dinasti Saud” (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.
“Pangeran Bandar yang dikenal sebagai ‘Saudi Gatsby’ dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggota kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, ” tulis Unger.
Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. “Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. ”
Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.
Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.
Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.
Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.
Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.
Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”).
Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.
Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.
Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zionisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.
Entah apa yang terjadi, namun hingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.
Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:
- Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazeera, 2005)
- Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
- Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
- History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)
label halal atau haramkah sebaiknya?
Pekan lalu, ba’da Maghrib, saya dan sahabat saya berada di rumah
seorang pejabat BUMN di selatan Jakarta. Di ruang tamunya yang asri,
kami bertiga asyik berdiskusi tentang berbagai masalah terkini, dari
kondisi berbagai BUMN di Indonesia yang menyedihkan sampai krisis global
yang pasti dampaknya akan berimbas sampai di negeri ini. Tanpa terasa,
malam kian larut. Kami pun pamit.
Di dalam kendaraan menuju pulang, berbagai bahan diskusi masih berkecamuk di benak saya. Salah satunya, yang menarik, adalah kesalahan paradigma yang selama ini dianut oleh kita semua. Masih terngiang di telinga saya, sahabat saya berkata, “Selama ini kita banyak yang salah dalam mempersepsikan pikiran. Contohnya adalah soal label halal. Padahal yang seharusnya adalah label haram. Indonesia adalah negeri Muslim terbesar dunia, sudah seharusnya semua makanan atau produk yang ada di negeri ini memenuhi syarat kehalalan. Jadi, yang perlu ditempeli atau dilabeli adalah produk-produk yang haram dengan label haram.”
Saya dan tuan rumah sempat terhenyak. Baru sadar dengan kesalahan persepsi ini. Walau kelihatan sepele namun sangat prinsipil dan sangat penting untuk diubah. Memang, yang seharusnya dikasih label adalah makanan atau produk yang haram, dengan label “Haram”.
Saya ingat, beberapa supermarket besar sudah menerapkan hal ini. Di deretan rak-rak yang menjajakan makanan, ada rak khusus yang dilabeli “Mengandung Babi”. Jadi, dengan sendirinya kita yang Muslim ini mengetahui jika makanan yang ditempatkan di sana adalah haram. Sudah seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menyadari kesalahan persepsi ini. Akuilah dengan ksatria, kita selama ini salah dengan persepsi label halal. Jika kita meributkan perlu tidaknya label halal, maka secara tanpa sadar, kita seolah mengakui jika makanan yang beredar diluaran secara defaultnya adalah haram. Ini berbahaya mengingat kiat ini negeri Muslim terbesar dunia. Lain halnya jika kita negeri kafir.
Sebagai negeri Muslim maka default seluruh produk dan makanan yang beredar di negeri ini haruslah memang memenuhi standar kehalalan. Jika ada produk atau makanan yang diproduksi bukan untuk umat Islam dan mengandung bahan-bahan yang haram bagi umat Islam, maka produk itulah yang harusnya mencantumkan label HARAM. Bukan sebaliknya.
Kesalahan persepsi ini bisa jadi disebabkan kekhilafan pejabat-pejabat kita. Mudah-mudahan, kesalahan persepsi ini bukan disebabkan unsur kesengajaan, karena bisa jadi memproduksi label halal berserta sertifikat untuk label halalnya akan lebih jauh lebih menguntungkan secara materil, ketimbang memproduksi label haram yang jelas jauh lebih sedikit itemnya. Mudah-mudahan pejabat-pejabat terkait dengan hal ini tidak mendahulukan pendekatan “Imanuhum fi Proyekihim”, mendahulukan proyek ketimbang kemashlahatan umat. Amien.
“Rumah sakit pun demikian,” ujar sahabat saya lagi. “Seharusnya rumah sehat.” Kami bertiga tertawa. Saya jelas mentertawakan kedhaifan saya sendiri yang masih saja, setidaknya sampai malam itu, memelihara kejahilan persepsi saya dalam memandang hal-hal seperti itu. Silaturahim memang selalu bermanfaat. Setiap kali bertemu dengan sahabat, kita akan selalu menemukan kebaikan dan mutiara di sana. Terima kasih ya Allah, Engkau telah begitu baik melimpahkan sahabat-sahabat di sekeliling saya yang begitu perduli dengan al-haq dan mau nasihat-menasihati di dalam kebaikan. Alhamdulilah(rd)
READ MORE - label halal atau haramkah sebaiknya?
Tweet
Di dalam kendaraan menuju pulang, berbagai bahan diskusi masih berkecamuk di benak saya. Salah satunya, yang menarik, adalah kesalahan paradigma yang selama ini dianut oleh kita semua. Masih terngiang di telinga saya, sahabat saya berkata, “Selama ini kita banyak yang salah dalam mempersepsikan pikiran. Contohnya adalah soal label halal. Padahal yang seharusnya adalah label haram. Indonesia adalah negeri Muslim terbesar dunia, sudah seharusnya semua makanan atau produk yang ada di negeri ini memenuhi syarat kehalalan. Jadi, yang perlu ditempeli atau dilabeli adalah produk-produk yang haram dengan label haram.”
Saya dan tuan rumah sempat terhenyak. Baru sadar dengan kesalahan persepsi ini. Walau kelihatan sepele namun sangat prinsipil dan sangat penting untuk diubah. Memang, yang seharusnya dikasih label adalah makanan atau produk yang haram, dengan label “Haram”.
Saya ingat, beberapa supermarket besar sudah menerapkan hal ini. Di deretan rak-rak yang menjajakan makanan, ada rak khusus yang dilabeli “Mengandung Babi”. Jadi, dengan sendirinya kita yang Muslim ini mengetahui jika makanan yang ditempatkan di sana adalah haram. Sudah seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menyadari kesalahan persepsi ini. Akuilah dengan ksatria, kita selama ini salah dengan persepsi label halal. Jika kita meributkan perlu tidaknya label halal, maka secara tanpa sadar, kita seolah mengakui jika makanan yang beredar diluaran secara defaultnya adalah haram. Ini berbahaya mengingat kiat ini negeri Muslim terbesar dunia. Lain halnya jika kita negeri kafir.
Sebagai negeri Muslim maka default seluruh produk dan makanan yang beredar di negeri ini haruslah memang memenuhi standar kehalalan. Jika ada produk atau makanan yang diproduksi bukan untuk umat Islam dan mengandung bahan-bahan yang haram bagi umat Islam, maka produk itulah yang harusnya mencantumkan label HARAM. Bukan sebaliknya.
Kesalahan persepsi ini bisa jadi disebabkan kekhilafan pejabat-pejabat kita. Mudah-mudahan, kesalahan persepsi ini bukan disebabkan unsur kesengajaan, karena bisa jadi memproduksi label halal berserta sertifikat untuk label halalnya akan lebih jauh lebih menguntungkan secara materil, ketimbang memproduksi label haram yang jelas jauh lebih sedikit itemnya. Mudah-mudahan pejabat-pejabat terkait dengan hal ini tidak mendahulukan pendekatan “Imanuhum fi Proyekihim”, mendahulukan proyek ketimbang kemashlahatan umat. Amien.
“Rumah sakit pun demikian,” ujar sahabat saya lagi. “Seharusnya rumah sehat.” Kami bertiga tertawa. Saya jelas mentertawakan kedhaifan saya sendiri yang masih saja, setidaknya sampai malam itu, memelihara kejahilan persepsi saya dalam memandang hal-hal seperti itu. Silaturahim memang selalu bermanfaat. Setiap kali bertemu dengan sahabat, kita akan selalu menemukan kebaikan dan mutiara di sana. Terima kasih ya Allah, Engkau telah begitu baik melimpahkan sahabat-sahabat di sekeliling saya yang begitu perduli dengan al-haq dan mau nasihat-menasihati di dalam kebaikan. Alhamdulilah(rd)
Ki Hajar Dewantara dan Theosofinya
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) mengamati kata-kata itu yang
terpampang tegak di depan kantor Kementerian Pendidikan Nasional,
Kuningan, Jakarta. Cukup lama ia memandang kalimat besar itu, semakin
pusing pula kepala dibuatnya. Ketika otaknya hampir saja buntu, ia lalu
menoleh ke guru yang berada disampingnya
“Bu Guru tahu artinya?” ujar sang siswi polos.
“E…ee….e… yang ibu tahu kalimat itu sudah dari sananya, nak. Ibu cuma tahunya begitu.” Ujar sang guru sedikit excuse, kalau tidak mau disebut malu.
“Terus buat apa kalimat ini ditempelkan di sini bu, (Kantor Kemendiknas, red)?” kejar siswi sambil memukul papan besar itu.
Suasana menjadi rumit. Ia baru sadar pertanyaan bocah SD lebih sulit
ketimbang profesor sekalipun. Keringat dingin sang guru mulai
bercucuran. Ia mulai mencabik-cabil tisu yang ada di tangannya.
Tiba-tiba saja, pegawai Kemendiknas lewat di depan mereka berdua. Guru
anak tadi seperti mendapatkan jalan keluar.
“Pak..pak.. sebentar pak..” ucap sang guru memberhentikannya dan menjelaskan maksud kenapa ia dipanggil.
“Bapak tahu artinya?” langsung saja bocah SD itu bertanya.
Pegawai itu tersenyum melihat bocah berseragam putih merah itu
memberhentikannya. Namun, ia baru saja mengucapkan istighfar sambil
memegang dada ketika tahu jemari mungil sang anak mengarah ke kalimat
besar yang menjadi “sabda” di kantornya. Hasilnya apa? Lelaki itu hanya
menelan ludahnya persis ketika maling sandal tengah dipergoki warga.
Apa boleh buat, kedua orang dewasa itu saling pandang dan tersenyum
kecut menyadari pekerjaannya bisa saja hilang akibat ulah sang bocah
“usil” itu.
Theosofi, Ki Hadjar Dewantara, dan Pendidkan Indonesia
Dialog diatas sejatinya hanyalah representasi bahwa mental pendidikan
bangsa ini adalah mental formil. Siapa yang tahu jawaban bocah itu?
Saya, anda, atau siapa? Mungkin kita akan sama posisinya dengan guru dan
pegawai itu jika pertanyaan bocah tersebut mampir ke saya dan anda yang
juga adalah seorang guru.
Sumpah pemuda yang menyatakan bahwa Indonesia berbahasa satu yakni
bahasa Indonesia sepertinya tidak terbukti. Sederhananya, kenapa kita
masih sering memakai istilah Jawa pada banyak hal, termasuk motto yang
sudah menjadi sabda di dalam dunia pendidikan itu.
Ini bukan berarti kita anti terhadap hal berbau Jawa, melainkan
dengan hal ini kita bisa mengukur dan bertanya kembali kepada diri kita
tentang berbagai motto yang mencekoki anak didik kita dari kecil sampai
dewasa, tanpa didudukkan makna dan sejarah dibaliknya.
Kalimat Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri adalah
kalimat yang dilontarkan Ki Hajar Dewantara yang bermakna “Di depan
memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi
dorongan”. Namun konteks kalimat ini disini tidak jelas dalam konteks
apa. Maka ia menjadi netral agama. Padahal dalam konsep pendidikan
Islam, ta’dib atau tarbiyah selalu didasari pada tauhid kepada Allahuta’la. Ia tidak bisa netral, objektif, dan tanpa sekat keyakinan agama.
Ki Hajar Dewantara memang terkenal sebagai penganut theosofi. Seperti dikutip dari buku Bambang Dewantara, yang berjudul 100 Tahun Ki Hadjar Dewantara,
Ki Hadjar mengatakan bahwa semua agama di dunia sama karena mengajarkan
asas kasih sayang kepada semua manusia dan mengajarkan perihal
kedudukan manusia yang terhormat di hadapan tuhannya.
Ki Hadjar berkeyakinan bahwa sumber gerak evolusi seluruh alam
semesta adalah kasih sayang ilahi. Inilah yang disebut dengan isitlah
kodrat alam yang diperhamba dan aspek yang dipertuhan dari setiap
benda-benda. Konteks inilah yang sekarang kita kenal dengan faham
musyrik modern, yakni pluralisme agama
Ia mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yigyakarta
yang sangat berkiblat ke Barat. Ketika menyinggung keberadaan Taman
Siswa, Buya Hamka pernah menyatakan, “Taman Siswa adalah gearakan abangan, klenik, dan primbon jawa. Yang menjalankan ritual shalat Daim”
Dalam kepercayaan kebatinan, shalat disini tidak seperti shalat
umumnya umat Islam, tapi shalat daim dalam “mazhab” Taman Siswa saat itu
adalah shalat dalam perspektif kebatinan yakni menjalankan kebaikan
terus menerus. Doa iftitah dalam shalat daim pun, terlihat janggal dan
aneh.
“Aku berniat shalat daim untuk selama hidupku. Berdirinya adalah
hidup. Rukuknya adalah mataku. I’tidalnya adalah kupingku, sujudnya
adalah hidungku, bacaan ayatnya adalah mulutku. Duduk adalah tetapnya
imanku, tahiyat adalah kuatnya tauhidku, salamnya adalah makrifatnya.
Islamku adalah kiblatnya, kiblatnya adalah menghadap fikiranku”
Niels Mulders, dalam karyanya Mistisme Jawa seperti dikutip Artawijaya dalam bukunya “Gerakan Theosofi”,
juga menyatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah seorang theosofi yang
mengamalkan kebatinan. Ia lebih mementingkan “Hakikat” daripada
“Syariat”.
Dalam kepercayaan Kejawen tahap hakikat adalah perjumpaan dengan
kebenaran. Orang yang mengamalkan hakikat tidak lagi beribadah dengan
berpatokan pada aturan syariat, tetapi menjalankan ibadah dengan
perilaku kebaikan sepanjang hari.
Kata berperilaku baik disitu adalah tanda kutip bagi kita?
Berperilaku baik seperti apa? Tidak lain dalam konteks theosofi bahwa
orang yang berperilaku baik tidak mesti beragama. Lebih baik jadi
menjadi orang humanis, daripada relijius tapi jahat. Karena kebenaran
yang tertinggi adalah kebenaran itu sendiri. Seperti sebuah harian cetak
di Indonesia: Kebenaran tidak pernah memihak!
Pertanyaannya sebetulnya sederhana, kenapa kita yang katanya
bermayoritas muslim, tidak memaki moto pendidikan yang jelas saja
seperti: Iman, Ilmu dan Amal. Atau Tauhid, Ilmu, dan Jihad.
Islam mengajarkan makna yang jelas dan terukur. Karena itu, konsep
menjadi orang baik dalam Islam tidak pernah dilepaskan dari sudut
pandangan agama.
Kalau sudah begitu, hal ini lebih cocok dan dekat dengan ketakwaan
daripada motto yang jelas-jelas didirikan oleh penganut theosofi dan
kita sendiri tidak mengerti apa maknanya: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. “Apa pak Menteri juga tahu artinya?” Mungkin begitu kata bocah kecil tadi ketika sampai di kantor Mendiknas. (pz)
Sabtu, 13 Juli 2013
Ngupil, batalkah puasa?
Banyak di antara kaum muslimin dan muslimah yang sedang berpuasa ragu tentang ngupil hidung dan telinga apakah bisa membatalkan puasa atau hanya sekedar merusak puasa orang tersebut ?
Pernyataan beliau ini diulas lagi oleh as-Sayyid al-Bakry Syatha:
قوله : ( ولا يفطر بوصول شيء إلى باطن قصبة أنف ) أي لأنها من الظاهر، وذلك لأن القصبة من الخيشوم ، والخيشوم جميعه من الظاهر
Nah, teks ini menjelaskan bahwa batasan "ngupil" hidung yang membatalkan itu adalah jika benda (jari, dll) yang dimasukkan ke dalam hidung itu sudah melewati "khaisyum" (bagian belakang rongga hidung) yang merupakan salah satu "makhraj" huruf Arab ketika terjadi Ghunnah.
[2]. Ukuran "Ngupil" telinga yang membatalkan.
Beliau menyatakan:
ويفطر بدخول عين وإن قلت إلى ما يسمى جوفاً أي جوف من مرّ كباطن أذن
al-Khathib al-Syarbiny juga mengulas:
والتقطير في باطن الأذن وإن لم يصل إلى الدماغ .... مفطر في الأصح
Dari teks ini dipahami bahwa selagi benda yang dipakai untuk "ngupil" telinga itu belum mencapai bagian "bathin" (dalam) telinga, maka puasa tetap sah dan belum batal. Dan ukuran bagian "Bathin" telinga itu adalah bagian telinga yang sudah tidak bisa dilihat lagi. Artinya, bagian telinga yang masih bisa dilihat dari luar, maka itu adalah bagian "Dzahir" (luar) telinga yang tidak mempengaruhi keabsahan puasa.
Wallahua'lam
READ MORE - Ngupil, batalkah puasa?
Tweet
Berikut kami kutipkan penjelasan syaikh Zainuddin al-Malyabari dalam karyanya (Fathul Mu'in) tentang hal ini:
[1]. Ukuran "Ngupil" hidung yang tidak membatalkan.
Beliau menyatakan:
ولا يفطر بوصول شيء إلى باطن قصبة أنف حتى يجاوز منتهى الخيشوم وهو أقصى الأنف
tidaklah batal puasa jika ngupil sampai ke bagian dalam batang hidung
[1]. Ukuran "Ngupil" hidung yang tidak membatalkan.
Beliau menyatakan:
ولا يفطر بوصول شيء إلى باطن قصبة أنف حتى يجاوز منتهى الخيشوم وهو أقصى الأنف
tidaklah batal puasa jika ngupil sampai ke bagian dalam batang hidung
Pernyataan beliau ini diulas lagi oleh as-Sayyid al-Bakry Syatha:
قوله : ( ولا يفطر بوصول شيء إلى باطن قصبة أنف ) أي لأنها من الظاهر، وذلك لأن القصبة من الخيشوم ، والخيشوم جميعه من الظاهر
Nah, teks ini menjelaskan bahwa batasan "ngupil" hidung yang membatalkan itu adalah jika benda (jari, dll) yang dimasukkan ke dalam hidung itu sudah melewati "khaisyum" (bagian belakang rongga hidung) yang merupakan salah satu "makhraj" huruf Arab ketika terjadi Ghunnah.
[2]. Ukuran "Ngupil" telinga yang membatalkan.
Beliau menyatakan:
ويفطر بدخول عين وإن قلت إلى ما يسمى جوفاً أي جوف من مرّ كباطن أذن
al-Khathib al-Syarbiny juga mengulas:
والتقطير في باطن الأذن وإن لم يصل إلى الدماغ .... مفطر في الأصح
Dari teks ini dipahami bahwa selagi benda yang dipakai untuk "ngupil" telinga itu belum mencapai bagian "bathin" (dalam) telinga, maka puasa tetap sah dan belum batal. Dan ukuran bagian "Bathin" telinga itu adalah bagian telinga yang sudah tidak bisa dilihat lagi. Artinya, bagian telinga yang masih bisa dilihat dari luar, maka itu adalah bagian "Dzahir" (luar) telinga yang tidak mempengaruhi keabsahan puasa.
semoga kita bisa menjaga puasa kita baik dari hal-hal yang mungkin kecil kita anggap sementara ada kajiannya oleh islam dan ulama. karena hakikat puasa di bulan Ramadhan ini takwa yaitu keberhatian kita dalam melaksanakannya yang tidak hanya bersifat rutinitas dan formalitas ibadah saja. Dengan pemahaman yang luas terhadap fiqh puasa tentu seseorang akan berpuasa lebih optimal. Bukankah Allah SWT lebih memuliakan orang yang beribadah dengan pemahaman daripada orang yang beribadah sekedar melaksanakan tugas dan kewajiban saja.
Wallahua'lam
Jumat, 12 Juli 2013
Pembagian Jam Mengajar SMA Islam Hang Tuah TP. 2013/2014
| NO | MATA PELAJARAN | KELAS DAN JUMLAH JAM | GURU | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| X | XI IPA | XI IPS | XII IPA | XII IPS | |||
| 1 | PAI | 2 | 2 | ROBI | |||
| 2 | NAZIR | ||||||
| 2 | PKN | 2 | 2 | 2 | TUTI | ||
| 3 | B. INDONESIA | 2 | 4 | 4 | YUSNANI | ||
| 4 | B.INGGRIS | 4 | 4 | 4 | ROBI | ||
| 4 | YANTI | ||||||
| 4 | SRI LONGGOM | ||||||
| 5 | MTK | 5 | 5 | NIKI | |||
| 5 | 5 | 5 | HANDRA | ||||
| 6 | FISIKA | 4 | 4 | LIZA | |||
| 7 | KIMIA | 2 | 4 | TINA | |||
| 5 | DESI | ||||||
| 8 | BIOLOGI | 2 | 4 | 4 | LENDRI | ||
| 10 | SEJARAH | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 | ARDIANSYAH |
| 11 | GEOGRAFI | 4 | 4 | ARDIANSYAH | |||
| 2 | JEFRI | ||||||
| 12 | SOSIOLOGI | 2 | 5 | 5 | NAZIR | ||
| 13 | EKONOMI | 4 | 4 | MURSAL | |||
| 2 | EKONOM X? | ||||||
| 14 | PENJASKES | 2 | 2 | 2 | RIAN | ||
| 15 | SBD | 2 | 2 | 2 | SRI LONGGOM | ||
| 16 | TIK | 2 | 2 | 2 | LENI | ||
| 17 | B. ARAB | 2 | 2 | 2 | ROBI |
Minggu, 07 Juli 2013
Belajarlah Dari Jamaah Ikhwanul Muslimin Mesir
Jamaah Ikwanul Muslimin Mesir menghadapi hari-hari paling bersejarah.
Gerakan yang didirikan oleh Hasan al-Banna tahun 1928 itu, bukan hanya
sekarang bertarung melawan kekuatan sekuler, liberal, dan nasionalis.
Tetapi sudah sejak Jamaah Ikhwanul Muslimin lahir, sudah harus
berhadapan dengan segala kekuatan anti Islam di Mesir.
Gerakan Ikhwan di Mesir itu, sudah
kenyang menghadapi berbagai makar yang keji dan pengkhianatan dari
kekuatan sekuler, liberal, dan nasionalis. Sejak zamannya Raja Farouk,
Jenderal Mohamad Najib, Jenderal Gamal Abdul Nasser, Marsekal Anwar
Sadat, sampai terakhir dengan Marsekal Hosni Mubarak dan Marsekal Ahmed
Safiq.
Gerakan yang digagas oleh Hasan
al-Banna itu, bukan hanya menghadapi penguasa-penguasa zalim Mesir, dan
hakekatnya menjadi boneka "puppet" dari rezim Zionis Israel,
juga Amerika Serikat, Eropa, dan Soviet. Tetapi, berulang kali Jamaah
Ikhwanul Muslimin, harus pula menghadapi partai-partai sekuler, liberal,
dan nasionalis. Seperti Partai Wafd, Partai Nasseris, Partai Sosialis
Mesir, dan Partai Komunis Mesir, yang menjadi pendukung rezim-rezim
zalim di Mesir.
Sekarang Jamaah Ikhwanul Muslimin
harus bertarung melawan kekuatan-kekuatan partai politik sekuler,
liberal, dan nasionalis yang dipimpin oleh Mohamad el-Baradei, yang tak
lain merupakan "puppet" dari Amerika Serikat dan Zionis-Israel.
Mereka membuat gerakan jalanan dan menghancurkan secara brutal terhadap
semua yang menjadi simbol Jamaah Ikhwanul Muslimin seperti Kantor
Maktabul Irsyad di Cairo, dibakar dan dihancurkan.
Mereka meneriakkan demokrasi,
tetapi mereka tidak siap menerima kekalahan, dan tidak mau menerima
kekuatan Islam berkuasa, dan mengelola negara secara terbuka. Mereka
menggunakan isu ekonomi, dan ingin menjatuhkan Presiden Mohamad Mursi
dengan isu ekonomi.
Padahal, Mohamad Mursi baru
berkuasa satu tahun. Semantara itu, cadangan devisa negara habis
dikuras, saat rezim militer di bawah Hosni Mubarak dan Ahmad Safiq
berkuasa. Sebelumnya devisa Mesir sebesar $ 38 miliar dollar, kemudian
saat Mursi memegang kekuasaan, hanya tinggal $ 13 miliar dollar!
Faktanya, Presiden Mursi yang
merupakan presiden pertama hasil melalui proses demokrasi, dan pemilihan
umum, kemudian memenangkan pemilihan, tetapi sekarang ingin dijatuhkan
oleh kekuatan sekuler, liberal, dan nasionalis, yang membentuk "Front Nasional" yang dipimpin Mohamad el-Baradei.
Langkah yang dilakukan oleh Mursi
dan Jamaah Ikhwanul Muslimin sangat jelas, menata konstitusi Mesir yang
lebih menjamin hak-hak dasar rakyat Mesir, serta mengakhiri dominasi
militer, yang sudah berkuasa hampir lebih 60 tahun di Mesir. Mursi
mengubah konstitusi Mesir, dan menjadikan Syariah Islam, sebagai sumber
hukum tertinggi di Mesir. Inilah sebenarnya yang menjadi pangkal sikap
kelompok sekuler, liberal, dan nasionalis menolak Mursi dan ingin
menjatuhkannya.
Presiden Mursi terus berupaya
menstabilkan ekonomi Mesir, akibat salah urus selama puluhan tahun
dibawah rezim-rezim militer yang sangat korup. Prestasi yang paling
penting dan patut dicatat sejarah, di mana Mursi mengakhiri supremi
militer Mesir, yang dalam sejarah Mesir sangat panjang dan selalu
mendomasi dan menciptakan kehidupan yang sangat penuh dengan penindasan.
Sekarang Mursi ingin dihancurkan oleh kekuatan sekuler, liberal dan
nasionalis yang dahulunya menjadi penyokong rezim-rezim yang paling
korup di negeri itu.
Sepanjang sejarah Mesir, kekuatan
gerakan Islam lah yang paling dizalimi oleh para penguasa dan rezim yang
berkuasa di Mesir. Betapa banyaknya tokoh dan anggota Ikhwan yang
dipenjara, dihukum mati, digantung dan diusir dari negaranya.
Hal itu tidak pernah dialami oleh
para tokoh sekuler, semacam El-Baradei, Amr Mousa (tokoh Koptik) yang
diangkat menjadi Menteri Luar Negeri oleh Mubara. Tetapi, mereka
sekarang terus berkampanye sebagai kekuatan yang paling berjasa dalam
menumbangkan Hosni Mubarak.
Jamaah Ikhwanul Muslimin tidak akan
hancur oleh tangan-tangan kekuatan-kekuatan biadab, tidak bertanggung
jawab dari kekuatan sekuler, liberal, dan nasionalis. Ikhwan sudah
teruji sejak Jamaah itu berdiri di tahun l928. Berbagai makar dan
pengkhianatan sudah dilaluinya. Termasuk pendiri Jamaah Ikhwan, Hasan
al-Banna tewas dibunuh oleh seorang opsir (tentara) di zaman Farouk.
Jamaah Ikhwanul Muslimin akan tetap hidup dan tegak
di tengah-tengah badai politik yang sekarang ini terjadi. Ikhwan dan
para pemimpin Ikhwan hanya berkeyakinan bahwa siapa yang menolong agama
Allah, pasti Allah akan menolong mereka. Itu sudah menjadi ketentuan
Allah Azza Wa Jalla.
Di penghujung abad ini, orang-orang mukmin
menyaksikan kehancuran materialisme, sekulerisme, liberalisme dan
nasionalisme. Kekalahan Amerika Serikat di Irak, dan Afghanistan dan
tempat-tempat lainnya, serta hancurnya kehidupan di Barat, akibat tabiat
ideologi materialisme mereka, seperti sekarang hampir seluruh negara
Barat mengadopsi perkawaninan "sejenis", ini merupakan
tanda-tanda akhir kehidupan mereka.Ekonomi Barat yang sudah bangkrut
tidak akan pernah mampu bangkit lagi selamanya.
Diatas segalanya, Mesir dibawah Presiden Mohamad
Mursi mempunyai pandangan jelas terhadap Palestina. Mursi dengan sangat
eksplisit mendukung kemerdekaan rakyat Palestina. Mursi pula yang
memutuskan hubungan diplomatik dengan Suriah, dan menyerukan jihad
melawan rezim Syiah Alawiyyin Bashar al-Assad. Bahkan, Mursi menarik
Duta Besar Mesir dari Tel Aviv, dan itu tidak pernah terjadi pada rezim
sebelumnya. Wallahu'alam.
Langganan:
Postingan (Atom)

