marquee

Selamat Datang di Blog Kami

welcome

Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah

Kamis, 15 Juli 2010

Pendidikan Ala Rasulullah SAW

“Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan dan menciptakan manusia yang cerdas dan pintar dalam suatu disiplin ilmu, akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan hati nurani yang bersih”
Tidak diragukan lagi bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbicara tentang pengajaran atau pendidikan. Dalam surah Al-alaq:96:1-5 kata iqra’ (bacalah) dalam bentuk fi’il amr (kata kerja imperatif) mengindikasikan wajibnya pendidikan dan pengajaran bagi seorang muslim sehingga rasulullah sendiri diajarkan langsung oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril.
Oleh karena itu, salah satu dari tugas kenabian yang diemban Rasulullah saw, adalah membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Hal itu terlihat, dari betapa perhatian Rasulullah saw sangat besar dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tercatat, bahwa ketika umat Islam memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang Badar, banyak dari kaum kafir Quraisy yang menjadi tawanan perang. Rasulullah saw memberikan jaminan kebebasan bagi setiap tawanan untuk bisa menebus diri. Sebagai kompensasi dari kebebasan mereka, beliau memberikan syarat bagi yang mampu mengajarkan umat Islam menulis dan membaca, untuk setiap tawanan sepuluh orang.
Hal itu menunjukan bahwa betapa Rasulullah saw sangat menghargai kemampuan menulis dan membaca, sehingga dijadikan kompensasi kebebasan pada zaman itu, kebebasan biasa ditebus dengan sejumlah besar onta, bahkan bisa mencapai 100 ekor onta. Dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw di atas, tersirat sebuah makna bahwa buta huruf sama dengan kondisi dimana seseorang tertawan, terkungkung dan terbelenggu oleh jeruji keterbelakangan dan kebodohan. Oleh karena itulah, dalam wahyu yang pertama kali turun, banyak kata-kata yang dikenal dalam proses belajar mengajar disebutkan, seperti iqra’ (bacalah), ‘allama (mengajar), al-qalam (pena), ya’lam (mengetahui).
Fungsi kenabian dalam bentuk inilah yang dijelaskan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 129:
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dalam ayat di atas Allah menyebutkan do’a Ibrahim dan Isma’il as. tentang fungsi Rasulullah yang akan diutus untuk manusia, yaitu melepaskan manusia dari belenggu kebodohan. Tugas itu meliputi membacakan teks-teks suci yang merupakan wahyu Tuhan, mengajarkan isi kandungan al-Kitab dan hikmah, serta mensucikan jiwa manusia.
Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Rasulullah saw memiliki tiga ranah; tilâwah, ta’lîm dan tadzkiyah. Dengan mencermati pendidikan di negara kita Indonesia, agaknya sistem pendidikan kita belum lagi menyentuh ketika ranah tersebut. Kita baru sampai tingkat tilâwah dan ta’lîm, yang lebih menekankan sistem penguasaan ilmu melalui hafalan teks-teks dan penguasaan jenis referensi tertentu, serta penguasaan ilmu pengetahuan. Bahkan ada istilah pelajaran UN (ujian Nasional) yang mesti dikuasai oleh siswa dan siswi terfokus kepada empat pelajaran seperti matematika, ipa, bahasa indonesia dan inggris. Sehingga jika salah satu dari pelajaran tersebut didapati dibawah standar yang diharapkan maka siswa dan siswi yang mengikuti bisa gagal. Sementara ranah tadzkiyah yang merupakan aspek psikomotorik yang berupa penanaman nilai-nilai moral dan akhlakul karimah dalam setiap bidang ilmu yang digeluti agaknya belum tersentuh. Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan dan menciptakan manusia yang cerdas dan pintar dalam suatu disiplin ilmu, akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan hati nurani yang bersih. Inilah yang diisyaratkan Tuhan dalam surat al-Kahfi [18]: 65-82, tentang kisah nabi Musa as. yang belajar kepada nabi Khidr as.
Firman Allah swt dalam Surat al-Kahfi [18]: 65:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Dalam ayat di atas, Allah swt menyebutkan bahwa nabi Khaidir diberikan dua jenis pengetahuan. Pertama, rahmatan min ‘indinâ (pengetahuan untuk memahami sesuatu yang tampak nyata). Dan kedua, ‘allamnâhu min ladunnâ ‘ilman (pengetahuan untuk memahami yang tidak tampak). Pengetahuan sesuatu yang tidak tampak ini, biasanya berkaitan dengan aspek moralitas, kerena persoalan moralitas kadangkala kita harus memahaminya melalui pendekatan hati nurani (qalb). Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh nabi Khaidir, mulai dari membocorkan perahu, membunuh anak kecil, sampai memperbaiki rumah yang pemiliknya tidak bersedia membantu dan menjamu mereka. Nabi Musa as. gagal menyelesaikan ujiannya, karena Musa as. selalu menggunakan pendekatan rasionalitas untuk memahami setiap persoalan. Sementara Khaidir as. memahaminya melalui pendekatan hati nurani, karena memang persoalan moral harus memakai hati nurani yang bersih. Dan inilah yang disebut al-hikmah (kebijaksanaan) yang hanya didapatkan bagi orang yang memiliki ketajaman hati, karena diasah dengan ibadah dan akhlakul karimah. Sebuah harapan baru untuk dicermati oleh para penguasa negeri tercinta ini khususnya kementrian dalam bidang pendidikan yang mau mengedepankan pelajaran moral (agama) termasuk penentu kelulusan siswa dan siswi. Karena dengan demikian akan terlahir generasi yang bukan hanya pintar dan cerdas tapi juga bermoral serta bersih.
Ada hal lain yang menarik untuk dicermati terkait dengan pendidikan menurut pandangan al-Qura’an, dengan membandingkan surat al-Baqarah [2] ayat 129 dengan ayat 151. Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah [2]: 151:
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”
Ayat ini adalah jawaban Allah swt terhadap do’a nabi Ibrahim dan Isma’il as seperti yang disebutkan dalam ayat 129 di atas. Namun, terdapat tambahan redaksi pada akhir ayat 151 yaitu wa yu’allimukum mâ lam takûnû ta’lamûn (dan dia mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui). Ini adalah sebuah fungsi inovatif dan kreatif dari tugas nabi Muhammad saw. Pembacaan teks al-Kitab, pengajaran kandungannya serta pendidikan akhlak dan moralitas, adalah wilayah yang sudah sempurna dan tidak akan mengalami perubahan. Sedangkan wilyah ilmu pengetahuan, adalah bagian yang selalu mengalami perubahan ke arah kemajuan, seiring perkembangan zaman dan kemajuan pemikiran manusia. Oleh karena itu, perlu inovasi-inovasi baru ke arah pengembanagan ilmu pengetahuan itu sendiri, sesuai tuntutan zaman dengan tetap memegang teguh prinsip ajaran al-Kitab yang bersifat universal. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita untuk memajukan pengajaran dan pendidikan yang berbasis qur’ani dan mengedepankan moralitas dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan. Karena pendidikan atau pengajaran yang selalu memprioritaskan akhlakul karimah itulah pendidikan yang selamat dan amanat. Wallahu a’lam
READ MORE - Pendidikan Ala Rasulullah SAW

Kamis, 24 Juni 2010

Dajjalisme dan Euphoria Piala Dunia

Siapa yang tak mengenal sepak bola, baik kecil, besar, tua dan muda menyukai nya. Bahkan kalau ditanya seluruh manusia di dunia ini pasti mengenal dan menyukai sepak bola. Begitulah yang sedang terjadi Saat ini, gelegar Piala Dunia 2010, hampir terdengar di seluruh pelosok negeri. Saat ini, negeri Nelson Mandela, Afrika Selatan, menjadi sejarah perhelatan sepak bola terbesar di dunia untuk tahun ini. Euphoria terdengung di mana-mana. Sebuah prestise dipertahankan dan harga diri bangsa diagungkan melalui piala dunia. Makanya tidaklah diherankan jika setiap duta negara berusaha merebut tropi emas tersebut sebagai lambang kegaghan negara mereka.
Ahmad Thomson, seorang penulis muslim britis dan ketua persatuan pengacara muslim dalam bukunya Dajjal: the AntiChrist (1997) atau “Sistem Dajjal” menyebutkan bahwa Dajjal akan muncul sebagai individu, sebagai gejala sosial budaya global dan sebagai kekuatan gaib yang tidak tampak. Dan saat ini yang baru muncul adalah fenomena yang terkait dengan tatanan sosial, budaya, politik, pendidikan, ekonomi, hukum dan moralitas yang mengalami kekacauan (chaos) akibat dari kekuatan atau ideologi yang tidak nampak tadi. Sedangkan Dajjal sebagai individu menurut Thomson memang saat ini belum nampak.
Namun yang harus digaris bawahi adalah bahwa dalam sistem Dajjal ini nilai-nilai yang ditawarkannya adalah seperangkat nilai yang bertentangan dengan iman dan tauhid, semuanya berbasis syahwat, materi serta berusaha menggiring manusia kepada kekufuran, karena memang worldview dari sistem Dajjal ini adalah kekufuran sejati.
Lalu bagaimana koherensi gerakan Dajjalisme ini dengan fenomena euphoria atau gila piala dunia yang membuat gegap gempita setiap sudut bumi dari timur dan barat selatan maupun utara. Sejenak mari kita review kembali ingatan kita akan fenomena kerusakan moral dan sosial akibat gerakan Dajjalisme di lapangan hijau ini baik di tingkat dunia maupun lokal.
Mungkin masih hangat dalam ingatan kita bagaimana fatwa mufti Al-Azhar yang mengharamkan fanatik sepakbola terhadap para supporter mesir ternyata tidak mendapat tanggapan, yang terjadi malah sebaliknya para supporter fanatikus sepakbola dari negeri pyramida itu justru terlibat kerusuhan dengan sesama supporter Al-jazair setelah pertandingan prakualifikasi piala dunia yang dimenangkan Aljazair November 2009 lalu, ironis sepakbola rupanya lebih legit ketimbang fatwa sang mufti.
Kerusuhan antar supporter akibat fanatik sepakbola bukan hal yang aneh lagi dalam ingatan kita, Tragedi Heysel, Belgia, pada Piala Champions Eropa tahun 1985 memakan korban nan memilukan, disusul empat tahun kemudian meletus tragedi Hillsborough dikota Sheffield pendukung fanatik Liverpool meregang nyawa sia-sia lagi-lagi karena tumbal sepakbola. Kemudian mari kita tengok bumi pertiwi kita ini, fenomena kerusuhan Jakmania, The Viking, Bobotoh atau Bonek, Aremania, Hooligan Mania, ikut mewarnai kerusakan moral dan sosial akibat “agama baru” bernama sepakbola ini.
Kemudian mari kita jalan-jalan sejenak ke negara Jerman sana, ummat muslim Jerman menjadi saksi atas pelecehan terhadap Islam dan Rasulullah yang dilakukan oleh supporter klub Schalke lewat yel-yel lagu klub mereka, dimana dalam lagu tersebut tersembul bait yang menyebutkan “Muhammad adalah seorang Nabi yang tidak memahami sepakbola,, Namun dari semua warna yang ada Nabi memilih warna kebesaran Schalke, biru dan putih,” jelas hal tersebut merupakan penghinaan dan membuat muslim jerman marah..lagi-lagi logika sepak bola sudah menjadi “agama baru” bukan hanya sekedar olahraga bagi para fanatikusnya. Dalam piala dunia saat ini entah mana lagi yang akan dijadikan tumbal fanatisme dan logika “agama baru” tersebut dan kita pun dipaksa untuk “mengimaninya”
Agaknya sentilan penuh canda yang cukup menohok dari seorang ustadz, beliau mengatakan bahwa saat piala dunia tengah berlangsung maka dapat dipastikan sebagian umat Islam akan rajin “qiyamulail (shalat tahajjud)” setiap malam, kiblatnya adalah televisi dan wiridnya adalah teriakan “Goaalllll…!!! Goaaallll..! atau mungkin wirid lain yang membuatnya lebih khusyu sampai matahari pagi tersenyum kepadanya.
Namun disaat yang sama dibelahan bumi Islam disana, Palestina, Irak, Afghanistan, Patani Thailand dan lainnya tengah berkecamuk mempertahankan akidah dan berlomba-lomba menjemput syahid fi sabilillah demi membeli syurganya Allah dengan tetesan darahnya. Mereka berjuang melawan kebiadaban tentara zionis, berhadapan dengan mortir mematikan yang siap menyalak setiap saat mengantarkan para mujahidin menuju syahid fi sabilillah. Sedangkan kita masih terlena dalam buaian Dajjalisme berselimut euphoria semu seraya berteriak dalam igauan mimpi..Goaaaalllllll…!!
Padahal Allah swt telah menegaskan dalam al –Qur’an (Al-Hadid:57: 20)
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Dan dari sudut lain protokol Zionis Versi Rothchild mnyebutkan “Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan”. Naudzubillahi min zalik

Pandangan islam terhadap euphoria piala dunia

Dalam kitab Bughyatul Musytaq fi Hukmil lahwi wal la'bi was sibaq (kemaksiatan yang berasal dari permainan dan perlombaan yang melalaikan) disebutkan, "Para ulama Syafiiyah telah mengisyaratkan diperbolehkannya bermain sepak bola, jika dilakukan tanpa taruhan (judi). Dan, mereka mengharamkannya jika pertandingan sepak bola dilakukan dengan taruhan. Dengan demikian, hukum bermain sepak bola dan yang serupa dengannya adalah boleh, jika dilakukan tanpa taruhan (judi)."
As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitabnya Bulughul Umniyah (harapan yang tinggi) halaman 224 menjelaskan, "Dalam pandangan syariat, hukum bermain sepak bola secara umum adalah boleh dengan dua syarat. Pertama, sepak bola harus bersih dari unsur judi. Kedua, permainan sepak bola diniatkan sebagai latihan ketahanan fisik dan daya tahan tubuh sehingga si pemain dapat melaksanakan perintah sang Khalik (ibadah) dengan baik dan sempurna.
Syekh Abu Bakar Al-Jazairi dalam karyanya Minhajul Muslim (pegangan seorang muslim) halaman 315 berkata, "Bermain sepak bola boleh dilakukan, dengan syarat meniatkannya untuk kekuatan daya tahan tubuh, tidak membuka aurat (bagian paha dan lainnya), serta si pemain tidak menjadikan permainan tersebut dengan alasan untuk menunda shalat. Selain itu, permainan tersebut harus bersih dari gaya hidup glamor yang berlebihan, perkataan buruk dan ucapan sia-sia, seperti celaan, cacian, dan sebagainya." Konkritnya, semua pertandingan khususnya sepak bola halal selagi tidak merusak dan mengikis akidah serta ibadah seseorang.
Dan bagaimana dengan hukum menyaksikan pertandingan tersebut? Berkaca pada kebolehan bermain sepak bola tersebut, menonton atau menyaksikannya juga diperbolehkan. Tentu saja ada syarat-syarat yang harus terpenuhi.
Menyaksikan pertandingan tersebut diperbolehkan asal bersih dari segala bentuk perjudian dan taruhan, tidak membuka aurat, tidak ikhtilat (campur-baur antara laki-laki dan perempuan), tidak diiringi dengan minuman keras, dan tidak melanggar norma-norma agama lainnya.Dengan demikian, jelaslah hukum dari permainan sepak bola itu. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam telah mengatur segala bentuk kehidupan umat manusia, termasuk dalam hal berolahraga.
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Maidah [5]: 3). Mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan di tengah-tengah euphoria piala dunia yang sedang menggema di belahan bumi. Wallahu A'lam.
READ MORE - Dajjalisme dan Euphoria Piala Dunia

Kamis, 17 Juni 2010

Mereview Makna Jahiliyah dalam al-Qur’an

Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan dengan munculnya video mesum mirip seleberitis papan atas Indonesia yang dilakoni oleh Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Bak gayung bersambut, secepat mungkin massa merespon aksi-aksi pornografi yang ditampilkan dalam adegan tersebut. Besar, kecil, tua dan muda mengutuk tindakan para pelaku adegan dan penyebar video tersebut sehingga bermunculan opini publik menganggap sebuah kejahatan individual dan cyber crime. Sungguh hal yang memalukan, jika hal ini benar. Apakah ini disebut dengan jahiliyah modern di tengah hedonisme kemajuan ataukah peradaban yang permisif di tengah glamoritas kehidupan yang heterogen.
Kata jahiliyah adalah sebuah kata yang sudah sangat populer di kalangan umat Islam. Kata jahiliyah dipahami sebagai suatu masa sebelum kemunculan Islam; merupakan masa yang penuh dengan kegelapan, kebodohan, serta jauh dari peradaban. Agaknya, mengartikan jahiliyah dengan pengertian di atas tidaklah seluruhnya salah. Karena jahiliyah secara harfiyah memang berarti kebodohan. Akan tetapi, menyebut bangsa Arab sebelum Islam sebagai bangsa yang bodoh dan jauh dari peradaban juga tidak sepenuhnya benar. Sebab, sejarah mengakui bahwa pada masa sebelum kemunculan Islam, bangsa Arab merupakan bangsa yang sangat maju dalam seni berbahasa. Bahkan, semenjak masa sebelum Islam sampai sekarang, tidak ada satupun bangsa di dunia ini, yang bisa menyamai kemampuan seni berbahasa bangsa Arab. Oleh karena itulah, al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar, yang salah satunya dari segi keindahan bahasanya.
Akan tetapi, jika kita mencermati kata jahiliyah di dalam al-Qur’an, kita akan menemukan makna jahiliyah lebih kepada arti sikap-sikap hidup yang negative. Dan jahiliyah tidak hanya terbatas kepada masa sebelum kemunculan Islam, akan tetepai bersifat umum; kapanpun dan di manapun asalkan sikap-sikap itu dimiliki sebuah masyarakat, maka sebutan masyarakat jahiliyah layak di sandang mereka. Ada empat kali kata jahiliyah disebutkan di dalam al-Qur’an;
Pertama, surat Ali ‘Imran [3]: 154
“…sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah….”
Dalam ayat di atas, kata jahiliyah menunjukan sikap hidup berupa buruk sangka dan penuh kecurigaan. Begitulah salah satu sikap hidup yang dimiliki masyarakat Arab sebelum kelahiran Islam. Mereka hidup dengan saling curiga, saling mencari aib, kekurangan orang lain dan jauh dari rasa saling menghargai. Mereka lebih senang memiliki banyak musuh daripada banyak kawan. Sehingga, salah satu ajaran pokok al-Qur’an adalah menghilangkan rasa buruk sangka dan curiga kepada orang lain (Q.S. al-Hujurat [49]: 12).
Jika kita cermati bangsa kita, ternyata sikap ini sudah sangat melekat dalam budaya anak bangsa ini. Di mana saling curiga dan cari kesalahan adalah hal yang sudah begitu dekat dengan kehidupan kita. Rakyat yang selalu curiga kepada pemimpin, para pemimpin dan elit bangsa sendiri yang saling curiga dan saling cari kesalahan, saling mencari kambing hitam atas sebuh musibah, hanya bisa menunjukan kekurangan orang lain, namun tidak bisa memberikan masukan, hanya bisa mengkritik tetapi tidak bisa memberikan solusi. Begitulah bentuk jahiliyah pada abad modern yang dipertontontakn bangsa ini.
Kedua, surat al-maidah [5]: 50
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,…”
Ayat di atas, membicarakan jahiliyah dalam makna hukum; di mana berlaku hukum di tengah masyarakat Arab sebelum Islam, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, yang banyak menindas yang sedekit dan seterusnya. Tidak ada belas kasih dan sikap mendahulukan kepentingan orang lain. Sehingga, ajaran moral yang terpenting di dalam al-Qur’an adalah berbuat ihsan “mendahulukan kepentingan dan kebahagian orang lain” (QS. An-Nahl [16]: 90).
Jika kita jujur mencermati bangsa ini, ternyata pola hukum jahiliyah juga menjadi ciri kehidupan bangsa ini. Masih hangat dalam ingatan kita ketika seorang nenek mencuri tiga biji kopi berakhir dengan penjara satu bulan lima belas hari, dua orang pria mencuri semangka karena haus dan lapar berhadapan dengan elit penguasa dan penjara sampai lima tahun, tregedi Pasuruan 15 September 2008 dua tahun yang lalu, zakat yang berujung maut, 21 orang tewas dan belasan lain dirawat di rumah sakit, memperlihatkan betapa anak bangsa ini tidak lagi memperhatikan kebaikan dan kemashlahatan orang lain. Mereka bersedia menginjak dan membunuh sesama hanya untuk mendapat 30.000 rupiah. Mereka hanya melihat diri mereka, tanpa memperhatikan orang lain, sehingga yang kuat menindas dan menginjak yang lemah. Lihat; betapa korban yang meninggal dan terinjak adalah para wanita dan orang tua. Orang yang kuat tidak lagi membantu yang lemah, tetapi malah mnginjak dan membunuh mereka. Andai saja budaya antri dan mau di atur sudah menjadi bagian dari budaya bangsa ini, tentulah insiden seperti itu tidak akan terjadi. Belum lagi para wakil rakyat yang heboh minta jatah dan anggaran, para penguasa yang tidak peduli terhadap jeritan dan tangisan rakyat. Inilah gambaran hukum jahiliyah yang dipertunjukan bangsa ini.
Ketiga, al-Ahzab[33]: 33
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…”.
Kata jahiliyah dalam ayat di atas menjukan sikap hidup negatif yang pernah dipertunjukan wanita jahiliyah, berupa cara berpakian dan berpenampilan. Kata tabarruj, secara harfiyah berasal dari kata buruj/baraj, yang berarti benteng/tower. Benteng/tower dinamakan buruj karena, letaknya yang tinggi, sehingga jika kita memandang dari kejauhan yang pertama terlihat adalah benteng/tower yang ada di tempat tersebut. Tabarruj artinya menjadi fokous pandangan dan perhatian orang banyak.
Dahulu, Wanita jahiliyah berpakaian sangat “norak”, hiasan yang mencolok serta tampilan lain yang pada akhirnya menjadi objek pandangan mata manusia. Oleh karena itu, tidaklah salah jika pada masa sebelum Islam, wanita tidak dihargai dan mendapatkan pelecehan seksual dari kaum lelaki. Oleh karena itulah, di antara ajaran moral dalam Islam adalah bagaimana mansuia khususnya para wanita seharusnya berpakaian, menjaga mata dan nafsu seks (QS. An-Nur [24]: 31)
Akan tetapi, pemandangan yang sama juga dengan mudah ditemukan hari ini. Para wanita muslimah – katanya - menampilkan pakaian yang sangat minim, tipis, sempit, dengan berbagai macam bentuk perhiasan dan kosmetik, sehingga penampilan para wanita sekarang betul-betul menjadi objek yang menghibur mata lelaki. Oleh karena itu, mall-mall di mana-mana dipadati para remaja dan anak muda bukan untuk berbelanja, tetapai hanya untuk “cuci mata”- meminjam istilah anak muda sekarang-, karena di sana akan dengan mudah di temukan para wanita yang menampilkan kecantikan tubuh mereka melalui balutan busana minim.
Keempat, surat al-Fath [48]: 26
“Ketika orang-orang yang tidak beriman menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah…”
Kata jahiliyah dalam ayat di atas, menunjukan makna keangkuhan, kesombongan, mudah tersinggung, pendendam, pemarah, serta jauh dari sikap lemah lembut. Oleh karena itulah, al-Qur’an mengajarkan bagaimana supaya manusia menjadi makluk pemaaf dan tidak mengingat kesalahan orang lain. (al-Ma’idah [5]: 12).
Sikap jahiliyah ini juga menjadi bagian dari cirri kehidupan bangsa ini, betapa bangsa ini sangat dekat dengan pola kehidupan yang penuh kekerasan, perkelahian dan kesadisan. Bangsa ini sudah sangat jauh dari sifat pemaaf. Adalah persoalan kecil sangat sering memunculkan pekelahian massal, perekelahian antar nagari dan antar kampung, tawuran antar pelajar, mahasiswa, rakyat jelata dengan aparat penegak hukum sperti satpol PP, Polisi dan TNI, sesama penegak hukum seperti polisi dengan TNI, tidak terkeculai anggota DPR di Senayan bahkan di daerah yang katanya merupakan kelompok elit dari bangsa ini yang berperan sebagai duta rakyat. “Main sikut” dan “gontok-gontokan” adalah ciri khas bangsa ini.
Demikianlah sepintas interpertasi tematik makna jahiliyah. Jahiliyyah bukan hanya berarti bodoh, tapi juga bermakna sombong, membuat orang lain resah, tidak peduli kepada orang-orang miskin, dan hidup slalu mementingkan diri sendiri. Sampai kapan kita akan menjadi bangsa Jahiliyah? Apakah kita akan menunggu datangnya nabi kembali? Yang pasti jawaban tentu tidak, sebab kenabian sudah berakhir. Bangsa ini hanya bisa meninggalkan tradisi jahiliyahnya, jika semua memiliki niat yang sama untuk mau berubah. Perubahn harus dilakukan secara kolektif dan universal. Wallahu a’lam
READ MORE - Mereview Makna Jahiliyah dalam al-Qur’an

Kamis, 10 Juni 2010

Tanda Kehancuran Israel

Tanda Kehancuran Israel

Saat ini, Bangsa Yahudi telah memperlihatkan keangkuhan dan kesombongannya terhadap dunia, terutama kaum muslimin palestina. Sehingga menuai protes dari berbagai Negara terhadap tindakan keji yang mereka lakukan di bumi kudus tersebut. Mereka tidak menghiraukan lagi norma-norma kemanusian bahkan menyerang para relawan dari manca Negara yang datang secara sosial membantu penduduk di sana. Namun, tanpa mereka sadari justru hal itulah yang menjadi awal kehancuran mereka. Begitulah yang diinformasikan Allah swt dalam al-Kitab termasuk al-Qur’an al-Karim surat al-Isra’ [17]:4-6
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam al-Kitab “sesungguhnya kamu pasti berbuat kerusakan di bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepada kamu hamba-hyamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela masuk ke kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepada kamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantu dengan harta kekayaan serta anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.”
Begitulah gambaran al-Qur’an terhadap bangsa Israel atau Yahudi, bahwa ketika mereka telah berada pada puncak kesombongan dan kezaliman, Allah swt akan mengutus satu kelompok kuat yang akan menghancurkan dan memporak-porandakan mereka. Betapa sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan bangsa Yahudi selalu jatuh bangun akibat kesombongan mereka sendiri.
Dalam catatan sejarah, bangsa Yahudi telah mengalami banyak penyiksaan akibat ulah kesombongan dan kedurhakaan mereka setelah meninggalnya nabi Sulaiman as. yang merupakan puncak kejayaan Yahudi. Pada tahun 606 SM, berkali-kali Nebukadnazer penguasa Babil menindas mereka. Bangsa Yahudi ditawan, disiksa dan dijadikan budak-budak. Pada tahun 598 SM, kembali bangsa Babil melakukan penyerangan ke daerah Yerusalem, dan korban kali ini lebih banyak dari sebelumnya bahkan raja Yahudza dijadikan tawanan dan kuil Sulaiman dihancurkan serta kitab suci mereka dibakar.
Beberapa waktu kemudian, bangsa Israel sadar dari kesalahan mereka dan bertaubat sehingga mereka mampu bangkit dan kondisi mereka kembali membaik. Setelah empat puluh tahun berada dalam kekuasan kerajaan Babil muncullah kekuatan baru, Persia. Kerajaan ini melakukan penyerangan kepada bangsa Babil dibawah pimpinan Koresy. Kerajaan Persia akhirnya mampu menaklukan kekuasaan Babil pada tahun 538 SM. Ketika itulah bangsa Yahudi dapat sedikit bernafas dengan lega, dan pada tahun 530 SM mereka diperkenankan kembali ke Yerusalem dan mendirikan kerajaan baru di sana sebagai imbalan atas kerjasama mereka mengalahkan bangsa Babil. Namun demikian, mereka tetap berada di bawah kekuasan Persia. Pada masa kekuasaan/penjajahan Persia itulah Zurabbael seorang bangsawan keturunan nabi Daud as kembali membangun tempat peribadatan bekas bangunan Daud dan Sulaiman yang pernah dihancurkan kerajaan Babil. Dan Uzair kembali menulis kitab suci yang masih teringat dan disimpan kembali di mihrab tempat peribadatan itu. Ketika itu bangsa Yahudi tidak mengerti lagi bahasa Ibrani, mereka menggunakan bahasa Aramiya disamping mereka tidak lagi mengesakan Tuhan sebagaimana ajaran nabi Daud dan sulaiman, dan para pemuka agama Yahudi melakukan berbagai penyimpangan ajaran tauhid. Kemusyrikan dan ajaran pagan menjangkiti masyarakat Yahudi bahkan mereka kembali kepada keangkuhan dan kesombongan dan berbuat kerusakan di bumi..
Ketika itulah datang kekuatan baru dari Makedonia, Iskandar Zulkarnain yang berhasil menyerang dan mengalahkan kekarajaan Persia. Iskandar Agung kemudian menaklukan Yerusalem pada tahun 333 SM. Pada masa inilah dilakukan gerakan helenisasi dalam segala bidang. Nama-nama orang Yahudi pun diganti dengan nama Yunani. Orang-Orang Yahudi kemudian dihinakan dan dipaksa menari tanpa busana.
Selanjutnya sedikit demi sedikit kondisi bangsa Yahudi kembali membaik, karena kekuasaan sedikit berpihak kepada mereka. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama setelah jatuhnya Yerussalem ke dalam kekuasaan Mesir (Ptolomy) sekitar tahun 166 SM. Kemudian mereka bangkit lagi dibawah pimpinan salah seorang keturunan Bani Israel hingga tahun 40 SM. hal inipun tidak bertahan lama, karena munculnya kekuatan baru yaitu bangsa Romawi. Bangsa Yahudi berkali-kali melakukan pemberontakan, namun berhasil ditumpas atas kerjasama bangsa Romawi dengan Yosephus Ibn Mattas (seorang penghianat Yahudi) di bawah pimpinan Titu, putera Kaisar Vespasianus (39-81M). Ini terjadi sekitar tahun 70 M. Baitullah yang berada di Yerusalem dibakar habis, dan ratusan ribu orang Yahudi dibunuh.
Selanjutnya sekitar tahun 132-135 M timbul lagi pemberontakan yang dipimpin oleh Simon Bar Kozinah, dan kali ini penghancurannya dilakukan oleh Adrianus. Tidak kurang dari 580.000 orang Yahudi mati terbunuh.
Salah seorang penguasa yang diangkat Romawi yang bernama Herodus, berupaya mengobati hati orang Yahudi dengan membangun sebuah haikal atau tempat peribadatan di lokasi tempat kuil sulaiman yang sebelumnya telah dihancurkan. Tetapi ibu Kaisar Kostantin, Helena memerintahkan agar tempat itu dijadikan tempat pembuangan sampah, dan tiang-tiang tinggi yang semula direncanakan membangun tempat peribadatan Yahudi diarahkan untuk pembangunan gereja di suatu lokasi yang diduga makam nabi Isa as.
Begitulah bentuk penghancuran, penindasan, dan penghinaan yang diterima bangsa Yahudi akibat kesombongan dan kedurhakaan mereka. Begitu juga ketika Islam datang, Nabi Mihammad saw melakukan perjanjian damai dengan mereka di Madinah. Namun kemudian mereka mengingkarinya, sehingga umat Islam terpaksa mengusir mereka dari kampung mereka, seperti yang dilakukan kepada bani Nadhir dan bani Quraizhah.
Demikianlah perjalanan bangsa Yahudi yang selalu jatuh bangun akibat kesombongan mereka. Setiap kali mereka menyombongkan diri, saat itu pula kehancuran sudah menanti mereka, dan saat itu juga pasukan Allah akan datang untuk menghancurkan mereka. Wallahu a’lam
READ MORE - Tanda Kehancuran Israel

Sabtu, 29 Mei 2010

Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Setiap makhluk diberikan Allah fitrah atau naluri untuk hidup berkelompok. Kelompok-kelompok tersebut dibangun biasanya berdasarkan unsur kesamaan yang mereka miliki. Kelompok makhluk Tuhan inilah yang disebut dengan nama ummat, dan manusia adalah salah satu bentuk kelompok tersebut. Akan tetapi, dari sekian banyak bentuk ummat, dalam al-Qur’an terdapat istilah khairu ummah yang berarti umat terbaik; sebuah penamaan yang diperuntukan bagi umat Islam. Kata Khairu Ummah tersebut terdapat dalam surat Ali ‘Imran [3]: 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ…
Artinya: “Adalah kamu sebaik-baik umat yang diutus untuk manusia menyuruh berbuat baik (ma’ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar dan beriman kokoh kepada Allah…”
Ummat seperti yang telah disebutkan, ia diartikan sebagai suatu kelompok yang dihimpun oleh suatu kesamaan. Kesamaan itu bisa agama, waktu, tempat, jenis dan sebagainya. Oleh karena itulah, burung yang diikat kesamaan jenis sebagai binatang yang memiliki sayap dan terbang, dalam al-Qur’an disebut umat. Seperti yang terdapat dalam surat al-An’am [6]: 38
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ....
Artinya: “Dan tidak satupun binatang melata di bumi dan tidak pula burung yang terbng mengembangkan kedua sayapnya kecuali mereka adalah umat-umat seperti kamu…”
Umat Muhammad saw adalah umat terbaik dari semua aspek yang mengikat kesamaan tersebuat. Misalnya dari sisi agama, betapa tidak karena Allah swt telah menegaskan dalam surat al-Maidah [5]: 6, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku sempurnakan atas kamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agamamu”. Agama Islam yang dibawa nabi Muhammad saw adalah agama yang paling terakhir dan paling sempurna. Sebab, tidak ada lagi nabi yang akan diutus Allah untuk merobah ajaran agama ini. Segala sesuatunya telah sempurna dan tidak akan megalami perobahan sampai akhir zaman. Hal ini tentu berbeda dengan agama dan ajaran nabi untuk umat-umat lalu, yang hanya berlaku untuk waktu tertentu dan umat tertentu. Inilah bukti bahwa umat Islam sebagai umat terbaik dari sisi agama.
Dari segi waktu atau masa hidup, umat Islam juga merupakan umat terbaik. Sebab, dalam surat al-Hadid [57]: 9, Allah swt berfirman, “ Dialah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang nyata supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dan sesungguhnya Allah terhadap kamu maha pengampun lagi penyayang”. Hal itu menunjukan bahwa umat Muhammad hidup dalam masa dan kedaan, yang jauh lebih baik dari umat lalu. Sebab, umat lalu hidup dalam zaman kegelapan, baik akidah maupun peradaban. Saat ini umat Islam telah mencapai apa yang zaman dulu mustahil bagi manusia, seperti naik pesawat, mobil dan sebagainya.
Umat Islam juga umat terbaik dari sisi wilayah atau tenpat tinggal. Betapa tidak, bahwa di manapun negara Islam atau negara yang berpenduduk muslim merupakan negara yang kaya raya. Seperti Indonesia yang merupakan negara paling subur dan disebut sebagai “sorga Allah” di bumi. Negara-negara Arab, walaupun tidak subur tetapi kaya dengan sumber-sumber minyak yang menjadi urat nadi kehidupan dunia. Begitulah Allah jadikan umat Islam sebagai umat terbaik dari segi tempat tinggal.
Dari segi jenis sudah dapat dipastikan bahwa jenis manusia adalah umat terbaik bila dibandingkan jenis lain, “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan” (Q.S. at-Tin [95]: 4.
Namun demikian, jika kita kembali kepada surat Ali Imran [3]: 110 tentang pembicaraan Allah terhadap umat Islam sebagai umat terbaik, akan ditemukan sebab yang menjadikan kondisi dan sebutan itu tetap melekat pada diri mereka. Umat Muhammad saw. akan tetap menjadi umat terbaik disebabkan tiga hal; yaitu,
1. Menyuruh kepada yang baik (Ma’rûf)
Ma’rûf adalah perbuatan yang baik, tidak hanya baik menurut aturan syari’at yang digariskan Allah swt, tetapi juga yang dianggap baik menurut pandangan manusia kebanyakan, selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama. Norma yang sudah berlaku ditengah masyarakat dan tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama disebut ma’rûf, dan umat Muhammad saw. berkewajiban menegakannya.
Namun demikian, menegakan yang ma’rûf tidaklah pekerjaan gampang. Karena pelaksaannya bisa sempurna kalau umat Islam menjadi penguasa dan pemegang sekaligus pengambil kebijakan. Itulah agaknya kenapa kata pemimpin yang mesti dipatuhi, Allah sebutkan dalam surat an-Nasa’[4]:59 dengan Uli al-Amr, berasal dari kata Amar yang berarti menyuruh. Hal itu menunjukan bahwa pelaksanaan Amar Ma’rûf bisa sempurna kalau dilakukan oleh penguasa atau pemerintah. Dengan demikian, umat Muhammad saw. menjadi umat terbaik kalau mereka yang menjadi penguasa, pengambil kebijakan dan menjalankan kebijakan tersebut.
2. Mencegah dari perbuatan munkar
Munkar berarti perbuatan yang tidak dikenal sebagai kebaikan, baik oleh agama maupun oleh masyarakat, selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama. Oleh karena itu, adat istiadat yang berlaku di tengah masyarakat tidak boleh dilanggar, karena hal itu berarti munkar sekalipun tidak melanggar agama. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya (kekuasaannya), jika tidak mampu robahlah dengan lidahnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah”.



3. Beriman kokoh kepada Allah
Iman yang kokoh tidak diperoleh dengan cara yang gampang. sebab, syaithan telah berjanji dan bersumpah dihadapan Tuhan akan menggelincirkan iman manusia bahkan akan mencabutnya dari dalam hati manusia, sehingga mereka menjadi pengikutnya. Untuk memiliki iman yang kokoh manusia harus memiliki beberapa hal, yaitu;
a. Ilmu yang luas
Hal ini dikerenakan kebodohan merupakan gerbang utama syaithan menggoyahkan dan memalingkan manusia dari kebenaran. Seperti yang disebutkan Allah swt dalam surat an-Nisa’[4]: 120, “Syaithan menjanjikan mereka janji-janji kosong dan membuat angan-angan mereka panjang, padahal janji syaithan itu hanyalah tipu daya saja”. Adalah sudah menjadi sebuah kepastian, bahwa kebodohan menjadikan seseorang tidak punya pendirian, karena dengan mudah orang lain merobah dirinya termasuk juga keyakinannya.
b. Kematangan materi
Untuk tidak menyebut kaya, karena kekayaan juga bersifat relatif dalam pandangan manusia. Tetapi, bahwa syarat seorang bisa memiliki iman yang kokoh adalah memiliki kecukupan harta, sehingga dia tidak memiliki ketergantungan kepada pihak lain. Sebab, kemiskinan juga gerbang utama syaithan menggelincirkan bahkan mencabut iman manusia seperti dalam surat al-Baqarah [2]: 268, “Syaithan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, dan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia dari sisi-Nya dan Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Mengetahui”. Betapa banyak hari ini kita saksikan, sebagian manusia yang rela meninggalkan keyakinannya hanya karena “sesuap nasi” atau “sebungkus supermi”. Benar sekali apa yang pernah dikatakan Rasullah saw kâda al faqru an yakûna kufran (Kefakiran dekat kepada kekafiran).
c. Sehat fisik, mental maupun rohani
Iman yang kuat bisa diperoleh dalam badan yang sehat, karena penyakit juga merupakan gerbang masuknya godaan syaithan. Itulah yang terjadi pada diri salah seorang nabi Allah, Ayyub as, “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia memanggil Tuhannya sesungguhnya saya digoda syaitahn dengan penyakit dan derita saya” (Q.S. Shad [38]: 41). Betapa seringkali manusia mengumpat dan mencela, ketika mereka ditimpa penyakit. Bahkan ada sebagian manusia yang “menggerutu” kepada Allah bahkan berpaling dari agamanya.
Oleh karena itu, umat Muhammad saw. akan tetap sebagai uamt terbaik, jika memiliki iman yang kokoh melalui ilmu yang luas, kemapanan materi dan kesehatan jasamani dan rohani. Bila ini tidak dimiliki maka umat terbaik hanyalah sebuah impian yang tidak akan pernah terwujud.
READ MORE - Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Kamis, 27 Mei 2010

Meniru Ahklak Tuhan

Opini Jum’at
Oleh : Robi Kurniawan, MA
Dosen&Muballigh Batam Kota

Meniru Akhlak Tuhan

“Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”
(Abu Hazim)
Pengakuan seorang hamba bahwa dia mencintai Allah swt bukanlah basa basi mulut seperti seseorang yang mencintai sang pujaan hati di depannya, setelah pergi dia selingkuh dengan yang lain. Akan tetapi sebuah confidensi atau keyakinan total seluruh jiwa dan raga di mana maupun ke mana hamba tersebut pergi dan berada. Mencintai Allah berarti kita harus siap meniru akhlakNya yang Maha Mulia.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah saw. bersabda;
“Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah”.
Dalam bahasa lain bisa diartikan, “contohlah dan teladanilah sifat-sifat Allah”. Di dalam al-Qur’an, setidaknya Allah swt memperkenalkan 99 akhlak atau sifat-Nya, yang disebut dengan istilah al-Asma’ al-Husna. Bahkan kita diperintahkan setiap berdo’a dan meminta dengan menyebut sifat-sifat Allah tersebut. Sebagaimana dipaparkan dalam surah al-A’raf ayat 180:
“Allah memiliki asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna”.
Nama, sifat, atau akhlak yang diperkenalkan Allah swt, di dalam al-Qur’an tersebut tentu bukan hanya untuk tujuan dibaca, dihafal atau didendangkan. Akan tetapi, lebih jauh dari itu bagaimana semua sifat dan akhlak yng telah diperkenalkan Allah kepada manusia, dicontoh dan diteladani dalam kapasitasnya sebagai makhluk. Salah satu ayat yang membicarakan tentang akhlak dan sifat Allah swt, adalah surat al-Hasyar [59]: 23َ
“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja(al-Malik), Yang Maha Suci(al-Quddus), Yang Maha Sejahtera(as-Salam), Yang Mengaruniakan keamanan(al-Mukmin), Yang Maha Memelihara(al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa(al-Aziz), Yang Maha Kuasa(al-Jabbar), Yang Memiliki segala keagungan(al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Dalam ayat di atas, Allah swt memperkenalkan delapan akhlak atau sifat-Nya yang mesti dicontoh dan diteladani oleh makhluk-Nya.
Sifat pertama yang diperkenalkan Allah swt, bahwa Dia menyebut diri-Nya sebagai al-Malik yang secara harfiyah berarti Raja atau Pemilik. Setidaknya ada dua hal yang menjadi ciri al-Malik atau Raja. Pertama, bahwa raja adalah yang memberikan perintah atau larangan, menetapkan sesuatu atau mencabut sesuatu. Kedua, raja adalah tempat mengadu bagi semua orang. Begitulah Allah swt sebagi Raja. Bahwa Diri-Nya adalah Dzat Yang memerintah, melarang, menetapkan sesuatu serta mencabut sesuatu dari Makhluk-Nya. Allah memiliki kekuasaan yang mutlak. Begitu juga Allah swt adalah tempat bermuaranya semua pengaduan Makhluk. Dan semua yang datang mengadu kepada-Nya secara pasti akan diberikan jalan keluar dari masalahnya.
Begitulah yang mesti kita contoh dari sifat Allah, bahwa setiap kita juga harus menjadi al-Malik atau raja. Raja bagi dunia, bagi bangsa, bagi masyarakat, bagi keluarga atau setidaknya menjadi raja bagi diri kita sendiri. Menjadi raja dalam diri kita berarti kitalah yang memerintah, melarang, menetapkan atau mencabut sesuatu dari diri kita. Diri kita tidak diperintah oleh hawa nafsu, keinginan-keinginan yang rendah, iblis ataupun syitan.
Begitu juga, bahwa kita juga harus menjadikan diri kita tempat meminta dan mengadu bagi orang lain, disebabkan apa yang kita miliki, seperti harta, ilmu, keahlian dan sebagainya, apalagi posisi atau jabatan yang dimiliki dan yang dipercayakan orang lain kepadanya sebagai kepala atau pemimpin. Tidak salah memang kalau manusia meminta kepada orang lain. Akan tetapi, yang terbaik adalah menjadi tempat meminta seperti yang dikatakan Rasulullah saw. Bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, begitulah sifat raja atau al-malik.
Kedua, Allah swt. Menyebut diri-Nya sebagai raja yang al-Quddus. al-Quddus secara harfiyah berati suci. Allah sebagai Raja adalah raja yang suci, jauh dari aib, cacat, hal-hal yang kotor, kekejian dan sebagainya. Betapa banyak manusia, yang jikalau menjadi raja atau pemimpn adalah raja yang kotor dan keji, seperti disebutkan dalam surat An-Naml [27]: 34
“Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka merusak dan membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”.
Secara kebahasaan, setidaknya ada tiga hal yang menjadikan sesuatu itu quddus (suci). Pertama, kebenaran, kedua, keindahan, dan ketiga kebaikan. Allah sebagai Raja, jika memerintahkan sesuatu kepada makhluk-Nya pastilah perintah Allah itu selalu benar, indah dan kebaikan bagi makhluk tersebut. Jika Allah menetapkan dan memutuskan sesuatu untuk hamba-Nya, pastilah ketetapan dan keputusan Allah itu benar, indah dan berguna atau mengandung kebaikan. Begitulah quddus-Nya Allah.
Inilah sifat yang juga mesti kita ikuti sebagai makhluk, bahwa apapun yang akan kita katakan ataupun yang akan dilakukan mestilah memiliki sifat quddus, bahwa sesuatu itu harus benar, indah dan mengandung kebaikan. Oleh karena itu, jika kita hendak mengatakan sesuatu fikirkanlah apakah sudah benar yang dikatakan itu, atau apakah sudah indah cara kita menyampaikannya, atau seberapa besar manfaat dan kebaikan dari apa dikatakan itu. Begitu juga, jika kita hendak memperbuat sesuatu, maka fikirkanlah apakah perbutan itu sudah benar, sudah indah dan berguna baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Perkataan yang menghina sehingga orang lain resah dibuatnya adalah langkah orang tersebut menuju kebinasaan cepat atau lambatnya. Jika dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari orang lain, janganlah hendaknya ia mengatakan kata-kata iblis, setan, biadab, babi dan kata yang penuh mudharat dari pada manfaat. Alangkah indahnya kehidupan manusia, jika semua orang selalu mencontoh sifat quddusnya Tuhan dalam setiap perkataan maupun perbuatan mereka. Tidak akan ada pertentangan, permusuhan, percekcokan, perkelahian apalagi pembunuhan jika manusia mencontoh sifat Quddus yang diperkenalkan Allah kepada Makhluk-Nya.
Ketiga, Allah swt. Memperkenalkan dirinya sebagai as-Salam yang secara harfiyah berati selamat, jauh dari cacat, aib dan kekurangan. Begitulah Allah, bahwa apapun yang didatangkan Allah kepada Makhluk-Nya pastilah berupa keselamatan. Andaikata itu berupa musibah, tetap saja itu merupakan kebaikan dan keselamatan. Sesuatu dipandang musibah hanyalah dikarenakan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia dalam memahami Allah yang Maha Besar. Sebab, betapa banyaknya hal-hal yang datang kepada manusia menjadikan manusia menangis dan meratap di kala itu, namun setelah waktu berlalu barulah dia menyadari bahwa yang dulu ditangisi adalah kabaikan yang sekarang justru membuat dia menjadi tertawa. Belum tentu setiap yang dicintai hamba baik menurut Allah atau setiap yang dibencinya ternyata baik menurut Allah.
Begitu juga Allah adalah Dzat yang jauh dari aib, cacat dan kekurangan. Dalam diri Tuhan tidak ada sifat, kikir, marah, dendam, malas dan sebagainya. Sebab, itu semua adalah aib dan kekuarangan. Dalam surat ar-Rahman [55]: 29, Allah swt berfirman
“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibuka’ .
Begitulah Allah swt sebagai Dzat yang selalu punya kesibukan dan tidak pernah mengenal waktu kosong dan luang. Sebagai salah satu bentuk sifat as-Salam, jauh dari aib dan cacat serta kekurangan. Kita mencontoh as-salam Tuhan, bahwa kita berupaya sekuat tenaga membuang segala sifat-sifat negatif dalam diri kita, seperti sifat kikir, marah, dendam, pemalas dan sebagainya.
Keempat, Allah swt, memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Mu’min yang berarti pemberi rasa aman. Allah bukan hanya selamat diri-Nya dari segala aib dan kekuarangan, tetapi lebih jauh Allah adalah pemberi rasa aman bagai semua makhluk-Nya. Begitulah yang ditegaskan-Nya dalam surat al-Quraisy [106]: 4
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”.
Begitulah sifat Allah yang semestinya kita contoh, bagaimana kita menjadi makhluk yang mampu memberikan rasa aman kepada siapapun. Seorang yang mukmin tidak hanya sekedar amanah dan bisa dipercaya, tetapi lebih jauh mampu menjamin keamanan kepada siapapun yang meminta rasa aman. Seorang pegawai yang mukmin adalah pegawai yang tidak hanya bisa jujur dalam bekerja ketika diawasi, tetapi dia juga bisa bekerja dengan penuh kejujuran sekalipun tanpa pengawasan. Sebab, dia selalu yakin kalau Allah selalu menyertainya dalam setiap apapun yang dilakukan.
Kelima, Allah memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Muhaimin yang berarti Pengawas dan Pemelihara. Allah bukan hanya pemberi keselamatan dan rasa aman, tetapi Allah juga mengawasi dan memelihara makhluk-Nya. Oleh karena itulah, di alam ini dikenal istilah sunnatullah dan inayatullah. Jika terjadi kecelakaan pesawat terbang, maka sunnatullahnya semua penumpang mati. Akan tetapi, jika ada penumpang yang selamat bahkan tidak terluka sedikitpun, maka ketika itu dia mendapat inayatullah atau pertolongan Allah melalui pengawasan dan pemeliharaannya. Bukankah Allah mengatakan, Bahwa tidak ada satupun jiwa kecuali telah disediakan untuknya malaikat yang akan menjaga dan memeliharanya. Lihat surat at-Thariq [86]: 4
“tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya”.
Begitulah sifat Allah yang mesti kita contoh, kita tidak hanya mampu memberikan rasa aman, tetapi juga bisa mengawasi dan menjaga apa yang diamanahkan kepada kita. Jika seseorang tidak membuang sampah di sembarang tempat atau dia bersedia memungut sampah di tempat umum, maka dia berhak disebut mukmin. Akan tetapi, jika ada orang lain yang membuang sampah di tempat umum di hadapan matanya dan dia membiarkan saja, maka ketika itu dia tidaklah bisa disebut muhaimin. Sebab dia tidak bisa menjadi pengawas atau pemelihara agar sampah tidak bertebaran di tempat umum. Dan banyak contoh lain yang bisa dijadikan pengajaran dalam kehidupan ini. Begitulah bentuk muhaimin yang semestinya kita contoh dari Allah.
Keenam, Allah memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Aziz yang Maha Perkasa dalam artian bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pernah bisa dikalahkan. Allah swt, tidak akan pernah dikalahkan oleh siapun dan sampai kapanpun. Begitulah sifat yang juga semestinya kita miliki dalam menjalani kehidupan di dunia ini yang sudah ditakdirkan sebagai kehidupan yang penuh kompetisi dan persaingan. Bagaimana kita dalam persaingan hidup berupaya untuk tidak pernah dikalahkan oleh siapaun lebih-lebih bisa mengalahkan hawa nafsu dan setan. Sekalipun dalam setiap persaingan pasti ada yang kalah dan yang menang. Namun, sebagai makhluk yang mencontoh al-aziz nya Allah, berupayalah menjadi makhluk yang tidak pernah dikalahkan oleh siapapun dan kapanpun dalam kontek persaingan yang sehat, bukanlah menghalalkan berbagai cara agar tetap eksis. Sebagaimana dikatakan dalam surah al-Baqarah (2):184 :
“…… . maka berlomba-lombalah (bersainglah) kalian (dalam membuat) kebaikan….”
Ketujuh, Allah memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Jabbar yang berarti maha Berkuasa. Al-Jabbar secara harfiyah berarti Yang Kuat dan Memaksa, sehingga kata ini kemudian diartikan sebagai Dzat yang mampu mengalahkan siapapun. Allah bukan hanya tidak terkalahkan, namun juga mampu mengalahkan siapapun. Begitulah sifat yang semestinya kita ikuti sebagai makhluk, bahwa kita bukan hanya makhluk yang tidak terkalahkan, namun mampu mengalahkan siapun yang menjadi pesaing kita. Seseorang yang memiliki sifat al-Jabbar dalam kapasitasnya sebagi makhluk, tidak akan pernah kembali membawa kekalahan. Dia harus pulang dengan membawa kemenangan yang gemilang dan penuh sportifitas dan kejujuran bukan kecurangan merugikan pesaingnya. Itulah pemenang yang sejati dan sesungguhnya.
Setelah menyebutkan tujuh sifat yang penuh kemuliaan, Allah menutup sifat-Nya dalam ayat di atas dengan menyebut diri-Nya sebagai al-Mutakabbir yaitu Dzat yang Maha Besar dan Agung. Hal itu berarti, jika semua hal yang disebutkan telah dimiliki seseorang; mampu menjadi raja, suci, selamat, memberi rasa aman, menjaga dan mengawasi, tidak pernah terkalahkan, mampu mengalahkan siapapun, pastilah seseorang akan menjadi orang besar (al-Mutakabbir) dan pastilah semua orang akan mengagumi dan mnghormatinya. Begitulah kenapa ayat ini diakhiri dengan ungkapan ta’ajjub (kagum) kepada Allah dengan ungkapan Subhanallah/ Maha Suci Allah.
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab
READ MORE - Meniru Ahklak Tuhan

Kamis, 20 Mei 2010

Bertemu Tuhan

Oleh: Robi Kurniawan

Sudah menjadi ketetapan Allah swt, bahwa yang selain Diri-Ny akan mengalami kerusakan, kebinasaan dan kehancuran. Hanya Allah sajalah Dzat yang tidak akan pernah rusak, binasa ataupun hancur. Manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan, tentu juga tidak bisa luput dari hukum kebinasaan dan kehancuran yang telah ditetapkan Allah tersebut. Kematian adalah cara Allah membinasakan dan mengahancurkan manusia, ini juga berlaku bagi makhluk yang lain seperti hewan dan tumbuhan. Akan tetapi, Allah membinasakan dan menghancurkan manusia dengan kematian memiliki tujuan dan maksud yang berbeda dengan yang dialami makhluk yang lain seperti binatang dan tumbuhan. Jika binatang dan tumbuhan mengalami kebinasaan dan kehancuran melalui kematian, akan hilang dan lenyap begitu saja. Sementara manusia, mengalami kebinasaan dan kehancuran, akan datang menemui Allah dan memberikan pertangungjawaban atas segala aktifitasnya selama hidup di dunia untuk kemudian memperoleh kehidupan berikutnya yang jauh lebih baik dan lebih sempurna, jika pertanggungjawaban diterima oleh Allah. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat al-Insyiqaq [84]: 6-15
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh (kadihan) menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (6). Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, (7) maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,(8) dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.(9) Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang,(10) maka dia akan berteriak: "Celakalah aku".(11) Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).(12) Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).(13) Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (14) (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.(15)”.
Kata kadihan dalam surah tersebut berarti bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu hingga letih dan akhirnya berhenti. Begitulah kehidupan yang dijalankan manusia di dunia ini, bahwa manusia dituntut bekerja dan beramal dengan tekun dan sungguh-sungguh, hingga tubuhnya lelah dan letih. Kepayahan dan keletihan akan menjadikan manusia menikmati akhir hidupnya. Bukankah tidur yang nikmat akan dirasakan bagi yang badannya lelah dan letih bekerja di siang hari. Namun, bagi yang tidak bekerja tentulah matanya akan sangat tersiksa dikarenakan susah tidur.
Akhir dari keletihan manusia adalah bahwa ia menemui kematian. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap yang pasti akhir kehidupan akan ditutup dengan kematian. Kematian akan mengantarkan manusia untuk bertemu dengan Tuhan. Ibarat kehidupan nyata di bumi ini, jika kita hendak menemui atasan, pimpinan atau seorang yang memiliki kedudukan tinggi, tentulah bukan tanpa maksud dan tujuan. Maka manusia datang menemui Allah setelah kematian juga memiliki maksud dan tujuan. Tujuannya adalah untuk memberikan pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Begitulah yang tergambar dalam ayat di atas, bahwa ada manusia yang menerima catatan amalnya ketika hidup di dunia dengan tangan kanan yang berarti pertangungjawabannya akan diterima oleh Allah. Sebagai penghargaan atas kinerjanya yang baik selama hidup di dunia, maka dia akan berkumpul bersama keluarganya dengan kegembiraan dan kebahagiaan.
Pengertian berkumpul bersama keluarga bisa dua bentuk; pertama, bentuk majazi, di mana itu sebuah gambaran tentang betapa bahagianya manusia dengan kematian datang menuju Tuhan dan kampung akhirat setelah berhasil mengumpulkan berbekalan yang banyak melalui kegigihannya berusaha dan beramal kebajikan selama hidup di dunia. Ibarat seorang yang pergi merantau, tiada kebahagian yang lebih tinggi daripada saat pulang ke kampung dan berkumpul bersama keluarga, setelah berhasil membawa pulang harta yang berlimpah melalui kerja keras selama di perantauan. Tentu berbeda dengan orang yang pergi merantau dan tidak berhasil mengumpulkan harta walau satu rupiahpun, tentu pulang ke kampung dan berklumpul dengan keluarga adalah hal yang sangat menakutkan dan memalukan.
Kedua makna hakiki, di mana orang yang memiliki kebajikan yang banyak selama hidup di dunia dan mampu memberikan pertanggungjwaban atas apa yang telah dilakukanya selama di dunia, dia akan dikumpulkan bersama keluarganya yang beriman dan shalih dalam satu tempat di sorga. Seperti disebutkan Allah dalam surat Ya Sin [36]:
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).(55) Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.(56) Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.(57) (Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.(58)
Begitu juga dalam surat At-Thur [52]: 21
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
Sementara kelompok manusia yang lain, adalah orang yang diberikan buku catatan amalnya dari tangan kiri atau dari belakang. Maka mereka adalah manusia yang dulu di dunia tidak mau bersusah payah berbuat kebajikan, bahkan hidup bergelinag dosa dan pelanggaran, hidup selalu dengan kegembiraan bersama orang-orang yang dicintainya ketika di dunia. Bagi mereka tiada lain pertemuan dengan Allah adalah sesuatu yang paling menakutkan dan memalukan. Di hadapan Allah mereka tidak mampu memberikan pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Saat itulah waktu mereka menyesali diri dan berteriak histeris, “Celakalah aku, Kenapa dulu saya tidak mau bersusah untuk berbuat baik, kenapa dulu saya hidup selalu gembira dan tertawa, kenapa saya tidak pernah memikirkan kehidupan sekarang ini?,” Dan seterusnya. Akan tetapi, sesal ketika itu tiadalah guna dan manfaatnya, mereka akan dihalau ke dalam neraka dengan siksa yang tidak akan pernah bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Oleh karena itu bagi kita yang masih hidup, marilah kita berupaya berbuat yang terbaik guna mempersiapkan diri menghadapi hari yang sangat sulit dan secara pasti akan kita temui. Menarik kita cermati pesan Allah dalam lanjutan ayat di atas, yaitu ayat 16-19;
“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,(16) dan dengan malam dan apa yang diselubunginya,(17) dan dengan bulan apabila jadi purnama,18sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).(19).”

Dalam ayat di atas Allah swt, bersumpah demi syafaq yang secara harfiyah berarti cahaya matahari yang berwarna merah di saat akan tenggelam. Syafaq adalah pertemuan atau percampuran antara akhir siang dan awal malam. Bercampurnya perasaan gembira dan sedih, harap dan cemas, suka dan duka juga disebut syafaq. Kemudian Allah melanjutkan sumpahnya dengan bintang dan rembulan yang muncul setelah syafaq menghilang dan malam sudah gelap. Sumpah tersebut kemudian dijawab dengan kalimat bahwa semua kamu akan melalui tingkat demi tingkat dalam kehidupan ini.
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari ayat di atas:
Pertama, bahwa sudah menjadi ketetapan Allah bahwa setiap kehidupan akan berakhir dan berganti dengan kehidupan baru. Begitulah bahwa siang akan hilang dan akan digantikan era malam hari. Begitu juga hidup di dunia ini, bahwa ia juga akan berakhir dengan kematian. Tidak akan pernah ada satu era, masa atau periode kehidupan berjalan terus tanpa batas akhir dan kemunculan masa, era dan periode yang lain. Sehinga, kesadaran akan akan itu akan menjadikan manusia menyiapkan diri menghadapi pergantian kehidupan tersebut yang mungkin jauh lebih sulit darai sebelumnya. Bukankah malam jauh lebih sulit dari siang? Di mana suasana yang gelap, tidak ada manusia berkeliaran, banyak binatang buas dan sebagainya. Begitu juga alam kubur dan akhirat yang akan kita hadapi setelah kematian, penuh kegelapan, kesendirian dan banyak binatang berbisa. Oleh karena itu, persiapkan segala sesuatunya sebelum malam itu datang, seperti senter dan lentera, maupun senjata untuk mengusir binatang berbisa tersebut.
Dua, bahwa pertukaran alam dan kehidupan selalu akan memunculkan syafaq; percampuran dua hal, ada terang ada gelap kemudian terang lagi dan gelap kembali begitu seterusnya. Kematian juga akan melahirkan dua hal tersebut, harap dan cemas, gembira dan sedih. Kematian tentu akan menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi yang meninggal, jika saja dia memiliki banyak amalan dan kebaikan. Akan tetapi, bisa menjadi sesuatu yang menyedihkan dan bahkan menakutkan jika tidak memiliki cukup amal untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Kematian akan menjadi kesedihan dan duka bagi keluarga yang ditinggalkan, karena akan berpisah dengan orang yang paling dicintainya untuk selamanya. Namun, di sisi lain bisa menjadi hal yang membahagiakan dan menggembirakan, karena mereka akan mendapatkan tiga janji Allah sebagai karunia-Nya yang paling besar; berupa Shalawat dari Tuhan, rahmat dan petunjuk, jika saja mereka sanggup bersabar dan menerima dengan ungkapan Ina lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tiga, Hilangnya siang dan datangnya malam ditandai dengan munculnya bintang gemintang yang akan menjadi petunjuk jalan bagi manusia lain seperti nelayan dan musafir atau munculnya rembulan yang menerangi kegelapan malam. Begitulah hendaknya akhir kehidupan kita, bahwa ketika kita meninggalkan kehidupan dunia dan menuju kehidupan lain, jadilah kita bintang yang menunjuki orang yang hidup setelah kita atau menjadi rembulan yang menerangi makhluk di tengah kegelapan malam. Lihatlah para ulama kita, bahwa setelah kematian mereka, betapa banyak orang yang menerima petunjuk atau cahaya karya mereka. Lihatlah imam syafi’I, imam Ahmad bin Hambal dan sebagainya, mereka meninggalkan cahaya terang bagi generasi yang hidup setelah mereka. Jadilah kita seperti mereka, yang meninggalkan cahaya petunjuk bagai orang lain setelah kita tiada. Atau setidaknya, jadilah nama kita seperti kita bintang tau rembulan setelah kita meninggal. Jadikan nama kita setingga bintang dan rembulan yang dihormati dan dimuliakan orang yang masih hidup, bukan nama yang jelek, cacat dan akan menjadi makian dan cemoohan mansuia lain.
Empat, penggunaan kata tarkabunna yang secara herfiyah berarti naik. Adalah isyarat Allah kepada manusia agar selalu beranjak naik dalam setiap fase kehidupan yang dilalui. Dari miskin menjadi kaya, dari bodoh menjadi pintar, dari pemalas menjadi rajin, dari sedikit menjadi banyak dan seterusnya. Begitu juga kematian yang akan datang hendaknya menjadikan kita naik dari manusia yang belum sempurna menjadi sempurna. Bukankah salah satu tujuan kematian didatangkan kepada manusia untuk menjadikan manusia makhluk yang sempurna?
Begitu juga bahwa kemajuan yang kita capai haruslah dilakukan selalu dan terus menerus, begitulah maksud Allah menggunakan kata kerja Tarkabunna yang berbentuk mudhari’ (masa sekarang dan akan datang serta terus menerus). Selalulah bergerak maju dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Hendaklah setiap amal dan kebjikan yang dilakukan selalu meningkat dan mengalami kemajuan waktu demi waktu. Dan kata tarkabunna yang berarti naik juga memberikan isyarat kepada kita, bahwa bukanlah Allah yang menaikan derajat dan kedudukan seseorang, namun manusia itu sendirilah yang akan menaikan dan mengangkat derajatnya sendiri. Bukan Allah yang menempatkannya di sorga yang paling tonggi, namun mereka sendirilah yang menempatkan dirinya di dalam sorga yang paling tinggi. Begitu juga, bukan Allah yang menempatkan seseorang di dalam nereka Jahannam, namun dia sendiri yang memilih kedudukan yang rendah dan hina tersebut.
Semoga menjadi renungkan kita, amin. Wallhu ‘alam
READ MORE - Bertemu Tuhan