marquee

Selamat Datang di Blog Kami

welcome

Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah

Jumat, 10 Agustus 2012

Menjadi Mantera (Muslim transformer)

Entah mengapa, istilah ini ujug-ujug muncul sesaat bangun sahur di hari ke sebelas ramadhan. Kita harus menjadi muslim transformer. Itulah kalimat yang muncul, tak tersadari dari lisanku. Saat itu pun, sesungguhnya, hanya baru beberapa menit saja mata ini terbuka. Bahkan, tubuhpun belum beranjak dari atas ranjang tidur. Benak itu, berulang-ulang, mengajak diriku sendiri, untuk menjadi seorang muslim transformer.

Tanpa berusaha keras untuk mencari tahu makna dibalik istilah itu, kemudian seperti biasa, keluar kamar dengan maksud untuk persiapan makan sahur. Istriku, sudah mempersiapkan tadi sore. Sehingga, persiapan sahur pun tidak terlalu ribet. Paling-paling, kalaupun mau dihangatkan, ya menghangatkan lauk pauknya semata. Itulah rutinitas pagi buta, di setiap sahur ramadhan.
Selepas makan sahur, dan sambil menanti tibanya ibadah shalat subuh. Mulailah menuliskan huruf demi kata, dan kata demi kalimat, mengenai muslim transformer. Kita dituntut untuk menjadi seorang muslim transformer.
Inspirasi utama dalam mewujudkan impian itu, tiada lain adalah dari pengalaman kita dalam berpuasa. Puasa ramadhan, yang kita jalani selama satu bulan penuh ini, merupakan momentum bagi kita, untuk melatih diri, membina diri, mendidik diri, mendisiplinkan diri, dan melakukan perubahan diri secara gradual atau menyeluruh aspek spiritual kita.
Bila dicermati dengan seksama, banyak aspek-aspek ramadhan, yang memiliki nilai pembiasaan. Bahkan, bisa jadi, ramadhan itu adalah bulan pembiasaan (it’s time of habitution). Ketidakpekaan jiwa selama ini, ketidakpedulian kita selama ini, dan keterasingan diri saat ini, dikoreksi total oleh ramadhan. Seorang muslim dituntut, ditantang, dan diajak untuk melakukan transformasi, mengubah diri dari masa lalu ke masa kini, untuk menggapai masa depan. Mengubah diri dari satu kondisi ke kondisi lain.
Misalnya, bila dirinya memang sudah mengikrarkan diri sebagai orang beriman, maka langkah berikutnya adalah dituntut untuk membuktikan keimanan itu dalam bentuk kesungguhan hati dalam menjalankan ibadah puasa. Karena, hanya mereka yang memiliki keimanan terhadap ajaran agama, dan perintah Tuhan itulah, yang menjalankan ibadah puasa. Dalam kaitan ini, seorang muslim harus mampu mentransformasikan dari keyakinan ke dalam perbuatan, dari keimanan pada keamalan.
Setiap muslim yang beriman, merasa yakin bahwa ibadah puasa itu wajib. Tiada seorang pun memiliki hak untuk membatalkan perintah Allah Swt. Aturan main atau pelaksanaannya, harus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dalam Agama Islam, atau disebut dengan syari’. Tetapi, baik untuk mengawali ramadhan, dan atau mengakhirinya (ketentuan tanggal 1 syawal), secara fiqhiyyah sendiri memungkin adanya perbedaan. Untuk konteks Indonesia, fenomena inilah yang sering kali muncul ke permukaan. Dari tahun ke tahun, kita senantiasa dihadapkan pada adanya perbedaan penentuan awal ramadhan, dan awal bulan syawal (idul fitri).
Bila kita tidak sadar diri, tidak peka pada hakikat keislaman, sudah tentu hal-hal seperti ini, akan memudahkan kita mengalami konflik bathin atau malahan konflik sosial. Tetapi, dengan adanya fenomena ramadhan seperti ini pula, kita diajak untuk lahir menjadi seorang muslim yang transformer, yaitu mentransformasikan diri sebagai muslim yang teguh pada keyakinan, tetapi menghargai perbedaan. Perbedaan hasil ijtihad, tidak perlu diartikan sebagai sebuah permusuhan. Perbedaan hasil ijtihad, setidaknya selama ini, masih tetap dimaknai sebagai sebuah kekayaan ilmu Islam. Itulah hakikat dari muslim transformer, yaitu muslim yang teguh pada keyakinan, tetapi tetap menghargai perbedaan.
Kemudian, di tengah perjalanan dan diakhir perjalanan, seorang muslim pun dikondisikan untuk membiasakan mengeluarkan infaq shadaqah. Bahkan di akhir ramadhan, dia diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Kenyamanan dirinya bersahur dan berbuka puasa, serta kebahagiaan diri dan keluarganya menjelang ramadhan, serta merayakan hari kemenangan di idul fitri, perlu diimbangi pula dengan kemampuan untuk peduli pada sesama. Mengeluarkan infaq shadaqah, merupakan contoh dari amalan sosial. Dengan kata lain, di bulan ramadhan ini, seorang muslim diajak untuk mampu menampilkan diri secara aktif dan kreaif mengubah diri, dari muslim individualis ke individu yang peka sosial. Itulah transformasi dari amalan munfaridan ke amalan jama’i atau dari kesalehan individual ke kesalehan sosial.
Terkait dengan mental pun, demikian adanya. Untuk menjadi orang yang peka dan peduli pada sesama, seorang muslim yang perpuasa dikondisikan terlebih dahulu untuk merasakan, menikmati dan menjalami proses lapar dan kelaparan.
Renungkan sejenak. Seorang muslim ini, merasakan dua kondisi, yaitu lapar dan kelaparan. Lapar adalah kondisi tubuh yang merasakan kekurangan asupan makanan. Semua orang atau makhluk hidup, akan merasakan lapar. Tumbuhan yang tidak di siram atau tidak dipupuk, akan merasakan lapar. Hewan yang tidak dikasih makan, juga akan merasakan lapar. Begitu pula manusia. seorang muslim yang berpuasa, di siang harinya, potensial merasakan lapar.
Berbeda dengan kelaparan. Kalau lapar adalah kondisi alamiah, sedangkan kelaparan itu adalah kondisi ketidakberdayaan. Tumbuhan yang kelaparan, karena tidak mendapatkan kesempatan mendapatkan air atau nutrisi tanaman. Hewan yang kelaparan, karena dia tidak mendapatkan kesempatan mengkonsumsi makanan. Seperti itulah yang dirasakan oleh orang yang kurang beruntung. Masyarakat miskin, atau yang kurang beruntung (faqir miskin) bukan saja merasakan lapar, tetapi juga kelaparan. Mereka merasakan kelaparan, karena tidak memiliki daya atau kekuatan untuk memenuhi rasa lapar tersebut.
Kalau seorang muslim yang sedang berpuasa, sesungguhnya hanya merasa lapar saja. Dia tidak kelaparan. Karena, orang yang berpuasa itu, dia tahu dan memiliki optimisme selepas bedug maghrib akan mampu memuaskan kebutuhan biologisnya. Sementara orang papa, dia tidak yakin dan tidak memiliki peluang yang leluasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia memiliki serba keterbatasan. Itulah kelaparan.
Pada konteks itulah, puasa ramadhan, membangun kesadaran pada seorang muslim, dari merasakan lapar untuk bersikap peka peduli pada orang yang sedang mengalami kelaparan. Dari berpuasa itu, seorang muslim, disadarkan atau tersadarkan mengenai umat manusia di luar dirinya. Dia tahu rasanya lapar, dan dia pun dituntut peka dan peduli pada orang yang kelaparan.
Hemat kata, melalui puasa, sesunggunya kita dituntut untuk mentransformasikan rasa lapar ini ke dalam bentuk kepedulian kepada sesama yang mengalami kelaparan. Itulah pendidikan mental sosial melalui puasa.
READ MORE - Menjadi Mantera (Muslim transformer)

Kamis, 09 Agustus 2012

Jika anda tidak sanggup, jangan terima amanah itu ..!!!

Dewasa ini tanggung jawab tidak lagi dianggap sebagai amanah dan sebaliknya amanah pun tidak dipertanggungjawabkan dengan baik. Bahkan kebanyakan menganggap amanah itu adalah anugrah sehingga tidak diherankan setiap orang mendapat posisi, jabatan dan kenaikan pangkat atau karir disambut dengan pesta. Memang tidak salah jika mendapatkan nikmat kita bersykur dan mengekpresikannya dengan rasa senang karena manusia yang baik adalah yang selalu bersyukur jika mendapatkan suatu anugrah dan bersabar jika belum meraihnya. Tetapi, jabatan, posisi dan kenaikan pangkat atau karir pada hakikatnya bukan lah anugrah melainkan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan baik dan dipertanggungjawabkan secara optimal. Sungguh ironis sekali jika ada orang menerima amanah dengan wajah berseri-seri sementara dia tidak kapabel atau tidak melakukannya dengan perfect. Inilah yang disebut dengan kehancuran dan merupakan termasuk penantian kiamat. 

قال عليه الصلاة و السلام : إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة ، قال أبو هريرة : كيف إضاعتها يا رسول الله ؟ قال : إذا أسند الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة (رواه البخاري)

“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari)


Di sisi lain nabi menegaskan:
Redaksi hadist Nabi : "siapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan kekerabatan dan kedekatan, sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya, maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (H.R. al-Hakim)
Kata Amanah berasal dari bahasa Arab amana-ya'manu-amnan atau amanatan yang berarti aman dan tentram. Karena setiap yang dititipkan kepada seseorang dan ia mampu menunaikan dengan baik maka akan berakibat aman dan nyaman bagi si penitip atau yang dititip. Kenyamanan terujud dengan tidak menyia-nyiakan amanah (titipan atau kepercayaan) tersebut. Lawab dari amanah adalah Khianah yang berarti kurang atau tidak aman. sebagai ilustrasi, jika seseorang menitipkan uang 100 ribu kemudian dikembelikan 99 ribu berkurang 1000 maka orang tersebut berkhianat atau membuat titipan tersebut berkurang dan tidak aman lagi. Bagitu juga dengan jabatan, pangkat dan karir jika tidak diemban dengan baik dan rasa tanggung jawab maka dia sudah berkhianat dan mengurangi kualitas jabatan tersebut. Dan termasuklah dia kepada orang-orang yang curang alias munafik.
Dasar Amanah:
1.Alahzab :70
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.” 
Dari ayat di atas disimpulkan jika kita sanggup menerima amanah maka tunaikanlah dengan baik dan seandainya kalau tidak sanggup tidaklah Allah itu marah bahkan Dia senang jika kita menolaknya. Sungguh termasuk orang yang berbuat aniaya (zhalim) dan bodoh (bukan karena tidak tahu) jika dia menerima amanah dan tidak ditunaikan dengan baik dan tepat.
2. Annisa' : 58
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” 
Amanah sama ibaratnya dengan barang dagangan. Dagangan yang berkualitas tentu akan menguntngkan bagi si pemiliknya. Amanah yang ditunaikan dengan baik dan tepat sasaranya pasti memberikan kepuasan khusus bagi si pemilik dan si pemangku amanah tersebut. Menunaikan titipan Allah SWT (agama dan syari'ahNya), rasulNya ( sunnah dan kebiasaan baik beliau) dan amanah sosial (orang tua, anak, keluarga, tetangga, bernegara) adalah bentuk amanah yang harus ditunaikan dengan baik dan adil. Wallahu'alam  
READ MORE - Jika anda tidak sanggup, jangan terima amanah itu ..!!!

Minggu, 05 Agustus 2012

Ramadhan sebagai therapi


Bila diperhatikan dengan seksama. Kadang kita merasa ragu terhadap efektivitas ramadhan. Ramadhan itu adalah therapy spiritual. Di dalamya ada obat yang bisa menyehatkan, sebagaimana janji Rasulullah Saw, shumu tashihu (berpuasalah, niscara kamu sehat). Ramadhan berulang kali hadir, tetapi spiritual kita, terasa tidak pernah beranjak dari status yang lalu-lalu. Mengapa hal itu terjadi ?

Pernahkah memperhatikan orang yang sedang berkonsultasi ke dokter, atau psikiater ? andaipun, tidak memperhatikannya, mungkin kita pernah konsultasi, membicarakan masalah kesehatan kita. Pada saat kita hadir didepan meja kerja dokter atau psikiater, dengan santun, beliau mempersilahkan kita duduk. Setelah duduk, kemudian, beliau bertanya kepada kita mengenai identitas, mulai dari nama, umur dan alamat tinggal. Sampai pada bagian-bagian detilnya, yaitu menanyakan keluhan yang kita alami saat ini.
Apa yang dirasakan ibu ? sudah berapa lama ? makan apa sebelumnya ? atau mengalami apa yang sebelumnya, dan sudah pernah berobat ke mana ? mana obat yang selama ini dikonsumsi ? dan lain sebagainya. Pertanyaan itu, bisa lebih banyak lagi bila dirinci. Pertanyaan itu, bisa lebih banyak lagi, bergantung pada jenis penyakit yang kita rasakan saat itu.
Bagi kalangan tenaga kesehatan, proses seperti ini, disebutnya anamnesis atau proses wawancara. Bagi seorang dokter,wawancara dengan pasien, merupakan kebutuhan mutlak, sebelum melakukan tindakan medis atau perawatan kesehatan.
Betul. Seorang dokter memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi kesehatan. Tetapi, tahapan anamnesis tetap harus dilakukan. Karena melakukan diagnosis, bisa dilakukan dengan cara anamnesis. Bahkan, anamnesis ini, dapat dijadikan informasi tambahan mengenai penyakit yang diderita pasien.
Alangkah malangnya dokter, dan celakanya seorang pasien, bila pasien itu tidak memberikan informasi yang benar. Dokter akan mengalami kebingunan analisis, bila pasien mengemukakan keluhan yang berbeda dengan penyakit yang dideritanya. Ada banyak kemungkinan, dalam menghadapi kasus ini. Pertama, pasien tidak percaya terhadap pernyataan dokter mengenai jenis penyakit yang sedang dideritanya. Dokter mengatakan, “sakit A”, sementara pasien tidak mau mengakuinya. Kedua, dokter akan percaya pada penjelasan pasien, dan memberikan tindakan medis yang sesuai dengan penjelasan pasien itu sendiri. Akhirnya, akan terjadi malpraktek. Ini bisa terjadi, bila petugas kesehatan, bertindak sembarangan, dan hanya menyandarkan pada informasi dari pasien saja. Ketiga, pasien tidak akan menaati treatmen (tindakan) medis dari dokter, seperti obat dan therapi yang lainnya, dan akibatnya keluhan atau penyakitnya itu tidak kunjung sembuh juga.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Kadang kita amat serius, mensikapi masalah kesehatan fisik. Ketika kita merasa ada keluhan, kita langsung mencari dokter (tenaga kesehatan fisik), dengan maksud untuk mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan. Bagaimana dengan kesehatan mental atau kesehatan spiritual kita ?
Ramadhan datang setiap tahun. Tetapi, kita merasa belum memberikan pengaruh nyata terhadap perubahan perilaku, dan perubahan spiritual kita. Bila kita artikan, ramadhan itu sebagai sebuah therapi, apa masalah yang sedang terjadi pada kita selama ini ? mengapa, setiap ditherapi kita belum juga merasa lebih baik, belum juga merasa sehat lagi ? apa yang sedang terjadi pada kita saat ini ?
Mengikuti dan memperhatikan peristiwa serta proses yang kita jalani pada saat meminta bantuan kesehatan kepada dokter fisik, setidaknya, kita menemukan ada beberapa masalah yang potensial terjadi pada kita.
Pertama, kita tidak secara jujur dan terbuka dalam proses anamnesis. Artinya, pernah kita secara jujur pada dirinya, dan kepada Allah Swt, mengenai apa yang menjadi keluhan dalam hidup ini. Pernah kita mengeluhkan hidup ini kepada Allah Swt ? dalam bahasa Agama, pernah kita dzikir atau berdoa kepada Allah Swt ?
Mengeluhkan nasib kepada sesama manusia, hanya akan memperluas pengetahuan orang lain mengenai masalah kita. Masalah kitapun, tidak akan pernah selesai dengan sekedar diobrolkan. Mengeluhkan nasib kita kepada Allah Swt, Allah Swt akan turun menyelesaikan masalah yang tidak bisa dipikul oleh kita. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan, dan serahkan kepada Allah berbagai masalah yang tidak bisa kita pikul. Itulah yang disebut proses anamnesis spiritual seorang muslim dengan Allah Swt.
Setiap hari kita konsultasi dengan Allah. Minimalnya melalui shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Shalat pada dasarnya, adalah waktu konsultasi dengan Allah Swt. Tetapi, sadarkah kita, jujurkah kita, curhatkan kita kepada Allah Swt mengenai apa yang sedang kita hadapi saat ini ? alih-alih curhat dengan jujur dan khusyu, konsultasi dengan Allah Swt, seringkali ditunjukkan seperti orang yang merasa tidak butuh.
Kedua, bila kita abai terhadap pertanyaan Allah Swt, apabila kita tidak serius mencurahkan perasaan dan keluhan hidup kita dihadapan Allah Swt, mana mungkin Allah Swt memberikan solusi terbaik kepada kita ? dokter pun akan abai kepada kita, disaat kita tidak memberikan penjelasan mengenai keluhan yang diderita. Orang yang abai saat konsultasi, bisa diartikan atau bisa dimaknai sebagai orang yang tidak peduli, dan tidak butuh dengan apa yang sedang dialaminya.
Perintah Allah Swt, “berdoalah, niscaya akan Aku Kabulkan”. Ini adalah janji Allah Swt. Artinya, bila kita mencurhatkan masalah hidup kita secara serius kepada Allah Swt, kelak Allah akan memberikan pertolongannya dalam memecahkan masalah-masalah hidup kita. Karena itu, curhatkanlah secara seksama, dengan maksud supaya tindakan spiritual yang Allah Swt berikan kepada kita, dapat menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi saat ini.
Ketiga, jangan-jangan, kita termasuk pada pasien yang nakal. Maksud dari pasien nakal itu, adalah pasien yang tidak mau nurut dengan therapi yang diberikan dokter. Menurut versi dokter, kita dianjurkan minum obat, 3 x 1 dalam sehari. Boro-boro meminum obat sesuai anjuran itu, bahkan obat itu pun dibuangnya sendiri ke tempat sampah. Sesering apapun anda konsultasi dengan dokter, bila therapi yang diberikan dokter tidak dijalani, maka pemulihan kesehatan akan sulit diwujudkan secara efektif.
Ini kisah seorang sahabat. Dia saudah tahu, berpenyakit kolesterol dan diabets. Menurut dokter, dia harus menjaga pola makan dan sejumlah makanan tertentu. Karena merasa sudah sehat, dia abaikan nasehat itu. Tahu-tahunya, kedua penyakit itu kambuh lagi, dan bahkan, penyakit itu sangat parah. Kakinya membusuk, hingga dalam hitungan minggu, beliau tidak bisa diselamatkan lagi. Beliau ini, mengalami nasib buruk, karena mengabaika nasihat dokter mengenai pola makan dan gaya hidup.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang dihadapi oleh kita saat ini. Ramadhan adalah therapi spiritual yang disediakan Allah Swt, untuk meningkatkan kualitas kesehatan hidup kita. Persoalannya, adalah apakah kita menjalani proses ibadah shaum ramadhan ini secara baik dan benar ? apa yang akan terjadi, bila langkah-langkah pengobatan spiritual selama ramadhan ini, tidak kita jalankan ? apakah kesehatan kita akan pulih ?
Terakhir, hal yang paling buruk lagi, seringkali, kenakalan kita dalam menjalani therapi dari dokter, kita malah menyalahkan dokter itu sendiri. Sesudah berkonsultasi berulang kali, tapi tidak juga kunjung sembuh, dia malah menyalahkan tenaga medis tersebut. “Sudah mahal, obatnya tidak manjur”. Dokter tidak profesional. Dokter tidak berkualitas. Umpatan-umpatan itu, dan yang sejeninya berhamburan, sebagai bentuk kekesalan terhadap berbagai therapi yang tidak efektif dalam menyembuhkan penyakit yang dideritanya selama ini.
Bila diperhatikan dengan seksama. Kadang kita merasa ragu terhadap efektivitas ramadhan. Ramadhan itu adalah therapy spiritual. Di dalamya ada obat yang bisa menyehatkan, sebagaimana janji Rasulullah Saw, shumu tashihu (berpuasalah, niscara kamu sehat). Ramadhan berulang kali hadir, tetapi spiritual kita, terasa tidak pernah beranjak dari status yang lalu-lalu. Mengapa hal itu terjadi ? mari renungkan bersama.
READ MORE - Ramadhan sebagai therapi

Rabu, 01 Agustus 2012

Arti Puasa Menurut Alquran

Alquran menggunakan kata 'Shiyam' sebanyak delapan kali. Kesemuanya berarti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali al-Qur;an menggunakan kata shaum, tetapi maknanya menahan diri tak berbicara, "Sesungguhnya Aku bernazar puasa [shauman], maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun," [QS:Maryam[19]:26]. Demikian ucapan Maryam as yang diajarkan Jibril ketika ada yang mempertanyakan kelahiran anaknya [Isa as].

Kata itu juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa adalah baik untuk kamu", dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar yang sama 'sha-wa-ma'.Dari segi bahasa maknanya berkisar pada "menahan" dan "berhenti" atau "tidak bergerak". Kuda yang berhenti di jalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktifitas -apapun aktifitas itu- dinamai 'shaim' [berpuasa].

Pengertian kebahasan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari."

Merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, kaum sufi menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama puasa. Ini mencakup pembatasan seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari segala dosa.

Betapapun, 'shiyam' atau 'shaum' -bagi manusia- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa [keduanya berarti menahan diri] maupun esensinya.

Hadis Qudsi yang menyatakan "Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar [39] ayat 10 yang artinya "Sesunggunya hanya orang-orang yang bersabar lah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas".

Ada kebiasaan kaum Muslim menjelang datangnya Ramadan yaitu dengan mengucap marhaban ya Ramadan. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, kata "marhaban" diartikan sebagai "kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu [yang berarti selamat datang]". Ia sana dengan ahlan wa sahlan yang diartikan "selamat datang".

Meski keduanya berarti "selamat datang", tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, melainkan "marhaban ya Ramadan".

Marhaban terambil dari kata 'rahb' yang berarti "luas" atau "lapang", sehingga marhaban menggambarkan tamu disambut dan diterima dengan lapang dada, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama, terbentuk kata rahbat, yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan".

Marhaban ya Ramadan berarti "Selamat datang Ramadan", maknanya kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya "menggangu ketenangan" dan kenyamanan kita. Marhaban ya Ramadhan kita ucapkan karena kita mengharapkan jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt.

Ada gunung tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng curam, belukar lebar, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tak dilanjutkan.

Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan terbit cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga.

Bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu kekasihnya, Allah swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

Tentu kita perlu mempersiapkan bekal menelusuri jalan itu. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan dalam jiwa dan tekad membaja untuk memerangi nafsu, agar mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, siangnya dengan ibadah melalui pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.

Semoga kita berhasil, untuk itu mari kita buka lembaran al-Qur'an mempelajari bagaimana tuntunannya.
READ MORE - Arti Puasa Menurut Alquran

Rabu, 25 Juli 2012

khawatir hati...

tanpa terasa hidup ini sudah terjalani 34 tahun. lelah tapi tidak selelah orang yang mengalami lebih dari 34 tahun bahkan sampai ratusan tahun. di usia 34 ini tidak ada yang akan menerima karena usia sudah memasuki senja untuk berkarir dalam kepegawaian. kadang masa itu jahat tapi lebih jahat lagi peraturan negeri yang tidak memihak ke publik. peraturan dibuat sesuai selera penguasa negeri. awal nya mau berkarir sebagai diplomat karena kesukaan berspekulasi dalam berbagai bahasa asing. cita-cita awalnya pengen jadi diplomat melalui kemenlu tapi apa hendak dikata semuanya kembali ke peraturan. dibilang faktor nasib belum bertuntung, mungkin Tuhan berkehendak lain. sementara banyak yang lulus tidak melalui tes yang adil dan jujur. KKN membuat orang lain tidak berhasil karena tidak mampu atau mengharamkan sogok, nepotisme dan bentuk kecurangan lainnya..padahal bahasa Arab, Inggris dan sedikit Prancis sudah terkuasai...sungguh tidak adil hidup di negeri ini. keberuntungan hanya milik yang mempunyai akses KKN..setiap hari sedih tapi tidak ada yang mendengarkan, setiap saat air mata bercucuran tapi tidak ada yang peduli..mungkin dosa menumpuk di pundak ini atau Tuhan menguji..bolehkah mencicipi sedikit kebahagian secuil seperti mereka yang memiliki pekerjaan yang tetap dan penuh dengan kenikmatan..ku coba berbisnis tapi Tuhan belum membuka sesuatu ke mata saya...mungkin kekurangan saya adalah tidak bisa berbuat curang seperti yang lain di mana mereka telah berhasil..

oh Tuhan sampai kapan takdir baik untuk ku..
aku juga pengen seperti mereka..
ketawa, gembira dan penuh dengan canda dan tawa
aku pengen jadi diplomat tapi umur sudah sia-sia dengan laju nya masa

READ MORE - khawatir hati...

Selasa, 17 Juli 2012

Ramadhan bukan Maradona

Bulan Sya'ban akan berlalu ramadhan pun melaju. Sungguh luar biasa bulan ini sehingga nabi pun mengistilahkan bulan umatku. Karena memang semua amal ibadah yang dilakukan oleh umat Muhammad SAW dilipatgandakan pada bulan ini dan Allah membuka pintu rahmat, ampunan, dan berkahNya pada bulan shiyam tersebut. Maka tidak diherankan kaum muslimin dan muslimat berlomba dalam kebaikan mulai dari memberi perbukaan bagi orang berpuasa, berinfak untuk para fakir miskin dan sampai hampir setiap waktu shalat datang ke masjid. Namun di sisi lain, Ramadhan dianggap sebagai bulan musiman saja. ketika bulan ramadhan ini berlalu semua kebaikan pun menjadi semu.seharusnya ramadhan adalah discourse atau madrasah penempaan diri agar amal kebaikan semakin meningkat setelah ramadhan. ramadhan adalah workshop untuk perbaikan-perbaikan islam, iman, dan ihsan sehingga selepas ramadhan islam semakin menguat, iman semakin ketat, dan ihsan pun semakin meningkat. akan tetapi itu semua dianggap musiman. padahal alquran menginstruksikan untuk masuk islam secara kaffah (secara menyeluruh). ironisnya juga banyak orang beribadah 10 hari pertama sehingga kuantitas masjid pun penuh tetapi 10 menengah dan akhir masjid pun mulai sepi. padahal nabi menganjurkan umatnya untuk memanfaatkan malam ramadhan dari awal dan akhir bahkan menganjurkan memperbanyak i'tikaf pada 10 akhir ramadhan. Ramadhan seolah-olah dianggap sosok tokoh yang diidolakan seperti seseorang mengidolakan Maradona dengan kelihaiannya mengocek bola. Padahal Ramadhan bukanlah Maradona atau Maradona bukanlah Ramadhan. Ia harus diidolakan selamanya dan secara total.

Bagaimanakah seorang muslim atau muslimah mengisi ramadhannya?

1. Memperbanyak doa
Memperbanyak doa agar :
a. Allah SWT memberi kesempatan kita untuk bertemu Ramadhan.
b. Saat bertemu Ramadhan kita dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
c. Kita bersemangat dalam mengisi Ramadhan dengan berbagai amal shalih.
d. Kita dihindarkan dari berbagai hal yang akan mengganggu upaya optimalisasi Ramadhan.
2. Memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu Ramadhan.
Imam Nawawi berkata: disunnatkan bagi siapa saja yang mendapat kenikmatan baru yang tampak jelas atau bagi yang terhindar dari cobaan yang tampak jelas untuk melakukan sujud syukur atau memperbanyak pujian kepada Allah.
Dan merupakan kenikmatan terbesar saat kita mendapatkan taufiq untuk melakukan ketaatan, dan saat kita memasuki Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat adalah sebuah kenikmatan besar yang patut kita ekspressikan dengan memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT.
3. Bergembira dan ceria atas kedatangan Ramadhan.
Tersebut dalam hadits bahwa Rasulullah saw menyampaikan berita gembira kepada para sahabat tentang kedatangan bulan Ramadhan.
4. Menyusun perencaan yang baik untuk optimalisasi Ramadhan.
Banyak orang menyusun rencana matang dan rinci untuk urusan dunianya, namun, sering sekali lupa menyusun rencana yang baik untuk akhiratnya. Ini pertanda bahwa mereka belum memahami dengan baik missi hidupnya. Karenanya, banyak peluang kebaikan luput dari mereka. Mengingat Ramadhan banyak menjanjikan berbagai kebaikan, sudah selayaknya bila seorang muslim memiliki rencana yang matang dalam hal ini. Buku pendek yang ada di tangan anda ini semoga bisa membantu dalam hal ini.
5. Tekad yang sungguh-sungguh untuk optimalisasi Ramadhan, mengisi waktu-waktunya dengan berbagai amal shalih.
Siapa yang berazam dengan sesungguhnya kepada Allah SWT niscaya Dia akan sungguh-sungguh pula dalam merealisasikan tekadnya serta memberi pertolongan kepadanya untuk berbuat taat dan memudahkan berbagai jalan kebaikan. Allah SWT berfirman:
Tetapi jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Q.S. Muhammad: 21)
6. Ilmu dan pemahaman yang baik terhadap hukum-hukum Ramadhan.
Adalah kewajiban setiap mukmin untuk beribadah kepada Alalh SWT atas dasar ilmu dan pemahaman, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kwajiban-kewajiban yang telah Allah SWT fardhukan atas hamba-hamba-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah puasa Ramadhan. Karenanya, seyogyanya setiap muslim mengetahui masalah-masalah puasa dan hukum-hukumnya sebelum bulan puasa itu datang, agar puasa yang dia lakukan menjadi sah dan diterima di sisi Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui (Q.S. Al-Anbiya’: 7).
7. Bertaubat
Tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa dan keburukan, serta taubat yang benar dari segala kemaksiatan, mencabut diri darinya serta tidak akan kembali kepadanya, sebab bulan Ramadhan adalah syahrut-taubah (bulan taubat), oleh karena itu, siapa saja yang tidak bertaubat pada bulan ini, kapan lagi ia akan bertaubat?
Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung (Q.S. An-Nur: 31).
8. Pengkondisian jiwa dan ruhani
Pengkondisian jiwa dan ruhani melalui bacaan, telaah kitab dan buku, mendengar kaset Islami yang berisi ceramah atau pelajaran yang menjelaskan keutamaan-keutaam puasa dan hukum-hukumnya agar jiwa menjadi kondusif untuk taat. Rasulullah saw telah menyiapkan jiwa dan spirit para sahabat untuk optimalisasi Ramadhan pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda:
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan… (H.R. Ahmad dan Nasa-i).
9. Persiapan dan perencaan yang baik untuk melakukan dakwah,
melalui:
a. Menyiapkan bahan-bahan ceramah yang baik untuk disampaikan dalam kesempatan-kesempatan kultum yang ada.
b. Membagikan buku-buku mau’izhah, dan fiqih terkait dengan Ramadhan.
c. Menyiapkan hadiah Ramadhan. Bisa saja isinya berupa buku, kaset dan semacamnya, lalu dikemas khusus dengan label: bingkisan Ramadhan・
d. Mengingatkan kepada orang-orang yang memiliki kecukupan untuk memperhatikan fakir miskin, memperbanyak sedekah dan menunaikan zakat.
10. Menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran putih bersama:
a. Allah SWT dengan cara bertaubat dengan sesungguhnya.
b. Rasulullah saw dengan cara taat kepadanya dalam hal yang ia perintahkan dan meninggalkan segala yang dicegah dan dilarang.
c. Kedua orang tua, istri/suami, anak-anak, kerabat, sanak famili, handai tolan dan semacamnya.
d. Masyarakat tempat ia bertempat tinggal agar menjadi hamba yang shalih dan bermanfaat. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Seutama-utama manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia





READ MORE - Ramadhan bukan Maradona

Sabtu, 07 Juli 2012

Photo: editorial cartoon di Harian Rakyat merdeka
'AL QUR'AN PUN DIKORUP'' (unpublished)Akhir ini kemenag disorot lagi dengan kasus korupsi pengandaan Alquran. Sehingga banyak yang terlibat dalam kasus ini. sementara Ramadhan sebentar lagi, selama bulan suci kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Pertanyaanya apakah Al-Qur'an yang kita baca masih akan menjadi berkah ketika dia merupakan hasil dari perbuatan korupsi?Pertanyaan ini sedikit ngawur yah? Tapi  jujur sempat terlintas di kepala saya.
Sampai akhirnya teman,  seorang alumni pondok pesantren memberikan jawaban seperti ini:

Persoalan Alquran sebagai bacaan suci dengan korupsi sebagai perbuatan hina itu dua hal yang berbeda. kita tak mungkin menolak naik kendaraan umum, menolak menggunakan baju, makan di restoran hanya karena itu semua dibuat oleh seorang kapitalis atau diciptakan dalam sistem yang kapitalistik

Nah, disinilah titik soalnya sebenaranya bahwa Al-Qur'an adalah 'kitab suci umat islam' dan hasil prodak korupsi sebenarnya adalah dua hal yang sangat berbeda. kesucian Al-Quran dan latar belakang proses kejahatan dibaliknya tidak bisa disatukan.
Zulkarnaen Djabar
Ketika terjadi Kasus korupsi anggaran pengadaan Alquran yang melibatkan kader Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar tidaklah lebih buruk dari prilaku korup lainya yang dilakukan oleh kader partai-partai lainya. Sama korup, sama-sama bejat!

Jadi persoalanya adalah pada sistim politik dan para aktor politik didalamnya. Ini juga menunjukan antara mereka yang menjadikan Partai Islam dan Al-quran serta Tuhan sebagai jualan dan mereka yang berasaskan beragam ideologi baik pancasila, nasionalistik atau apapun namanya 'potensi korupsi juga tetap sama'. Selama model rekrutmen politik kita masih seperti ini, hukum kita banci dan kepemimpinan nasional kita baik dari partai islam dan non islam masih mengunakan syahwat uang sebagai tujuan jangan berharap Al-Quran akan menjadi berkah dan Tuhan membuat 'politisi' takut melakukan korupsi!
READ MORE -