marquee

Selamat Datang di Blog Kami

welcome

Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah

Kamis, 15 Juli 2010

Pendidikan Ala Rasulullah SAW

“Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan dan menciptakan manusia yang cerdas dan pintar dalam suatu disiplin ilmu, akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan hati nurani yang bersih”
Tidak diragukan lagi bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbicara tentang pengajaran atau pendidikan. Dalam surah Al-alaq:96:1-5 kata iqra’ (bacalah) dalam bentuk fi’il amr (kata kerja imperatif) mengindikasikan wajibnya pendidikan dan pengajaran bagi seorang muslim sehingga rasulullah sendiri diajarkan langsung oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril.
Oleh karena itu, salah satu dari tugas kenabian yang diemban Rasulullah saw, adalah membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Hal itu terlihat, dari betapa perhatian Rasulullah saw sangat besar dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tercatat, bahwa ketika umat Islam memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang Badar, banyak dari kaum kafir Quraisy yang menjadi tawanan perang. Rasulullah saw memberikan jaminan kebebasan bagi setiap tawanan untuk bisa menebus diri. Sebagai kompensasi dari kebebasan mereka, beliau memberikan syarat bagi yang mampu mengajarkan umat Islam menulis dan membaca, untuk setiap tawanan sepuluh orang.
Hal itu menunjukan bahwa betapa Rasulullah saw sangat menghargai kemampuan menulis dan membaca, sehingga dijadikan kompensasi kebebasan pada zaman itu, kebebasan biasa ditebus dengan sejumlah besar onta, bahkan bisa mencapai 100 ekor onta. Dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw di atas, tersirat sebuah makna bahwa buta huruf sama dengan kondisi dimana seseorang tertawan, terkungkung dan terbelenggu oleh jeruji keterbelakangan dan kebodohan. Oleh karena itulah, dalam wahyu yang pertama kali turun, banyak kata-kata yang dikenal dalam proses belajar mengajar disebutkan, seperti iqra’ (bacalah), ‘allama (mengajar), al-qalam (pena), ya’lam (mengetahui).
Fungsi kenabian dalam bentuk inilah yang dijelaskan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 129:
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dalam ayat di atas Allah menyebutkan do’a Ibrahim dan Isma’il as. tentang fungsi Rasulullah yang akan diutus untuk manusia, yaitu melepaskan manusia dari belenggu kebodohan. Tugas itu meliputi membacakan teks-teks suci yang merupakan wahyu Tuhan, mengajarkan isi kandungan al-Kitab dan hikmah, serta mensucikan jiwa manusia.
Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Rasulullah saw memiliki tiga ranah; tilâwah, ta’lîm dan tadzkiyah. Dengan mencermati pendidikan di negara kita Indonesia, agaknya sistem pendidikan kita belum lagi menyentuh ketika ranah tersebut. Kita baru sampai tingkat tilâwah dan ta’lîm, yang lebih menekankan sistem penguasaan ilmu melalui hafalan teks-teks dan penguasaan jenis referensi tertentu, serta penguasaan ilmu pengetahuan. Bahkan ada istilah pelajaran UN (ujian Nasional) yang mesti dikuasai oleh siswa dan siswi terfokus kepada empat pelajaran seperti matematika, ipa, bahasa indonesia dan inggris. Sehingga jika salah satu dari pelajaran tersebut didapati dibawah standar yang diharapkan maka siswa dan siswi yang mengikuti bisa gagal. Sementara ranah tadzkiyah yang merupakan aspek psikomotorik yang berupa penanaman nilai-nilai moral dan akhlakul karimah dalam setiap bidang ilmu yang digeluti agaknya belum tersentuh. Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan dan menciptakan manusia yang cerdas dan pintar dalam suatu disiplin ilmu, akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan hati nurani yang bersih. Inilah yang diisyaratkan Tuhan dalam surat al-Kahfi [18]: 65-82, tentang kisah nabi Musa as. yang belajar kepada nabi Khidr as.
Firman Allah swt dalam Surat al-Kahfi [18]: 65:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Dalam ayat di atas, Allah swt menyebutkan bahwa nabi Khaidir diberikan dua jenis pengetahuan. Pertama, rahmatan min ‘indinâ (pengetahuan untuk memahami sesuatu yang tampak nyata). Dan kedua, ‘allamnâhu min ladunnâ ‘ilman (pengetahuan untuk memahami yang tidak tampak). Pengetahuan sesuatu yang tidak tampak ini, biasanya berkaitan dengan aspek moralitas, kerena persoalan moralitas kadangkala kita harus memahaminya melalui pendekatan hati nurani (qalb). Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh nabi Khaidir, mulai dari membocorkan perahu, membunuh anak kecil, sampai memperbaiki rumah yang pemiliknya tidak bersedia membantu dan menjamu mereka. Nabi Musa as. gagal menyelesaikan ujiannya, karena Musa as. selalu menggunakan pendekatan rasionalitas untuk memahami setiap persoalan. Sementara Khaidir as. memahaminya melalui pendekatan hati nurani, karena memang persoalan moral harus memakai hati nurani yang bersih. Dan inilah yang disebut al-hikmah (kebijaksanaan) yang hanya didapatkan bagi orang yang memiliki ketajaman hati, karena diasah dengan ibadah dan akhlakul karimah. Sebuah harapan baru untuk dicermati oleh para penguasa negeri tercinta ini khususnya kementrian dalam bidang pendidikan yang mau mengedepankan pelajaran moral (agama) termasuk penentu kelulusan siswa dan siswi. Karena dengan demikian akan terlahir generasi yang bukan hanya pintar dan cerdas tapi juga bermoral serta bersih.
Ada hal lain yang menarik untuk dicermati terkait dengan pendidikan menurut pandangan al-Qura’an, dengan membandingkan surat al-Baqarah [2] ayat 129 dengan ayat 151. Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah [2]: 151:
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”
Ayat ini adalah jawaban Allah swt terhadap do’a nabi Ibrahim dan Isma’il as seperti yang disebutkan dalam ayat 129 di atas. Namun, terdapat tambahan redaksi pada akhir ayat 151 yaitu wa yu’allimukum mâ lam takûnû ta’lamûn (dan dia mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui). Ini adalah sebuah fungsi inovatif dan kreatif dari tugas nabi Muhammad saw. Pembacaan teks al-Kitab, pengajaran kandungannya serta pendidikan akhlak dan moralitas, adalah wilayah yang sudah sempurna dan tidak akan mengalami perubahan. Sedangkan wilyah ilmu pengetahuan, adalah bagian yang selalu mengalami perubahan ke arah kemajuan, seiring perkembangan zaman dan kemajuan pemikiran manusia. Oleh karena itu, perlu inovasi-inovasi baru ke arah pengembanagan ilmu pengetahuan itu sendiri, sesuai tuntutan zaman dengan tetap memegang teguh prinsip ajaran al-Kitab yang bersifat universal. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita untuk memajukan pengajaran dan pendidikan yang berbasis qur’ani dan mengedepankan moralitas dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan. Karena pendidikan atau pengajaran yang selalu memprioritaskan akhlakul karimah itulah pendidikan yang selamat dan amanat. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar: