marquee

Selamat Datang di Blog Kami

welcome

Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah

Jumat, 30 April 2010

pejabat yg korupsi

Setelah proyek multimilyar dollar selesai, sang dirjen kedatangan tamu bule wakil dari HQ kantor pemenang tender. Udah 7 tahun di Jakarta jadi bisa cakap Indonesia.

Bule: "Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah mercy S 320."

Dirjen : "Anda mau menyuap saya? ini apa-apaan? tender dah kelar kok. jangan gitu ya, bahaya tau haree genee ngasih-ngasih hadiah."

Bule: "Tolonglah pak diterima. kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh kantor pusat."

Dirjen: "Ah, jangan gitu dong. saya gak sudi!!"

Bule (mikir ): "Gini aja, pak. gimana kalau bapak beli saja mobilnya..."

Dirjen: "Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!"

Bule menelpon kantor pusat.

Bule: "Saya ada solusi, Pak. bapak beli mobilnya dg harga rp.10.000,- saja."

Dirjen: "Bener ya? OK, saya mau. jadi ini bukan suap. pake kwitansi ya.."

Bule: "Tentu, Pak.."

Bule menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. dirjen membayar dengan uang 50 ribuan. mereka pun bersalaman.

Bule (sambil membuka dompet ): "Oh, maaf Pak. ini kembaliannya Rp.40.000,-."

Dirjen: "Gak usah pakai kembalian segala. tolong kirim 4 mobil lagi ke rumah saya ya..."

Bule : @#$%^&**(
READ MORE - pejabat yg korupsi

Sabtu, 24 April 2010

kucing kami yang demokrat

Kisah ini terjadi pada tahun 1960, ketika Partai Komunis berkuasa di Rusia.

Di sebuah sekolah dasar di Moskow, Boris yang berusia enam tahun diminta gurunya memberikan contoh sebuah anak kalimat yang menerangkan sifat.

"Kucing kami baru saja beranak lima ekor," kata Boris, "Yang semuanya komunis sejati."

Bukan main senangnya hati pak guru melihat penguasaan Boris akan tata bahasa sekaligus slogan partai. Kalau nanti pengawas pendidikan dating ke sekolah itu, maka gurunya meminta Boris yang menjawab.

Minggu berikutnya, ketika pengawas pendidikan mengunjungi kelasnya, pak guru memberi isyarat pada Boris, agar bocah itulah yang menjawab pertanyaan yang akan dilontarkannya di depan pengawas. Pak guru pun mulai mengajukan pertanyaan.

"Kucing kami baru saja beranak lima ekor," jawab Boris, "Mereka semuanya demokrat sejati..!"

Pak guru kaget dan tergagap. "Ta..tapi Boris, minggu lalu jawabanmu bu.. bukan itu."
READ MORE - kucing kami yang demokrat

Kamis, 22 April 2010

janda, perawan, dan partai politik

Seorang "Janda" yang sudah 3 kali kawin-cerai periksa di dokter kandungan. Waktu dokter mau periksa dalam, terjadi percakapan.

Janda : "Hati-hati periksanya ya dok, saya masih 'perawan' lho ...!"

Dokter: "Lho? Katanya ibu sudah kawin-cerai 3 kali, mana bisa masih perawan ...?"

Janda : "Gini lho dok, eks suami saya yang pertama ternyata impoten."

Dokter: "Oh gitu, tapi suami ibu yang ke-2 gak impoten kan?"

Janda : "Betul dok, cuma dia gay, jadi saya gak diapa-apain sama dia."

Dokter: "Lalu suami ibu yang ke-3 gak impoten dan bukan gay kan?"

Janda : "Betul dok, tapi ternyata dia itu orang 'partai politik'...."

Dokter: "Lalu apa hubungannya dengan keperawanan ibu ...?"

Janda : "Dia cuma janji-janji saja dok, 'gak pernah direalisasikan!!!"

Dokter: "?!?!?!?!????"
READ MORE - janda, perawan, dan partai politik
Kartini dan Feminisme
Berbicara mengenai sejarah berarti berupaya untuk membuka kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kancah kehidupan umat manusia dan berusaha menghadirkan kembali informasi-informasi masa lampau sehingga terasa segar di masa sekarang. Sejarah membantu kita untuk mendapatkan informasi kehidupan yang telah lampau. sejarah selalu kontemporer”, sepatutnya kita renungkan. Sejarah tak akan diungkap kalau tidak ada kepentingan. Sifat sejarah yang paling utama adalah einmalig (unik, sekali terjadi) dan penting (Benedetto Croce).
Ratu Balqis, penguasa wanita yang memilik super power di negeri saba’, Sajaratud- Durr -putri keturunan Salahuddin, pernah mencicipi sebagai penguasa pada dinasti Mamalik, dan para Sulthanah yang pernah berkuasa di Kerajaan Aceh, baik Sulthanah Khadijah, Sulthanah Maryam maupun Sulthanah Fatimah mereka adalah bagian dari sejarah yang telah mengharumkan kaum hawa dan mengangkat image perempuan sebagai makhluk yang sempurna terlepas dari pro dan kontra para ulama terhadap kepemimpinan perempuan berdasarkan derivasi Al-Qur’an:An-Nissa (Q.S. 4/34) artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)”. Sungguh, ayat ini menjadi acuan bagi kasus sa''ad bin Abi Rabi dengan istrinya, Habibah binti Zaid. Habibah telah nusyuz dan Sa''ad memberikan response yang kasar. Dia memukul tubuh istrinya. Kemudian Habibah melaporkan kepada Rasulullah (Saw) dan memohon dengan tujuan agar suaminya dihukumi dengan qishash. Sebelum mereka melakukan qishash, datang ayat. Kemudian, konteks dari surat tersebut adalah untuk masalah keluarga atau masalah domestik bukan untuk dibuka dipublik. Ayat tersebut berkenaan dengan masalah rumah tangga telah disimpulkan secara umum. Sehingga hak wanita untuk isu yang lain telah dihilangkan. Kemudian dikuatkan oleh hadis Nabi:Tidaklah beruntung suatu kaum jika menyerahkan suatu kepemimpinan kepada perempuan. Berdasarkan laporan dari Bukhari dan Ahmad Ibnu Hambali, hal ini dikenal dengan sumber dari hadist adalah Abi Bakrah. Ibn Atsir berkata bahwa hadist ini adalah lemah, karena sanadnya telah cacat. Jika hadist ini sahih sebagaimana pendapat Ibnu Hajar Al-Astqalani, Hadist ini harus diinterpretasikan secara kontekstual. Berdasarkan sejarah, hadist datang kepada Buwaran dari Kisra Persia yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja. Secara faktanya, hal ini dipercaya bahwa dia tidak kredibel dan begitu lemahnya. Orang-orang begitu khawatir tentang kemampuan dia yang
mengakibatkan pengaruh pada politik. Kemudian, hadist ini merupakan hal yang kasuistik. Demikianlah, menolak hak wanita dalam ranah politik sebagai pemimpin berdasarkan perspektif islam tidak didefinisikan secara terinci.
Tulisan ini tidaklah terlalu membicarakan sebuah perdebatan panjang tentang layak atau tidaknya perempuan menjadi pemimpin atau kepala daerah serta menghotspotkan istilah emansipasi wanita. Biarlah publik dan waktu yang menyaksikan skenario keberhasilan pemimpin-pemimpin wanita dalam sejarah dunia. Karena pada hakikatnya makhluk Tuhan itu sama dan Allah tidak membedakan hambaNya melainkan ketakwaan. Meskipun secara priodik sejarah kaum hawa sudah terlupakan yang telah sukses menggerakkan roda zaman. Penulis bermaksud mengajak pembaca sejenak mengamati sebuah kehidupan anak zaman yang telah berlalu, track recordnya masih dikenang dan keberaniannya yang terpuji di seantreo Indonesia, bahkan dianggap layak menjadi seorang pemimpin dialah Raden Ayu Kartini sebutannya.
Tanggal 21 april 1879 terlahirlah seorang perempuan yang ayu, simple, berotak berlian dan dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi dari Jepara Jawa Tengah. Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dengan sikap kesederhanaan di tengah kemewahan yang dimilikinya menjadikan dia sebgai sosok perempuan sekaligus seorang ibu yang luar biasa. Meskipun 21 april tidak termasuk hari libur nasional, namun Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini dan bahkan banyak masyarakat Indonesia, khususnya para ibu-ibu memperingati hari lahir kartini dengan mengisi berbagai acara dan aktifitas kepedulian.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.
Pemikiran-pemikiran cemerlangnya mampu meloncati pagar sosial budaya, geografis serta tembok besar penjara rasa keterkungkungan karena kebodohan dan kemiskinan. Pemikiran-pemikiran berliannya tsb kemudian menjadi salah satu sumber informasi bagi perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari jepitan dinding-dinding penjara yang tidak tampak oleh mata telanjang itu lahirlah pemikiran-pemikiran yang menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu Bangsa Indonesia patut bersyukur ke hadirat Allah SWT karena telah menurunkan seorang perempuan ke bumi pertiwi tercinta yang membawa missi pencerahan bagi kita bangsa Indonesia. Jadi perjuangannya tidak khusus bagi kaum wanita. Terlepas dari kontroversi penulisan sejarah dan sudut pandang para penulisnya, marilah kita samakan nilai sebagai pijakan dulu, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yg dapat menghargai jasa para pahlawannya. Jangan sampai kita berubah menjadi pengikut paradigma yang disampaikan wapres Republik BBM (TV Show), yaitu “bangsa yg besar adalah bangsa yang dapat menertawakan dirinya sendiri”. Sebuah hiburan yang sesungguhnya menyakitkan. Secara kontemporer mungkin paradigma ini ada benarnya juga. Bagaimana tidak tertawa, puluhan tahun kita diperintah oleh sebuah kekuasaan yang awalnya dibentuk dari fotokopi sebuah surat. Ini baru fotokopinya, belum aslinya. Kalau ada yang mempermasalahkan otentiksitas surat-surat Kartini maka wajar-wajar saja, lantaran aslinya tidak ditemukan. Tetapi jauh lebih baik menghargai daripada menertawakan. Banyak hal yang dapat dipelajari dari riwayat RA Kartini.

Pertama adalah semangat untuk keluar dari masalah-masalah diskriminasi, kebodohan dan masalah derivatifnya.
Dari kondisi ini Kartini bagaikan seorang begawan yang dengan kesaktian dan kebijakannya mengeluarkan wejangan-wejangan. Kartini adalah figur pemberontakan intelektual, sosial budaya dan karakter bangsa. Pemberontakannya bukan dengan senjata, tetapi dengan mengedapankan pembentukan kecerdasan dan akhlak mulia. Mari kita bayangkan apa yang kurang pada kondisi kita saat ini. Kita kekurangan orang bijak. Andaikan, setidaknya ada satu orang saja yang mampu berpikir dan berperasaan dan kemudian
mengekspresikannya kedalam tindakan seperti RA Kartini di setiap Kabupaten/Kota di Indonesia, tentu kondisi krisis dan peralihan yang kita alami tidak berlarut-larut hingga kini. Apalagi yang kurang dari Bangsa Indonesia saat ini? Para cerdik pandai negeri ini belum mampu menjadi pelopor pengembangan modal intelektual dan penerapannya yang dilandasi kepedulian sosial.

Kedua adalah belajar strategi. Jauh-jauh Kartini telah menunjukkan langkah yang strategis. Yaitu memilih strategi surat menyurat. Karena dengan surat menyurat yang kemudian dipublikasikan oleh teman-teman korespondensinya yang Bangsa Belanda, relatif tidak terkena sensor penjajah. Kartini mengiklankan keinginannya untuk berkoresponden yang kemudian ditangkap antara lain oleh Stella Zeehandelaar, dan Ny. Abendanon. Kartini ternyata mampu melihat jalan lain. Dia tidak putus asa atas penolakan redaktur koran pada saat itu atas tulisan-tulisannya. Dengan cara ini pula maka terdapat arsip surat-suratnya yang kemudian menjadi bahan-bahan penulisan tentang Kartini.

Ketiga adalah gemar membaca. Dari surat-surat Kartini kepada para korespondennya dapat dilihat bahwa Kartini adalah seorang yang gemar membaca. Tentu saja yang dibaca bukan buku yang berbahasa Jawa atau Indonesia. Melainkan buku yang berbahasa Belanda. Artinya menguasai bahasa asing dengan kata yang lebih tegas adalah wajib. Membaca adalah pintu kemajuan. Adalah Prof. Soedjatmoko (aim) yang mengatakan bahwa bangsa maju adalah bangsa pembaca . Budaya membaca dan menulis lebih baik daripada budaya menonton. Karena dalam membaca dan menulis terdapat internalisasi nilai yang sedang menjadi perhatiannya. Internaslisasi itulah proses belajar. Dan belajar itulah proses untuk keluar dari kemiskinan”.
Kalau saja bangsa kita ini mewarisi sifat gemar membaca dari Kartini mungkin kita sudah melesatcukupjauh dari kondisi sekarang.
Keempat adalah Ibu yang pendidik. Ibu adalah pendidik yang pertama. Konsep ini sesuai dengan konsep-konsep Psikologi perkembangan anak. Untuk memperkuat topik keempat ini, dibawah ini cuplikan dari surat Kartini kepada Prof. G.K. Anton dan Nyonya tahun 1902
“Perempuanlah, kaum ibu, yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati sanubari manusia yang biasanya tetap terkenang sepanjang hidupnya. Bukan tanpa alasan orang berkata baik laki-laki maupun perempuan telah menelannya bersama-sama air susu ibu”.

Cuplikan kedua adalah surat kepada Menteri Jajahan AWF Idenburg:
“Pendidikan yang bukan semata-mata didasarkan pada kecerdasan otak, melainkan yang sungguh-sungguh memperhatikan pembentukan akhlak, karena kecerdasan otak dengan sendirinya perasaan akan menjadi beradab. Begitu banyak contoh yang tak terhitung membuktikan bahwa kecerdasan pikiran yang tinggi masih belum merupakan jaminan yang mutlak untuk keluhuran budi. Sebagai ibu dialah pendidik pertama umat manusia. Di pangkuannya anak pertama-tama belajar merasa, berpikir, berbicara (Dri Arbaningsih, 2005 hal 154-155).
Dari kutipan-kutipan di atas tampak bahwa Kartini mengembangkan konsep ibu cerdas bukan hanya cerdas intelektual tetapi juga emosional dan spiritual. Jauh-jauh konsep pengembangan intelektual, emosionil, dan spiritual yang telah digagasnya mendahului konsep yang dikembangkan Daniel Goleman terkenal dengan Emotional Intelligence and Social Intelligencennya , dan Ary Ginanjar dengan ESQnya, bahkan AA Gym denga MQnya. Kecerdasan dan keintelektualannya tidak dijual apalagi digadaikan untuk intensitas memperkaya diri yang tentu berbeda dengan kebanyakan kaum hawa sekarang berkompetisi merebut sebuah posisi politik atau kepala daerah tertentu yang ditawarkan kepadanya karena ketenaran, popularitas dan kedekatan nepotisme yang dimilikinya sehingga suatu yang tidak layak menjadi layak, suatu yang tabu menjadi halal. Raden Ayu Kartini bukanlah seperti Julia Perez, Ayu Azhari, dan para artis wanita lainnya yang menginternalisai dirinya untuk suatu jabatan demi ambisi pribadi atau sekelompok berorientasi meraup kekayaan. Kartini adalah sosok seorang perempuan mempunyai naluri feminisme, keibuan yang tulus dan ikhlas untuk mencerdaskan anak bangsa ketimbang sibuk membahas gender affair dan emansipasi. Bukankah tepat jika beliau kita anggap ternyata dia benar-benar seorang ibu bangsa yang mempunyai cita-cita memajukan anak- anak bangsa agar terujud bangsa yang bermoral dan mempunyai identitas yang mulia.
READ MORE -

Selasa, 06 April 2010

10 Ucapan Dahsyat Agar Allah Sayang Kita

Menampik Rahmat Ilahi Melalui Shilaturrahmi

Dalam bukunya, Ten Powerful Phrases for Postive People ( 10 ucapan dahsyat untuk orang-orang sukses), Rich De Vos, pendiri Amway Corporation dan Komisaris Orlando Magic NBA mengatakan kata-kata sederhana mengakui “Saya bersalah” atau “Saya percaya padamu” mungkin dapat membantu kita untuk menjalin hubungan yang lebih baik. Baik penguasa atau pemerintah kepada rakyatnya, atasan kepada bawahannya. Begitu juga para pegawai pemerintahan dalam melayani masyarakat. Tentu perseteruan yang populer dengan sebutan “Cicak melawan Buaya” itu tidak akan berlarut-larut. Sebagai sesama yang saling membuthkan semestinya memang tidak begitu. Dalam istilah bahasa Jawa; Ngono yo ngono nanging mbokyao ojo ngono, begitu ya begitu tapi jangan begitu amat.

Lebih lanjut Rich DeVos memaparkan ucapan-ucapan tersebut membuat kita merasa lebih positif terhadap diri sendiri, sekaligus dapat membantu orang lain merasakan hal yang sama tentang diri mereka.

Adapun sepuluh ucapan dahsyat itu, yaitu pertama; “Saya salah”, Rich deVos memilih ucapan itu paling utama kata ucapan itu paling sulit dikatakan dengan tulus. Betapa sangat sulit untuk mengakui kita salah, bahkan kepada diri kita sendiri, dan semakin sulit lagi untuk mengatakannya terutama kepada orang yang kita sayangi dan yang kita ingin menyanyangi kita.

Kedua; “Saya menyesal,” dimana pada saat berkata “Saya salah,” kita juga harus menyesal. Ketika melakukan kesalahan, kita mungkin telah menyakiti orang lain pada prosesnya, maka pengakuan kita harus lebih dari sekedar teknis atau mekanis, tapi menunjukkan kita tulus menyesal. Ketiga; “Kau bisa melakukannya”, sebuah ucapan untuk memotivasi orang bisa melakukan apa pun kalau punya tekad yang kuat. Hal ini sama dengan ucapan keempat; “Saya yakin padamu” sebagai perpanjangan ucapan “Kau bisa melakukannya” tapi lebih personal lagi.

Kelima; “Saya bangga padamu”, ucapan yang terdahsyat ketika kita bersama anak-anak, selain ucapan “Aku sayang padamu” tentunya. Ucapan “Saya bangga padamu” terutama untuk menyemangati orang-orang yang biasanya tidak memenangkan penghargaan atau imbalan dari kehidupan, yang meragukan kemampuan mereka dan sulit mendapatkan sesuatu yang dibanggakan.

Keenam; “Terima kasih”, sebuah kosa kata yang merupakan harapan kita yang berfungsi dengan baik dalam masyarakat kita yang berbudaya. Ketujuh; “Saya membutuhkanmu” adalah kalimat dahsyat untuk orang-orang yang positif karena ucapan itu mengakui bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dan Tuhan menciptakan setiap orang untuk suatu tujuan dan untuk memenuhi kebutuhan.

Kedelapan: “Saya percaya padamu” adalah kalimat dahsyat lainnya yang sangat penting untuk orang-orang positif. Kesuksesan masayarakat kita tergantung pada adanya kepercayaan bahwa seseorang akan melakukan pekerjaan dengan baik, mempercayai kejujuran masing-masing, dan percaya bahwa orang-orang akan menepati janji mereka.

Kesembilan; “Saya menghormatimu” adalah ucapan sangat dahsyat, tetapi rasa benar-benar harus diusahakan dan ditunjukkan. Rasa hormat bersifat timbal balik. Jika kita ingin dihormati, kita juga harus menghormati orang lain.

Terakhir, kesepuluh; “Saya mencintaimu”, sebuah ucapan yang kalau benar-benar kita mengatakannya dengan sepenuh hati akan memiliki kuatan yang sangat besar. “Saya mencintaimu” kalimat dahsyat yang melingkupi semua hal lain. Cara kita merasakan orang lain, apakah itu cinta romantis hubungan keluarga, atau bahkan persahabatan adalah sebuah bentuk cinta, betapa memang kita harus saling mencintai.

Tentu saja sepuluh ucapan tersebut merupakan basement dalam meraih rahmat ilahi dan sebuah kekuatan untuk merajut silaturrahmi.

Manusia, seperti yang dijelaskan Allah swt dalam surat an-Nisa’ [4]: 28 adalah makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah. Bahkan, isyarat tersebut dengan jelas juga Allah sebutkan dalam salah satu ayat-Nya dari wahyu pertama yang diturunkan, surat al-‘Alaq [96]: 2, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari ‘Alaq. ‘Alaq secara harfiyah artinya sesuatu yang menggantung (oleh karena itu, lintah di dalam bahsa Arab disebut juga dengan ‘alaq). Hal itu mengisyaratkan bahwa semenjak awal penciptaannya, manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan kepada pihak lain disebabkan kelemahan manusia itu sendiri. Tidak ada satupun pekerjaan atau aktifitas, sekecil apapun yang bisa dilakukan manusia tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Tertawa atau senyum adalah suatu pekerjaan atau aktifitas yang sangat kecil dan sederhana, namun jika itu dilakukan sendiri atau tanpa adanya orang lain, maka tersenyum atau tertawa sendiri bisa menjadi “petaka” bagi yang bersangkutan.

Oleh karena itulah, manusia dalam kehidupannya memiliki fitrah dan kecendrungan untuk hidup secara bersama dan berkelompok. Jika saja ada manusia yang cendrung hidup sendiri atau individualis, maka dia telah keluar dari fitrah kemanusiaannya. Dan kecendrungan serta keinginan untuk membangun kelompok ini diwujudkan manusia melalui jalan membangun shilaturrahmi.

Shilaturrahmi adalah bagian yang sangat penting dari ajaran Islam. Sebab, tujuan kedatangan Islam adalah menebarkan rahmat (kasih sayang) terhadap seluruh alam dan makhluk. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak sekali kata amal shalih yang seringkali disandingkan dengan kata iman. Akan tetapi, Allah swt. tidak menyebutkan secara rinci apa saja yang termasuk amal shalih itu. Namun demikian, bukan berarti amal shalih tersebut tidak disebutkan jenisnya di dalam al-Qur’an. Di mana Allah swt. memberikan isyarat bahwa untuk mengetahui bentuk-bentuk amal shalih tersebut, perlu melihat kata yang menjadi lawan dari amal shalih itu. Di dalam al-Qur’an kata amal shalih dilawankan Allah swt dengan kata fasâd (kerusakan). Hal itu terdapat dalam surat Shad [38]: 28

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih sama seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?.”

Ayat ini memberikan isyarat bahwa rincian amal shalih itu dapat diketahui dengan merujuk semua bentuk perbuatan fasâd (berbuat kerusakan) yang ada dalam al-Qur’an. Dan di dalam al-Qur’an, minimal ada 11 perbuatan yang disebutkan sebagai perbuatan fasad (kerusakan), di antaranya adalah memutuskan tali shilaturrahmi. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 27

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Dengan demikian, menjalin shilaturrahmi adalah bagian dari amal shalih. Di dalam al-Qur’an setidaknya terdapat 11 pula janji Allah swt. terhadap pelaku amal shalih, di antaranya adalah bahwa Allah menjanjikan mereka dengan pahala dan balasan yang tiada akan pernah terputus. Sehingga, tiadalah ketakutan dan kecemasan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah [2] 277

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Bagaimana mungkin orang-orang yang suka bershilaturrahmi dan memiliki hubungan yang baik dengan sesama akan dihinggapi rasa sedih, cemas dan takut. Sebab, dia tidak memiliki musuh atau siapapun yang akan mendatangkan bahaya kepadanya. Ke manapun dia pergi dan di manapun dia berada, tentu semua orang bisa menerimanya dengan baik. Hal ini, tentu saja berbeda dengan orang yang tidak suka bershilaturrahmi, di mana hidupnya akan terasa sempit dan barangkali saja dia akan diliputi rasa sedih, cemas dan takut di manapun dia berada. Karena, dia tidak memiliki banyak teman, di tambah lagi jika memiliki banyak musuh yang bisa saja sewaktu-waktu mengancam keselamatanya.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia selalu bershilaturrahmi (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nasa’i).

Berdasarkan hadits di atas, setidaknya ada dua keuntungan yang diperoleh bagi yang bershilaturrahmi. Pertama, dilapangkan rezekinya oleh Allah. Pengertian dilapangkan rezekinya bisa dalam arti bahwa Allah memberikan langsung rezeki yang berlimpah kepadanya sesuai janji Allah dalam surat Fushshilat [41]: 8, di mana mereka akan mendapatkan balasan yang sangat besar dan tiada akan terputus. Pengertian dilapangkan rezeki yang lain adalah bahwa dengan bershilaturrahmi, menjalin persahabatan, memperbanyak kawan, relasi, jaringan dan sebagainya akan membuka kesempatan dan peluang kerja. Jika seorang memiliki banyak teman dan relasi tentulah semangat dan kesempatan usaha akan terbuka lebar, akan berbeda halnya dengan orang yang tidak punya banyak teman dan relasi, apalagi punya banyak musuh, bukan hanya merasakan sempitnya lapangan usaha, namun peluang dan kesempatan yang sudah di depan mata pun bisa hilang begitu saja.

Kedua, orang yang suka bershilaturrahmi dan membangun hubungan baik akan dipanjangkan umurnya oleh Allah. Pengertian dipanjangkan umurnya bisa beberapa bentuk, diantaranya orang yang selalu membangun shilaturrahmi dan memilki banyak teman serta hubungan yang baik dengan sesama, sekalipun dia telah meninggal dunia orang lain tetap mengenang dan menyebut-nyebut namanya sebagai orang baik. Bahkan, orang lain masih merasakan kalau dia seakan masih hidup bersama mereka. Berbeda halnya dengan orang yang suka memutuskan shilaturrhami dan memiliki banyak musuh, di mana dengan sangat cepat sekali orang lain melupakannya, bahkan tidak mau mengenang dan menyebut namanya lagi. Pengertian lain dari dipanjangkan umurnya adalah bahwa jika seseorang selalu bershilaturrahmi dan memilki hubungan yang baik dengan sesama serta mempunyai banyak teman dan sahabat, setidaknya dia akan terhindar dari ketegangan hidup (stress). Bukankah stress seringkali memperpendek umur seseorang? Karena, kematian bahkan bunuh diri seringkali dipicu oleh stress dan prustasi menghadapi hidup.

Dengan bershiltaurrahmi setidaknya seseorang bisa menghilangkan rasa stress dengan bercanda dan berbagi cerita melalui banyaknya teman. Jika saja umur tidak bisa diperpanjang, setidaknya “kematian cepat” bisa tercegah dengan banyak bershilaturrahami.

Hal ini penulis sampaikan, dengan melihat gaya dan pola hidup sebagian besar masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini, yang sudah mulai tercabut dari nilai-nilai agama dan budaya yang sudah lama dianut bangsa ini. Di mana semangat shilaturrahmi, kebersamaan, gotong royong sudah mulai pudar terutama bagi masyarkat yang tinggal di daerah perkotaan yang sudah cendrung hidup materialisme dan individualisme. Kesibukan menghadapi rutinitas setiap hari, pergi pagi pulang malam, sehingga jangankan dengan masyarakat di luar sana, dengan tetangga sendiripun shilaturrahmi dan kumunikasi sudah jarang terjadi. Dampaknya, semangat shilaturrahmi dan membangun ukhuwah sudah mulai terabaikan. Betapa seringnya terjadi, di mana sebagian kelompok masyarakat saling tidak mengetahui apa yang terjadi dan menimpa tetanggnya sendiri. Bahkan si pejabat kita yang sok kemana mengemudi mobil2 flat merah tanpa risih dan malu, bahkan hari liburpun digunakan untuk berpergian dg keluarganya. sementara rakyat berjibun menunggu antrian untuk naik angkot. ketika ada ytang mau numpang malah dicuekin. emngnya kamu yg beli tu mobil..begitulah gerutuan rakyat. tp hendak dikata, rakyat hanya bisa bergumam, sementara si pejabat cuek sambil melaju tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Oleh karena itu, marilah kita kembali sama-sama membangun shlitaurrami demi terwujudnya fitrah manusia yang cenderung hidup bersama dan bersifat komunal bukan sendiri atau individual dan dengan kebersamaanlah rahmat ilahi bisa dicapai dengan mudah. Wallahu’alam

READ MORE - 10 Ucapan Dahsyat Agar Allah Sayang Kita