dokumen

marquee

Selamat Datang di Blog Kami, Kumpulan Artikel Islami, Ebook, berminat mengadakan seminar, pengajian ,pelatihan, motivastion solutin,Bintal,Bimbingan manasik haji, Hipnoterapi Call at 081372882814 and donate your fund for islamic development at BSM Rek. 7006428198 an. Robi Kurniawan

welcome

Welcome To Our Blog, Siap Melayani dan Memimbing Ummat

Senin, 31 Maret 2014

Makanan Halal Berbuah Keteguhan dan Keberanian Dalam Jihad


Betapa Sheikhul Jihad Abdullah Azza mengingatkan kepada kita semua, khuusnya para Mujahidin, hanya dengan makanan yang halal, yang akan dapat mengantarkan seseorang ke medan jihad. Sebaliknya, makanan haram, hanya membuat hati menjadi pengecut, dan kehilangan langkah menuju medan jihad.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda :

“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintah orang-orang beriman seperti apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasusl”.

Sesungguhnya orang beriman itu baik makanannya, minumnya, pakaiannya, kehidupannya, perkataannya, matinya, ruhnya dan jasadnya. Maka jadilah kalian orang-orang yang baik agar para malaikat yang baik menyambut kalian seraya mengatakannya :

“Selamat sejahtera bagimu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (QS : Ar-Ra’d : 24)

“Kepada mereka para malaikat mengatakan, ‘Selamat sejahtera bagimu, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS : An-Nisa’ : 32)

Awasilah dirimu, awasilah ibadahmu! Jika tidak, kamu tidak akan mampu meneruskan perjalanan. Untuk itu, sumber  energi yang kamu gunakan haruslah mengandung berkah, makananmu harus dari yang halal, sehingga kamu dapat melanjutkan perjalanan yang mubarak (diberkati) yang mendatangkan buahnya yang diberkahi, dan kamu menjadi seperti pohon yang baik.

“Akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) kelangit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya”. (QS : Ibrahim : 24-25)

Pernah pada suatu ketika saya bersama pemimpin mujahidin Abdur Rabbi Rasul Sayaf. Dia mengatakan padaku, “Kebanyakan do’a yang saya panjatkan kepada Allah di Multazam  dan ketika mengusap Hajar Aswad adalah, semoga Allah memaafkanku dari pertanyaan tentang harta yang telah Dia lelakkan di kedua tanganku.

Meskipun, saya telah berusaha untuk ketat terhadap keluarga dan diri saya sendiri, namun saya menganggap diri saya masih makan dari makanan mujahidin. Demikian pula, saya merasa takut tidak berlaku cermat dan adil terhadap apa yang saya bagi-bagikan kepada mujahidin, sehingga pada saat itu perhitungan dosaku sangat besar di sisi Rabbul ‘Alamin.

Seperti yang telah saya katakan, kalian telah meninggalkan kehidupan dunia dan telah meletakkan nyawamu di telapak tanganmu. Kamu telah menyerahkan ruhmu – yang menjadi modal hidupmu – karena hendak berkorban dengannya. Maka berwaspadalah kamu kepada pengorbanan yang lebih rendah dari pada itu. Mengingat kamu telah mengorbankan yang besar, maka korbankanlah pula yang lebih kecil. Dan sesungguhnya yang demkian itu, betul-betul terasa mudah bagi orang yang dimudahkan Allah atasnya.

Sesungguhnya jalan ini amat panjang dan jauh. Perjalanannya pun amat payah dan menyusahkan . Jihad ini sungguh berat. Tidak ada yang mampu menanggungnya kecuali mereka yang telah diteguhkan oleh Rabbul Alamin. Karena itu, jika engkau mendapatkan dalam hatimu rasa takut untuk memasuki front pertempuran, menghadapi musuh, atau takut untuk memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar, telitilah kembali makananmu. Jika hatimu lemah, maka kelemahan itu pasti datang dari racun haram. Sebagian besar dari rasa ketakutan itu adalah disebabkan oleh makanan. Dan sebagian lagi lantaran panah yang lepas dari mata.

“Sesungguhnya memandang – yang haram – itu adalah anak panah dari anak-anak panah Iblis yang beracun. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku (Allah) akan menggantikan untuknya kemanisan yang ia dapatkan dalam hatinya”.

Jika kamu merasa berat atau takut atau merasa gentar terjun ke kancah peperangan, maka evaluasilah kembali dirimu. Apa penyebab kelemahan yang menimpa hatimu? Apa rahasia rasa ketakutan ini dari dalam diri anak manusia? Padahal, Allah Ta’ala telah menjamin untuk meneguhkan dirimu, jika kamu benar-benar beriman.

“Ingatlah, ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman’. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala-kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”. (QS : Al-Anfal : 12)

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya beriman mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”. (QS : Al-Fath : 4)

Ketenangan adalah tentara yang dimasukkan Allah Rabbul Alamin ke dalam hati orang yang dikehendaki-Nya. Hati yang tumbuh dengan makanan halal, yang tiada berdenyut melainkan dengan keikhlasan kepada Zat yang memiliki sifat kemuliaan dan keagungan. Ketahuilah bahwa lidahmu terkadang bisa merintangai perjalananmu, telingamu terkadang bisa merintangi perjalananmu dan tanganmu bisa merintangi perjalananmu.

Konon ketika Bani Israel ditimpa kemarau panjang, mereka datang kepada salah seorang nabi dan berkata, “Biarkanlah kami keluar untuk meminta pertolongan Allah dan minta hujan”. Kemudian mereka keluar ke lapangan dan menengadahkan tangan mereka ke langit. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya bahwa kalian datang menemui-Ku dengan perut penuh makanan haram, kemudian kalian menginginkan Aku mengabulkan do’a kalian? Kembalillah kalian, sekali-kali Aku tidak akan memedulikan kalian!

Waspadalah selalau terhadap dirimu, terhadap anggota badanmu, terhadap lidahmu, terhadap telingamu, apa yang masuk ke dalamnya, terhadap mulutmu, apa yang masuk dan keluar dari sana, terhadap tanganmu, untuk apa kamu pergunakan, terhadap kakimu, ke mana ia kau bawa pergi. Dan jika kamu berlaku benar, maka sesungguhnya Allah bersama orang-orang beriman. Wallahu’alam

Tidak ada komentar: