dokumen

marquee

Selamat Datang di Blog Kami, Kumpulan Artikel Islami, Ebook, berminat mengadakan seminar, pengajian ,pelatihan, motivastion solutin,Bintal,Bimbingan manasik haji, Hipnoterapi Call at 081372882814 and donate your fund for islamic development at BSM Rek. 7006428198 an. Robi Kurniawan

welcome

Welcome To Our Blog, Siap Melayani dan Memimbing Ummat

Kamis, 12 Maret 2015

“ Sukses Menjadi Pendidik Menurut QS. Quraiys”




guru.JPGOleh: Robi Kurniawan

               





Guru atau istilah sekarang pendidik selalu menjadi sorotan untuk keberhasilan peserta didik dalam ranah formal ataupun non-formal. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kompetensi guru dalam berbagai aspek. Aspek Pedagogik, Profesional, dan Leadership. Kemampuan menguasai metode pembelajaran dan karekteristik peserta didik adalah termasuk kemampuan pedagogik. Sementara kemampuan ahli di bidang yang diampunya adalah bagian dari profesionalitas guru. Tidak hanya saja itu guru juga harus mampu mempengaruhi orang lain atau peserta didiknya dengan seni kepemimpinan yang dimilikinya (Leadership). Leadership adalah seni dalam memimpin atau mempengaruhi orang lain. Tentu pengaruh itu akan ada jika guru bisa melakukannya terlebih dahulu. Seorang guru yang mengajarkan tentang kebersihan sementara dia cuek dengan kebersihan tersebut, seperti keinginan mengambil sampah yang ada di sekitarnya atau ada seorang guru yang berkoar bahwa rokok itu tidak bagus bagi kesehatan, tapi dia sendiri tidak meninggalkan rokok. Maka guru seperti ini belum ada jiwa leadershipnya. Nah, Bagaimana sukses menjadi guru menurut islam?
                Pertanyaan di atas mungkin sering kita dengar dan baca. Jawabannya pun beragam yang kita dapati dari berbagai pakar pendidikan dan orang bijak. Namun sebenarnya, jika kita mau mengkaji lebih intensif dalam Alquran bahwa ada sebuah surat yang secara tekstual diperuntukkan untuk Suku Quraisy namum kontekstualnya berlaku untuk kaum muslimin secara khusus dan umumnya untuk umat lainnya.
                Allah Swt. berfirman dalam QS. Quraisy:1-4:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)
1. karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas[1602].
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).
4. yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
                Surat di atas terdiri dari empat ayat. Ayat-ayatnya secara kontekstual berisi tentang motivasi bagi seorang muslim khususnya guru untuk sukses meniru seperti kesuksesan Suku Quraisy. Dalam tulisan ini kita tidak akan membahas kelebihan Quraisy secara detail. Namum tidak ada salahnya kita mengetahui sekilas keutamaan yang diberikan Allah Swt. kepada mereka. Quraisy merupakan nama sebuah kabilah atau suku, mereka adalah anak keturunan an-Nahdhir bin Kinanah. Semuan keturunan Bani Nahdhir merupakan orang-orang yang berasla dari Quraisy, tetapi tidak bagi keturunan bani kinanah. Pendapat lain mengatakan bahwa orang Quraisy adalah anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nahdir. Oleh karenannya, orang yang tidak terlahir dari keturunan Fihr bukanlah kaum Quraisy. Pendapat yang paling shahih dan lebih tepat yakni Quraisy merupakan kembali berkumpul setelah tercerai berai, kata at-taqrisy artinya berkumpul dan bersatu. Allah SWT telah memberi kelebihan kepada kaum Quraisy yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum maupun sesudahnya, Allah memberi keunggulan kepada kaum Quraisy karena berasal dari kalangan mereka, bahwa kenabian muncul di tengah mereka, penjagaan ka’bah dan pengaturan pemeliharaannya untuk orang yang memegang kuncinya.
Hadis tentang kepemimpinan dari Quraisy dapat ditemukan dalam kitab hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Salah satu hadis tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَهْلِ أَبِي الْأَسَدِ عَنْ بُكَيْرٍ الْجَزَرِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا فِي بَيْتِ رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى وَقَفَ فَأَخَذَ بِعِضَادَةِ الْبَابِ فَقَالَ الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ وَلَهُمْ عَلَيْكُمْ حَقٌّ وَلَكُمْ مِثْلُ ذَلِكَ مَا إِذَا اسْتُرْحِمُوا رَحِمُوا وَإِذَا حَكَمُوا عَدَلُوا وَإِذَا عَاهَدُوا وَفَّوْا فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.
Waki’menceritakan kepada kami (berkata) al-A’masy menceritakan kepada kami (yang berasal) dari Sahl Abi al-Asad (yang bersumber) dari Bukair al-Jazari (yang berasal) dari anas berkata : Kami (ketika) berada di rumah salah seorang sahabat Anshar, Nabi saw datang hingga berhenti kemudian memegang tiang pintu lalu bersabda :”Para imam (pemimpin) adalah dari Quraisy, Mereka memiliki hak atas kamu, dan kamu memiliki hal yang sama. Ketika kamu minta belas kasih mereka memberi belas kasih. Ketika mereka memerintah, mereka adil, dan ketika mereka berjanji, mereka menetapi. Barang siapa dari mereka yang tidak berbuat demikian maka laknat Allah dan Malaikat dan seluruh menusia untuk dia.

            Kembali ke inti tulisan ini. Untuk menjadi seorang pendidik yang sukses adalah:

a.       Kebiasaan (لِإِيلَافِ)
Kebiasaan adalah rutinitas yang dilakukan secara sadar. Kebiasaan baik yang selalu dilakukan tentu akan memberi kesan baik terhadap orang lain. Begitu juga sebaliknya jika kebiasaan buruk selalu dipupuk maka tidak hanya merugikan guru sendiri tetapi juga orang lain. Bukankah ada pepatah yang mengatakan Siapa yang menanam, ia akan menuainya nanti. Jika seorang guru menanam kelapa tentu akan memanen kelapa. Tidak mungkin seorang yang menamam cabe akan memanen durian. Buah dari kebiasaan itu akan bisa dirasakan dan dihargai jika tidak bertentangan dengan agama dan kehidupan sosial. Bisa karena terbiasa.
b.       Quraiys (قُرَيْشٍ)
Kata ini berasal dari قَرَشَ   yang bisa berarti  suka berkumpul, ikan paus, dan suka berfikiran positif.
           
            Keberhasilan seorang guru tidak terlepas dari karekter yang dimilikinya. Di antaranya suka berdiskusi, keberanian dalam menyampaikan kebenaran, dan selalu berfikir positif.
c.        Kebiasaan mereka  melakukan perjalanan di musim dingin dan panas إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ) وَالصَّيْفِ)
Ayat ini secara tekstual menjelaskan kebiasaan Suku Quraiys melakukan perjalanan dagang pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam (Syiria). Kebiasaan ini bukanlah hal yang isendentil atau mendadak tetapi sudah direncanakan terlebih dahulu. Seharusnya mereka melakukan perjalanan itu pada musim dingin ke Syam dan musim panas ke Yaman. Tetapi sebaliknya mereka tidak melakukan hal itu. Inilah yang namanya strategi dagang. Mereka sudah membaca peta perdagangan dan kebutuhan yang dibutuh oleh ke dua wilayah tersebut.
Seorang guru harus memiliki strategi dan wawasan. Wawasan tentu tidak hanya satu mazhab. Mereka boleh mengambil pendapat Imam Syafii, Maliki, Hanafi, dan Hanbali serta boleh menyakini satu mazhab tapi tidak fanatisme. Perbedaan tidak menjadikan polemic. Karena perbedaan hal yang unik dan menarik.
Ilustrasi strategi ini bisa kita baca cerita berikut  dan kita jadikan sebagai bahan untuk menambah wawasan dan strategi sebagai guru yang ingin sukses. Ada seorang raja yang matanya tidak ada sebelah kiri. Si raja meminta para pelukis untuk melukisnya. Sehingga dipanggil tiga orang pelukis. Pelukis pertama, coba kamu lukis saya, kata si raja. Kemudian pelukis tersebut melukis raja dengan mata sebelah kirinya tidak ada. Spontan raja marah dan memerintahkan pengawalnya untuk membunuhnya. Dipanggil pelukis kedua. Melihat kawannya dipancung, si pelukis kedua melukis si raja dengan kedua mata yang utuh. Kemudian si raja juga marah dan si pelukispun dipancung. Pelukis ketiga pun dipanggil. Pelukis ini berfikir dan belajar dari pengalaman dua pelukis sebelumnya ia bertanya dala hatinya, apa yang membuat mereka dibunuh?. Akhirnya pelukis tersebut melukis si raja membidik sesuatu dengan panahnya. Spontan si raja senang, karena dalam lukisan itu si raja membidik sambil memejamkan mata kirinya. Si pelukis pun tidak dibunuh tapi raja malah menikahkan putrinya dengan pelukis tersebut.
Kondisi pelukis pertama adalah orang yang jujur tidak cerdas. Pelukis yang kedua adalah oportunis (penjilat). Yang ketiga adalah jujur dan cerdas dalam melihat situasi. Keberhasilan ditentukan sejauh mana kemampuan guru mencermati kondisi dan fakta. Seperti kemampuan Suku Quraiys membaca peta perdagangan.
d.       Mengabdi kepada Yang Memiliki Kabah (فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ)
Kesuksesan tidak akan terlepas dari intervensi Allah Swt. maka tunaikanlah semua kewajiban atas
dasar keihklasan kepadaNya. Segala sesuatu yang dilakukan karena mengharap ridho ilahi, maka kegiatan tersebut akan diberkahi. Bukankah keberkahan tujuan dari kehidupan ini. Dan Allah Swr. tidak suka orang yang beramal bukan karena Allah. Bahkan amalan itu akan ditolak. Allah Swt. akan menjamin kelangsunagan hidup seseorang tersebut jika benar-benar mengabdi kepadaNya. Jaminan itua adalah:

1.       Terhidnar dari rasa lapar (الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ)
2.       Diberikan rasa aman (وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ)
Bukankah yang kita harapkan di dunia ini adalah terhindar dari kelaparan dan keamanan yang optimal. Semua itu akan terpenuhi jika pengabdian kepada Allah Swt. lebih diutamakan dari segala-segalanya. Wallahu alam
Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua. Khususnya untuk cik gu

Tidak ada komentar: