marquee

Selamat Datang di Blog Kami

welcome

Berbagi itu Indah dan Senyum itu Sedekah

Kamis, 19 Agustus 2010

Arti Sebuah Nikmat Kemerdekaan

“kemerdekaan yang sebenarnya adalah keterbebasan seseorang dari hawa nafsu yang berlebihan dan terhindar dari kezaliman segelintir orang”
Sudah merupakan hal yang Fenomenal setiap datangnya bulan Agustus, bangsa Indonesia menyambutnya dengan penuh suka cita. Sebab, bulan tersebut adalah saat di mana bangsa Indonesia mendeklarasikan dan sekaligus memperingati hari kemerdekaanya. Di mana-mana, berbagai macam acara dan keramaian dilaksanakan oleh masyarakat Indoneisa. Pemandangan yang seperti ini, sepertinya sudah menjadi rutinitas bangsa ini. Karena memang pesta dan perayaan, merupakan salah satu wujud syukur kita kepada Allah. Dan kemerdekaan adalah salah satu dari ni’mat Allah swt yang diberikan-Nya kepada manusia yang mesti disyukuri. Seperti disebutkan Allah swt dalam surat al-Ma’idah [5]: 20
“Dan ingatlah, ketika Musa berkata kepada kaumnya, wahai kaumku, ingatlah ni’mat Allah atas kamu Dia telah menjadikan banyak nabi untukmu dan telah menjadikan kamu bangsa yang mardeka.”
Begitu juga, hal yang sama Allah sebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 49, surat al-A’raf [7] : 141, dan surat Ibrahim [14]: 6. Namun demikian, pesta dan perayaan bukanlah satu-satunya bentuk syukur. Apalagi dengan menghabiskan budget yang berlebihan dan menghamburkan uang untuk merayakan kemerdekaan tersebut. Padahal di sisi lain masyarakat masih menderita kelaparan dan kekurangan di berbagai hal.
Minimal ada tiga bentuk syukur yang mesti dijalankan manusia yang beriman terhadap ni’mat Allah swt.
Pertama, syukur dengan hati yaitu menyadari dan meyakini bahwa ni’mat yang diterima tersebut, semuanya berasal dari Allah swt. Tidak satupun yang diperolehnya kecuali atas kemurahan-Nya. Orang yang bersyukur dengan hati, akan senantiasa merasa senang, ridha, dan puas dengan segala pemberian Allah swt kepadanya, sekalipun kecil menurut pandangan dan ukuran manusia. Bahkan, orang yang bersyukur dengan hati akan tetap memuji Tuhan, sekalipun ditimpa musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan. Sebab, dia meyakini bahwa Allah swt bisa saja memberikan musibah yang jauh lebih besar dari yang sedang dia hadapi.
Seseorang yang selalu bersyukur dengan hati akan memandang semua pemberian Allah itu besar, dan melihat musibah yang dia terima itu sangat kecil. Bukankah dalam surat al-Baqarah [2]: 155, Allah swt mengatakan bahwa betapa besarnya cobaan, ujian, atau bencana tetap saja kecil bila dibandingkan kenikmatan yang telah diperoleh atau dengan bencana yang bisa didatangkan-Nya. Dan bukankah manusia ketika ditimpa suatu musibah seringkali mengatakan kalimat “untung begitu, coba kalau begini”, atau “untung masih begini coba kalau begitu” dan seterusnya.
Bangsa Indonesia secara sadar telah mengatakan dalam pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan yang diraih adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Itulah bentuk syukur bangsa kita dengan hati. Mudah-mudahan kita tidak seperti Qarun yang diberi ni’mat begitu banyak oleh Allah swt, namun mengingkari bahwa ni’mat itu berasal dari Allah, bahkan dengan lantang dia berkata “Semua ini saya peroleh berkat kepandaian dan ilmu saya…”( Baca. QS. Al-Qashash [28]: 76-82). Sehinggga dengan kekafirannya itu, Allah swt membenamkannya dan kekayaan serta pembantu-pembantunya ke dalam tanah.
Kedua, bersyukur dengan lidah dalam bentuk ucapan alhamdulillâh. Kita memuji Allah swt atas segala ni’mat yang telah deberikan-Nya. Sesuai dengan perintah-Nya dalam surat adh-Dhuha [93]: 11
“Maka terhadap ni’mat Tuhanmu sebutlah.”
Ketiga, syukur dengan perbuatan dan tidakan, seperti yang diperintahkan Allah swt kepada Nabi Daud as dan keluarganya “Berbuatlah (yang terbaik dengan ni’mat itu) wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur (QS. Saba’[34]: 13). Nabi Daud telah mencontohkan bagaimana dia berbuat yang terbaik dengan ni’mat yang telah diberikan Allah swt, yaitu dengan kekuatan yang dimilikinya dia mampu menyelamatkan bangsanya dari ketertindasan. Dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, dia menciptkan kemakmuran rakyatnya sehingga pada masa Daud dan Sulaiman as. bani Israel mencapai puncak kejayaan yang belum pernah dicapai bangsa lain pada masa itu.
Apapun bentuk ni’mat yang diberikan Allah swt. pasti punya maksud dan tujuan yang dibebankan kepada manusia untuk melakasanakannya. Misalnya, Allah swt menciptakan laut untuk manusia dengan tujuan manusia memanfaatkannya secara maksimal untuk kepentingan dan kemashlahatan semua manusia. Seperti yang disebutkan Allah dalam surat an-Nahl [16]: 14
“Dan Dia telah menundukkan laut supaya kamu memakan apa yang ada di dalamnya berupa daging yang segar dan kamu mengeluarkan perhiasan darinya untuk kamu pakai dan engkau lihat bahtera berlayar di atasnya supaya kamu mencari karunia dari laut itu mudah-mudahan kamu bersyukur.”
Dengan demikian, Allah menciptakan laut supaya manusia mengambil manfaat yang begitu banyak darinya, demi terciptanya kemashlahatan dan kebaikan manusia secara keseluruhan, bukan untuk kepentingan satu orang atau sekelompok orang. Hal itu tersirat dari penggunaan dhâmir (kata ganti) bentuk jama’ (banyak). Namun, bila ni’mat yang telah diberikan Allah tidak dipergunakan sesuai tujuan Sang Pemberi, maka ni’mat itu pasti dicabut dari manusia itu dan akan diganti dengan azab.
Dalam al-Qur’an, surat an-Nahl [16]: 112, Allah menyebutkan sebuah perumpamaan;
“Dan Allah membuat sebuah perumpamaan terhadap suatu negeri (Qaryatan)yang dahulu aman, tentram, rezeki datang dari segala tempat namun negeri itu kemudia kafir terhadap ni’mat Allah maka Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.”
Kita tidak tahu negeri mana yang dimaksud Allah swt, karena bentuk kata Qaryatan (sebuah negeri), bentuknya nakirah/indifinite (tidak tentu). Apakah negeri itu negeri kita, Indonesia? Wallahu a’lam.
Negeri kita yang begitu subur, air di mana-mana, tumbuhan apa saja ditanam akan tumbuh dan berbuah. Bahkan, ada ungkapan sebuah nyanyi “tongkat kayu bisa jadi tanaman”, tanpa dipupuk ia akan tetap berbuah. Namun demikian, kita tetap menjadi bangsa yang miskin, terpuruk, dihinggapi busung lapar, hilangnya rasa aman dan sebagainya. Kenapa itu terjadi? Mungkin, bangsa kita kurang bisa bersyukur mempergunakan ni’mat kesuburan ini, sehingga walaupun kaya tetap saja menjadi negara miskin.
Allah swt menyebutkan sebuah contoh negeri yang kondisinya seperti yang disebutkan dalam perumpamaan Allah di atas, yaitu negeri Saba’ seperti yang diceritakan dalam surat Saba’[34]: 15-19. Negeri Saba’ adalah sebuah negeri yang subur, aman, damai, tentram (baldatun thayibatun wa rabbun ghafûr). Negeri ini pernah dipimpin oleh seorang ratu yang bijaksana. Rakyatnya hidup sejahtera dengan kesuburan dan kekayaan alam yang melimpah, disamping penguasanya yang adil dan bertaqwa. Bahkan, mereka mampu menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat masyarakat manapun pada masanya, yaitu bendungan Ma’rib yang merupakan bendungan raksasa pertama di dunia, dan juga salah satu keajaiban dunia. Namun dengan berlalunya waktu, penduduknya tidak bisa mensyukuri kekayaan yang melimpah tersebut. Generasi berikutnya tidak mampu memelihara dan menggunakan karunia Tuhan, bendungan tidak lagi dijaga, alam tidak lagi dipelihara dan digunakan untuk kemashlahatan bersama. Akhirnya, Tuhan mengutus sailul ‘iram (banjir bah) yang menghancurkan bendungan dan negeri yang subur itu. Kesuburan berobah menjadi kegersangan, kebun-kebun yang semula berbuah lebat, besar dan manis berubah menjadi kebun yang berbuah kecil dan pahit (jannataini dzawatai aklin khamthin wa atslin). Rakyatnya yang semula kaya dan menjadi tuan-tuan negeri, berubah menjadi miskin hingga mereka terpaksa berpindah ke berbagai negeri mencari lahan baru, dan sebagain menjadi babu dan pembantu di negeri lain.
Bangsa bani Israel dalam catatan sejarah juga mengalami hal yang sama, akibat kekufuran mereka terhadap ni’mat Tuhan. Dalam surat al-Ma’idah[5]: 20 di atas, Tuhan menyebutkan bahwa bangsa bani Israel diberikan banyak ni’mat di antaranya kemerdekaan. Nabi Musa as. menyelamatkan mereka dari penindasan Fir’aun di Mesir, hingga mereka pulang ke Palestina dan membangun peradaban. Puncak kejayaan meraka terjadi pada masa nabi Daud dan Sulaiman as. Namun, generasi sesudahnya tidak mampu mensyukuri ni’mat kemerdekaan itu. Mereka saling bermusuhan dan seringkali terjadi perpecahan di antara sesama mereka. Akhirnya, mereka kembali dijajah berkali-kali oleh bangsa lain, mulai dari bangsa Babil di bawah pimpinan Nebukkadnezer, bangsa Yunani dibawah pinpinan Iskandar Agung, bangsa Persia, dan bangsa Romawi. Mereka mengalami penindasan dan penghinaan sepanjang sejarah akibat ketidakmampuan mereka bersyukur kepada Allah.
Itulah yang dimaksudkan Allah dalam surat Ibrahim [14]: 7
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Dalam surat ar-Rahman [55], Allah swt mengungkapkan banyak sekali pertanyaan kepada manusia. Hampir dalam setiap menyebutkan dua ni’mat-Nya, Tuhan bertanya “Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustai?”. Pertanyaan ini terulang dalam surat tersebut, sebanyak 31 kali. Menurut analisa ulama, 8 pertanyaan pertama berkenaan dengan ni’mat Allah swt di dunia, 7 pertanyaan untuk ni’mat bebas dari ancaman neraka, 8 pertanyaan ke dua untuk ni’mat sorga pertama (sorga di dunia), dan 8 pertanyaan ketiga untuk ni’mat sorga ke dua (akhirat). Sehinga, surat ar-Rahman mengandung sebuah isyarat Allah swt, bahwa siapa yang mampu mensyukuri ni’mat di dunia, dia akan terbebas dari 7 buah neraka Tuhan dan dia boleh memasuki 8 sorga Tuhan, dari pintu manapun dia ingin memasukinya.
Oleh karena itu, marilah kita bersykur atas ni’mat kemerdekaan ini dengan cara berbuat yang terbaik dalam kapasitas kita masing-masing untuk kemajuan bangsa dan Negara. Karena kemerdekaan yang sebenarnya adalah keterbebasan kita dari hawa nafsu yang berlebihan dan kezaliman segelintir orang. Mari menjadi yang terbaik dan senantiasa memberikan yang terbaik untuk sebuah kemerdekaan. Sehingga kita bisa menjadi bangsa yang besar dan bermartabat di mata Allah swt dan di mata dunia.
READ MORE - Arti Sebuah Nikmat Kemerdekaan

Kamis, 15 Juli 2010

Pendidikan Ala Rasulullah SAW

“Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan dan menciptakan manusia yang cerdas dan pintar dalam suatu disiplin ilmu, akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan hati nurani yang bersih”
Tidak diragukan lagi bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbicara tentang pengajaran atau pendidikan. Dalam surah Al-alaq:96:1-5 kata iqra’ (bacalah) dalam bentuk fi’il amr (kata kerja imperatif) mengindikasikan wajibnya pendidikan dan pengajaran bagi seorang muslim sehingga rasulullah sendiri diajarkan langsung oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril.
Oleh karena itu, salah satu dari tugas kenabian yang diemban Rasulullah saw, adalah membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Hal itu terlihat, dari betapa perhatian Rasulullah saw sangat besar dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tercatat, bahwa ketika umat Islam memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang Badar, banyak dari kaum kafir Quraisy yang menjadi tawanan perang. Rasulullah saw memberikan jaminan kebebasan bagi setiap tawanan untuk bisa menebus diri. Sebagai kompensasi dari kebebasan mereka, beliau memberikan syarat bagi yang mampu mengajarkan umat Islam menulis dan membaca, untuk setiap tawanan sepuluh orang.
Hal itu menunjukan bahwa betapa Rasulullah saw sangat menghargai kemampuan menulis dan membaca, sehingga dijadikan kompensasi kebebasan pada zaman itu, kebebasan biasa ditebus dengan sejumlah besar onta, bahkan bisa mencapai 100 ekor onta. Dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw di atas, tersirat sebuah makna bahwa buta huruf sama dengan kondisi dimana seseorang tertawan, terkungkung dan terbelenggu oleh jeruji keterbelakangan dan kebodohan. Oleh karena itulah, dalam wahyu yang pertama kali turun, banyak kata-kata yang dikenal dalam proses belajar mengajar disebutkan, seperti iqra’ (bacalah), ‘allama (mengajar), al-qalam (pena), ya’lam (mengetahui).
Fungsi kenabian dalam bentuk inilah yang dijelaskan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 129:
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dalam ayat di atas Allah menyebutkan do’a Ibrahim dan Isma’il as. tentang fungsi Rasulullah yang akan diutus untuk manusia, yaitu melepaskan manusia dari belenggu kebodohan. Tugas itu meliputi membacakan teks-teks suci yang merupakan wahyu Tuhan, mengajarkan isi kandungan al-Kitab dan hikmah, serta mensucikan jiwa manusia.
Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Rasulullah saw memiliki tiga ranah; tilâwah, ta’lîm dan tadzkiyah. Dengan mencermati pendidikan di negara kita Indonesia, agaknya sistem pendidikan kita belum lagi menyentuh ketika ranah tersebut. Kita baru sampai tingkat tilâwah dan ta’lîm, yang lebih menekankan sistem penguasaan ilmu melalui hafalan teks-teks dan penguasaan jenis referensi tertentu, serta penguasaan ilmu pengetahuan. Bahkan ada istilah pelajaran UN (ujian Nasional) yang mesti dikuasai oleh siswa dan siswi terfokus kepada empat pelajaran seperti matematika, ipa, bahasa indonesia dan inggris. Sehingga jika salah satu dari pelajaran tersebut didapati dibawah standar yang diharapkan maka siswa dan siswi yang mengikuti bisa gagal. Sementara ranah tadzkiyah yang merupakan aspek psikomotorik yang berupa penanaman nilai-nilai moral dan akhlakul karimah dalam setiap bidang ilmu yang digeluti agaknya belum tersentuh. Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan dan menciptakan manusia yang cerdas dan pintar dalam suatu disiplin ilmu, akan tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan hati nurani yang bersih. Inilah yang diisyaratkan Tuhan dalam surat al-Kahfi [18]: 65-82, tentang kisah nabi Musa as. yang belajar kepada nabi Khidr as.
Firman Allah swt dalam Surat al-Kahfi [18]: 65:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Dalam ayat di atas, Allah swt menyebutkan bahwa nabi Khaidir diberikan dua jenis pengetahuan. Pertama, rahmatan min ‘indinâ (pengetahuan untuk memahami sesuatu yang tampak nyata). Dan kedua, ‘allamnâhu min ladunnâ ‘ilman (pengetahuan untuk memahami yang tidak tampak). Pengetahuan sesuatu yang tidak tampak ini, biasanya berkaitan dengan aspek moralitas, kerena persoalan moralitas kadangkala kita harus memahaminya melalui pendekatan hati nurani (qalb). Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh nabi Khaidir, mulai dari membocorkan perahu, membunuh anak kecil, sampai memperbaiki rumah yang pemiliknya tidak bersedia membantu dan menjamu mereka. Nabi Musa as. gagal menyelesaikan ujiannya, karena Musa as. selalu menggunakan pendekatan rasionalitas untuk memahami setiap persoalan. Sementara Khaidir as. memahaminya melalui pendekatan hati nurani, karena memang persoalan moral harus memakai hati nurani yang bersih. Dan inilah yang disebut al-hikmah (kebijaksanaan) yang hanya didapatkan bagi orang yang memiliki ketajaman hati, karena diasah dengan ibadah dan akhlakul karimah. Sebuah harapan baru untuk dicermati oleh para penguasa negeri tercinta ini khususnya kementrian dalam bidang pendidikan yang mau mengedepankan pelajaran moral (agama) termasuk penentu kelulusan siswa dan siswi. Karena dengan demikian akan terlahir generasi yang bukan hanya pintar dan cerdas tapi juga bermoral serta bersih.
Ada hal lain yang menarik untuk dicermati terkait dengan pendidikan menurut pandangan al-Qura’an, dengan membandingkan surat al-Baqarah [2] ayat 129 dengan ayat 151. Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah [2]: 151:
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”
Ayat ini adalah jawaban Allah swt terhadap do’a nabi Ibrahim dan Isma’il as seperti yang disebutkan dalam ayat 129 di atas. Namun, terdapat tambahan redaksi pada akhir ayat 151 yaitu wa yu’allimukum mâ lam takûnû ta’lamûn (dan dia mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui). Ini adalah sebuah fungsi inovatif dan kreatif dari tugas nabi Muhammad saw. Pembacaan teks al-Kitab, pengajaran kandungannya serta pendidikan akhlak dan moralitas, adalah wilayah yang sudah sempurna dan tidak akan mengalami perubahan. Sedangkan wilyah ilmu pengetahuan, adalah bagian yang selalu mengalami perubahan ke arah kemajuan, seiring perkembangan zaman dan kemajuan pemikiran manusia. Oleh karena itu, perlu inovasi-inovasi baru ke arah pengembanagan ilmu pengetahuan itu sendiri, sesuai tuntutan zaman dengan tetap memegang teguh prinsip ajaran al-Kitab yang bersifat universal. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita untuk memajukan pengajaran dan pendidikan yang berbasis qur’ani dan mengedepankan moralitas dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan. Karena pendidikan atau pengajaran yang selalu memprioritaskan akhlakul karimah itulah pendidikan yang selamat dan amanat. Wallahu a’lam
READ MORE - Pendidikan Ala Rasulullah SAW

Kamis, 24 Juni 2010

Dajjalisme dan Euphoria Piala Dunia

Siapa yang tak mengenal sepak bola, baik kecil, besar, tua dan muda menyukai nya. Bahkan kalau ditanya seluruh manusia di dunia ini pasti mengenal dan menyukai sepak bola. Begitulah yang sedang terjadi Saat ini, gelegar Piala Dunia 2010, hampir terdengar di seluruh pelosok negeri. Saat ini, negeri Nelson Mandela, Afrika Selatan, menjadi sejarah perhelatan sepak bola terbesar di dunia untuk tahun ini. Euphoria terdengung di mana-mana. Sebuah prestise dipertahankan dan harga diri bangsa diagungkan melalui piala dunia. Makanya tidaklah diherankan jika setiap duta negara berusaha merebut tropi emas tersebut sebagai lambang kegaghan negara mereka.
Ahmad Thomson, seorang penulis muslim britis dan ketua persatuan pengacara muslim dalam bukunya Dajjal: the AntiChrist (1997) atau “Sistem Dajjal” menyebutkan bahwa Dajjal akan muncul sebagai individu, sebagai gejala sosial budaya global dan sebagai kekuatan gaib yang tidak tampak. Dan saat ini yang baru muncul adalah fenomena yang terkait dengan tatanan sosial, budaya, politik, pendidikan, ekonomi, hukum dan moralitas yang mengalami kekacauan (chaos) akibat dari kekuatan atau ideologi yang tidak nampak tadi. Sedangkan Dajjal sebagai individu menurut Thomson memang saat ini belum nampak.
Namun yang harus digaris bawahi adalah bahwa dalam sistem Dajjal ini nilai-nilai yang ditawarkannya adalah seperangkat nilai yang bertentangan dengan iman dan tauhid, semuanya berbasis syahwat, materi serta berusaha menggiring manusia kepada kekufuran, karena memang worldview dari sistem Dajjal ini adalah kekufuran sejati.
Lalu bagaimana koherensi gerakan Dajjalisme ini dengan fenomena euphoria atau gila piala dunia yang membuat gegap gempita setiap sudut bumi dari timur dan barat selatan maupun utara. Sejenak mari kita review kembali ingatan kita akan fenomena kerusakan moral dan sosial akibat gerakan Dajjalisme di lapangan hijau ini baik di tingkat dunia maupun lokal.
Mungkin masih hangat dalam ingatan kita bagaimana fatwa mufti Al-Azhar yang mengharamkan fanatik sepakbola terhadap para supporter mesir ternyata tidak mendapat tanggapan, yang terjadi malah sebaliknya para supporter fanatikus sepakbola dari negeri pyramida itu justru terlibat kerusuhan dengan sesama supporter Al-jazair setelah pertandingan prakualifikasi piala dunia yang dimenangkan Aljazair November 2009 lalu, ironis sepakbola rupanya lebih legit ketimbang fatwa sang mufti.
Kerusuhan antar supporter akibat fanatik sepakbola bukan hal yang aneh lagi dalam ingatan kita, Tragedi Heysel, Belgia, pada Piala Champions Eropa tahun 1985 memakan korban nan memilukan, disusul empat tahun kemudian meletus tragedi Hillsborough dikota Sheffield pendukung fanatik Liverpool meregang nyawa sia-sia lagi-lagi karena tumbal sepakbola. Kemudian mari kita tengok bumi pertiwi kita ini, fenomena kerusuhan Jakmania, The Viking, Bobotoh atau Bonek, Aremania, Hooligan Mania, ikut mewarnai kerusakan moral dan sosial akibat “agama baru” bernama sepakbola ini.
Kemudian mari kita jalan-jalan sejenak ke negara Jerman sana, ummat muslim Jerman menjadi saksi atas pelecehan terhadap Islam dan Rasulullah yang dilakukan oleh supporter klub Schalke lewat yel-yel lagu klub mereka, dimana dalam lagu tersebut tersembul bait yang menyebutkan “Muhammad adalah seorang Nabi yang tidak memahami sepakbola,, Namun dari semua warna yang ada Nabi memilih warna kebesaran Schalke, biru dan putih,” jelas hal tersebut merupakan penghinaan dan membuat muslim jerman marah..lagi-lagi logika sepak bola sudah menjadi “agama baru” bukan hanya sekedar olahraga bagi para fanatikusnya. Dalam piala dunia saat ini entah mana lagi yang akan dijadikan tumbal fanatisme dan logika “agama baru” tersebut dan kita pun dipaksa untuk “mengimaninya”
Agaknya sentilan penuh canda yang cukup menohok dari seorang ustadz, beliau mengatakan bahwa saat piala dunia tengah berlangsung maka dapat dipastikan sebagian umat Islam akan rajin “qiyamulail (shalat tahajjud)” setiap malam, kiblatnya adalah televisi dan wiridnya adalah teriakan “Goaalllll…!!! Goaaallll..! atau mungkin wirid lain yang membuatnya lebih khusyu sampai matahari pagi tersenyum kepadanya.
Namun disaat yang sama dibelahan bumi Islam disana, Palestina, Irak, Afghanistan, Patani Thailand dan lainnya tengah berkecamuk mempertahankan akidah dan berlomba-lomba menjemput syahid fi sabilillah demi membeli syurganya Allah dengan tetesan darahnya. Mereka berjuang melawan kebiadaban tentara zionis, berhadapan dengan mortir mematikan yang siap menyalak setiap saat mengantarkan para mujahidin menuju syahid fi sabilillah. Sedangkan kita masih terlena dalam buaian Dajjalisme berselimut euphoria semu seraya berteriak dalam igauan mimpi..Goaaaalllllll…!!
Padahal Allah swt telah menegaskan dalam al –Qur’an (Al-Hadid:57: 20)
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Dan dari sudut lain protokol Zionis Versi Rothchild mnyebutkan “Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan”. Naudzubillahi min zalik

Pandangan islam terhadap euphoria piala dunia

Dalam kitab Bughyatul Musytaq fi Hukmil lahwi wal la'bi was sibaq (kemaksiatan yang berasal dari permainan dan perlombaan yang melalaikan) disebutkan, "Para ulama Syafiiyah telah mengisyaratkan diperbolehkannya bermain sepak bola, jika dilakukan tanpa taruhan (judi). Dan, mereka mengharamkannya jika pertandingan sepak bola dilakukan dengan taruhan. Dengan demikian, hukum bermain sepak bola dan yang serupa dengannya adalah boleh, jika dilakukan tanpa taruhan (judi)."
As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitabnya Bulughul Umniyah (harapan yang tinggi) halaman 224 menjelaskan, "Dalam pandangan syariat, hukum bermain sepak bola secara umum adalah boleh dengan dua syarat. Pertama, sepak bola harus bersih dari unsur judi. Kedua, permainan sepak bola diniatkan sebagai latihan ketahanan fisik dan daya tahan tubuh sehingga si pemain dapat melaksanakan perintah sang Khalik (ibadah) dengan baik dan sempurna.
Syekh Abu Bakar Al-Jazairi dalam karyanya Minhajul Muslim (pegangan seorang muslim) halaman 315 berkata, "Bermain sepak bola boleh dilakukan, dengan syarat meniatkannya untuk kekuatan daya tahan tubuh, tidak membuka aurat (bagian paha dan lainnya), serta si pemain tidak menjadikan permainan tersebut dengan alasan untuk menunda shalat. Selain itu, permainan tersebut harus bersih dari gaya hidup glamor yang berlebihan, perkataan buruk dan ucapan sia-sia, seperti celaan, cacian, dan sebagainya." Konkritnya, semua pertandingan khususnya sepak bola halal selagi tidak merusak dan mengikis akidah serta ibadah seseorang.
Dan bagaimana dengan hukum menyaksikan pertandingan tersebut? Berkaca pada kebolehan bermain sepak bola tersebut, menonton atau menyaksikannya juga diperbolehkan. Tentu saja ada syarat-syarat yang harus terpenuhi.
Menyaksikan pertandingan tersebut diperbolehkan asal bersih dari segala bentuk perjudian dan taruhan, tidak membuka aurat, tidak ikhtilat (campur-baur antara laki-laki dan perempuan), tidak diiringi dengan minuman keras, dan tidak melanggar norma-norma agama lainnya.Dengan demikian, jelaslah hukum dari permainan sepak bola itu. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam telah mengatur segala bentuk kehidupan umat manusia, termasuk dalam hal berolahraga.
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Maidah [5]: 3). Mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan di tengah-tengah euphoria piala dunia yang sedang menggema di belahan bumi. Wallahu A'lam.
READ MORE - Dajjalisme dan Euphoria Piala Dunia

Kamis, 17 Juni 2010

Mereview Makna Jahiliyah dalam al-Qur’an

Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan dengan munculnya video mesum mirip seleberitis papan atas Indonesia yang dilakoni oleh Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Bak gayung bersambut, secepat mungkin massa merespon aksi-aksi pornografi yang ditampilkan dalam adegan tersebut. Besar, kecil, tua dan muda mengutuk tindakan para pelaku adegan dan penyebar video tersebut sehingga bermunculan opini publik menganggap sebuah kejahatan individual dan cyber crime. Sungguh hal yang memalukan, jika hal ini benar. Apakah ini disebut dengan jahiliyah modern di tengah hedonisme kemajuan ataukah peradaban yang permisif di tengah glamoritas kehidupan yang heterogen.
Kata jahiliyah adalah sebuah kata yang sudah sangat populer di kalangan umat Islam. Kata jahiliyah dipahami sebagai suatu masa sebelum kemunculan Islam; merupakan masa yang penuh dengan kegelapan, kebodohan, serta jauh dari peradaban. Agaknya, mengartikan jahiliyah dengan pengertian di atas tidaklah seluruhnya salah. Karena jahiliyah secara harfiyah memang berarti kebodohan. Akan tetapi, menyebut bangsa Arab sebelum Islam sebagai bangsa yang bodoh dan jauh dari peradaban juga tidak sepenuhnya benar. Sebab, sejarah mengakui bahwa pada masa sebelum kemunculan Islam, bangsa Arab merupakan bangsa yang sangat maju dalam seni berbahasa. Bahkan, semenjak masa sebelum Islam sampai sekarang, tidak ada satupun bangsa di dunia ini, yang bisa menyamai kemampuan seni berbahasa bangsa Arab. Oleh karena itulah, al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar, yang salah satunya dari segi keindahan bahasanya.
Akan tetapi, jika kita mencermati kata jahiliyah di dalam al-Qur’an, kita akan menemukan makna jahiliyah lebih kepada arti sikap-sikap hidup yang negative. Dan jahiliyah tidak hanya terbatas kepada masa sebelum kemunculan Islam, akan tetepai bersifat umum; kapanpun dan di manapun asalkan sikap-sikap itu dimiliki sebuah masyarakat, maka sebutan masyarakat jahiliyah layak di sandang mereka. Ada empat kali kata jahiliyah disebutkan di dalam al-Qur’an;
Pertama, surat Ali ‘Imran [3]: 154
“…sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah….”
Dalam ayat di atas, kata jahiliyah menunjukan sikap hidup berupa buruk sangka dan penuh kecurigaan. Begitulah salah satu sikap hidup yang dimiliki masyarakat Arab sebelum kelahiran Islam. Mereka hidup dengan saling curiga, saling mencari aib, kekurangan orang lain dan jauh dari rasa saling menghargai. Mereka lebih senang memiliki banyak musuh daripada banyak kawan. Sehingga, salah satu ajaran pokok al-Qur’an adalah menghilangkan rasa buruk sangka dan curiga kepada orang lain (Q.S. al-Hujurat [49]: 12).
Jika kita cermati bangsa kita, ternyata sikap ini sudah sangat melekat dalam budaya anak bangsa ini. Di mana saling curiga dan cari kesalahan adalah hal yang sudah begitu dekat dengan kehidupan kita. Rakyat yang selalu curiga kepada pemimpin, para pemimpin dan elit bangsa sendiri yang saling curiga dan saling cari kesalahan, saling mencari kambing hitam atas sebuh musibah, hanya bisa menunjukan kekurangan orang lain, namun tidak bisa memberikan masukan, hanya bisa mengkritik tetapi tidak bisa memberikan solusi. Begitulah bentuk jahiliyah pada abad modern yang dipertontontakn bangsa ini.
Kedua, surat al-maidah [5]: 50
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,…”
Ayat di atas, membicarakan jahiliyah dalam makna hukum; di mana berlaku hukum di tengah masyarakat Arab sebelum Islam, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, yang banyak menindas yang sedekit dan seterusnya. Tidak ada belas kasih dan sikap mendahulukan kepentingan orang lain. Sehingga, ajaran moral yang terpenting di dalam al-Qur’an adalah berbuat ihsan “mendahulukan kepentingan dan kebahagian orang lain” (QS. An-Nahl [16]: 90).
Jika kita jujur mencermati bangsa ini, ternyata pola hukum jahiliyah juga menjadi ciri kehidupan bangsa ini. Masih hangat dalam ingatan kita ketika seorang nenek mencuri tiga biji kopi berakhir dengan penjara satu bulan lima belas hari, dua orang pria mencuri semangka karena haus dan lapar berhadapan dengan elit penguasa dan penjara sampai lima tahun, tregedi Pasuruan 15 September 2008 dua tahun yang lalu, zakat yang berujung maut, 21 orang tewas dan belasan lain dirawat di rumah sakit, memperlihatkan betapa anak bangsa ini tidak lagi memperhatikan kebaikan dan kemashlahatan orang lain. Mereka bersedia menginjak dan membunuh sesama hanya untuk mendapat 30.000 rupiah. Mereka hanya melihat diri mereka, tanpa memperhatikan orang lain, sehingga yang kuat menindas dan menginjak yang lemah. Lihat; betapa korban yang meninggal dan terinjak adalah para wanita dan orang tua. Orang yang kuat tidak lagi membantu yang lemah, tetapi malah mnginjak dan membunuh mereka. Andai saja budaya antri dan mau di atur sudah menjadi bagian dari budaya bangsa ini, tentulah insiden seperti itu tidak akan terjadi. Belum lagi para wakil rakyat yang heboh minta jatah dan anggaran, para penguasa yang tidak peduli terhadap jeritan dan tangisan rakyat. Inilah gambaran hukum jahiliyah yang dipertunjukan bangsa ini.
Ketiga, al-Ahzab[33]: 33
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…”.
Kata jahiliyah dalam ayat di atas menjukan sikap hidup negatif yang pernah dipertunjukan wanita jahiliyah, berupa cara berpakian dan berpenampilan. Kata tabarruj, secara harfiyah berasal dari kata buruj/baraj, yang berarti benteng/tower. Benteng/tower dinamakan buruj karena, letaknya yang tinggi, sehingga jika kita memandang dari kejauhan yang pertama terlihat adalah benteng/tower yang ada di tempat tersebut. Tabarruj artinya menjadi fokous pandangan dan perhatian orang banyak.
Dahulu, Wanita jahiliyah berpakaian sangat “norak”, hiasan yang mencolok serta tampilan lain yang pada akhirnya menjadi objek pandangan mata manusia. Oleh karena itu, tidaklah salah jika pada masa sebelum Islam, wanita tidak dihargai dan mendapatkan pelecehan seksual dari kaum lelaki. Oleh karena itulah, di antara ajaran moral dalam Islam adalah bagaimana mansuia khususnya para wanita seharusnya berpakaian, menjaga mata dan nafsu seks (QS. An-Nur [24]: 31)
Akan tetapi, pemandangan yang sama juga dengan mudah ditemukan hari ini. Para wanita muslimah – katanya - menampilkan pakaian yang sangat minim, tipis, sempit, dengan berbagai macam bentuk perhiasan dan kosmetik, sehingga penampilan para wanita sekarang betul-betul menjadi objek yang menghibur mata lelaki. Oleh karena itu, mall-mall di mana-mana dipadati para remaja dan anak muda bukan untuk berbelanja, tetapai hanya untuk “cuci mata”- meminjam istilah anak muda sekarang-, karena di sana akan dengan mudah di temukan para wanita yang menampilkan kecantikan tubuh mereka melalui balutan busana minim.
Keempat, surat al-Fath [48]: 26
“Ketika orang-orang yang tidak beriman menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah…”
Kata jahiliyah dalam ayat di atas, menunjukan makna keangkuhan, kesombongan, mudah tersinggung, pendendam, pemarah, serta jauh dari sikap lemah lembut. Oleh karena itulah, al-Qur’an mengajarkan bagaimana supaya manusia menjadi makluk pemaaf dan tidak mengingat kesalahan orang lain. (al-Ma’idah [5]: 12).
Sikap jahiliyah ini juga menjadi bagian dari cirri kehidupan bangsa ini, betapa bangsa ini sangat dekat dengan pola kehidupan yang penuh kekerasan, perkelahian dan kesadisan. Bangsa ini sudah sangat jauh dari sifat pemaaf. Adalah persoalan kecil sangat sering memunculkan pekelahian massal, perekelahian antar nagari dan antar kampung, tawuran antar pelajar, mahasiswa, rakyat jelata dengan aparat penegak hukum sperti satpol PP, Polisi dan TNI, sesama penegak hukum seperti polisi dengan TNI, tidak terkeculai anggota DPR di Senayan bahkan di daerah yang katanya merupakan kelompok elit dari bangsa ini yang berperan sebagai duta rakyat. “Main sikut” dan “gontok-gontokan” adalah ciri khas bangsa ini.
Demikianlah sepintas interpertasi tematik makna jahiliyah. Jahiliyyah bukan hanya berarti bodoh, tapi juga bermakna sombong, membuat orang lain resah, tidak peduli kepada orang-orang miskin, dan hidup slalu mementingkan diri sendiri. Sampai kapan kita akan menjadi bangsa Jahiliyah? Apakah kita akan menunggu datangnya nabi kembali? Yang pasti jawaban tentu tidak, sebab kenabian sudah berakhir. Bangsa ini hanya bisa meninggalkan tradisi jahiliyahnya, jika semua memiliki niat yang sama untuk mau berubah. Perubahn harus dilakukan secara kolektif dan universal. Wallahu a’lam
READ MORE - Mereview Makna Jahiliyah dalam al-Qur’an

Kamis, 10 Juni 2010

Tanda Kehancuran Israel

Tanda Kehancuran Israel

Saat ini, Bangsa Yahudi telah memperlihatkan keangkuhan dan kesombongannya terhadap dunia, terutama kaum muslimin palestina. Sehingga menuai protes dari berbagai Negara terhadap tindakan keji yang mereka lakukan di bumi kudus tersebut. Mereka tidak menghiraukan lagi norma-norma kemanusian bahkan menyerang para relawan dari manca Negara yang datang secara sosial membantu penduduk di sana. Namun, tanpa mereka sadari justru hal itulah yang menjadi awal kehancuran mereka. Begitulah yang diinformasikan Allah swt dalam al-Kitab termasuk al-Qur’an al-Karim surat al-Isra’ [17]:4-6
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam al-Kitab “sesungguhnya kamu pasti berbuat kerusakan di bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepada kamu hamba-hyamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela masuk ke kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepada kamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantu dengan harta kekayaan serta anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.”
Begitulah gambaran al-Qur’an terhadap bangsa Israel atau Yahudi, bahwa ketika mereka telah berada pada puncak kesombongan dan kezaliman, Allah swt akan mengutus satu kelompok kuat yang akan menghancurkan dan memporak-porandakan mereka. Betapa sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan bangsa Yahudi selalu jatuh bangun akibat kesombongan mereka sendiri.
Dalam catatan sejarah, bangsa Yahudi telah mengalami banyak penyiksaan akibat ulah kesombongan dan kedurhakaan mereka setelah meninggalnya nabi Sulaiman as. yang merupakan puncak kejayaan Yahudi. Pada tahun 606 SM, berkali-kali Nebukadnazer penguasa Babil menindas mereka. Bangsa Yahudi ditawan, disiksa dan dijadikan budak-budak. Pada tahun 598 SM, kembali bangsa Babil melakukan penyerangan ke daerah Yerusalem, dan korban kali ini lebih banyak dari sebelumnya bahkan raja Yahudza dijadikan tawanan dan kuil Sulaiman dihancurkan serta kitab suci mereka dibakar.
Beberapa waktu kemudian, bangsa Israel sadar dari kesalahan mereka dan bertaubat sehingga mereka mampu bangkit dan kondisi mereka kembali membaik. Setelah empat puluh tahun berada dalam kekuasan kerajaan Babil muncullah kekuatan baru, Persia. Kerajaan ini melakukan penyerangan kepada bangsa Babil dibawah pimpinan Koresy. Kerajaan Persia akhirnya mampu menaklukan kekuasaan Babil pada tahun 538 SM. Ketika itulah bangsa Yahudi dapat sedikit bernafas dengan lega, dan pada tahun 530 SM mereka diperkenankan kembali ke Yerusalem dan mendirikan kerajaan baru di sana sebagai imbalan atas kerjasama mereka mengalahkan bangsa Babil. Namun demikian, mereka tetap berada di bawah kekuasan Persia. Pada masa kekuasaan/penjajahan Persia itulah Zurabbael seorang bangsawan keturunan nabi Daud as kembali membangun tempat peribadatan bekas bangunan Daud dan Sulaiman yang pernah dihancurkan kerajaan Babil. Dan Uzair kembali menulis kitab suci yang masih teringat dan disimpan kembali di mihrab tempat peribadatan itu. Ketika itu bangsa Yahudi tidak mengerti lagi bahasa Ibrani, mereka menggunakan bahasa Aramiya disamping mereka tidak lagi mengesakan Tuhan sebagaimana ajaran nabi Daud dan sulaiman, dan para pemuka agama Yahudi melakukan berbagai penyimpangan ajaran tauhid. Kemusyrikan dan ajaran pagan menjangkiti masyarakat Yahudi bahkan mereka kembali kepada keangkuhan dan kesombongan dan berbuat kerusakan di bumi..
Ketika itulah datang kekuatan baru dari Makedonia, Iskandar Zulkarnain yang berhasil menyerang dan mengalahkan kekarajaan Persia. Iskandar Agung kemudian menaklukan Yerusalem pada tahun 333 SM. Pada masa inilah dilakukan gerakan helenisasi dalam segala bidang. Nama-nama orang Yahudi pun diganti dengan nama Yunani. Orang-Orang Yahudi kemudian dihinakan dan dipaksa menari tanpa busana.
Selanjutnya sedikit demi sedikit kondisi bangsa Yahudi kembali membaik, karena kekuasaan sedikit berpihak kepada mereka. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama setelah jatuhnya Yerussalem ke dalam kekuasaan Mesir (Ptolomy) sekitar tahun 166 SM. Kemudian mereka bangkit lagi dibawah pimpinan salah seorang keturunan Bani Israel hingga tahun 40 SM. hal inipun tidak bertahan lama, karena munculnya kekuatan baru yaitu bangsa Romawi. Bangsa Yahudi berkali-kali melakukan pemberontakan, namun berhasil ditumpas atas kerjasama bangsa Romawi dengan Yosephus Ibn Mattas (seorang penghianat Yahudi) di bawah pimpinan Titu, putera Kaisar Vespasianus (39-81M). Ini terjadi sekitar tahun 70 M. Baitullah yang berada di Yerusalem dibakar habis, dan ratusan ribu orang Yahudi dibunuh.
Selanjutnya sekitar tahun 132-135 M timbul lagi pemberontakan yang dipimpin oleh Simon Bar Kozinah, dan kali ini penghancurannya dilakukan oleh Adrianus. Tidak kurang dari 580.000 orang Yahudi mati terbunuh.
Salah seorang penguasa yang diangkat Romawi yang bernama Herodus, berupaya mengobati hati orang Yahudi dengan membangun sebuah haikal atau tempat peribadatan di lokasi tempat kuil sulaiman yang sebelumnya telah dihancurkan. Tetapi ibu Kaisar Kostantin, Helena memerintahkan agar tempat itu dijadikan tempat pembuangan sampah, dan tiang-tiang tinggi yang semula direncanakan membangun tempat peribadatan Yahudi diarahkan untuk pembangunan gereja di suatu lokasi yang diduga makam nabi Isa as.
Begitulah bentuk penghancuran, penindasan, dan penghinaan yang diterima bangsa Yahudi akibat kesombongan dan kedurhakaan mereka. Begitu juga ketika Islam datang, Nabi Mihammad saw melakukan perjanjian damai dengan mereka di Madinah. Namun kemudian mereka mengingkarinya, sehingga umat Islam terpaksa mengusir mereka dari kampung mereka, seperti yang dilakukan kepada bani Nadhir dan bani Quraizhah.
Demikianlah perjalanan bangsa Yahudi yang selalu jatuh bangun akibat kesombongan mereka. Setiap kali mereka menyombongkan diri, saat itu pula kehancuran sudah menanti mereka, dan saat itu juga pasukan Allah akan datang untuk menghancurkan mereka. Wallahu a’lam
READ MORE - Tanda Kehancuran Israel

Sabtu, 29 Mei 2010

Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Setiap makhluk diberikan Allah fitrah atau naluri untuk hidup berkelompok. Kelompok-kelompok tersebut dibangun biasanya berdasarkan unsur kesamaan yang mereka miliki. Kelompok makhluk Tuhan inilah yang disebut dengan nama ummat, dan manusia adalah salah satu bentuk kelompok tersebut. Akan tetapi, dari sekian banyak bentuk ummat, dalam al-Qur’an terdapat istilah khairu ummah yang berarti umat terbaik; sebuah penamaan yang diperuntukan bagi umat Islam. Kata Khairu Ummah tersebut terdapat dalam surat Ali ‘Imran [3]: 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ…
Artinya: “Adalah kamu sebaik-baik umat yang diutus untuk manusia menyuruh berbuat baik (ma’ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar dan beriman kokoh kepada Allah…”
Ummat seperti yang telah disebutkan, ia diartikan sebagai suatu kelompok yang dihimpun oleh suatu kesamaan. Kesamaan itu bisa agama, waktu, tempat, jenis dan sebagainya. Oleh karena itulah, burung yang diikat kesamaan jenis sebagai binatang yang memiliki sayap dan terbang, dalam al-Qur’an disebut umat. Seperti yang terdapat dalam surat al-An’am [6]: 38
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ....
Artinya: “Dan tidak satupun binatang melata di bumi dan tidak pula burung yang terbng mengembangkan kedua sayapnya kecuali mereka adalah umat-umat seperti kamu…”
Umat Muhammad saw adalah umat terbaik dari semua aspek yang mengikat kesamaan tersebuat. Misalnya dari sisi agama, betapa tidak karena Allah swt telah menegaskan dalam surat al-Maidah [5]: 6, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku sempurnakan atas kamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agamamu”. Agama Islam yang dibawa nabi Muhammad saw adalah agama yang paling terakhir dan paling sempurna. Sebab, tidak ada lagi nabi yang akan diutus Allah untuk merobah ajaran agama ini. Segala sesuatunya telah sempurna dan tidak akan megalami perobahan sampai akhir zaman. Hal ini tentu berbeda dengan agama dan ajaran nabi untuk umat-umat lalu, yang hanya berlaku untuk waktu tertentu dan umat tertentu. Inilah bukti bahwa umat Islam sebagai umat terbaik dari sisi agama.
Dari segi waktu atau masa hidup, umat Islam juga merupakan umat terbaik. Sebab, dalam surat al-Hadid [57]: 9, Allah swt berfirman, “ Dialah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang nyata supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dan sesungguhnya Allah terhadap kamu maha pengampun lagi penyayang”. Hal itu menunjukan bahwa umat Muhammad hidup dalam masa dan kedaan, yang jauh lebih baik dari umat lalu. Sebab, umat lalu hidup dalam zaman kegelapan, baik akidah maupun peradaban. Saat ini umat Islam telah mencapai apa yang zaman dulu mustahil bagi manusia, seperti naik pesawat, mobil dan sebagainya.
Umat Islam juga umat terbaik dari sisi wilayah atau tenpat tinggal. Betapa tidak, bahwa di manapun negara Islam atau negara yang berpenduduk muslim merupakan negara yang kaya raya. Seperti Indonesia yang merupakan negara paling subur dan disebut sebagai “sorga Allah” di bumi. Negara-negara Arab, walaupun tidak subur tetapi kaya dengan sumber-sumber minyak yang menjadi urat nadi kehidupan dunia. Begitulah Allah jadikan umat Islam sebagai umat terbaik dari segi tempat tinggal.
Dari segi jenis sudah dapat dipastikan bahwa jenis manusia adalah umat terbaik bila dibandingkan jenis lain, “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan” (Q.S. at-Tin [95]: 4.
Namun demikian, jika kita kembali kepada surat Ali Imran [3]: 110 tentang pembicaraan Allah terhadap umat Islam sebagai umat terbaik, akan ditemukan sebab yang menjadikan kondisi dan sebutan itu tetap melekat pada diri mereka. Umat Muhammad saw. akan tetap menjadi umat terbaik disebabkan tiga hal; yaitu,
1. Menyuruh kepada yang baik (Ma’rûf)
Ma’rûf adalah perbuatan yang baik, tidak hanya baik menurut aturan syari’at yang digariskan Allah swt, tetapi juga yang dianggap baik menurut pandangan manusia kebanyakan, selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama. Norma yang sudah berlaku ditengah masyarakat dan tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama disebut ma’rûf, dan umat Muhammad saw. berkewajiban menegakannya.
Namun demikian, menegakan yang ma’rûf tidaklah pekerjaan gampang. Karena pelaksaannya bisa sempurna kalau umat Islam menjadi penguasa dan pemegang sekaligus pengambil kebijakan. Itulah agaknya kenapa kata pemimpin yang mesti dipatuhi, Allah sebutkan dalam surat an-Nasa’[4]:59 dengan Uli al-Amr, berasal dari kata Amar yang berarti menyuruh. Hal itu menunjukan bahwa pelaksanaan Amar Ma’rûf bisa sempurna kalau dilakukan oleh penguasa atau pemerintah. Dengan demikian, umat Muhammad saw. menjadi umat terbaik kalau mereka yang menjadi penguasa, pengambil kebijakan dan menjalankan kebijakan tersebut.
2. Mencegah dari perbuatan munkar
Munkar berarti perbuatan yang tidak dikenal sebagai kebaikan, baik oleh agama maupun oleh masyarakat, selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama. Oleh karena itu, adat istiadat yang berlaku di tengah masyarakat tidak boleh dilanggar, karena hal itu berarti munkar sekalipun tidak melanggar agama. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya (kekuasaannya), jika tidak mampu robahlah dengan lidahnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah”.



3. Beriman kokoh kepada Allah
Iman yang kokoh tidak diperoleh dengan cara yang gampang. sebab, syaithan telah berjanji dan bersumpah dihadapan Tuhan akan menggelincirkan iman manusia bahkan akan mencabutnya dari dalam hati manusia, sehingga mereka menjadi pengikutnya. Untuk memiliki iman yang kokoh manusia harus memiliki beberapa hal, yaitu;
a. Ilmu yang luas
Hal ini dikerenakan kebodohan merupakan gerbang utama syaithan menggoyahkan dan memalingkan manusia dari kebenaran. Seperti yang disebutkan Allah swt dalam surat an-Nisa’[4]: 120, “Syaithan menjanjikan mereka janji-janji kosong dan membuat angan-angan mereka panjang, padahal janji syaithan itu hanyalah tipu daya saja”. Adalah sudah menjadi sebuah kepastian, bahwa kebodohan menjadikan seseorang tidak punya pendirian, karena dengan mudah orang lain merobah dirinya termasuk juga keyakinannya.
b. Kematangan materi
Untuk tidak menyebut kaya, karena kekayaan juga bersifat relatif dalam pandangan manusia. Tetapi, bahwa syarat seorang bisa memiliki iman yang kokoh adalah memiliki kecukupan harta, sehingga dia tidak memiliki ketergantungan kepada pihak lain. Sebab, kemiskinan juga gerbang utama syaithan menggelincirkan bahkan mencabut iman manusia seperti dalam surat al-Baqarah [2]: 268, “Syaithan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, dan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia dari sisi-Nya dan Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Mengetahui”. Betapa banyak hari ini kita saksikan, sebagian manusia yang rela meninggalkan keyakinannya hanya karena “sesuap nasi” atau “sebungkus supermi”. Benar sekali apa yang pernah dikatakan Rasullah saw kâda al faqru an yakûna kufran (Kefakiran dekat kepada kekafiran).
c. Sehat fisik, mental maupun rohani
Iman yang kuat bisa diperoleh dalam badan yang sehat, karena penyakit juga merupakan gerbang masuknya godaan syaithan. Itulah yang terjadi pada diri salah seorang nabi Allah, Ayyub as, “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia memanggil Tuhannya sesungguhnya saya digoda syaitahn dengan penyakit dan derita saya” (Q.S. Shad [38]: 41). Betapa seringkali manusia mengumpat dan mencela, ketika mereka ditimpa penyakit. Bahkan ada sebagian manusia yang “menggerutu” kepada Allah bahkan berpaling dari agamanya.
Oleh karena itu, umat Muhammad saw. akan tetap sebagai uamt terbaik, jika memiliki iman yang kokoh melalui ilmu yang luas, kemapanan materi dan kesehatan jasamani dan rohani. Bila ini tidak dimiliki maka umat terbaik hanyalah sebuah impian yang tidak akan pernah terwujud.
READ MORE - Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Kamis, 27 Mei 2010

Meniru Ahklak Tuhan

Opini Jum’at
Oleh : Robi Kurniawan, MA
Dosen&Muballigh Batam Kota

Meniru Akhlak Tuhan

“Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”
(Abu Hazim)
Pengakuan seorang hamba bahwa dia mencintai Allah swt bukanlah basa basi mulut seperti seseorang yang mencintai sang pujaan hati di depannya, setelah pergi dia selingkuh dengan yang lain. Akan tetapi sebuah confidensi atau keyakinan total seluruh jiwa dan raga di mana maupun ke mana hamba tersebut pergi dan berada. Mencintai Allah berarti kita harus siap meniru akhlakNya yang Maha Mulia.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah saw. bersabda;
“Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah”.
Dalam bahasa lain bisa diartikan, “contohlah dan teladanilah sifat-sifat Allah”. Di dalam al-Qur’an, setidaknya Allah swt memperkenalkan 99 akhlak atau sifat-Nya, yang disebut dengan istilah al-Asma’ al-Husna. Bahkan kita diperintahkan setiap berdo’a dan meminta dengan menyebut sifat-sifat Allah tersebut. Sebagaimana dipaparkan dalam surah al-A’raf ayat 180:
“Allah memiliki asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna”.
Nama, sifat, atau akhlak yang diperkenalkan Allah swt, di dalam al-Qur’an tersebut tentu bukan hanya untuk tujuan dibaca, dihafal atau didendangkan. Akan tetapi, lebih jauh dari itu bagaimana semua sifat dan akhlak yng telah diperkenalkan Allah kepada manusia, dicontoh dan diteladani dalam kapasitasnya sebagai makhluk. Salah satu ayat yang membicarakan tentang akhlak dan sifat Allah swt, adalah surat al-Hasyar [59]: 23َ
“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja(al-Malik), Yang Maha Suci(al-Quddus), Yang Maha Sejahtera(as-Salam), Yang Mengaruniakan keamanan(al-Mukmin), Yang Maha Memelihara(al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa(al-Aziz), Yang Maha Kuasa(al-Jabbar), Yang Memiliki segala keagungan(al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Dalam ayat di atas, Allah swt memperkenalkan delapan akhlak atau sifat-Nya yang mesti dicontoh dan diteladani oleh makhluk-Nya.
Sifat pertama yang diperkenalkan Allah swt, bahwa Dia menyebut diri-Nya sebagai al-Malik yang secara harfiyah berarti Raja atau Pemilik. Setidaknya ada dua hal yang menjadi ciri al-Malik atau Raja. Pertama, bahwa raja adalah yang memberikan perintah atau larangan, menetapkan sesuatu atau mencabut sesuatu. Kedua, raja adalah tempat mengadu bagi semua orang. Begitulah Allah swt sebagi Raja. Bahwa Diri-Nya adalah Dzat Yang memerintah, melarang, menetapkan sesuatu serta mencabut sesuatu dari Makhluk-Nya. Allah memiliki kekuasaan yang mutlak. Begitu juga Allah swt adalah tempat bermuaranya semua pengaduan Makhluk. Dan semua yang datang mengadu kepada-Nya secara pasti akan diberikan jalan keluar dari masalahnya.
Begitulah yang mesti kita contoh dari sifat Allah, bahwa setiap kita juga harus menjadi al-Malik atau raja. Raja bagi dunia, bagi bangsa, bagi masyarakat, bagi keluarga atau setidaknya menjadi raja bagi diri kita sendiri. Menjadi raja dalam diri kita berarti kitalah yang memerintah, melarang, menetapkan atau mencabut sesuatu dari diri kita. Diri kita tidak diperintah oleh hawa nafsu, keinginan-keinginan yang rendah, iblis ataupun syitan.
Begitu juga, bahwa kita juga harus menjadikan diri kita tempat meminta dan mengadu bagi orang lain, disebabkan apa yang kita miliki, seperti harta, ilmu, keahlian dan sebagainya, apalagi posisi atau jabatan yang dimiliki dan yang dipercayakan orang lain kepadanya sebagai kepala atau pemimpin. Tidak salah memang kalau manusia meminta kepada orang lain. Akan tetapi, yang terbaik adalah menjadi tempat meminta seperti yang dikatakan Rasulullah saw. Bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, begitulah sifat raja atau al-malik.
Kedua, Allah swt. Menyebut diri-Nya sebagai raja yang al-Quddus. al-Quddus secara harfiyah berati suci. Allah sebagai Raja adalah raja yang suci, jauh dari aib, cacat, hal-hal yang kotor, kekejian dan sebagainya. Betapa banyak manusia, yang jikalau menjadi raja atau pemimpn adalah raja yang kotor dan keji, seperti disebutkan dalam surat An-Naml [27]: 34
“Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka merusak dan membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”.
Secara kebahasaan, setidaknya ada tiga hal yang menjadikan sesuatu itu quddus (suci). Pertama, kebenaran, kedua, keindahan, dan ketiga kebaikan. Allah sebagai Raja, jika memerintahkan sesuatu kepada makhluk-Nya pastilah perintah Allah itu selalu benar, indah dan kebaikan bagi makhluk tersebut. Jika Allah menetapkan dan memutuskan sesuatu untuk hamba-Nya, pastilah ketetapan dan keputusan Allah itu benar, indah dan berguna atau mengandung kebaikan. Begitulah quddus-Nya Allah.
Inilah sifat yang juga mesti kita ikuti sebagai makhluk, bahwa apapun yang akan kita katakan ataupun yang akan dilakukan mestilah memiliki sifat quddus, bahwa sesuatu itu harus benar, indah dan mengandung kebaikan. Oleh karena itu, jika kita hendak mengatakan sesuatu fikirkanlah apakah sudah benar yang dikatakan itu, atau apakah sudah indah cara kita menyampaikannya, atau seberapa besar manfaat dan kebaikan dari apa dikatakan itu. Begitu juga, jika kita hendak memperbuat sesuatu, maka fikirkanlah apakah perbutan itu sudah benar, sudah indah dan berguna baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Perkataan yang menghina sehingga orang lain resah dibuatnya adalah langkah orang tersebut menuju kebinasaan cepat atau lambatnya. Jika dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari orang lain, janganlah hendaknya ia mengatakan kata-kata iblis, setan, biadab, babi dan kata yang penuh mudharat dari pada manfaat. Alangkah indahnya kehidupan manusia, jika semua orang selalu mencontoh sifat quddusnya Tuhan dalam setiap perkataan maupun perbuatan mereka. Tidak akan ada pertentangan, permusuhan, percekcokan, perkelahian apalagi pembunuhan jika manusia mencontoh sifat Quddus yang diperkenalkan Allah kepada Makhluk-Nya.
Ketiga, Allah swt. Memperkenalkan dirinya sebagai as-Salam yang secara harfiyah berati selamat, jauh dari cacat, aib dan kekurangan. Begitulah Allah, bahwa apapun yang didatangkan Allah kepada Makhluk-Nya pastilah berupa keselamatan. Andaikata itu berupa musibah, tetap saja itu merupakan kebaikan dan keselamatan. Sesuatu dipandang musibah hanyalah dikarenakan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia dalam memahami Allah yang Maha Besar. Sebab, betapa banyaknya hal-hal yang datang kepada manusia menjadikan manusia menangis dan meratap di kala itu, namun setelah waktu berlalu barulah dia menyadari bahwa yang dulu ditangisi adalah kabaikan yang sekarang justru membuat dia menjadi tertawa. Belum tentu setiap yang dicintai hamba baik menurut Allah atau setiap yang dibencinya ternyata baik menurut Allah.
Begitu juga Allah adalah Dzat yang jauh dari aib, cacat dan kekurangan. Dalam diri Tuhan tidak ada sifat, kikir, marah, dendam, malas dan sebagainya. Sebab, itu semua adalah aib dan kekuarangan. Dalam surat ar-Rahman [55]: 29, Allah swt berfirman
“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibuka’ .
Begitulah Allah swt sebagai Dzat yang selalu punya kesibukan dan tidak pernah mengenal waktu kosong dan luang. Sebagai salah satu bentuk sifat as-Salam, jauh dari aib dan cacat serta kekurangan. Kita mencontoh as-salam Tuhan, bahwa kita berupaya sekuat tenaga membuang segala sifat-sifat negatif dalam diri kita, seperti sifat kikir, marah, dendam, pemalas dan sebagainya.
Keempat, Allah swt, memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Mu’min yang berarti pemberi rasa aman. Allah bukan hanya selamat diri-Nya dari segala aib dan kekuarangan, tetapi lebih jauh Allah adalah pemberi rasa aman bagai semua makhluk-Nya. Begitulah yang ditegaskan-Nya dalam surat al-Quraisy [106]: 4
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”.
Begitulah sifat Allah yang semestinya kita contoh, bagaimana kita menjadi makhluk yang mampu memberikan rasa aman kepada siapapun. Seorang yang mukmin tidak hanya sekedar amanah dan bisa dipercaya, tetapi lebih jauh mampu menjamin keamanan kepada siapapun yang meminta rasa aman. Seorang pegawai yang mukmin adalah pegawai yang tidak hanya bisa jujur dalam bekerja ketika diawasi, tetapi dia juga bisa bekerja dengan penuh kejujuran sekalipun tanpa pengawasan. Sebab, dia selalu yakin kalau Allah selalu menyertainya dalam setiap apapun yang dilakukan.
Kelima, Allah memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Muhaimin yang berarti Pengawas dan Pemelihara. Allah bukan hanya pemberi keselamatan dan rasa aman, tetapi Allah juga mengawasi dan memelihara makhluk-Nya. Oleh karena itulah, di alam ini dikenal istilah sunnatullah dan inayatullah. Jika terjadi kecelakaan pesawat terbang, maka sunnatullahnya semua penumpang mati. Akan tetapi, jika ada penumpang yang selamat bahkan tidak terluka sedikitpun, maka ketika itu dia mendapat inayatullah atau pertolongan Allah melalui pengawasan dan pemeliharaannya. Bukankah Allah mengatakan, Bahwa tidak ada satupun jiwa kecuali telah disediakan untuknya malaikat yang akan menjaga dan memeliharanya. Lihat surat at-Thariq [86]: 4
“tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya”.
Begitulah sifat Allah yang mesti kita contoh, kita tidak hanya mampu memberikan rasa aman, tetapi juga bisa mengawasi dan menjaga apa yang diamanahkan kepada kita. Jika seseorang tidak membuang sampah di sembarang tempat atau dia bersedia memungut sampah di tempat umum, maka dia berhak disebut mukmin. Akan tetapi, jika ada orang lain yang membuang sampah di tempat umum di hadapan matanya dan dia membiarkan saja, maka ketika itu dia tidaklah bisa disebut muhaimin. Sebab dia tidak bisa menjadi pengawas atau pemelihara agar sampah tidak bertebaran di tempat umum. Dan banyak contoh lain yang bisa dijadikan pengajaran dalam kehidupan ini. Begitulah bentuk muhaimin yang semestinya kita contoh dari Allah.
Keenam, Allah memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Aziz yang Maha Perkasa dalam artian bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pernah bisa dikalahkan. Allah swt, tidak akan pernah dikalahkan oleh siapun dan sampai kapanpun. Begitulah sifat yang juga semestinya kita miliki dalam menjalani kehidupan di dunia ini yang sudah ditakdirkan sebagai kehidupan yang penuh kompetisi dan persaingan. Bagaimana kita dalam persaingan hidup berupaya untuk tidak pernah dikalahkan oleh siapaun lebih-lebih bisa mengalahkan hawa nafsu dan setan. Sekalipun dalam setiap persaingan pasti ada yang kalah dan yang menang. Namun, sebagai makhluk yang mencontoh al-aziz nya Allah, berupayalah menjadi makhluk yang tidak pernah dikalahkan oleh siapapun dan kapanpun dalam kontek persaingan yang sehat, bukanlah menghalalkan berbagai cara agar tetap eksis. Sebagaimana dikatakan dalam surah al-Baqarah (2):184 :
“…… . maka berlomba-lombalah (bersainglah) kalian (dalam membuat) kebaikan….”
Ketujuh, Allah memperkenalkan sifat-Nya sebagai al-Jabbar yang berarti maha Berkuasa. Al-Jabbar secara harfiyah berarti Yang Kuat dan Memaksa, sehingga kata ini kemudian diartikan sebagai Dzat yang mampu mengalahkan siapapun. Allah bukan hanya tidak terkalahkan, namun juga mampu mengalahkan siapapun. Begitulah sifat yang semestinya kita ikuti sebagai makhluk, bahwa kita bukan hanya makhluk yang tidak terkalahkan, namun mampu mengalahkan siapun yang menjadi pesaing kita. Seseorang yang memiliki sifat al-Jabbar dalam kapasitasnya sebagi makhluk, tidak akan pernah kembali membawa kekalahan. Dia harus pulang dengan membawa kemenangan yang gemilang dan penuh sportifitas dan kejujuran bukan kecurangan merugikan pesaingnya. Itulah pemenang yang sejati dan sesungguhnya.
Setelah menyebutkan tujuh sifat yang penuh kemuliaan, Allah menutup sifat-Nya dalam ayat di atas dengan menyebut diri-Nya sebagai al-Mutakabbir yaitu Dzat yang Maha Besar dan Agung. Hal itu berarti, jika semua hal yang disebutkan telah dimiliki seseorang; mampu menjadi raja, suci, selamat, memberi rasa aman, menjaga dan mengawasi, tidak pernah terkalahkan, mampu mengalahkan siapapun, pastilah seseorang akan menjadi orang besar (al-Mutakabbir) dan pastilah semua orang akan mengagumi dan mnghormatinya. Begitulah kenapa ayat ini diakhiri dengan ungkapan ta’ajjub (kagum) kepada Allah dengan ungkapan Subhanallah/ Maha Suci Allah.
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab
READ MORE - Meniru Ahklak Tuhan