dokumen

marquee

Selamat Datang di Blog Kami, Kumpulan Artikel Islami, Ebook, berminat mengadakan seminar, pengajian ,pelatihan, motivastion solutin,Bintal,Bimbingan manasik haji, Hipnoterapi Call at 081372882814 and donate your fund for islamic development at BSM Rek. 7006428198 an. Robi Kurniawan

welcome

Welcome To Our Blog, Siap Melayani dan Memimbing Ummat

Kamis, 15 Agustus 2013

Mesir, Palestina, Syiria dan Hari Kemerdekaan Indonesia

Tepat pada 17 Agustus 2013 ini, kemerdekaan Indonesia telah berusia 68 tahun sejak dideklarasikannya pada 17 Agustus 1945. Tentulah kemerdekaan ini tidak didapati dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan atau mengucapkan sim salabim, abra katabra. Akan tetapi perjuangan rakyat Indonesia dan para founding fathers yang rela mengorbankan nyawa mereka demi generasi dan anak cucu berikutnya. Sebagai pelanjut estafet kemerdekaan dan warga yang baik tentu mengisi kemerdekaan ini dengan nilai-nilai positif  adalah harapan dari pejuang-pejuang kemerdekaan sebelumnya. Pemerintahan yang memperhatikan rakyatnya, keadilan hukum yang beradab, dan peningkatan ekonomi yang layak serta kebebasan yang normatif juga merupakan demand (tuntutan) para founding fathers. Sehingga kemerdekaan ini bisa dinikmati semua kalangan. Karena kemerdekaan itu adalah memang hak semua bangsa sementara penjajahan dan intervensi berlebihan adalah kejahatan yang merusak semua sendi-sendi kehidupan bangsa tersebut. Mencintai kemerdekaan Negara adalah merupakan patriotisme yang harus ditanamkan. Salah bentuk dari patriotisme adalah cinta tanah air. Menjaga tanah air dari serangan musuh neocolonialism adalah manifestasi patriotisme. Ikut andil dalam memajukan pembangunan negeri adalah sikap patriotisme positif. Hanya saja kecintaan tersebut jangan sampai berlebihan sehingga seseorang melupakan negara yang lain yang berhak juga untuk dicintai dan dibela.

Dalam konsep Islam mencintai tanah air adalah ghazirah (instinct), fitrah manusia. Ghazirah ini ada yang dipuji (mahmudah) dan dicela (mazmumah). Jika mencitai tanah air karena dorongan mencitai Allah SWT dan rasulullah maka ini instink yang terpuji. Tapi sebaliknya jika untuk berbangga sehingga menyepelekan dan bahkan tidak membantu negara lain hal ini sangat tercela. Islam telah melarang menjadikan cinta tanah air sebagai idol (sembahan,pujaan) dan Allah SWT menyuruh kita untuk saling bersatu dalam ikatan ukhuwah bukan baldah (negeri). Alquran mengajarkan orang yang beriman untuk memperhatikan negeri lain yang ada kaum musliminnya di sana. Rasulullah SAW bersabda :

إنك لأحب البلاد إلي، ولولا أن أهلك أخرجوني منك ما خرجت  
“sesungguhnya engkaulah negeri(Makkah) yang paling kucintai. Jika penduduknya tidak mengusirku maka aku tidak akan keluar dari sana”

Sebagian orang salah dalam menafsirkan hadist ini sehingga mereka berlebihan mencintai, membela dan bahkan hanya mementingkan negeri atau negaranya saja. Padahal rasulullah mencintai Makkah bukan karena tempat lahir dan keturunannya di sana akan tetapi karena ada ka’bah (baitullah) yang telah dibangun oleh Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap ka’bah tumbuh karena Allah SWT mencintai ka’bah tersebut. Setiap tanah di penjuru dunia ini yang dicintai Allah SWT maka wajib bagi kaum muslimin untuk mencintainya juga. Rasa cinta yang ada tentu menumbuhkan pembelaan dan pertahanan dari musuh-musuh yang ingin merampasnya. Apa yang sedang terjadi di Mesir, Palestina, dan Syiria, Irak, Pakistan, dan lainnya notabene kaum muslimin sedang ditindas di negeri mereka hendak menyadarkan kaum muslimin di manapun berada khususnya di Indonesia yang merayakan kemerdekaannya untuk tidak melupakan saudara-saudara seiman di sana yang sedang berjuang mempertahankan negerinya yang juga merupakan negeri kaum muslimin Indonesia. Jangan sampai terlalu berbahagia apalagi sampai menghabiskan dana besar untuk merayakan hari kemerdekaan sementara kaum muslimin di Mesir, Palestina, dan Syiria membutuhkan asupan dan harapan untuk hidup tenang. Semoga kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan kepekaan dan kepedulian terhadap seseama khususnya saudara-saudara yang seakidah. Wallhu ‘alam.

Tidak ada komentar: