dokumen

marquee

Selamat Datang di Blog Kami, Kumpulan Artikel Islami, Ebook, berminat mengadakan seminar, pengajian ,pelatihan, motivastion solutin,Bintal,Bimbingan manasik haji, Hipnoterapi Call at 081372882814 and donate your fund for islamic development at BSM Rek. 7006428198 an. Robi Kurniawan

welcome

Welcome To Our Blog, Siap Melayani dan Memimbing Ummat

Sabtu, 02 Juni 2012

belajar dari sifat terpuji seekor anjing

Belajar Dari Sifat Terpuji Seekor Anjing
Mungkin para pemb aca merasa heran banyak artikel ataupun opini penulis berbicara mengenai makhluk-makhluk Tuhan sepeti artikel-artikel sebelumnya tentang semut, kodok, lebah, pohoh pisang dan kali ini seekor anjing. Tulisan-tulisan ini tidaklah bermaksud mendeskriditkan manusia sebagai makhluk yang lebih sempurna melainkan sekedar menghayati sebuah interpertasi dari firman Allah swt. Salah satunya dalam surat al-Baqarah [2]: 26
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
Dan tentunya semua ayat-ayat Allah swt.tersebut baik secara ekplisit maupun implisit ditujukan kepada manusia agar manusia bisa memahami dan mengamalkannya.

Anjing adalah salah satu di antara makhluk Allah yang juga diciptakan-Nya untuk maksud dan kegunaan yang besar. Sekalipun ia dipandang sebagai makhluk yang haram, hina dan menjijikan, namun di balik itu semua terkandung maksud, manfaat serta kegunaan yang teramat besar. Manfaat dan kegunaan dari penciptaan anjing tersebut, tentulah ditujukan untuk manusia sebagai khalifah dan wakil Allah di muka bumi.
surat Ali ‘Imran [3]: 191
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Berikut, kita akan mencoba melihat beberapa sikap terpuji sekaligus sikap tercela yang dimiliki makhluk yang disebut anjing untuk kemudian kita jadikan pelajaran dalam kehidupan ini. Sikap yang terpuji mestilah dimiliki dan diikuti oleh mansuia, sementara sikap tercela janganlah ditiru dan hendaklah dijauhi.
Adapaun sikap terpuji anjing adalah;
1. Gemar mengosongkan perut serta tidak suka makan berlebihan.
Kita bisa melihat ketika seekor anjing memakan satu tumpuk makanan. Ia tidak akan memakan makanan itu sampai perutnya penuh (gendut). Sekelipun makanan itu banyak, ia hanya mengisi perutnya dalam ukuran yang sederhana. Sehingga, sulit bagi kita membedakan antara anjing yang sudah makan dengan yang belum, karena ukuran perutnya yang relatif sama. Berbeda halnya dengan binatang ternak seperti sapi, kerbau dan lain-lain yang suka makan berlebihan sampai perutnya “buncit” dan “gendut”, dan kemudian tidur sambil memamah makanan itu kembali. Nabi Muhammad saw. Mengatkan dalam hadisnya:”kami adalah kaum yang tidak makan akan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang”.(HR.Muslim)
Itulah sikap hidup yang mesti dimiliki oleh setiap manusia khususnya seorang mukmin. Janganlah mengisi perut secara berlebihan dengan makan dan minum. Sebab, mengisi perut secara berlebihan dengan makan dan minum bukan hanya berdampak buruk secara jasmani, namun juga akan merusak rohani. Secara jasmani, orang yang makan secara berlebihan akan sangat rentan dengan berbagai macam penyakit. Karena, sebagian besar penyakit bersumber dari persoalan perut (makan dan minum). Secara rohani, orang yang makan berlebihan cenderung menjadi orang yang pemalas. Sebab, setelah perut diisi dengan penuh dan berlebihan, bisanya seseorang akan diserang rasa kantuk yang hebat untuk kemudian tidur. Rasa kantuk yang disebabkan kekenyangan inilah yang membuat manusia menjadi malas bergerak, termasuk juga malas melaksanakan ibadah, bahkan malas itu akan berujung pada meninggalkan kewajiban. Begitulah gambaran Rasulullah saw. dalam salah satu haditsnya tentang akibat makan dan minum secara berlebihan.
“Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan dan minuman, sebab mengisi perut dengan penuh akan membahayakan tubuh dan menyebabkan malas shalat.” (H.R. Bukhari)
Senada dengan hadis di atas Allah swt. Menegur kita dalam surat al-A’raf [7]: 31
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
2. Tidak tidur di malam hari, kecuali sangat sedikit
Adalah sudah menjadi kebiasan seekor anjing untuk sedikit tidur di malam hari. Agaknya, karena sebab itulah manusia menjadikannya sebagai makhluk penjaga rumah atau penjaga bagi para musafir di padang pasir ketika berkemah di malam hari. Ia adalah salah satu dari makhluk Allah yang tidak pernah tidur dengan pulas, apalagi sampai hilang kesadaran di malam hari. Kalaupun seekor anjing tidur maka tidurnya sangatlah tipis, sehingga hentakan kaki manusia dari jarak jauhpun bisa didengarnya di saat tidur.
Inilah sikap hidup yang semestinya juga dimiliki oleh setiap mukmin. Tidur di malam hari adalah suatu kemestian, bahkan adalah bagian dari kewajiban untuk memenuhi hak jasmani. Adalah menzhalimi diri sendiri, jika manusia tidak menggunakan malam hari untuk waktu tidur. Sebab, Allah swt. mendatangkan malam adalah untuk tujuan agar manusia beristirahat dari kelelahan dan kesibukanya di siang hari. Namun demikian, hendaklah seseorang tidak tidur nyenyak sampai pagi, tanpa terbangun dari tidurnya dan beribadah kepada Allah.
Begitu juga dalam surat al-Isra’ [17]: 79
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
3. Istiqamah dalam bertuan dan tetap setia dalam kondisi apapun.
Jika seekor anjing sudah memiliki tuan dan diberi makan setiap hari, bagaimanapun tuannya mengusir dan menghardiknya bahkan dipukul sekalipun, ia akan tetap setia dan tidak akan pergi meninggalkan tuannya. Bagaiamanpun tuannya memarahi bahkan memukulnya, ia tidak akan marah, melawan apalagi mendendam dan berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan tuannya. Jika pun dia pergi ketika dihardik dan diusir, namun beberapa saat kemudian ia akan kembali kepada tuannya dan tetap memperlihatkan kesetiaannya.
Begitulah sikap yang mesti ditunjukan seorang mukim kepada Tuhannya. Janganlah seorang mukmin hanya setia, tunduk, patuh atau memuji Allah, jika diberi nikmat dan kesenangan. Sementara, jika Allah memberikan suatu kesulitan kepadanya atau hal yang tidak menyenangkan menurut ukurannya, dia langsung mengumpat dan mencela Allah kemudian berpaling dan meninggalkan-Nya. Dan memang begitulah salah satu sikap manusia yang dicela oleh Allah swt. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Fajr [89]: 15-16
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku (15). Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku (16).”
4. Tidak suka mempertahankan status quo
Adalah kebiasan seekor anjing, jika ia tidur pada suatu tempat kemudian meninggalkannya untuk beberapa saat, lalu datang anjing lain dan menempati tempat itu, ia tidak pernah marah apalagi mengusir anjing yang sudah menempati tempatnya. Seekor anjing tidak akan berkelahi dengan saudaranya yang mengambil posisinya apalagi yang telah ditinggalkan. Ia akan dengan senang hati berpindah dan mencari tempat lain untuk ditempati.
Begitulah sikap yang mesti ditunjukan oleh seorang mukmin terhadap saudaranya. Dia tidak marah jika ada saudaranya yang menduduki suatu jabatan, posisi apalagi posisi yang pernah ditinggalkannya. Janganlah seorang mukmin iri, dengki, atau marah kepada saudaranya yang menempati jabatan dan kedudukannya. Karena tanpa jabatan dan posisi itu, bukankah dia masih bisa melanjutkan eksistensinya atau bahkan mencari posisi dan kedudukan yang mungkin lebih baik dari yang ditempati saudaranya di tempat lain atau di waktu yang lain. Bukankah bumi Allah sangat luas, di manapun manusia berada dia pasti akan mendapatkan Tuhan dan rahmat-Nya di sana. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 148
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Begitu juga dalam surat an-Nisa’ [4]: 97
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.
Begitu juga dalam surat az-Zumar [39]:10
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
Tapi alangkah sedihnya kita ketika melihat orang-orang yang merebut sebuah jabatan dengan cara memakan daging saudaranya sendiri dan bahkan lupa terhadap kebaikan-kabaikan orang lain ketika dia sudah sukses. Alangkah pilunya hati ini menyaksikan orang-orang yang tertunda keberhasilannya menduduki sebuah jabatan dengan cara mengambil kembali segala sumbangan yang dihibahkannya. Ternyata kita belum bisa belajar dari seekor anjing.
5. Bersifat qana’ah dan berpuas hati dengan suatu pemberian
Anjing adalah makhluk yang memiliki sifat qana’ah yang tinggi terhadap pemberian tuannya. Ia akan sangat senang dan memperlihatkan penghargaan yang tinggi kepada tuannnya atas suatu pemberian, sekecil apapun dan serendah apapun kualitasnya. Jika seekor anjing diberi oleh tuannya sepotong daging, ia akan menerima dan memakannya dengan lahapnya. Jika diberikan nasi yang sudah menjadi sisa tuannya, ia juga akan menikmati pemberian itu dengan lahapnya sama seperti menikmati sepotong daging. Bahkan, jia tuannya memberikan kotorannya sekalipun, ia dengan senang hati menikmatinya sama halnya seperti ia menikmati sepotong daging. Begitulah qana’ahnya seekor anjing terhadap pemberian tuannya.
Itulah sikap yang semestinya dimiliki setiap mukmin terhadap pemberian Allah. Apapun yang diberikan Allah kepadanya dan sekecil apapun nilainya, dia tetap bersyukur dan menerimanya sebagai suatu pemberian yang besar. Bahkan, rasa syukurnya tidak kurang hebatnya ketika dia mensyukuri suatu pemberian bernilai besar. Sebab, betapapun miskin dan jeleknya keadaan dan kondisi manusia di dunia ini, tetap saja bahwa nikmat Allah sungguh sangatlah banyak terhadap dirinya. Bahkan, jika saja manusia mencoba menghitungnya, dia tidak akan mampu. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat an-Nahl [16]: 18
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
6. Bersikap sederhana dan jauh dari gaya hidup mewah
Seekor anjing senantiasa menikmati keadaannya, sekalipun ia tidur di atas alas kaki manusia atau potongan kain kumuh dan lusuh. Dia tidak membutuhkan kandang bagus, kasur empuk atau selimut tebal. Seekor anjing bisa tidur dengan tenang, sekalipun di sebidang tanah, di atas rumput, di atas batu dan sebagainya, asalkan ia terlindung dari hujan dan panas. Begitulah keserdahanaan seekor anjing dalam hidupnya, yang tidak terlalu sibuk dan berambisi dengan kemewahan dan kemegahan hidup.
Begitulah sikap seorang mukmin hendaknya, yang lebih memilih hidup sederhana, bersahaja serta tidak sibuk dan terlalu silau dengan kemegahan serta kemewahan duniawi. Kebahagian bukanlah ditentukan oleh rumah bertingkat dan mewah, mobil yang bagus serta fasilitas duniawi memukau lainnya. Namun, kebahagian ditentukan oleh ketenangan dan kepuasan hati. Banyak tokoh sufi yang pada mulanya tinggal di istana atau hidup dengan kemewahan, namun mereka tidak memperoleh kebahagiaan kecuali setelah melepaskan ikatan gemerlapan duniawi itu. Karena dunia dan gemerlapannya tidak lain hanyalah sebuah permainan dan senda gurau. Kalaupun kelihatan menyenangkan, itu hanyalah sesat dan bersifat semu. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat al-‘Ankabut [29]: 64
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”
7. Memiliki sikap tawakkal yang tinggi
Bila seekor anjing sedang makan, kemudian tuannya datang dan membawanya pergi ke suatu tempat, maka ia tidak akan pernah membawa bekal atau membawa makanan yang masih tersisa. Sebab, ia yakin bahwa di tempat yang baru, rezikinya pun sudah ada dan tersedia. Lihat bedanya dengan seekor monyet yang jika dibawa pergi oleh tuannya ketika sedang makan, maka makanan itu akan dibawanya dengan kedua tangannya, setelah sebelumnya mengisi penuh kedua tempat makanan yang ada di mulutnya.
Begitulah sikap yang mesti dimiliki oleh setiap mukmin, bahwa hendaklah dia memiliki sikap tawakkal kepada Allah. Seseorang tidak perlu takut tidak akan mendapatkan rezeki ke manapun dia pergi atau di manapun dia berada. Bukankah Allah meliputi langit dan bumi? Oleh karena itu, cukuplah manusia menjadikan Allah sebaik-baik Pelindung dan tempat berserah diri. Begitulah di antara pesan Allah dalam surat ‘Ali ‘Imran [3]: 173
“…Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."
8. Penuh harap terhadap suatu pemberian
Adalah tabi’at seekor anjing, jika melihat tuannya atau siapapun yang lewat di hadapannya membawa suatu jenis makanan, ia akan terus menatap dan mengharap diberi makanan. Seekor anjing baru akan selesai memandang pemilik makanan itu, sampai dilemparkan makanan tersebut kepadanya.
Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin terhadap nikmat dan karunia Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Pemilik segalanya. Lalu kenapa manusia tidak mau meminta karunia-Nya itu? Bukankah Allah menjanjikan pengabulan akan setiap permohonan yang diajukan kepada-Nya? Begitulah yang ditegaskan Allah dalam al-Qur’an. Seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 186
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Begitu juga dalam surat al-Mu’min [40]: 60
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
Ya Allah, tidak satupun makhluk yang sia-sia Engkau ciptakan ternyata pada seekor anjing meskipun menjijikkan masih ada hikmah yang baik bisa kami ambil. Apalagi makhluk-makhlukMu yang bersih dan baik tentulah hikmah-hikmah lebih banyak lagi kami renungkan.

Tidak ada komentar: