dokumen

marquee

Selamat Datang di Blog Kami, Kumpulan Artikel Islami, Ebook, berminat mengadakan seminar, pengajian ,pelatihan, motivastion solutin,Bintal,Bimbingan manasik haji, Hipnoterapi Call at 081372882814 and donate your fund for islamic development at BSM Rek. 7006428198 an. Robi Kurniawan

welcome

Welcome To Our Blog, Siap Melayani dan Memimbing Ummat

Kamis, 31 Mei 2012

Kontektualitas Isra' Mi'raj Dalam Mendidik Anak

Dalam sejarah peradaban manusia belum pernah terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan melebihi Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut tidak saja menggoncangkan dunia Arab pada saat itu, tetapi di belahan manapun dengan kapasitas teknologi tidak secanggih dewasa ini, tentu sulit untuk dapat mempercayai kejadian besar itu. Pada konteks inilah sebenarnya umat Islam harus mampu menangkap pesan-pesan Isra’ Mi’raj tersebut.Namun cukup disayangkan, pemaparan Isra’ Mi’raj yang selalu disampaikan para penceramah terbatas deskriptif saja dan tidak memberikan perubahan yang berarti bagi umat Islam yang memperingatinya. Oleh sebab itu, tulisan ini mencoba untuk menawarkan kontekstualisasi pemahaman terhadap Isra’ Mi’raj sehingga dapat diteladani umat secara universal. Jadi, tidak terjebak pada acara-acara seremonial, tetapi masuk pada hal yang lebih substansial.

Sebelum Rasullullah diperjalankan dari masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dan terus dinaiikan ke sidratul muntaha terlebih dahulu beliau disucikan hatinya. sehingga malaikat Jibril dan Mikail membelah dada beliah dan membersihkannya dengan air zam-zam. Baru kemudian beliau diperjalankan. Dalam perjalan Nabi Muhammad menemui berbagai godaan. Tapi ia tidak menghiraukannya.Dan sesampai di masjidil Aqsa beliau memimpin shalat dengan para arwah nabi sebelumnya. Sebelum dimi'rajkan nabi disuguhkan dua gelas air yang berisi susu dan arak. Kemudian nabi memilih susu. Ketika dinaikkan pada setiap lapisan langit beliau bertemu dengan para nabi kemudian baru sampai ke puncak (sidratul muntaha) menghadap Allah SWT dan menerima hadiah berupa kado shalat untuk tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Konstektualitas untuk pendidikan anak
Dalam perjalanan nabi ini ada dua strategi prinsipil:
1. Perjalanan di bumi (horizontal)
Sebelum nabi berangkat beliau disucikan dulu hatinya. Hal ini berarti hati anak harus dibersihkan dulu agar si anak cepat menerima input yang diberikan. Tentu peran orang tua sangat diperlukan. Karena mau dibawa kemana si anak adalah tugas orang tua. Dan faktor lingkungan juga mempengaruhi. Nabi Muhammad SAW mendapatkan godaan dalam perjalanan. Tantangan adalah hal yang biasa dalam hidup apalagi dunia pendidikan. Berbagai kebijakan dan kurikulum yang tidak jelas adalah suatu tantangan dan godaan bagai anak untuk malas belajar. Sehingga mereka lebih suka mencontek toh kelulusan ditentukan 60 persen dan 40 persen perpaduan nilai UN dan raport. Tapi hal ini bisa dihadapi dengan baik oleh anak jika pendidik tidak stress juga dalam mendidik. Ketika samapai di Masjidil Aqsa nabi memimpin shalat dengan arwah para nabi sebelumnya. Prestasi itu sangat dibutuhkan agar si anak menjadi personil yang komprehensif. Pendidik yang baik adalah seorang yang selalu mendogmakan dan mendoktrinkan kalimat "kamu sebenarnya bisa" ketimbang membilang "kamu bodoh". Nabi Muhammad disuguhkan susu dan arak dan ia memilih susu. Makanan yang baik dan halal adalah termasuk penentu anak itu pintar dan berakhlak. Orang tua yang selalu mengkonsumsi uang haram dan membelanjakan untuk keluarga juga sangatlah cepat mempengaruhi otak kanan dan otak kiri si anak.
2. Perjalanan menuju langit (vertikel)
Pada saat nabi berada di langit pertama beliau bertemu dengan Nabi Adam as. Adam ahli dalam Nabi Adam sebagai Nabi Pertama dikenal sebagai Peternak dan petani yang andal, konon dizaman nabi Adam sudah mengenal cara bercocok tanam dan pengairan yang baik termasuk beternak mereka sudah hidup menetap bukan sebagai masyarakat nomaden. kisah Qurban anak nabi Adam bisa jadi salah satu contoh (QS 4:27-29). Jika anak didik ingin berhasil dalam pertanian maka contohlah Nabi Adam.
Dilangit kedua bertemu dengan Nabi Isa as. Isa mempunyai keahlian dalam medis. Nabi Isa diberikan kelebihan bisa menyembuhkan orang buta dari lahir bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah mati (QS:3:49). Mendidik anak jadi dokter Nabi Isa adalah panutan yang tepat.
Di langit ketiga nabi bertemu Nabi Yusuf as. Dia bukan hanya bisa menafsirkan mimpin juga mampu mengatur keuangan. Dan nabi Yusuf di beri tugas sebagai bendharawan negara Mesir lihat teks Quran (QS 12:55-56). jaman modern sekarang tugas pencatat keuangan dikenal dengan nama Accountant. Didiklah ana ala Yusuf jika ingin menjadi accountant yang pintar dan berakhlak.
Pada langit keempat nabi menjumpai Nabi Idris as. Tidak hanya ahli menjahit Idris Kemungkinan juga seorang ahli astronomi, zaman nabi Idris ilmu perbintangan /astronomi sangat digemari ada sejarawan yang mengaitkan dengan pembangunan Piramida di Mesir (nabi Idris hidup sebelum piramid dibangun). Jika anak berkemauan sebagai perancang dan astronom arahkanlah kepada kemampuan nabi Idris yang tidak diragukan lagi
Di langit kelima ada nabi Nabi Harus as. Beliau dikenal ahlinya diplomasi. Ucapan dan ekspressinya luar biasa sehingga orang mendengar dan melihatnya langsung terhipnotis.
Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa as di langit keenam. Nabi terbesar bani Israil ini dikenal sebagai pengembala ternak di negeri Madyan (QS 22:22-28}. Jika anak diarahkan menjadi peternak yang jujur dan piawai referensinya Nabi Musa.
Di langit ketujuh beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Beliau ahli dalam arsitektur bangunan. Tidak diragukan lagi ia dan putranya Ismail mampu mendisain ka'bah dan menjadi kiblatnya umat Islam.
Dan pada akhirnya Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SAW. Inilah puncak keberhasilan sesorang. Apapun jabatan dan siapapun dia keberhasilan itu tidak terlepas dari kehendak Tuhan. Keberhasilan anak didik tentu berawal dan berujung pada konsep ketauhidan yang disimbolkan dengan shalat lima waktu. Di sinilah peran orang tua juga sangat penting untuk menyuruh anaknya shalat dan meembiasakan anak untuk belajar shalat.
Demikianlah sekilas konstektualitas isra' mi'raj dalam mendidik anak. Wallahu a'lam

Tidak ada komentar: